Penulis: axlprojectpbn@gmail.com

  • Singgah Sejenak di Kampung Stamplat Girang, Kabupaten Bandung

    Singgah Sejenak di Kampung Stamplat Girang, Kabupaten Bandung

    Selain bergantung pada hasil perkebunan seperti teh dan kopi, warga secara swadaya lantas mengembangkan kampung tempat tinggal mereka menjadi kampung wisata.

    Tanah masih terlihat basah oleh hujan saat mobil yang kami tumpangi berhenti di depan pintu masuk Kampung Stamplat Girang, Senin (11/8/2025). Gerimis sesekali masih turun saat kami mulai berjalan kaki menuju ke tengah-tengah perkampungan.

    Suasana kampung tampak meriah dengan beragam dekorasi untuk menyambut HUT Ke-80 Kemerdekaan RI. Umbul-umbul, bendera, bola-bola dan bentuk lampion dari plastik bernuansa merah putih menghiasi rumah-rumah warga.

    Di tengah kampung sejumlah warga tampak sibuk membuat dekorasi yang akan digunakan untuk pawai budaya merayakan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI. Mereka menggunakan bambu untuk membuat tandu. Di sebelahnya sebuah mobil bak terbuka yang sudah terpasang kerangka kayu berbentuk rumah.

    Kepala Dusun Kampung Stamplat Girang Dede Komarudin mengatakan, setiap tahun warganya sangat antusias untuk mengikuti pawai dan gelar budaya dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI. ”Selain pawai berkeliling desa bersama komunitas dari desa-desa lainnya, acara budaya juga digelar di tengah kampung,” ujar Dede.

    Kampung Stamplat Girang terletak di Desa Indragiri, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dari Kawah Putih Ciwidey masih berjarak sekitar 14 kilometer. Sementara dari kota Bandung menuju ke Stamplat Girang ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam menggunakan mobil.

    Lokasi kampung berjauhan dengan kampung lainnya dan berada di antara lembah serta di tengah-tengah perkebunan teh. Hal itu membuat kendaraan harus berjalan pelan saat menyusuri jalan tanah yang sempit dan berkelok-kelok.

    Dengan lebar jalan yang sebagian besar hanya seukuran satu mobil, membuat pengemudi mesti ekstra hati-hati terutama saat berpapasan dengan kendaraan lain.

    Pada awalnya kampung tersebut dikenal sebagai tempat pemberhentian truk atau mobil yang akan mengangkut kayu hutan. Banyak warga kampung yang bekerja membantu menebang kayu dan memindahkan ke truk sebelum dibawa ke kota.

    Namun, lambat laun pemanfaatan kayu hutan itu tidak diperbolehkan dan aktivitas pengangkutan kayu hutan pun berhenti.

    Dikelilingi hutan yang banyak ditumbuhi pohon jamuju dan perkebunan teh, Kampung Stamplat Girang terlihat mungil. Saat ini, terdapat 26 rumah dengan 33 kepala keluarga yang tinggal di Kampung Stamplat Girang.

    Selain bergantung pada hasil perkebunan seperti teh dan kopi, warga secara swadaya dan bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk Perhutani, lantas mengembangkan kampung tempat tinggal mereka menjadi kampung wisata.

    Diawali dengan menata kampung menjadi lebih rapi dan bersih, kemudian menyediakan lokasi untuk kemping, hingga menyediakan rumah tinggal warga yang dapat disewa atau beralih fungsi menjadi house keep jika ada pengunjung yang ingin menginap. Bermalam di kamar-kamar rumah warga dan berbaur dengan warga desa menjadi salah satu pengalaman yang ditawarkan di tempat ini.

    Untuk tetap menjaga kebersihan dan kenyamanan kampung, warga antara lain secara rutin bergantian membersihkan jalan kampung dan selokan yang mengalir di depan tiap-tiap rumah warga.

    Uniknya selokan-selokan di kampung ini selain mengalir air yang jernih juga dipenuhi dengan ikan koi.

    Dengan inisiatif yang kuat dan komitmen warga, Kampung Stamplat Girang dapat tumbuh dan menjadi inspiratif desa yang mengembangkan ekonomi lokal warganya berbasis pariwisata dan agro.

    Perkembangan desa wisata di Indonesia dalam satu dekade terakhir sangat menggembirakan. Setiap tahun kuantitas desa wisata di Indonesia juga meningkat secara signifikan.

    Tahun 2024 tercatat ada 6.016 desa wisata berkategori rintisan, berkembang, dan maju yang berpartisipasi aktif dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Jumlah desa wisata yang pada awal 2019 berjumlah 7.500 menjadi 27.000 desa wisata pada medio November 2024.

    Lingkungan desa wisata yang masih asri, didukung dengan ritme kehidupan yang alami serta budaya dan tradisi yang terjaga menjadi modal utama dalam menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna.

    Parfum AXL

  • Senandung Kebebasan dari Dublin

    Senandung Kebebasan dari Dublin

    Berada di Dublin, Irlandia, pada musim panas menawarkan kehangatan dan keleluasaan untuk menjelajahi warisan budaya yang hidup di kota itu.

    Berada di jantung kota Dublin tidak hanya dapat menikmati keindahan pemandangan alam dan deretan bangunan tua bersejarah. Ibu kota Irlandia tersebut juga membawa semangat kebebasan berekspresi hingga melahirkan sejumlah musisi kelas dunia.

    Langit di Kota Dublin, Irlandia, Minggu (22/6/2025), tertutup mendung. Saat membuka jendela kamar lodge, matahari masih bersembunyi di balik awan abu-abu. Melihat padatnya time table Konferensi Internasional Pengendalian Tembakau 2025, waktu senggang sepanjang pagi ini merupakan saat tepat untuk menelusuri pusat kota itu.

    Rintik hujan disertai angin kencang menyambut begitu keluar dari penginapan. Meski demikian, cuaca yang kurang bersahabat itu tidak menyurutkan hasrat untuk menjelajahi kawasan wisata budaya di sepanjang Sungai Liffey yang jernih airnya saat musim panas.

    Sungai Liffey membelah kota menjadi sisi utara dan selatan, dengan pusat kota berada di antara keduanya. Dublin mempertahankan nuansa masa lalu dengan elemen kota dari zaman Viking, dari kastil Dublin hingga monumen penghormatan para penulis Irlandia.

    Salah satu keuntungan berada di Dublin adalah banyak hal bisa dilakukan dengan berjalan ataupun transportasi publik. Dengan wilayah tak terlalu luas, sekitar 115 kilometer persegi atau seperenam dari Ibukota Jakarta, disertai kekayaan sejarah dan bangunan-bangunan bersejarah nan indah, ada banyak hal untuk dilihat di tiap sudut kota.

    Untuk menjangkau berbagai sudut kota, tersedia bus dan tram dengan tarif harian ataupun berlangganan. Ada juga bus wisata yang siap mengantarkan kita menuju tempat-tempat wisata dan ikonik di Dublin selama 24 jam dengan tarif berkisar 25 euro. Jika ingin lebih leluasa sekaligus berolahraga, bisa juga berkeliling kota menggunakan sepeda yang disewakan di jalur khusus sepeda.

    Setelah melangkah beberapa meter dari lodge, pandangan mata pun tertuju ke seberang jalan, tepatnya jembatan Ha’penny, yang menghubungkan dua sisi Sungai Liffey. Setelah melintasi sungai melalui jembatan, tampak deretan toko suvenir, butik, kafe, bar, dan galeri budaya. Mural menghiasi dinding bangunan di jalan berbatu.

    Di sudut jalan, banyak turis berfoto di depan salah satu pub tertua di Dublin, yakni Temple Bar, yang beroperasi sejak tahun 1840. Bagian luar bangunan itu berbahan kayu warna merah, dihiasi lampu-lampu antik dan keranjang gantung dengan bunga warna-warni.

    Distrik Temple Bar yang ramai tak hanya menjadi surga belanja suvenir dan minum. Di sekitar Sungai Liffey itu, kita bisa mengunjungi beberapa museum dan bangunan bersejarah, antara lain Museum Whiskey Irlandia, Gudang Guiness, dan bangunan Kastil Dublin.

    Selama berabad-abad, Kastil Dublin yang dibangun pada awal abad ke-13 di lokasi permukiman Viking, berfungsi sebagai pusat pemerintahan Inggris, lalu Britania Raya di Irlandia. Pada 1922, setelah kemerdekaan Irlandia, kastil itu jadi kompleks pemerintahan dan obyek wisata utama.

    Saat hari beranjak siang, kawasan wisata itu makin ramai. Para turis dan warga setempat memadati restoran, kafe, dan bar untuk menyantap hidangan ataupun minum untuk melepas dahaga sambil berbincang dan menikmati alunan musik. Di sudut jalan, musisi jalanan menyanyikan lagu sambil memainkan gitar ataupun alat musik tradisional Irlandia.

    Warisan musik Dublin sama legendarisnya dengan warisan sastranya, membuat kota ini jauh melampaui ekspektasi di kancah internasional. Bagi pencinta musik, salah satu tempat yang patut dikunjungi adalah Museum Rock and Roll Irlandia.

    Di tempat itu, kita bisa menelusuri semua hal terkait industri musik Irlandia lebih dari setengah abad terakhir. Sebelum memasuki museum, sungguh sayang jika melewatkan kesempatan untuk berfoto di dinding luar museum yang bertuliskan Wall of Popularity Dublin.

    Dinding bagian luar museum tersebut bercat merah dan hitam dengan jendela-jendela kaca berbentuk segi empat yang lebar. Di jendela-jendela kaca itu, terpampang foto-foto diri dan sampul album beberapa penyanyi dan musisi Irlandia antara lain Sinead O’Connor, Eric Bell, pendiri grup musik Skinny Lizzy, dan grup rock Indie Pillow Queens.

