Kategori: maklon parfum

  • Tak Kenal Maka Tak Matcha

    Tak Kenal Maka Tak Matcha

    Matcha tengah digandrungi kaum urban kelas menengah perkotaan, khususnya generasi Z. Segala yang serba matcha kini mudah ditemui di berbagai kafe, restoran, juga kedai patiseri. Kelas-kelas kursus penyeduhan matcha juga bertebaran. Di balik segala inovasinya, tak ada salahnya mengingat kembali pada esensi matcha dalam wujud sejatinya.

    Setelah pandemi, matcha makin menjadi tren rasa yang hadir di mana-mana. Berbagai kudapan manis yang viral menyertakan elemen matcha. Matcha sebagai minuman populer jarang ditawarkan secara tunggal. Umumnya dipadukan dengan bahan lainnya, seperti susu dan buah-buahan.

    Kreasi beragam matcha bisa ditemukan di toko roti dan kue, seperti kafe Fragments di Ashta District 8, Jakarta. Setiap gelas matcha latte, misalnya, dibanderol Rp 60.000. Matcha paling ekonomis, usucha, bisa dicicipi dengan harga Rp 55.000. Sementara, matcha jeju tangerine yang menyuguhkan kekhasan ”Negeri Ginseng” dijual seharga Rp 70.000.

    Ryan Kim, pemilik Fragments yang berasal dari Korea Selatan, memadukan matcha dengan cheong atau sirup dari fermentasi buah dan gula khas Korea. ”Sejak masih tinggal di Korsel, aku cinta banget sama matcha. Semula, aku melihat orang Indonesia tidak begitu menyukainya. Di Jepang dan Korsel, sejak dulu selalu populer,” ujar chef Ryan.

    Dia amat gembira mendapati animo masyarakat Indonesia sangat tinggi untuk menikmati matcha selama beberapa tahun ini. Sejak dua bulan lalu, akhirnya Kim turut mencantumkan menu minuman matcha di Fragments. Menurut dia, tren dari luar negeri kerap menyebar dengan cepat di Indonesia, sehingga tak heran menu matcha di Fragments selalu ludes diburu konsumen. Tingginya minat itu belum sebanding dengan ketersediaan stok.

    Membuat matcha itu butuh ketenangan. Harus ”mindful” dan hadir-penuh dalam setiap langkah. Saya ajarkan ”step by step”, supaya peserta benar-benar fokus dan tidak terburu-buru. Matcha itu bukan hanya minuman tren, melainkan sebuah ritual dengan sejarah panjang di Jepang.

    ”Kebetulan, sedang langka karena cuaca di negara asalnya kurang baik. Sekarang, sudah sedikit mendingan,” ucapnya.

    Di Korsel, Pulau Jeju dikenal dengan teh hijaunya yang berkualitas. Banyak wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korsel sehingga memicu maraknya konsumsi matcha. Setelah kembali ke Tanah Air, minuman yang mereka nikmati di kafe saat melancong kemudian dicari lagi. ”Mungkin juga drakor dan K-pop bikin matcha semakin dikenal meski komoditas Jepang masih lebih populer daripada Korsel,” ucapnya.

    Belajar menyeduh

    Menikmati matcha kini tidak sebatas mendatangi kafe atau restoran berbasis matcha. Banyak penggemar matcha berupaya lebih jauh untuk bisa meraciknya sendiri di rumah. Perlengkapan untuk menyeduh matcha juga banyak dijual lewat lokapasar. Namun, untuk menyeduh dengan benar, kursus singkat penyeduhan matcha menjadi magnet berikutnya.

    Salah satunya kursus singkat yang diadakan Obi Matcha dan restoran La Balena di Jakarta, Sabtu (13/9/2025). Di sana, peserta tak hanya belajar teknik menyeduh matcha yang tepat, tetapi juga memahami filosofi di balik tradisi minum teh di Jepang.

