Aduhai, Zhuhai!

Zhuhai yang berbatasan dengan Makau dan China punya segudang hal untuk ditunjukkan. Namun, kami hanya punya kurang dari 24 jam untuk menjelajah kota ini.

Semua terjadi serba cepat di Zhuhai, sebuah kota pesisir di selatan China yang berbatasan dengan Makau. Ini bukan karena ritme hidupnya yang cepat, melainkan karena kami tak punya banyak waktu untuk singgah. Namun, Zhuhai tampaknya tak rela melepas dan berusaha menahan kami tinggal lebih lama.

”Sayang sekali kita tidak sampai 24 jam di Zhuhai, ya,” ucap saya kepada Dragana Blejica, wartawan Serbia, saat melaju dengan bus di jalanan Zhuhai, Jumat (12/9/2025).

Kala itu, sebagian wartawan Asia-Pasifik dan Eropa berkunjung ke Kota Zhuhai dan Shenzhen yang ada di Provinsi Guangdong, China. Kunjungan ini adalah bagian dari program China World Press Verbal exchange Heart (CIPCC), sebuah program di bawah Asosiasi Diplomasi Publik China (CPDA). Para wartawan diajak menengok kemajuan Zhuhai dan Shenzhen setelah menjadi zona ekonomi khusus 45 tahun terakhir.

Wartawan Serbia tadi manggut-manggut. Dia juga pengin tinggal 1-2 hari lebih lama di Zhuhai. Bagi dia, yang suka keliling Asia untuk mencari kehangatan matahari saat musim dingin di Serbia, Zhuhai adalah tempat yang tepat untuk bertualang sambil berjemur.

Hal serupa dirasakan oleh wartawan-wartawan Asia-Pasifik yang notabenenya sudah ”kenyang” dijemur matahari. Setelah sekian pekan tinggal di Beijing yang seperti hutan beton, pergi ke Zhuhai adalah sebuah kemewahan. Langitnya biru cerah, mataharinya hangat, udaranya bersih, dan laut biru terhampar di depan mata. Ibaratnya seperti pergi dari Jakarta ke Raja Ampat.

Suasana Kota Zhuhai di Provinsi Guangdong, China pada Jumat (12/9/2025). Zhuhai yang terletak di selatan China merupakan satu dari empat kota pertama di China yang menjadi kawasan ekonomi khusus. Kota pesisir yang berbatasan dengan Hong Kong dan Makau ini pun menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Zhuhai pun menarik karena memiliki latar belakang sejarah dan budaya. Dulu, Zhuhai adalah desa bagi para nelayan, petambak garam, dan petani. Zhuhai lantas bertransformasi menjadi kota yang maju, bahkan menjadi salah satu gerbang globalisasi dan modernisasi.

Posisi Zhuhai yang berada di pesisir Sungai Mutiara serta menghadap Laut China Selatan menjadikan kota ini strategis. Sejak technology Dinasti Han, ”Kota Seratus Pulau” ini menjadi simpul perdagangan penting antara China dengan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Zhuhai juga termasuk salah satu simpul Jalur Sutra.

Hal ini sekaligus menjadikan Zhuhai sebagai kanal pertukaran budaya dan pintu yang membuka pemahaman akan peradaban dunia. Zhuhai pun menjadi jendela buat dunia yang begitu luas, khususnya bagi para muda-mudi yang haus pengetahuan dan petualangan.

Berangkatlah Yung Wing, Wong A laugh, dan Wong Shing ke Amerika Serikat pada 1847. Tiga pemuda Zhuhai ini adalah orang-orang China pertama yang menempuh pendidikan di luar negeri. Gelombang untuk menuntut ilmu ke luar negeri pun bergulir setelah mereka pulang kampung. Ilmu dan perspektif yang mereka peroleh di negeri orang adalah potongan-potongan puzzle yang lantas membentuk wajah Zhuhai saat ini.

Suasana Kota Zhuhai di Provinsi Guangdong, China pada Kamis (11/9/2025). Zhuhai yang terletak di selatan China merupakan satu dari empat kota pertama di China yang menjadi kawasan ekonomi khusus. Kota pesisir yang berbatasan dengan Hong Kong dan Makau ini pun menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Oleh karena itu, jangan heran bila banyak warga China yang menempuh pendidikan jauh-jauh hingga ke luar negeri. Semuanya pengaruh Yung Wing dan kawan-kawan. Gelombang sekolah ke luar negeri melahirkan banyak sosok revolusioner dan prominen, misalnya Xue Jinqin yang adalah perempuan pembicara publik pertama di China.