    Untuk mengikuti tur berpemandu di museum itu, pengunjung mesti membayar tiket masuk 26 euro. Setelah antre masuk museum selama 30 menit, Anto, perempuan asal Chile, pun menghampiri dan memandu berkeliling museum tersebut.

    Eksplorasi sejarah musik

    Ini tak sekadar kunjungan museum biasa, tetapi perjalanan interaktif ke jantung budaya musik Dublin yang berkembang pesat. Tempat yang berdiri sejak tahun 2015 ini penuh dengan memorabilia dan foto-foto autentik yang menghidupkan kembali legenda musik Irlandia.

    Saat menelusuri lorong-lorong kompleks musik yang berperan dalam karier para seniman Irlandia, seolah terhubung dengan sejarah musik rock Irlandia sejak 1970-an hingga kini. Apalagi saat berada di ruangan sama yang dulu kerap dikunjungi para musisi pencetak sejarah musik.

    Perjalanan diawali dengan menuruni tangga menuju ruang bawah tanah yang gelap. Di salah satu ruangan, terpajang pelat-pelat piringan hitam karya musisi terkemuka Irlandia mulai dari Gary Moore hingga Enya, dan memorabilia legenda musik seperti keyboard dan gitar.

    Ada sudut khusus untuk mengenang Rorry Gallagher, musisi, penyanyi, dan penulis lagu rock asal Irlandia yang dijuluki sebagai dewa gitar. Sejumlah gitar miliknya dipajang di kotak kaca dilengkapi lukisannya dan video yang memutar pementasan musiknya.

    Tak hanya pelat-pelat piringan hitam dan alat musik, di ruangan itu juga terdapat foto-foto autentik Rorry Gallagher. Foto-foto berwarna hitam-putih disertai dengan video yang merekam aksi panggung musisi legendaris tersebut.

    Evy Rachmawati
    Anto, pemandu, sedang menjelaskan mengenai koleksi Museum Rock and Roll Irlandia, kepada rombongan wisatawan, di Kota Dublin, Irlandia, Minggu (22/6/2025).

    Selanjutnya, pengunjung diajak memasuki ruang pameran band U2. Ada settee, foto-foto lama, piringan hitam, tiket dari masa awal U2 dikenal, jaket coklat besar generation ’80-an, seperangkat alat musik band, dan memorabilia lain yang menggambarkan perjalanan grup tersebut.

    Di ruang bercermin yang dirancang untuk bermain musik bersama itu, Anto mengajak pengunjung memainkan alat musik demi merasakan sensasi pengalaman rock and roll. Beberapa pria pun mencoba memainkan drum. ”Saya berkunjung ke sini karena suka musik,” tutur Mai, pengunjung dari Jerman.

    Saya berkunjung ke sini karena suka musik.

    Sejenak merasakan sensasi bermain musik rock and roll, berada di ruangan yang sama di mana para musisi terkemuka pernah singgah. Tak perlu malu karena tak bisa memainkan alat musik. Sekadar menabuh drum ala kadarnya pun sudah menimbulkan rasa senang.

    Kemudian, tur berlanjut dengan menyaksikan pemutaran movie pendek dokumenter tentang evolusi musik rock di Irlandia dan musik sebagai jalinan kehidupan Irlandia di ruangan lain. Dalam 10 menit lebih, movie ini merekam jejak perkembangan karier beberapa musisi kenamaan Irlandia, termasuk Dubliners.

    Piringan hitam dan memorabilia para penyanyi dan musisi legendaris Irlandia terpajang di Museum Rock and Roll Irlandia, di Kota Dublin, Irlandia, pada Minggu (22/6/2025).

    Anto lalu membawa kami menaiki tangga menuju ruangan besar nan gelap di mana terdapat panggung musik, The Button Manufacturing unit. Menurut laman Dublin.ie, dulu tempat itu adalah pabrik pakaian dalam. Musisi Nile Rodgers dan Van Morrison pernah duduk di belakang panggung itu. ”Di sini biasa ada pentas musik,” ujarnya.

    Perjalanan menelusuri jejak industri musik di Irlandia berlanjut ke gedung di seberang museum, lokasi Temple Lane Recording Studios, studio musik di mana para musisi ternama merekam lagu. Di lantai atas, terdapat studio rekaman dan memorabilia beberapa artis kenamaan, seperti piyama dan jaket penyanyi Michael Jackson dan kostum panggung Sinead O’Connor.

    Semangat antikekerasan

    Dari tur ini tergambar semangat kesetaraan dan kebebasan dari segala bentuk kekerasan, ketidakadilan, serta penindasan, dalam berbagai karya musik yang dihasilkan para musisi Irlandia. Salah satunya adalah lagu U2 berjudul ”The place the Streets Have No Title”.

    I need to run, I need to cover/I wanna tear down the partitions that hang me inside of/I wanna succeed in out and contact the flame/The place the streets don’t have any title (Aku ingin lari, aku ingin bersembunyi/Aku ingin meruntuhkan tembok yang menahanku di dalam/Aku ingin meraih dan menyentuh api/Di mana jalanan tak bernama)

    Sepenggal lirik lagu ”The place the Streets Have No Title” dari band rock Irlandia, U2, ini menjadi lagu pembuka album mereka tahun 1987. Lagu ini menyuarakan kesetaraan melalui gagasan mengenai suatu tempat di mana standing sosial tak ditentukan alamat seseorang.

    Irlandia tak hanya dikenal sebagai tempat asal grup U2. Di museum itu juga terdapat memorabilia sejumlah penyanyi dan grup musik lainnya dari negeri itu yang mendunia antara lain musisi dan penyanyi blues Gary Moore, penyanyi Enya, Sinead O’Connor, band rock Cranberries, dan band beraliran people rock The Corrs.

    Band-band seperti The Chieftans dan Clannad pun meraih kesuksesan yang mendunia, membawa musik tradisional Irlandia. Musik Irlandia juga berpengaruh besar pada band seperti Skinny Lizzy dengan lagu hitsnya ”Whiskey in The Jar” dan jadi ikon rock and roll.

    Sementara lagu Cranberries, ”Zombie”, terinspirasi dari pengeboman di Warrington, Inggris, pada 1993 oleh Irish Republican Military, yang menewaskan dua anak. Lagu itu memprotes perang dan pelaku kekerasan diibaratkan zombie yang mengabaikan nyawa manusia.

    Plat piringan hitam karya Gary Moore dengan lagu ”After The Warfare” pun dipajang di dinding salah satu ruang museum. Lagu itu menyampaikan pesan rekonsiliasi, dengan menyoroti bagaimana perang meninggalkan luka pada individu, secara fisik dan emosional.

    …When the battles were gained?/inside of your lonely castle/the fight’s simply begun/after the battle/who will you preventing for (kapan perang dimenangkan?/dalam benteng kesepianmu/pertempuran baru dimulai/setelah perang/siapa yang akan kamu perjuangkan).

    Atmosfer musik yang kuat dan suasana kota yang hangat membuat Dublin menjadi salah satu tempat tujuan anak muda untuk melancong maupun bekerja. Dari Dublin, suara kebebasan dan kesetaraan pun menggaung hingga ke seluruh penjuru dunia.

    Parfum AXL

  • Bali yang Disimpan, Diperam, dan Dilepaskan Auguste

    Bali yang Disimpan, Diperam, dan Dilepaskan Auguste

    Auguste Soesastro seperti melakukan ”fermentasi” selama bertahun-tahun untuk merespons ”rasa” dari Bali versi terkini. Penggunaan bahan klasik yang dipadukan dengan rancangan bersiluet modern seolah mencerminkan dualitas budaya yang berdampingan di Bali. Begitu dinamis dan universal seiring waktu.

    Penafsiran yang matang tentang Bali itu tak lahir dalam sekejap. Sebelumnya, Auguste pernah memperkenalkan koleksi yang terinspirasi dari tarian Bali di New York, Amerika Serikat, pada tahun 2010. Sejak saat itu, dia terus mengamati, meriset, dan mengeksplorasi banyak hal.

    Benar saja, semakin lama diperam, koleksi 27 tampilan busana karya Auguste bertajuk ”Archipelago Cruise” yang tampil dalam Plaza Indonesia Fashion Week, Jakarta, Minggu (28/9/2025), terlihat segar dan berani tanpa meninggalkan ciri khas detail garis, konstruksi potongan, dan minim ornamentasi.

    ‘”Sebenarnya karena research yang ’tidak selesai’ (berkesinambungan). Nanti beberapa tahun lagi kalau dapat ide atau gagasan baru, mungkin bisa keluar lagi (koleksi lainnya), tapi untuk sekarang saya rest dulu (dari tema ini),” ucap pendiri label Kraton ini, ditemui seusai acara.

    Pada pembuka, penonton disuguhi lanskap matahari saat siang di atas lautan luas pada layar di latar belakang. Kemudian, satu per satu model melintasi landas peraga. Salah satu model pria mengenakan setelan jas dan celana pendek selutut berwarna putih, menampilkan kesan santai nan elegan.

    Biasanya jas yang memiliki kerah shawl identik dengan kesan formal dan serius. Auguste melembutkan kesan itu dengan membuat kerah atas yang tegak, sedikit mengingatkan pada Napoleon collar, kerah pada jas yang dikenakan kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte. Bagian depan kerah berkancing yang dibuat melebar memberi efek dada terlihat bidang.

    Setelah mata dimanja dengan warna putih, muncul busana bernuansa hitam. Setelan rok panjang hitam bermotif garis dan atasan blus hitam semi-dress berlengan panjang yang terlihat nyaman dikenakan model. Ini dipertegas dengan keberadaan dua saku pada kanan dan kiri rok, yang menjadi andalan untuk menyelipkan tangan saat teriknya matahari ataupun cuaca yang dingin.