    Pendiri Obi Matcha, Olivia Budiono, menggunakan matcha impor dari Yame, di Prefektur Fukuoka, Jepang, dengan tingkatan ceremonial atau kualitas tinggi yang digunakan dalam upacara minum teh Jepang (chanoyu). Dia dan rekannya pernah menimba ilmu tentang matcha selama 6 bulan dengan seorang sensei profesor teh di Jepang.

    Ia berharap peserta tak hanya menikmati rasa matcha, tetapi juga memahami esensi di baliknya. ”Harapan saya, setelah ikut workshop ini, peserta bisa bikin matcha dengan cara tradisional di rumah. Setiap kali mereka bikin, hasilnya tetap konsisten dan sesuai, bukan asal-asalan,” ujarnya.

    Olivia Djajadi, seorang instruktur, mengajarkan tahap demi tahap penyeduhan matcha. Semua dilakukannya dengan sangat hati-hati, dari menuang dan menyaring 1-2 sendok teh bubuk matcha (3-4 gram), menuangkan air panas 60 mililiter dengan suhu 80 derajat celsius secara perlahan, lalu mengaduknya dengan chasen (whisk dari bambu) dengan gerakan M atau W sampai berbusa dan larut sempurna. Selanjutnya, jika ingin dijadikan matcha latte bisa ditambahkan pemanis atau susu.

    ”Membuat matcha itu butuh ketenangan. Harus mindful dan hadir-penuh dalam setiap langkah. Saya ajarkan step by step, supaya peserta benar-benar fokus dan tidak terburu-buru. Matcha itu bukan hanya minuman tren, melainkan sebuah ritual dengan sejarah panjang di Jepang,” kata Olivia.

    Lokakarya matcha seperti ini memperkaya pengetahuan para penikmatnya. Dari yang awalnya membeli minuman di kafe, kini mendalami teknik penyeduhannya. Seperti Alisha Oceani, peserta lokakarya, terlihat amat antusias memperhatikan tahapan penyeduhan. Sudah lama dia menyukai matcha, tetapi baru kali ini mengikuti kelas penyeduhan teh.

    ”Seru banget, peralatannya lengkap dan penjelasannya detail. Aku sudah pernah bikin matcha di rumah, tapi setelah ikut ini, aku jadi lebih paham prosesnya. Sekarang aku jadi pengen level up peralatan yang kupakai, nggak cuma yang dibeli di marketplace biasa,” ungkap Alisha.

    Mengutip sebuah artikel di Forbes, di kalangan gen Z matcha tidak lagi dibingkai sebagai makanan sehat, melainkan juga menjadi semacam performance sosial. Dengan membuatnya sendiri di rumah atau membawanya ke ruang publik menjadi ritual pribadi yang sekaligus berfungsi sebagai penanda sosial. Momen tersebut ketika dibagikan di media sosial lantas seolah menjadi simbol tersendiri.

    Matcha sejati

    Kehadiran kafe-kafe berbasis matcha turut memperkenalkan minuman ini secara luas. Namun, jangan pernah samakan teh hijau matcha dengan teh hijau biasa. Keduanya berbeda dari bagian yang dikonsumsi. Belum tentu matcha yang digunakan memiliki kualitas baik dan murni.

    Konsumsi matcha yang murni berarti kamu mengonsumsi seluruh bagian daun tehnya, bukan hanya ekstraknya. Jadi, kalau kualitas daun tehnya bagus dan asli, tubuhmu sudah cukup mendapatkan manfaat hanya dari konsumsi satu hingga dua kali seminggu.

    Sensei of Chado dari Urasenke Tankokai Indonesia Suwarni Widjaja mengatakan, tidak mudah untuk membedakan matcha yang asli dan sudah campuran dari fisik dan rasa. Menurutnya penting untuk dipahami agar tren gaya hidup yang berkembang selaras dengan pemahaman terhadap kualitas dan manfaat dari matcha itu sendiri.

