Singgah Sejenak di Kampung Stamplat Girang, Kabupaten Bandung

Selain bergantung pada hasil perkebunan seperti teh dan kopi, warga secara swadaya lantas mengembangkan kampung tempat tinggal mereka menjadi kampung wisata.

Tanah masih terlihat basah oleh hujan saat mobil yang kami tumpangi berhenti di depan pintu masuk Kampung Stamplat Girang, Senin (11/8/2025). Gerimis sesekali masih turun saat kami mulai berjalan kaki menuju ke tengah-tengah perkampungan.

Suasana kampung tampak meriah dengan beragam dekorasi untuk menyambut HUT Ke-80 Kemerdekaan RI. Umbul-umbul, bendera, bola-bola dan bentuk lampion dari plastik bernuansa merah putih menghiasi rumah-rumah warga.

Di tengah kampung sejumlah warga tampak sibuk membuat dekorasi yang akan digunakan untuk pawai budaya merayakan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI. Mereka menggunakan bambu untuk membuat tandu. Di sebelahnya sebuah mobil bak terbuka yang sudah terpasang kerangka kayu berbentuk rumah.

Kepala Dusun Kampung Stamplat Girang Dede Komarudin mengatakan, setiap tahun warganya sangat antusias untuk mengikuti pawai dan gelar budaya dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI. ”Selain pawai berkeliling desa bersama komunitas dari desa-desa lainnya, acara budaya juga digelar di tengah kampung,” ujar Dede.

Kampung Stamplat Girang terletak di Desa Indragiri, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dari Kawah Putih Ciwidey masih berjarak sekitar 14 kilometer. Sementara dari kota Bandung menuju ke Stamplat Girang ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam menggunakan mobil.

Lokasi kampung berjauhan dengan kampung lainnya dan berada di antara lembah serta di tengah-tengah perkebunan teh. Hal itu membuat kendaraan harus berjalan pelan saat menyusuri jalan tanah yang sempit dan berkelok-kelok.

Dengan lebar jalan yang sebagian besar hanya seukuran satu mobil, membuat pengemudi mesti ekstra hati-hati terutama saat berpapasan dengan kendaraan lain.

Pada awalnya kampung tersebut dikenal sebagai tempat pemberhentian truk atau mobil yang akan mengangkut kayu hutan. Banyak warga kampung yang bekerja membantu menebang kayu dan memindahkan ke truk sebelum dibawa ke kota.

Namun, lambat laun pemanfaatan kayu hutan itu tidak diperbolehkan dan aktivitas pengangkutan kayu hutan pun berhenti.

Dikelilingi hutan yang banyak ditumbuhi pohon jamuju dan perkebunan teh, Kampung Stamplat Girang terlihat mungil. Saat ini, terdapat 26 rumah dengan 33 kepala keluarga yang tinggal di Kampung Stamplat Girang.

Selain bergantung pada hasil perkebunan seperti teh dan kopi, warga secara swadaya dan bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk Perhutani, lantas mengembangkan kampung tempat tinggal mereka menjadi kampung wisata.

Diawali dengan menata kampung menjadi lebih rapi dan bersih, kemudian menyediakan lokasi untuk kemping, hingga menyediakan rumah tinggal warga yang dapat disewa atau beralih fungsi menjadi house keep jika ada pengunjung yang ingin menginap. Bermalam di kamar-kamar rumah warga dan berbaur dengan warga desa menjadi salah satu pengalaman yang ditawarkan di tempat ini.

Untuk tetap menjaga kebersihan dan kenyamanan kampung, warga antara lain secara rutin bergantian membersihkan jalan kampung dan selokan yang mengalir di depan tiap-tiap rumah warga.

Uniknya selokan-selokan di kampung ini selain mengalir air yang jernih juga dipenuhi dengan ikan koi.

Dengan inisiatif yang kuat dan komitmen warga, Kampung Stamplat Girang dapat tumbuh dan menjadi inspiratif desa yang mengembangkan ekonomi lokal warganya berbasis pariwisata dan agro.

Perkembangan desa wisata di Indonesia dalam satu dekade terakhir sangat menggembirakan. Setiap tahun kuantitas desa wisata di Indonesia juga meningkat secara signifikan.

Tahun 2024 tercatat ada 6.016 desa wisata berkategori rintisan, berkembang, dan maju yang berpartisipasi aktif dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Jumlah desa wisata yang pada awal 2019 berjumlah 7.500 menjadi 27.000 desa wisata pada medio November 2024.

Lingkungan desa wisata yang masih asri, didukung dengan ritme kehidupan yang alami serta budaya dan tradisi yang terjaga menjadi modal utama dalam menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna.

Parfum AXL