    Pakaian keseharian di Bali tak melulu dikaitkan dengan yang berbahan minim, Auguste menyajikan pilihan lain yang panjang dan nyaman dipakai harian. Rancangan ini dilengkapi aksen kain ikat pinggang berwarna senada yang dililitkan pada pinggang sehingga menampilkan batas pinggang ke atas dan bawah tanpa membuat lekuk tubuh terlihat ketat.

    Menurut saya, Bali zaman sekarang sebagian besar sudah ”westernized” sekali. Saya ingin menunjukkan baju-baju yang bisa dipakai di Bali masih punya jejak tradisional Indonesia, tapi tampilannya tetap internasional.

    Eksplorasi

    Fragmen selanjutnya yang ditampilkan pada latar belakang layar adalah video masyarakat Bali yang menjalankan tradisi atau upacara adat pada sore hari. Ada lima rancangan pakaian khas Bali yang elemen tradisionalnya ditunjukkan lewat bawahan kain songket Bali.

    Auguste tidak terlalu banyak memainkan warna terang pada koleksi atasan di segmen ini. Ia coba memadukan elemen itu dengan warna cerah pada corak tenunan songket Bali yang lebih geometrik.

    ”Menurut saya, Bali zaman sekarang sebagian besar sudah westernized sekali. Saya ingin menunjukkan baju-baju yang bisa dipakai di Bali masih punya jejak tradisional Indonesia, tapi tampilannya tetap internasional. Jadi, bukan baju barat dan bukan juga baju tradisional panggung (setengah kostum), saya mencari jalan tengah,” ucapnya.

    Kali ini eksplorasinya dengan memadukan songket Bali menghasilkan pendekatan yang menyenangkan dan segar. Bisa dikatakan bahwa penggunaan kain tradisional tidak membuat fokus orang akan langsung tertuju pada kainnya, tetapi justru ke desain baju atasan yang anggun nan elegan.

    Salah satu contohnya terlihat pada rancangan blus atasan berbahan viscose yang dipadukan songket Bali berwarna dasar kemerahan. Blus itu menciptakan efek melayang dan jatuh mengikuti garis potongan. Siluet pakaiannya terlihat longgar sehingga menghadirkan ruang gerak yang cukup nyaman bagi yang mengenakan. Sementara kain songket yang dibuat tegak lurus membuat anggun secara tampilan keseluruhan.

    Tampilan wastra tak tampak mendominasi. Sebaliknya, perpaduan bahan tradisional dan rancangan yang modern justru saling menguatkan. Koleksi atasan pada segmen ini terlihat akan mudah dipadu padan dengan berbagai macam bawahan selain kain. Ruang keleluasaan ini membuat koleksi ini bisa berdaya pakai panjang.

    ”Ini kan koleksinya Bali, tapi Bali zaman sekarang itu masih ada semua pengaruh, ya. Saya mau kasih lihat bahwa masih ada tradisionalnya sedikit dan tradisional itu sebenarnya bisa berkembang,” tuturnya.

    Nyaman

    Kenyamanan yang diutamakan ini terlihat dari pemilihan jenis kain yang digunakan. Sebagian besar desain rancangan yang hadir dalam koleksi ini menggunakan linen premium, salah satunya desain jaket parka linen. Daya serap tinggi yang dimiliki kain linen membuat parka ini cocok dipakai dalam cuaca panas sekalipun, seperti di Bali.

    Menjelang pengujung pergelaran, tampil gaun panjang berbahan laminated lurex crepe yang cukup mencuri perhatian. Di bawah cahaya lampu, gaun ini memantulkan kilau lembut yang memberi aura glamor elegan yang pas. Keglamoran dalam garapan Auguste senantiasa terasa senyap, tak berteriak.

    Potongan gaunnya membentuk kesan anggun saat sang model melangkah. Tambahan aksen ikat pinggang membuat tubuh terlihat ramping dan kaki lebih jenjang.

    Di balik setiap rancangan minimalis Auguste selalu tersimpan pesan yang tak terucap, tapi bisa dirasakan. Dalam proses kreatifnya, dia selalu mempertanyakan sesuatu. Satu hal yang diyakininya, sebuah desain itu bisa berevolusi ketika perancangnya mempertanyakan sesuatu.

    ”Saya tahu ada batasan-batasannya, tetapi batasan itu tetap punya ujungnya sampai di mana. Nah, bagian itu yang selalu saya coba mainkan dan dorong terus,” ujar perancang yang sejak kecil menjadi kosmopolit itu.

    Bagi dia, tahap penelitian atau melakukan riset itu amat penting. Tidak hanya terlihat bagus secara estetika, tapi harus juga diikuti dengan penelitian. Sekali lagi, Auguste selalu memperhatikan detail kenyamanan, bukan demi estetika saja.

    Koleksi Bali milik Auguste menjadi contoh bahwa setiap ide yang datang harus diendapkan untuk kemudian diwujudkan. Setelah menyelami masa lalu dan merespons masa kini, api semangat bereksplorasinya dibiarkan terus menghangat.

    Parfum AXL

  • Aduhai, Zhuhai!

    Aduhai, Zhuhai!

    Zhuhai yang berbatasan dengan Makau dan China punya segudang hal untuk ditunjukkan. Namun, kami hanya punya kurang dari 24 jam untuk menjelajah kota ini.

    Semua terjadi serba cepat di Zhuhai, sebuah kota pesisir di selatan China yang berbatasan dengan Makau. Ini bukan karena ritme hidupnya yang cepat, melainkan karena kami tak punya banyak waktu untuk singgah. Namun, Zhuhai tampaknya tak rela melepas dan berusaha menahan kami tinggal lebih lama.

    ”Sayang sekali kita tidak sampai 24 jam di Zhuhai, ya,” ucap saya kepada Dragana Blejica, wartawan Serbia, saat melaju dengan bus di jalanan Zhuhai, Jumat (12/9/2025).

    Kala itu, sebagian wartawan Asia-Pasifik dan Eropa berkunjung ke Kota Zhuhai dan Shenzhen yang ada di Provinsi Guangdong, China. Kunjungan ini adalah bagian dari program China World Press Verbal exchange Heart (CIPCC), sebuah program di bawah Asosiasi Diplomasi Publik China (CPDA). Para wartawan diajak menengok kemajuan Zhuhai dan Shenzhen setelah menjadi zona ekonomi khusus 45 tahun terakhir.

    Wartawan Serbia tadi manggut-manggut. Dia juga pengin tinggal 1-2 hari lebih lama di Zhuhai. Bagi dia, yang suka keliling Asia untuk mencari kehangatan matahari saat musim dingin di Serbia, Zhuhai adalah tempat yang tepat untuk bertualang sambil berjemur.

    Hal serupa dirasakan oleh wartawan-wartawan Asia-Pasifik yang notabenenya sudah ”kenyang” dijemur matahari. Setelah sekian pekan tinggal di Beijing yang seperti hutan beton, pergi ke Zhuhai adalah sebuah kemewahan. Langitnya biru cerah, mataharinya hangat, udaranya bersih, dan laut biru terhampar di depan mata. Ibaratnya seperti pergi dari Jakarta ke Raja Ampat.

    Suasana Kota Zhuhai di Provinsi Guangdong, China pada Jumat (12/9/2025). Zhuhai yang terletak di selatan China merupakan satu dari empat kota pertama di China yang menjadi kawasan ekonomi khusus. Kota pesisir yang berbatasan dengan Hong Kong dan Makau ini pun menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat.

    Zhuhai pun menarik karena memiliki latar belakang sejarah dan budaya. Dulu, Zhuhai adalah desa bagi para nelayan, petambak garam, dan petani. Zhuhai lantas bertransformasi menjadi kota yang maju, bahkan menjadi salah satu gerbang globalisasi dan modernisasi.

    Posisi Zhuhai yang berada di pesisir Sungai Mutiara serta menghadap Laut China Selatan menjadikan kota ini strategis. Sejak technology Dinasti Han, ”Kota Seratus Pulau” ini menjadi simpul perdagangan penting antara China dengan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Zhuhai juga termasuk salah satu simpul Jalur Sutra.

    Hal ini sekaligus menjadikan Zhuhai sebagai kanal pertukaran budaya dan pintu yang membuka pemahaman akan peradaban dunia. Zhuhai pun menjadi jendela buat dunia yang begitu luas, khususnya bagi para muda-mudi yang haus pengetahuan dan petualangan.

    Berangkatlah Yung Wing, Wong A laugh, dan Wong Shing ke Amerika Serikat pada 1847. Tiga pemuda Zhuhai ini adalah orang-orang China pertama yang menempuh pendidikan di luar negeri. Gelombang untuk menuntut ilmu ke luar negeri pun bergulir setelah mereka pulang kampung. Ilmu dan perspektif yang mereka peroleh di negeri orang adalah potongan-potongan puzzle yang lantas membentuk wajah Zhuhai saat ini.

    Suasana Kota Zhuhai di Provinsi Guangdong, China pada Kamis (11/9/2025). Zhuhai yang terletak di selatan China merupakan satu dari empat kota pertama di China yang menjadi kawasan ekonomi khusus. Kota pesisir yang berbatasan dengan Hong Kong dan Makau ini pun menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat.

    Oleh karena itu, jangan heran bila banyak warga China yang menempuh pendidikan jauh-jauh hingga ke luar negeri. Semuanya pengaruh Yung Wing dan kawan-kawan. Gelombang sekolah ke luar negeri melahirkan banyak sosok revolusioner dan prominen, misalnya Xue Jinqin yang adalah perempuan pembicara publik pertama di China.

    Daya pendidikan ini pada gilirannya memengaruhi kebijakan kota, setidaknya hingga satu abad seusai technology Yung Wing. Setelah technology reformasi ekonomi China, pemerintah Zhuhai menentukan arah pengembangan kota lewat pendekatan ilmiah, yakni pendidikan dan sains. Zhuhai sepertinya paham bahwa kebijakan sejatinya mesti jelas landasannya dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak boleh ngasal, apalagi buru-buru.