    Urasenke merupakan salah satu dari tiga aliran utama upacara minum teh di Jepang. Urasenke Tankokai Indonesia adalah cabang organisasi urasenke di Jepang yang melestarikan dan mempromosikan chado. Di balik chado yang berarti ”jalan teh”, sebenarnya berakar pada filosofi Buddhisme Zen yang menekankan pada kesadaran melalui meditasi. Upacara minum teh adalah medium disiplin spiritual dan estetika dalam perjalanan penyempurnaan diri.

    Konsumsi matcha secara murni, ditekankan Suwarni, tidak perlu dilakukan setiap hari. Untuk mendapatkan manfaatnya cukup menggunakan sekitar satu hingga dua gram per takaran. Murni yang dimaksud adalah tidak menambahkan bahan pemanis atau lainnya ke dalamnya. Hanya air panas dan bubuk teh hijau matcha.

    ”Konsumsi matcha yang murni berarti kamu mengonsumsi seluruh bagian daun tehnya, bukan hanya ekstraknya. Jadi, kalau kualitas daun tehnya bagus dan asli, tubuhmu sudah cukup mendapatkan manfaat hanya dari konsumsi satu hingga dua kali seminggu,” ucapnya.

    Dalam wujud sejatinya, matcha mengandung antioksidan yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas dan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh. Sejumlah studi dan artikel ilmiah menunjukkan manfaat matcha bisa didapatkan saat seseorang mengonsumsi bubuk matcha yang berkualitas.

    Konsumsi teh hijau, telah lama menjadi bagian tradisi China. Kemudian berkembang ke Jepang. Di sana, penyeduhan matcha merupakan simbol kesederhanaan dan penghormatan terhadap tradisi kehidupan. Dalam chanoyu, pemilihan jenis matcha yang digunakan tidak boleh menggunakan tingkatan biasa, harus menggunakan yang kualitas tinggi dan asli.

    Menurut Suwarni, matcha yang asli memiliki warna hijau yang khas dan rasa otentik, berbeda dengan grade biasa. Ada beberapa merek yang digunakan untuk sekolah teh Urasenke, yakni Marukyu Koyamaen, Kambayashi, dan Ippodo. Ketiga merek itu memiliki sejarah panjang produksi teh, yang di antaranya dikenal sebagai pemasok teh hijau resmi untuk keluarga kaisar Jepang.

    Ketika mengetahui tradisi dan budaya asalnya, matcha mengajarkan kita untuk kembali pada yang alami bukan sekadar ramai dibicarakan. Saat ini, minat untuk belajar matcha meningkat pesat di Urasenke Indonesia. Materi yang diajarkan mulai dari penghormatan hingga latihan terstruktur.

    Kelas ini bersifat seumur hidup karena belajar matcha dianggap sebagai bagian proses tanpa akhir. Bahkan, seorang sensei teh seperti Suwarni pun masih terus belajar agar pengetahuannya tidak stagnan.

    ”Murid baru terus bertambah setiap bulan, termasuk dari Jepang. Jumlahnya meningkat sampai 3 kali lebih banyak dibanding tahun 2023,” ujar Suwarni.

    Tren global

    Tren matcha tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga dunia. Mengutip data Grand View Research, perusahaan konsultan dan riset pasar berbasis di Amerika Serikat, pasar matcha global diperkirakan mencapai 4,3 miliar dollar AS pada tahun 2023 dan diproyeksikan mencapai 7,43 miliar dollar AS pada tahun 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 7,9 persen dari tahun 2024 hingga 2030.

    Tingginya minat terhadap matcha itu tak sebanding dengan pasokannya yang cenderung stagnan. Tak heran, seperti diulas di salah satu artikel di BBC, di Jepang saja misalnya, pembeli matcha di berbagai toko kerap dibatasi hanya satu atau dua kemasan saja per orang.