Daya pendidikan ini pada gilirannya memengaruhi kebijakan kota, setidaknya hingga satu abad seusai technology Yung Wing. Setelah technology reformasi ekonomi China, pemerintah Zhuhai menentukan arah pengembangan kota lewat pendekatan ilmiah, yakni pendidikan dan sains. Zhuhai sepertinya paham bahwa kebijakan sejatinya mesti jelas landasannya dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak boleh ngasal, apalagi buru-buru.

Dan berkembanglah Zhuhai seperti sekarang. Zhuhai terpilih sebagai salah satu kota pertama yang ditetapkan sebagai zona ekonomi khusus China pada 1980. Selain Zhuhai, kota lain yang menjadi zona ekonomi khusus di periode yang sama adalah Shenzhen, Xiamen, dan Shantou.

Kini, ekonomi Zhuhai digerakkan oleh sejumlah industri seperti teknologi dan industri. Zhuhai—yang disebut salah satu kota paling layak huni dan paling bahagia di China—melaju dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar 450 miliar yuan atau sekitar Rp 1 triliun pada 2024.

24 jam kurang

Dalam waktu kurang dari 24 jam, kelompok wartawan internasional diajak berkeliling ke sebanyak-banyaknya tempat di Zhuhai. Dari semua tempat, mungkin Desa Beishan adalah yang paling menarik.

Sekilas, Beishan tampak seperti desa yang kental dengan unsur sejarah dan budaya. Rumah-rumah tua dengan arsitektur China berdiri megah di beberapa titik.

Ada lagi rumah tua yang didandani, dan kini menjadi pertokoan. Turis suka pergi ke sana karena suasananya yang elok dan adem. Barang dan jasa yang dijual pun menarik hati. Karena tahu tak akan lama ada di Zhuhai, sebagian anggota rombongan segera membeli suvenir atau penganan khas yang tersedia. Katanya, ”Kapan lagi ke Zhuhai, kan?”

Selain Desa Beishan, rombongan juga diajak mengelilingi museum ini-itu di Kota Kuno Tangjia, yakni Zhuhai. Konten museumnya macam-macam, mulai dari sejarah Tangjia, bangunan-bangunan berarsitektur kuno yang masih dipelihara sampai sekarang, sampai kisah Yung Wing dan kawan-kawan yang melanglang buana ke AS.

Sayang, perjalanan di Zhuhai tak berlangsung lama. Sekitar 23 jam setelah kedatangan di Zhuhai, kami sudah tiba lagi di bandara untuk pulang ke Beijing. Meski tubuh letih dan linu-linu seusai banyak berjalan kaki, sebagian wartawan masih ingin menjelajahi Zhuhai.

”Andaikan bisa lebih lama ada di sini,” kata beberapa rekan wartawan.

Entah mantra apa yang tak sengaja terucap, sebagian wartawan jadi betulan mesti tinggal beberapa jam lebih lama di Zhuhai. Mungkin karena kesalahan sistem, nama dan nomor paspor wartawan-wartawan Asia-Pasifik tertukar. Akibatnya, kami tidak bisa test in dan melewatkan penerbangan sore.

Beruntung ada staf dan penyelenggara perjalanan yang membantu. Dahi mereka sampai berkerut dan berpeluh untuk mengurus isu ini. Di sisi lain, kelompok wartawan Asia-Pasifik malah cengengesan dan menertawakan nasib. Bagi kami, tak ada gunanya juga stres (meski di dalam hati deg-degan juga).

”Betul, kan. Zhuhai tidak mau kita pulang cepat!”

Kami bahkan berandai-andai kembali menginap di lodge bagus yang menghadap Laut China Selatan, lalu jalan-jalan sejenak dan makan hidangan ubur-ubur yang rasanya segar. Khayalan itu buyar ketika kami diberi tahu untuk pulang ke Beijing dengan penerbangan selanjutnya, lantas tiba di apartemen menjelang tengah malam.

Waktu kami di Zhuhai memang singkat, tetapi sangat berkesan. Duh, Zhuhai, lain kali kami datang lagi, deh!

Parfum AXL