    Dan berkembanglah Zhuhai seperti sekarang. Zhuhai terpilih sebagai salah satu kota pertama yang ditetapkan sebagai zona ekonomi khusus China pada 1980. Selain Zhuhai, kota lain yang menjadi zona ekonomi khusus di periode yang sama adalah Shenzhen, Xiamen, dan Shantou.

    Kini, ekonomi Zhuhai digerakkan oleh sejumlah industri seperti teknologi dan industri. Zhuhai—yang disebut salah satu kota paling layak huni dan paling bahagia di China—melaju dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar 450 miliar yuan atau sekitar Rp 1 triliun pada 2024.

    24 jam kurang

    Dalam waktu kurang dari 24 jam, kelompok wartawan internasional diajak berkeliling ke sebanyak-banyaknya tempat di Zhuhai. Dari semua tempat, mungkin Desa Beishan adalah yang paling menarik.

    Sekilas, Beishan tampak seperti desa yang kental dengan unsur sejarah dan budaya. Rumah-rumah tua dengan arsitektur China berdiri megah di beberapa titik.

    Ada lagi rumah tua yang didandani, dan kini menjadi pertokoan. Turis suka pergi ke sana karena suasananya yang elok dan adem. Barang dan jasa yang dijual pun menarik hati. Karena tahu tak akan lama ada di Zhuhai, sebagian anggota rombongan segera membeli suvenir atau penganan khas yang tersedia. Katanya, ”Kapan lagi ke Zhuhai, kan?”

    Selain Desa Beishan, rombongan juga diajak mengelilingi museum ini-itu di Kota Kuno Tangjia, yakni Zhuhai. Konten museumnya macam-macam, mulai dari sejarah Tangjia, bangunan-bangunan berarsitektur kuno yang masih dipelihara sampai sekarang, sampai kisah Yung Wing dan kawan-kawan yang melanglang buana ke AS.

    Sayang, perjalanan di Zhuhai tak berlangsung lama. Sekitar 23 jam setelah kedatangan di Zhuhai, kami sudah tiba lagi di bandara untuk pulang ke Beijing. Meski tubuh letih dan linu-linu seusai banyak berjalan kaki, sebagian wartawan masih ingin menjelajahi Zhuhai.

    ”Andaikan bisa lebih lama ada di sini,” kata beberapa rekan wartawan.

    Entah mantra apa yang tak sengaja terucap, sebagian wartawan jadi betulan mesti tinggal beberapa jam lebih lama di Zhuhai. Mungkin karena kesalahan sistem, nama dan nomor paspor wartawan-wartawan Asia-Pasifik tertukar. Akibatnya, kami tidak bisa test in dan melewatkan penerbangan sore.

    Beruntung ada staf dan penyelenggara perjalanan yang membantu. Dahi mereka sampai berkerut dan berpeluh untuk mengurus isu ini. Di sisi lain, kelompok wartawan Asia-Pasifik malah cengengesan dan menertawakan nasib. Bagi kami, tak ada gunanya juga stres (meski di dalam hati deg-degan juga).

    ”Betul, kan. Zhuhai tidak mau kita pulang cepat!”

    Kami bahkan berandai-andai kembali menginap di lodge bagus yang menghadap Laut China Selatan, lalu jalan-jalan sejenak dan makan hidangan ubur-ubur yang rasanya segar. Khayalan itu buyar ketika kami diberi tahu untuk pulang ke Beijing dengan penerbangan selanjutnya, lantas tiba di apartemen menjelang tengah malam.

    Waktu kami di Zhuhai memang singkat, tetapi sangat berkesan. Duh, Zhuhai, lain kali kami datang lagi, deh!

    Parfum AXL

  • Bibit Unggul dan Keterlibatan Perempuan, Rahasia Harumnya Kopi Parahyangan

    Bibit Unggul dan Keterlibatan Perempuan, Rahasia Harumnya Kopi Parahyangan

    Di Tanah Parahyangan, hamparan hijau yang indah dan pegunungan nan megah seolah menjadi penjaga abadi sebuah rahasia. Di balik selimut kabut ini tersimpan semangat para petani yang merawat perkebunan kopi unggulan Jawa Barat.

    Parfum AXL

  • Ketika Kecap Manis Bersanding dengan Bumbu Perancis

    Ketika Kecap Manis Bersanding dengan Bumbu Perancis

    La Vie en Rose mengalun pelan dari pengeras suara di halaman depan Institut Français d’Indonésie, Jakarta, Selasa (1/10/2025) sore itu. Sesekali berganti dengan ”Le Festin” dari film Ratatouille dan musik-musik musette khas Perancis lainnya, seakan menegaskan nuansa keanggunan Perancis yang kini berbaur di jantung Jakarta. Sementara itu, aroma lelehan mentega, kesegaran anggur, dan adonan roti, berbaur mengiringi langkah para tamu yang mulai memenuhi ruangan.

    Sore itu, pekan Gastronomi Perancis yang digelar oleh Institut Français d’Indonésie edisi ketiga resmi dibuka. Rangkaian acara bertajuk ”Le Goût de France-Cita Rasa Perancis, J’adore!” itu menggaet lebih dari 150 restoran di 40 kota dan 10 pulau di Indonesia, serta akan menyelenggarakan lebih dari 200 acara publik selama dua pekan, sepanjang 1–13 Oktober 2025.

    Indonesia dan Perancis sama-sama ”foodie”, bangsa pencinta kuliner. Makanan adalah jembatan untuk berbagi nilai dan belajar satu sama lain.

    Agenda yang disiapkan berlapis, mulai dari pertunjukan memasak langsung bersama chef tamu, jamuan kolaboratif di hotel-hotel ternama, pelatihan dan lokakarya untuk pengajar dan pelajar sekolah vokasi, hingga pameran ilustrasi makanan. Tidak hanya itu, ada pula kompetisi resep di media sosial yang mengajak publik luas ikut merasakan semangatnya, serta forum bisnis yang mempertemukan produsen anggur dan pengusaha lokal.

    ”Indonesia dan Perancis sama-sama foodie, bangsa pencinta kuliner. Makanan adalah jembatan untuk berbagi nilai dan belajar satu sama lain,” ujar Duta Besar Perancis untuk Indonesia Fabian Penone, dalam sambutannya. Ia menyebut bahwa tahun ini istimewa, bukan hanya karena jumlah kegiatan yang melonjak, melainkan juga karena bertepatan dengan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

    ”Chef” Rosier membumbui Jakarta

    Sorotan acara jatuh pada kehadiran Chef Andrée Rosier. Perempuan asal Biarritz itu bukan hanya seorang koki yang berhasil meraih bintang Michelin, tetapi juga perempuan pertama yang meraih gelar Meilleur Ouvrier de France (MOF) pada 2007, sebuah gelar bergengsi yang hanya dianugerahkan lewat ujian dapur paling ketat di Perancis.

    Selain itu, Ia juga pernah menerima penghargaan Ksatria Legion of Honour dari pemerintah Perancis. ”Saya mulai memasak sejak kecil, dari ibu saya yang pandai di dapur,” ujarnya sambil tersenyum.

    ”Masakan adalah cerita dan saya ingin berbagi cerita saya di sini,” imbuhnya.

    ”Chef” Jean Yves Leuranguer, sesama penerima gelar MOF dan menjadi mentor bagi Rossier, menjelaskan betapa ketatnya ujian dapur yang mereka jalani. ”Setiap empat tahun sekali, seperti Olimpiade. Dari 900 koki, hanya belasan yang lolos. Ada ujian teori, lalu 15 hari persiapan, dan di final kami harus memasak hidangan lengkap sesuai instruksi juri,” katanya.

    ”Saat mengenakan jaket MOF, beban itu berat. Tapi, tanggung jawab untuk berbagi lebih besar,” tambahnya.

    Dalam agenda di hari itu, Chef Rosier memimpin kegiatan demo memasak hidangan yang dinamai Crevette Sauvages. Bahan baku utamanya di antaranya adalah udang, avokad, brokoli, minyak biji anggur, dan bumbu-bumbu lainnya.

    Chef Rosier memanggang udang dengan torch

    Dengan cekatan, Rosier menyiapkan udang dan brokoli yang akan dimasak. Uniknya, ketika membaluri udang, kecap manis khas Indonesia turut digunakan sebagai penambah rasa, bersamaan dengan kecap asin dan taburan bubuk cabai Espelette khas Biarritz, kota kelahiran sang koki.

    Setelah dibumbui, udang dibakar dengan cepat menggunakan torch, brokoli ditumis dengan minyak biji anggur ditambah parutan jahe segar. Setelah semua selesai dimasak, hidangan itu disajikan bersama puree avokad dan dihias dengan beberapa bunga segar. Perpaduan sederhana, tetapi meninggalkan kesan rasa yang menyeberangi batas geografis.

    Para tamu mencicipi bergiliran, beberapa mengambil ponsel untuk mengabadikan hidangan. Yang lain sibuk bertanya resep.

    Jakarta beraroma Paris

    Selain meja demo masak, stan-stan kuliner berderet menawarkan cita rasa lain yang menggugah perut para pengunjung. Stan Boulangerie La Parisien contohnya. Aroma roti hangat hasil panggangan menyeruak membuat beberapa tamu rela mengantre untuk mencicipi roti sourdough renyah berbagai rasa yang tersuguh di atas papan kayu.

    Beberapa langkah dari sana, Amuz Restaurant menawarkan jambon beurre, baguette berisi pork ham dan keju, dan disajikan pula variasi dengan daging sapi. Tekstur roti yang empuk dan renyah berpadu dengan gurihnya ham dan keju emmental, sederhana tetapi mengingatkan pada kafe-kafe kecil di Paris.

