JAKARTA -Menurut information terbaru U.S. Nationwide Institutes of Well being (NIH) tahun ini, sekitar 40 juta orang dewasa di Indonesia mengalami kadar kolesterol LDL (LDL-C) tinggi yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Banyak yang belum mendapatkan terapi, sehingga menjadi faktor utama meningkatnya angka kematian akibat penyakit kardiovaskular. Peningkatan akses terapi dan edukasi kesehatan menjadi prioritas yang mendesak.
Tantangan ini diperkuat dengan penelitian internasional. Studi INTERASPIRE (Eu Center Magazine, 2024) melaporkan bahwa di Indonesia, hanya 16,6% pasien penyakit arteri koroner yang berhasil mencapai goal LDL-C <70 mg/dL, sementara kepatuhan terhadap panduan terapi secara keseluruhan masih sangat rendah.
Mayoritas pasien gagal mengontrol tekanan darah, memiliki prevalensi tinggi diabetes dan obesitas, serta minim partisipasi dalam program rehabilitasi jantung.
Dr. Ade Meidian Ambari, Presiden Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), menjelaskan bahwa dahulu goal LDL-kolesterol untuk pasien kardiovaskular risiko tinggi adalah <100 mg/dL atau <70 mg/dL. Namun, pada kadar tersebut pun, banyak pasien masih berisiko tinggi mengalami kejadian kardiovaskular mayor seperti serangan jantung dan stroke.
Dia menekankan bahwa pedoman ESC/EAS 2021 bahkan menurunkan goal untuk pasien risiko sangat tinggi menjadi <55 mg/dL, menegaskan kembali prinsip bahwa “semakin rendah, semakin baik”.
“Dalam lanskap terapi world yang terus berkembang, monoterapi saja tidak cukup. Pendekatan dual-inhibition dengan rosuvastatin dan ezetimibe menjadi jalur optimum untuk mencapai goal LDL-C dan mempertahankan hasil jangka panjang.” ujarnya.
Dia menjelaskan, terapi dual-inhibition mengombinasikan rosuvastatin, yang menekan sintesis kolesterol di hati, dengan ezetimibe, yang menghambat penyerapan kolesterol di usus halus. Kombinasi ini memungkinkan pasien mencapai kadar goal dengan lebih efektif dan aman dibandingkan monoterapi.
“Bagi pasien risiko sangat tinggi, strategi dual-inhibition yang menekan sintesis sekaligus penyerapan kolesterol adalah cara paling efektif mencapai goal LDL-C. Terapi dislipidemia memberikan pendekatan ini, dengan peningkatan signifikan pada hasil terapi pasien.”
Baik In Hyun, Direktur Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menyatakan, penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian nomor satu di Indonesia, namun banyak pasien masih gagal menurunkan LDL-kolesterolnya secara efektif.
“Mengatasi kebutuhan medis yang belum terpenuhi adalah salah satu misi utama kami di Daewoong Indonesia, demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.” paparnya.
Dia mengatakan salah satu terapi yang bisa digunakan orang dengan kolesterol tinggi yakni terapi dislipidemia yang bisa menurunkan LDL-C yang lebih kuat dibandingkan terapi yang ada sebelumnya.
Terapi ini menunjukkan efikasi lebih tinggi dan risiko efek samping lebih rendah dibandingkan monoterapi statin, mampu menurunkan LDL-C lebih dari 50% bahkan pada dosis rendah 10/2,5 mg.
Selain itu, terapi ini tersedia dalam tiga opsi dosis (10/5 mg, 10/10 mg, 10/20 mg), termasuk kombinasi dosis rendah 10/5 mg pertama di Indonesia, sehingga memungkinkan terapi yang lebih dipersonalisasi sesuai kebutuhan pasien.
Rosuvastatin, sebagai satu-satunya statin dengan bukti klinis dapat memperlambat progresi aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah akibat penumpukan lemak/plak), semakin memperkuat potensi terapi Daewoong untuk menjadi standar baru dalam tata laksana dislipidemia.
Prof. JeeHoon Kang dari Seoul Nationwide College Clinic mempresentasikan hasil studi RACING yang melibatkan 3.780 pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik (ASCVD) di Korea Selatan.
Studi ini menunjukkan bahwa kombinasi dosis tetap rosuvastatin dan ezetimibe, mekanisme dual-inhibition yang sama dengan terapi Daewoong, mencapai tingkat keberhasilan goal LDL-C satu tahun yang lebih tinggi dibandingkan monoterapi statin intensitas tinggi (73% vs. 55%), dengan tingkat penghentian terapi yang lebih rendah, sehingga lebih menguntungkan untuk kepatuhan jangka panjang (The Lancet, 2022).
Prof. JeeHoon Kang berkomentar, “Dalam praktik klinis, sebagian besar pasien masih gagal mencapai goal terapi. Terapi dislipidemia Daewoong hadir sebagai alternatif yang tepat waktu dan relevan.” Ia menambahkan, “Dengan dual-inhibition, terapi ini menurunkan beban efek samping sekaligus meningkatkan efektivitas, yang sangat mengesankan. Pedoman 2025 akan menetapkan goal LDL-C yang lebih ketat, dan terapi dislipidemia Daewoong siap menjadi tolok ukur baru.”