    Masakan adalah cerita, dan saya ingin berbagi cerita saya di sini.

    Fairmont Jakarta juga menyediakan kudapan yang tak kalah menarik. Foie Gras Mousse dengan truffle oil dijejerkan di atas meja, beserta hidangan pencuci mulut berupa Hazelnut & Almond Paris Breast berhasil menarik minat pengunjung yang sekadar menginginkan gigitan kecil.

    Stan Boulangerie La Parisien menyediakan berbagai jenis sourdough.

    Di meja lain, The Sari Delicatessen mencuri perhatian hampir setiap pengunjung karena menghadirkan boeuf bourguignon, daging sapi yang dimasak perlahan dalam anggur merah. Kuahnya pekat, dagingnya lembut, membuat siapa pun yang mencicipinya tak perlu banyak bicara, cukup mengangguk pelan karena cita rasanya yang tak terkatakan.

    Tak ketinggalan chicken ballotine dengan kulit ayam garing, disajikan bersama bayam tumis dan kentang tumbuk halus. Kulit renyahnya pecah di mulut, lalu berganti kelembutan daging dan saus yang pekat.

    Tak hanya chef tamu dari Perancis, ada pula chef Indonesia yang hadir. Salah satunya Kadek Sumiarta, juru masak muda dari Bali yang baru saja menempati posisi keempat dalam kompetisi kuliner Escoffier World di Paris tahun lalu.

    Di Jakarta ia tampil sebagai bukti bahwa talenta Indonesia kian diperhitungkan. Dari jalur populer, beberapa alumni MasterChef Indonesia juga terlihat hadir, menambah semarak acara.

    Beef bourguignon khas Perancis yang sangat sedap dan menarik perhatian pengunjung.

    Bagi publik, Pekan Gastronomi Perancis menghadirkan lebih dari sekadar perjamuan. Ada lokakarya memasak di sekolah-sekolah vokasi, program magang bagi mahasiswa kuliner, juga pameran ilustrasi makanan karya Guillaume Long yang dikenal lewat komik À boire et à manger.

    Long turut memeriahkan acara di sore hari itu dengan membuat ilustrasi hasil masakan dari Chef Rosier. Semuanya menjadi satu kesatuan dalam upaya mentransmisikan kekayaan budaya kedua negara.

    Pekan Gastronomi Prancis baru saja dimulai, tetapi jejak rasa yang ditinggalkannya sudah lebih dulu tertanam. Makanan bisa menjadi jembatan, dan tradisi bisa hidup kembali di setiap gigitan.

    Gambar ilustrasi karya Guillaume Long, illustrator yang mengalihmediakan karya makanan ke dalam karya seni.

    Parfum AXL

  • Kebebasan di Balik Kesederhanaan All New Subaru Forester

    Kebebasan di Balik Kesederhanaan All New Subaru Forester

    Membeli sebuah mobil, pada hakikatnya, adalah membeli kebebasan. Kebebasan untuk bepergian ke mana pun dan kapan pun kita mau. Beberapa mobil kemudian memberikan bonus berupa kemampuan untuk pergi lebih jauh menerabas rintangan yang tak bisa dilalui mobil kebanyakan.

    Salah satu merek yang memberikan ”bonus” itu adalah Subaru. Dengan pengalaman panjangnya memproduksi mobil berpenggerak empat roda (all wheel drive/AWD), Subaru membuka kemungkinan penjelajahan yang lebih luas bagi para penggunanya.

    Apalagi di era SUV (sport utility vehicle) saat ini, pabrikan asal Jepang itu ingin menegaskan tekadnya sebagai produsen SUV terkemuka. Citranya di masa lalu yang identik dengan motorsport dan mobil reli hendak digeser dengan citra produk-produk SUV-nya.

    Dari sembilan model yang saat ini dipasarkan Subaru di pasar global, lima model adalah SUV atau crossover SUV. Bahkan model Subaru Outback, yang dulu berbentuk mobil station wagon atau estate berkolong rendah, kini pun berubah menjadi sebuah crossover SUV berkolong tinggi.

    Di Tanah Air, produk terbaru Subaru adalah Subaru Forester generasi keenam yang diluncurkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, akhir Juli silam. Walau masih mengandalkan dua keunggulan utama Subaru, yakni mesin berkonfigurasi Boxer dan sistem Symmetrical AWD, Forester baru ini membawa kesegaran dengan desain yang lebih gagah dan mesin baru.

    Dengan dimensi panjang 4,655 meter (m), lebar 1,830 m, dan tinggi 1,730 m, Forester menempati posisi sebagai SUV berukuran menengah di jajaran lini produk Subaru. Dia berada di atas Subaru Crosstrek dan di bawah Subaru Ascent (tidak dipasarkan resmi di Indonesia). Dibandingkan kompetitornya yang memiliki spesifikasi hampir sama, Forester terbaru ini lebih pendek 8,5 sentimeter (cm) dibandingkan Mazda CX-60.

    AXL mendapat giliran menjajal langsung Forester generasi keenam ini pada pekan terakhir September lalu. Kesan pertama saat melihat SUV berkapasitas lima tempat duduk ini adalah garis-garis desainnya yang lebih tegas dan solid dibandingkan generasi sebelumnya sehingga mengesankan tampilan lebih gagah.

    Perubahan terbesar terletak pada garis bodi sampingnya yang tadinya cenderung merunduk landai ke depan menjadi lebih mendatar dari belakang ke depan. Alhasil, moncongnya menjadi lebih mendongak dan dihiasi gril yang lebih besar.

    Tidak mencolok

    Walaupun membawa kesegaran, desain mobil ini tetap mempertahankan DNA Forester yang memilih siluet sederhana dan tidak mencolok. Tidak ada kecenderungan untuk membuat mobil tampil futuristik secara berlebihan. Strategi desain ini membuat tampilan Forester cenderung ”awet” dan ”dewasa”.

    Kebersahajaan ini berlanjut ke interior. Desain roda kemudi dan dasbor secara keseluruhan terkesan semenjana, tidak neko-neko. Roda kemudinya berbentuk bundar sempurna, sementara penataan kluster instrumen dan garis-garis dasbornya masih ”lazim”-nya mobil biasa. Bahkan, pada varian Forester 2.5i-S EyeSight yang masuk ke Indonesia ini, kluster instrumen masih mengandalkan jarum-jarum analog. Sebuah fitur yang semakin langka pada mobil baru dewasa ini yang berlomba-lomba memaksimalkan layar digital.

    Bahan pelapis dasbor, pelapis pintu bagian dalam (door trim), dan jok kursi juga tidak menggunakan material atau warna yang aneh-aneh. Warna abu-abu gelap mendominasi interior. Di beberapa bagian dasbor bahkan masih ada material plastik keras tanpa pelapis empuk (soft touch).

    Hanya dalam brosur resmi mobil ini disebutkan adanya pilihan warna coklat untuk pelapis jok, door trim, dan konsol tengah. Pilihan warna interior ini hanya tersedia di Forester dengan warna eksterior Crystal Black Silica dan Brilliant Bronze Metallic.

    Meski tampil sederhana, bukan berarti mobil ini ketinggalan dalam soal teknologi. Dimulai dari desain kursi depannya yang menggunakan teknologi medical ergonomic seat. Rancangan jok ini dikembangkan bersama institusi medis di Jepang dengan meriset pola pergerakan tubuh manusia saat berkendara.

    Hasilnya adalah kursi yang dirancang lebih menopang tulang panggul dan punggung bawah, mengurangi tekanan di bagian leher dan pinggang, menjaga postur tubuh tetap ideal sepanjang perjalanan, dan alhasil mengurangi rasa pegal saat duduk dalam waktu lama. Oleh Subaru Indonesia, kursi ini dinamai ”jok antipegal”.

    Saat menjajal mengendarai Forester ini selama lebih dari dua jam nonstop, terbukti kursi tersebut bisa menopang tubuh dengan baik. Dipadukan dengan putaran roda kemudi yang ringan dan ergonomi posisi memegang roda kemudi, mengendarai mobil ini dalam waktu lama menjadi tidak melelahkan.

    Teknologi modern

    Teknologi canggih lainnya adalah driver monitoring system (DMS) yang berbasis teknologi pengenalan wajah pengemudi. Berdasarkan sejumlah parameter yang sudah diset saat membuat profil pengemudi, mobil bisa mengembalikan berbagai setelan, seperti pengaturan kaca spion luar, setelan audio, hingga AC sesuai dengan profil pengemudi. DMS ini juga disiplin mengingatkan pengemudi untuk selalu menjaga pandangan ke arah depan untuk menghindari distraksi.

    Sebagai mobil yang lahir pada abad ke-21, Subaru Forester terbaru ini juga dilengkapi layar infotainment digital berukuran 11,6 inci yang dipasang vertikal (posisi portrait). Berbagai kontrol fungsi mobil bisa diakses melalui layar ini, seperti AC, audio, dan peranti keselamatan aktif dan bantuan pengemudi EyeSight.

    Bedanya dengan layar kontrol di mobil-mobil modern lainnya, menu di layar Forester ini dibuat simpel. Hanya ada tiga submenu pada layar ini, yakni Vehicle Control, Driving Assistance, dan More Setting, dengan masing-masing submenu hanya berisi 2-6 perintah. Selain itu, ukuran huruf pada menu-menu tersebut juga dibuat besar sehingga mudah dikenali saat mata beralih sesaat melihat ke layar kontrol itu.

    Dua menu lainnya, yakni pilihan mode X-Mode untuk mengatur kemampuan offroad mobil dan pengaturan AC, dibikin tampil permanen di bagian atas dan bawah layar sehingga mudah diakses dan diatur secara intuitif.

    Namun, kesenangan berkendara Subaru Forester ini tetap berpusat pada sistem penggeraknya. Mesinnya kini menggunakan mesin berkode FB25 dengan empat silinder dalam konfigurasi Boxer (horizontally opposed). Kapasitasnya 2,5 liter (2.498 cc) yang mengeluarkan tenaga maksimum 185 PS pada putaran mesin 5.800 rpm dan torsi puncak 247 Nm pada 3.700 rpm.

    Tenaga mesin disalurkan ke empat roda melalui transmisi CVT Lineartronic yang bisa menyimulasikan pergantian ”gigi” manual 8 tingkat percepatan. Walau karakter CVT masih agak terasa saat akselerasi awal, secara keseluruhan akselerasi Forester baru ini terasa ringan dan linier. Meraih kecepatan tinggi di jalan tol juga tak butuh waktu terlalu lama.

    Selama pengujian, mobil diisi bensin beroktan 95 sesuai rekomendasi pabrik. Konsumsi bahan bakar dengan rute kombinasi berdasarkan perhitungan komputer mobil adalah 12 liter per 100 km, atau sekitar 8,3 km per liter. Namun dengan metode penuh ke penuh, konsumsi BBM-nya mencapai 9,4 km per liter. Angka yang wajar untuk mesin 2.500 cc.

    Saat jalanan aspal di depan habis dan hanya tersisa jalan tanah berbatu atau berlumpur, mobil ini masih bisa membawa penggunanya terus maju. Fitur X-Mode memberikan tiga pilihan mode berkendara, yakni Normal untuk jalanan beraspal normal, lalu mode Snow/Dirt untuk jalanan berlapis salju ringan dan jalan tanah berpasir, dan terakhir mode Deep Snow/Mud untuk jalanan berlapis salju tebal atau lumpur.

    Semua mode berkendara ini bisa diterapkan sembari kita menikmati suara sistem audio premium besutan Harman/Kardon dengan 11 pelantang suara (speaker) dan merasakan kelapangan dengan atap kaca panoramic sunroof yang bisa dibuka.

    Secara umum, mobil seharga Rp 735.500.000 (on the road, Jabodetabek) ini memiliki kemampuan yang mumpuni di balik tampilannya yang simpel. Jika Anda orang yang tak mau tampil mencolok, tidak neko-neko, dan mementingkan kebebasan bergerak, baik dalam keseharian maupun dalam petualangan di saat liburan, mobil ini bisa jadi pilihan yang tepat.

    Parfum AXL

  • Tak Kenal Maka Tak Matcha

    Tak Kenal Maka Tak Matcha

    Matcha tengah digandrungi kaum urban kelas menengah perkotaan, khususnya generasi Z. Segala yang serba matcha kini mudah ditemui di berbagai kafe, restoran, juga kedai patiseri. Kelas-kelas kursus penyeduhan matcha juga bertebaran. Di balik segala inovasinya, tak ada salahnya mengingat kembali pada esensi matcha dalam wujud sejatinya.

    Setelah pandemi, matcha makin menjadi tren rasa yang hadir di mana-mana. Berbagai kudapan manis yang viral menyertakan elemen matcha. Matcha sebagai minuman populer jarang ditawarkan secara tunggal. Umumnya dipadukan dengan bahan lainnya, seperti susu dan buah-buahan.

    Kreasi beragam matcha bisa ditemukan di toko roti dan kue, seperti kafe Fragments di Ashta District 8, Jakarta. Setiap gelas matcha latte, misalnya, dibanderol Rp 60.000. Matcha paling ekonomis, usucha, bisa dicicipi dengan harga Rp 55.000. Sementara, matcha jeju tangerine yang menyuguhkan kekhasan ”Negeri Ginseng” dijual seharga Rp 70.000.

    Ryan Kim, pemilik Fragments yang berasal dari Korea Selatan, memadukan matcha dengan cheong atau sirup dari fermentasi buah dan gula khas Korea. ”Sejak masih tinggal di Korsel, aku cinta banget sama matcha. Semula, aku melihat orang Indonesia tidak begitu menyukainya. Di Jepang dan Korsel, sejak dulu selalu populer,” ujar chef Ryan.

    Dia amat gembira mendapati animo masyarakat Indonesia sangat tinggi untuk menikmati matcha selama beberapa tahun ini. Sejak dua bulan lalu, akhirnya Kim turut mencantumkan menu minuman matcha di Fragments. Menurut dia, tren dari luar negeri kerap menyebar dengan cepat di Indonesia, sehingga tak heran menu matcha di Fragments selalu ludes diburu konsumen. Tingginya minat itu belum sebanding dengan ketersediaan stok.

    Membuat matcha itu butuh ketenangan. Harus ”mindful” dan hadir-penuh dalam setiap langkah. Saya ajarkan ”step by step”, supaya peserta benar-benar fokus dan tidak terburu-buru. Matcha itu bukan hanya minuman tren, melainkan sebuah ritual dengan sejarah panjang di Jepang.

    ”Kebetulan, sedang langka karena cuaca di negara asalnya kurang baik. Sekarang, sudah sedikit mendingan,” ucapnya.

    Di Korsel, Pulau Jeju dikenal dengan teh hijaunya yang berkualitas. Banyak wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korsel sehingga memicu maraknya konsumsi matcha. Setelah kembali ke Tanah Air, minuman yang mereka nikmati di kafe saat melancong kemudian dicari lagi. ”Mungkin juga drakor dan K-pop bikin matcha semakin dikenal meski komoditas Jepang masih lebih populer daripada Korsel,” ucapnya.

    Belajar menyeduh

    Menikmati matcha kini tidak sebatas mendatangi kafe atau restoran berbasis matcha. Banyak penggemar matcha berupaya lebih jauh untuk bisa meraciknya sendiri di rumah. Perlengkapan untuk menyeduh matcha juga banyak dijual lewat lokapasar. Namun, untuk menyeduh dengan benar, kursus singkat penyeduhan matcha menjadi magnet berikutnya.

    Salah satunya kursus singkat yang diadakan Obi Matcha dan restoran La Balena di Jakarta, Sabtu (13/9/2025). Di sana, peserta tak hanya belajar teknik menyeduh matcha yang tepat, tetapi juga memahami filosofi di balik tradisi minum teh di Jepang.

    Pendiri Obi Matcha, Olivia Budiono, menggunakan matcha impor dari Yame, di Prefektur Fukuoka, Jepang, dengan tingkatan ceremonial atau kualitas tinggi yang digunakan dalam upacara minum teh Jepang (chanoyu). Dia dan rekannya pernah menimba ilmu tentang matcha selama 6 bulan dengan seorang sensei profesor teh di Jepang.

    Ia berharap peserta tak hanya menikmati rasa matcha, tetapi juga memahami esensi di baliknya. ”Harapan saya, setelah ikut workshop ini, peserta bisa bikin matcha dengan cara tradisional di rumah. Setiap kali mereka bikin, hasilnya tetap konsisten dan sesuai, bukan asal-asalan,” ujarnya.

    Olivia Djajadi, seorang instruktur, mengajarkan tahap demi tahap penyeduhan matcha. Semua dilakukannya dengan sangat hati-hati, dari menuang dan menyaring 1-2 sendok teh bubuk matcha (3-4 gram), menuangkan air panas 60 mililiter dengan suhu 80 derajat celsius secara perlahan, lalu mengaduknya dengan chasen (whisk dari bambu) dengan gerakan M atau W sampai berbusa dan larut sempurna. Selanjutnya, jika ingin dijadikan matcha latte bisa ditambahkan pemanis atau susu.

    ”Membuat matcha itu butuh ketenangan. Harus mindful dan hadir-penuh dalam setiap langkah. Saya ajarkan step by step, supaya peserta benar-benar fokus dan tidak terburu-buru. Matcha itu bukan hanya minuman tren, melainkan sebuah ritual dengan sejarah panjang di Jepang,” kata Olivia.

    Lokakarya matcha seperti ini memperkaya pengetahuan para penikmatnya. Dari yang awalnya membeli minuman di kafe, kini mendalami teknik penyeduhannya. Seperti Alisha Oceani, peserta lokakarya, terlihat amat antusias memperhatikan tahapan penyeduhan. Sudah lama dia menyukai matcha, tetapi baru kali ini mengikuti kelas penyeduhan teh.

    ”Seru banget, peralatannya lengkap dan penjelasannya detail. Aku sudah pernah bikin matcha di rumah, tapi setelah ikut ini, aku jadi lebih paham prosesnya. Sekarang aku jadi pengen level up peralatan yang kupakai, nggak cuma yang dibeli di marketplace biasa,” ungkap Alisha.

    Mengutip sebuah artikel di Forbes, di kalangan gen Z matcha tidak lagi dibingkai sebagai makanan sehat, melainkan juga menjadi semacam performance sosial. Dengan membuatnya sendiri di rumah atau membawanya ke ruang publik menjadi ritual pribadi yang sekaligus berfungsi sebagai penanda sosial. Momen tersebut ketika dibagikan di media sosial lantas seolah menjadi simbol tersendiri.

    Matcha sejati

    Kehadiran kafe-kafe berbasis matcha turut memperkenalkan minuman ini secara luas. Namun, jangan pernah samakan teh hijau matcha dengan teh hijau biasa. Keduanya berbeda dari bagian yang dikonsumsi. Belum tentu matcha yang digunakan memiliki kualitas baik dan murni.

    Konsumsi matcha yang murni berarti kamu mengonsumsi seluruh bagian daun tehnya, bukan hanya ekstraknya. Jadi, kalau kualitas daun tehnya bagus dan asli, tubuhmu sudah cukup mendapatkan manfaat hanya dari konsumsi satu hingga dua kali seminggu.

    Sensei of Chado dari Urasenke Tankokai Indonesia Suwarni Widjaja mengatakan, tidak mudah untuk membedakan matcha yang asli dan sudah campuran dari fisik dan rasa. Menurutnya penting untuk dipahami agar tren gaya hidup yang berkembang selaras dengan pemahaman terhadap kualitas dan manfaat dari matcha itu sendiri.

    Urasenke merupakan salah satu dari tiga aliran utama upacara minum teh di Jepang. Urasenke Tankokai Indonesia adalah cabang organisasi urasenke di Jepang yang melestarikan dan mempromosikan chado. Di balik chado yang berarti ”jalan teh”, sebenarnya berakar pada filosofi Buddhisme Zen yang menekankan pada kesadaran melalui meditasi. Upacara minum teh adalah medium disiplin spiritual dan estetika dalam perjalanan penyempurnaan diri.

    Konsumsi matcha secara murni, ditekankan Suwarni, tidak perlu dilakukan setiap hari. Untuk mendapatkan manfaatnya cukup menggunakan sekitar satu hingga dua gram per takaran. Murni yang dimaksud adalah tidak menambahkan bahan pemanis atau lainnya ke dalamnya. Hanya air panas dan bubuk teh hijau matcha.

    ”Konsumsi matcha yang murni berarti kamu mengonsumsi seluruh bagian daun tehnya, bukan hanya ekstraknya. Jadi, kalau kualitas daun tehnya bagus dan asli, tubuhmu sudah cukup mendapatkan manfaat hanya dari konsumsi satu hingga dua kali seminggu,” ucapnya.

    Dalam wujud sejatinya, matcha mengandung antioksidan yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas dan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh. Sejumlah studi dan artikel ilmiah menunjukkan manfaat matcha bisa didapatkan saat seseorang mengonsumsi bubuk matcha yang berkualitas.

    Konsumsi teh hijau, telah lama menjadi bagian tradisi China. Kemudian berkembang ke Jepang. Di sana, penyeduhan matcha merupakan simbol kesederhanaan dan penghormatan terhadap tradisi kehidupan. Dalam chanoyu, pemilihan jenis matcha yang digunakan tidak boleh menggunakan tingkatan biasa, harus menggunakan yang kualitas tinggi dan asli.

    Menurut Suwarni, matcha yang asli memiliki warna hijau yang khas dan rasa otentik, berbeda dengan grade biasa. Ada beberapa merek yang digunakan untuk sekolah teh Urasenke, yakni Marukyu Koyamaen, Kambayashi, dan Ippodo. Ketiga merek itu memiliki sejarah panjang produksi teh, yang di antaranya dikenal sebagai pemasok teh hijau resmi untuk keluarga kaisar Jepang.

    Ketika mengetahui tradisi dan budaya asalnya, matcha mengajarkan kita untuk kembali pada yang alami bukan sekadar ramai dibicarakan. Saat ini, minat untuk belajar matcha meningkat pesat di Urasenke Indonesia. Materi yang diajarkan mulai dari penghormatan hingga latihan terstruktur.

    Kelas ini bersifat seumur hidup karena belajar matcha dianggap sebagai bagian proses tanpa akhir. Bahkan, seorang sensei teh seperti Suwarni pun masih terus belajar agar pengetahuannya tidak stagnan.

    ”Murid baru terus bertambah setiap bulan, termasuk dari Jepang. Jumlahnya meningkat sampai 3 kali lebih banyak dibanding tahun 2023,” ujar Suwarni.

    Tren global

    Tren matcha tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga dunia. Mengutip data Grand View Research, perusahaan konsultan dan riset pasar berbasis di Amerika Serikat, pasar matcha global diperkirakan mencapai 4,3 miliar dollar AS pada tahun 2023 dan diproyeksikan mencapai 7,43 miliar dollar AS pada tahun 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 7,9 persen dari tahun 2024 hingga 2030.

    Tingginya minat terhadap matcha itu tak sebanding dengan pasokannya yang cenderung stagnan. Tak heran, seperti diulas di salah satu artikel di BBC, di Jepang saja misalnya, pembeli matcha di berbagai toko kerap dibatasi hanya satu atau dua kemasan saja per orang.

    Popularitas matcha di panggung global diduga terkait dengan meledaknya turisme di Jepang pascapandemi. Seiring melemahnya mata uang yen, Jepang menjadi destinasi turis mancanegara yang menarik. Dampak ikutannya, segala terkait komoditas Jepang seperti matcha pun diminati. Apalagi selebritas Hollywood seperti Gwyneth Paltrow, Kylie Jenner, Rihanna, hingga Brad Pitt pun menggemari matcha.

    Pada tahun 2023, negara-negara di Asia Pasifik mendominasi pasar global matcha sebesar 57,76 persen. Grand View Research menyebutkan, pasar matcha di Amerika Serikat dan Eropa menjadi pangsa pasar yang substansial pada tahun 2023. Hal ini salah satunya disebabkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat kesehatan dari matcha. Dunia tengah menghijau, bukan oleh hutan, tapi matcha.

    Parfum AXL

  • Hidup Sedang Pahit, Carilah yang Manis

    Hidup Sedang Pahit, Carilah yang Manis

    Laburan tipis kecoklatan yang melapisi permukaan keik kuning keemasan itu terlihat menggiurkan. Ketika disuap, ia lumer tak berdaya di dalam mulut. Samar-samar, rasa manisnya terjejak gurih. Inilah nasi-uduk cheesecake. Begitulah, kini kudapan manis atau dessert yang digagas dengan pendekatan kontemporer menjadi kemewahan terjangkau kaum urban.

    Nasi-uduk cheesecake tersebut merupakan salah satu menu dessert yang hadir dalam Jakarta Dessert Week ke-6 yang digelar akhir Agustus hingga September lalu. Nyeleneh memang. Tapi, dessert eksperimental itu berhasil menerjemahkan makanan tradisional secara kontemporer. Nasi uduk dibaca sebagai konsep, ditafsir ulang, dan diwujudkan menjadi menu dessert.

    Mari lanjutkan pencicipan ini dengan elemen lain di sekitar keik tadi. Saus coklat kemerahan rupanya berperan seperti sambal, yang memberi sentilan pedas, asam, manis. Puncak kejutan apa lagi kalau bukan krim pastri bercita rasa nasi uduk. Istimewa, menilik racikan likat yang menyusupkan kegurihan semur itu ditingkahi sekelebat aroma jeruk nipis. Butiran crumble yang diracik dari bawang merah menyatu dengan sejumput kering kentang dan kacang tanah.

    Unik betul memang, peleburan kuliner yang sungguh kaya, seakan sepiring nasi uduk lengkap dengan lauk-pauk luruh di dalamnya. Sedikit bergeser dari ”khitah” kue keju, namun ajaibnya tercecap pas. Kelezatan ala Barat dan Timur itu yang disajikan estetik beralaskan daun pisang.

    Kudapan nasi-uduk cheesecake ini hasil kreasi Ryan Kim. Ia sebetulnya pusing tujuh keliling untuk memastikan komposisi paling klop. ”Susah banget, soalnya spesial. Belum pernah lihat nasi uduk jadi dessert (pencuci mulut). Kalau orang Indonesia sudah biasa makan nasi uduk,” ujar chef asal Korea Selatan ini.

    Jakarta Dessert Week (JDW) merupakan perhelatan tahunan yang sudah digelar sejak tahun 2019. Salah satu pendiri JDW, Tria Nuragustina, mengatakan, acara itu digagas berawal dari sekadar obrolan saat kumpul-kumpul kalangan pelaku bisnis kuliner atau food and beverage.

    ”Kita lihat kalau di luar negeri, dessert itu selalu jadi bagian dari makan lengkap—ada appetizer, main course, lalu dessert. Tapi, di Indonesia, orang kebanyakan makan nasi goreng, lalu pulang, nggak makan dessert. Padahal, dessert itu punya nilai seni yang luar biasa. Dari situ kita ingin bikin festival yang benar-benar memberi panggung untuk dessert,” kata Tria.

    Tria menjelaskan, JDW sejak awal bukan sekadar bazar kuliner, melainkan restaurant week selama tiga minggu penuh. Puluhan restoran, toko kue, hingga kedai gelato yang terpilih diajak membuat menu limited edition yang hanya tersedia selama festival.

    Tim dari JDW mengurasi semua dessert yang diikutsertakan. Dengan demikian, peserta JDW ini berbasis kurasi, bukan keikutsertaan yang hanya sekadar berbayar. Total ada 44 peserta terkurasi dari jenama dessert, restoran, toko kue, dan toko es krim.

    Tria mengungkapkan, dibandingkan JDW tahun 2024 lalu, pendapatan (revenue) selama JDW 2025 kali ini meningkat 27 persen. Angka ini, menurut dia, cukup menjanjikan di tengah situasi ekonomi yang cenderung dingin stagnan.

    Bagi Tria, kekuatan JDW juga terletak pada posisinya sebagai affordable luxury, kemewahan yang terjangkau. ”Di tengah ekonomi yang turun, dessert bisa jadi affordable luxury. Di resto, harga dessert lebih terjangkau dibanding main course (makanan utama), tapi tetap kasih rasa spesial. Jadi, orang tetap bisa menikmati pengalaman kuliner yang menyenangkan tanpa keluar biaya besar,” imbuh Tria.

    Fenomena dessert di kota seperti Jakarta beberapa tahun terakhir ini rupanya juga memengaruhi minat anak muda untuk bersekolah mengambil jurusan pastri. Hal itu diungkapkan oleh Anton Hamdali dari marketing communication perwakilan Le Cordon Bleu (LCB) di Indonesia. Menurut dia, gejala minat itu sudah tampak sebelum pandemi. Setelah pandemi, minat anak-anak muda lulusan SMA untuk sekolah pastri di LCB di sejumlah negara meningkat nyata.

    ”Setelah Covid, definitely lebih banyak lagi, baik laki-laki maupun perempuan. Dari Indonesia kebanyakan masih ke LCB di Australia,” kata Anton.

    Meski sudah memperluas festival hingga terselenggara di Bandung dan Medan, visi JDW tetap jelas, membawa Jakarta ke peta kuliner global. ”Kami ingin Jakarta ada di peta kuliner global, seperti Bangkok atau Kuala Lumpur. Tapi, pendekatannya tetap rooted in local. Misalnya, ada menu unik kayak nasi-uduk cheesecake. Orang mungkin mikir aneh, tapi ternyata enak banget. Jadi, ada kebanggaan lokal yang kita angkat,” papar Tria.

    Konsep kelokalan itulah yang kemudian mewujud menjadi aneka dessert kontemporer hasil penafsiran dari kuliner lokal atau tradisional. Selain nasi-uduk cheesecake tadi, ada pula dessert unik, yakni ginger and mung beans alias angsle karya Vivianatalia Simangunsong, sous chef dari ESA Restaurant di kawasan SCBD, Jakarta.

    Angsle tersebut dalam JDW 2025 memenangi Golden Swirl Awards untuk kategori Plated Dessert of the Year. Konsep segar yang ditonjolkan adalah menggabungkan hot and cold dan semprotan ekstrak jahe. Dinginnya didapatkan dari gelato ketan putih dan sensasi hangat dimunculkan dari busa (foam) jahe yang dituang di atas gelato.

    Sebelum dituangi busa jahe, bagian atas gelato disemprot ekstrak jahe. Ekstrak jahe ini memperkuat busa jahe dari segi aroma. Sementara busa jahe tampil ”hangat” saat sampai di kerongkongan. Baik angsle tradisional maupun dessert modern ini sama-sama memiliki aroma khas jahe. Eksplorasi teknik dalam kreasi ini membutuhkan keunggulan keterampilan tersendiri.

    Tema lokal

    Selama tiga tahun terakhir, JDW memang konsisten mengangkat tema lokal untuk dieksplorasi dengan pendekatan kontemporer. Cara ini mengangkat khazanah kuliner tradisional menjadi lebih modern dan selaras dengan lanskap internasional. Kuncinya di inovasi yang juga napas penting dalam JDW.

    ”Tiga tahun belakangan, kami selalu mendorong tema-tema yang punya nilai lokal. Tiga tahun lalu temanya cerita rakyat atau folklore, setahun lalu wildlife atau flora dan fauna Indonesia. Tahun ini kami memilih tribute to Jakarta, karena ingin produk pastri dan dessert di Jakarta punya pembeda berupa infusi unsur lokal,” tutur Tria.

    Bagi Tria, identitas lokal inilah yang akan membedakan Jakarta dengan kota lain. ”Kalau croissant di Jakarta sama saja dengan yang ada di Singapura, Bangkok, atau Kuala Lumpur, untuk apa orang jauh-jauh datang ke sini? Mereka pasti mencari sesuatu yang berbeda. Pariwisata tujuannya, kan, mengajak orang datang dan spending money. Jadi, kita harus punya sesuatu yang berbeda,” lanjutnya.

    ”Dessert hopping”

    Selain adanya penghargaan Golden Swirl Awards dalam 13 kategori, JDW 2025 lalu juga diwarnai dengan dessert hopping, jalan-jalan kuliner mencicipi dessert dari beberapa restoran terpilih. Grup-tur icip-icip ini memulai perjalanannya di Monas, akhir Agustus lalu.

    Dengan mengunjungi beberapa restoran dan kafe pilihan, pengunjung diajak mengenal Ibu Kota bukan hanya lewat cerita, melainkan juga lewat rasa. Oleh karena itu, JDW juga didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Jakarta.

    Dalam dessert hopping itu, peserta diajak singgah ke kafe Chicory di Menteng, Jakarta Pusat. Dari luar, bangunan kafe bergaya klasik Eropa itu langsung memancarkan nuansa hangat. Di dalam, aroma kopi berpadu dengan wangi butter dan gula panggang. Chef Priscilla Wignjopranoto memperkenalkan kreasi berjudul Tonkoko. Inspirasi menu ini datang dari kenangan masa kecilnya.

    ”Namanya Tonkoko, itu inspirasi dari jajanan tradisional yang saya suka makan waktu kecil, kue rangi atau kue pancong yang mirip-mirip itu. Tapi, ini kami kasih modern touch dengan memperkenalkan cream cheese dan tongkabiun,” ujar Priscilla.

    Tujuannya sederhana, memodernisasi camilan masa kecil tanpa mengubah rasa dasarnya. Hanya sedikit sentuhan tambahan agar jajanan yang akrab bisa tampil baru dan segar.

    Perjalanan kemudian berlanjut ke Kemang, Jakarta Selatan, yakni ke restoran Knots. Ruangannya lebih kontemporer, dengan meja kayu panjang, lampu temaram, dan musik yang mengalun pelan. Di sini, Chef Letare Ulima dan Chef Riesky Vernandes menafsirkan ulang dua kudapan, bolen dan kue rangi.

    ”Sebenarnya untuk Jakarta, kami memilih dua ikon, kue rangi dan bolen. Alasannya sederhana, karena kami dan partner sama-sama suka. Bedanya, kami ingin membuat ala Knots, yaitu patiseri,” kata Letare.

    Bolen mereka dimodifikasi. Pisangnya ditumis dulu dengan mentega (butter) lokal, menghasilkan aroma gurih yang lebih kaya. Sementara kue rangi diberi sentuhan teknik masak Perancis dan Italia. Ada cokelat, ada es krim, hingga lapisan saus dan kuah.

    Perjalanan icip-icip ini lalu berlabuh di di Natsuka Cafe, Cilandak, Jakarta Selatan. Di sini, Chef Keshia menamai kreasinya Miso no Shiro. Menu ini tidak sekadar manis, tetapi juga merupakan sebuah representasi visual. ”Miso no Shiro diciptakan untuk menangkap banyak layer. Karena kami ingin mempresentasikan banyaknya layer di Jakarta yang modern dan minimalis,” ucap Keshia.

    Dalam satu piring terdapat kombinasi tekstur: lapisan silky mousse, renyah dari crunchy crunch, manis legit dari sirup cokelat-putih, hingga sensasi dingin dari mousse beku. Menurut Keshia, Jakarta bukan hanya kota tradisi, melainkan juga pusat modernitas. ”Aku rasa sisi itu juga bisa ditangkap lewat dessert,” ujarnya.

    Begitulah kaum muda menafsir Jakarta dan mewujudkannya dalam kudapan manis. Melalui JDW, penyelenggara tengah berikhtiar membangun ekosistem dessert yang khas dalam industri kuliner di Jakarta.

    Meski ekonomi tengah kurang bergairah, kudapan manis setidaknya bisa menjadi penghiburan sejenak bagi lidah yang mungkin sudah lelah untuk mengeluh.

    Parfum AXL

  • 5 Retouch Hack yang Wajib Dicoba Pemula, Make-up Makin On Level!

    5 Retouch Hack yang Wajib Dicoba Pemula, Make-up Makin On Level!

    Jakarta – Make-up yang flawless di pagi hari sering kali jadi tantangan besar untuk tetap bertahan hingga sore. Aktivitas seharian, mulai dari kerja, assembly, hingga nongkrong bareng teman, bisa bikin wajah jadi cepat berminyak atau make-up perlahan luntur. Akhirnya, penampilan jadi kurang maksimal dan bikin rasa percaya diri ikut berkurang.
    Nah, di sinilah pentingnya retouch make-up. Bukan berarti harus complete make-up ulang, tapi cukup dengan beberapa trik sederhana untuk menyegarkan tampilan. Dengan cara yang tepat, make-up bisa kembali segar, rapi, dan terlihat herbal seakan baru dipoles. Retouch yang benar juga bisa mencegah hasil make-up terlihat cakey atau terlalu tebal.

    Buat kamu yang masih pemula, retouch make-up sebenarnya gampang banget dilakukan. Kuncinya ada di pemilihan produk yang tepat dan langkah-langkah simpel agar hasilnya tetap awet. Yuk, simak pointers berikut untuk bikin make-up kamu tetap on level sepanjang hari tanpa drama luntur.
    Bersihkan Minyak Berlebih
    Kilap di space T-zone atau pipi bisa bikin make-up terlihat berat atau cakey. Sebelum retouch, tekan perlahan dengan tisu atau blotting paper untuk menyerap minyak berlebih. Wajah yang bebas kilap membuat langkah selanjutnya lebih maksimal.
    Perbaiki Noda dengan Concealer
    Noda baru atau space kusam bisa muncul seiring aktivitas sehari-hari. Gunakan concealer tipis-tipis dengan sponge atau brush untuk menutupnya. Hasilnya tetap herbal dan riasan tidak terlihat tebal.
    Set Make-up dengan Bedak Tipis
    Setelah concealer, tepuk bedak tipis di space yang sudah dibersihkan minyaknya. Gunakan puff atau brush, jangan digesek, agar make-up tetap di tempatnya dan terlihat halus.

    Segarkan Warna Bibir
    Bibir kehilangan warna setelah makan atau minum? Tambahkan lip balm atau lip tint ringan agar bibir tetap lembap dan warnanya kembali segar.
    Trik Tambahan untuk Wajah Matte Sepanjang Hari
    Menurut Dr. Dray, seorang dermatologis asal Amerika, penggunaan oil keep an eye on paper tidak merangsang kulit memproduksi lebih banyak minyak. Produk ini efektif menyerap kelebihan sebum tanpa mengganggu keseimbangan alami kulit.
    Maka dari itu, bawa selalu oil keep an eye on paper di tas untuk menyerap minyak berlebih kapan saja, menjaga wajah tetap segar tanpa merusak riasan. Cocok untuk pemula maupun mereka yang aktif seharian.

    Parfum AXL