    Popularitas matcha di panggung global diduga terkait dengan meledaknya turisme di Jepang pascapandemi. Seiring melemahnya mata uang yen, Jepang menjadi destinasi turis mancanegara yang menarik. Dampak ikutannya, segala terkait komoditas Jepang seperti matcha pun diminati. Apalagi selebritas Hollywood seperti Gwyneth Paltrow, Kylie Jenner, Rihanna, hingga Brad Pitt pun menggemari matcha.

    Pada tahun 2023, negara-negara di Asia Pasifik mendominasi pasar global matcha sebesar 57,76 persen. Grand View Research menyebutkan, pasar matcha di Amerika Serikat dan Eropa menjadi pangsa pasar yang substansial pada tahun 2023. Hal ini salah satunya disebabkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat kesehatan dari matcha. Dunia tengah menghijau, bukan oleh hutan, tapi matcha.

    Parfum AXL

  • Hidup Sedang Pahit, Carilah yang Manis

    Hidup Sedang Pahit, Carilah yang Manis

    Laburan tipis kecoklatan yang melapisi permukaan keik kuning keemasan itu terlihat menggiurkan. Ketika disuap, ia lumer tak berdaya di dalam mulut. Samar-samar, rasa manisnya terjejak gurih. Inilah nasi-uduk cheesecake. Begitulah, kini kudapan manis atau dessert yang digagas dengan pendekatan kontemporer menjadi kemewahan terjangkau kaum urban.

    Nasi-uduk cheesecake tersebut merupakan salah satu menu dessert yang hadir dalam Jakarta Dessert Week ke-6 yang digelar akhir Agustus hingga September lalu. Nyeleneh memang. Tapi, dessert eksperimental itu berhasil menerjemahkan makanan tradisional secara kontemporer. Nasi uduk dibaca sebagai konsep, ditafsir ulang, dan diwujudkan menjadi menu dessert.

    Mari lanjutkan pencicipan ini dengan elemen lain di sekitar keik tadi. Saus coklat kemerahan rupanya berperan seperti sambal, yang memberi sentilan pedas, asam, manis. Puncak kejutan apa lagi kalau bukan krim pastri bercita rasa nasi uduk. Istimewa, menilik racikan likat yang menyusupkan kegurihan semur itu ditingkahi sekelebat aroma jeruk nipis. Butiran crumble yang diracik dari bawang merah menyatu dengan sejumput kering kentang dan kacang tanah.

    Unik betul memang, peleburan kuliner yang sungguh kaya, seakan sepiring nasi uduk lengkap dengan lauk-pauk luruh di dalamnya. Sedikit bergeser dari ”khitah” kue keju, namun ajaibnya tercecap pas. Kelezatan ala Barat dan Timur itu yang disajikan estetik beralaskan daun pisang.

    Kudapan nasi-uduk cheesecake ini hasil kreasi Ryan Kim. Ia sebetulnya pusing tujuh keliling untuk memastikan komposisi paling klop. ”Susah banget, soalnya spesial. Belum pernah lihat nasi uduk jadi dessert (pencuci mulut). Kalau orang Indonesia sudah biasa makan nasi uduk,” ujar chef asal Korea Selatan ini.

    Jakarta Dessert Week (JDW) merupakan perhelatan tahunan yang sudah digelar sejak tahun 2019. Salah satu pendiri JDW, Tria Nuragustina, mengatakan, acara itu digagas berawal dari sekadar obrolan saat kumpul-kumpul kalangan pelaku bisnis kuliner atau food and beverage.

    ”Kita lihat kalau di luar negeri, dessert itu selalu jadi bagian dari makan lengkap—ada appetizer, main course, lalu dessert. Tapi, di Indonesia, orang kebanyakan makan nasi goreng, lalu pulang, nggak makan dessert. Padahal, dessert itu punya nilai seni yang luar biasa. Dari situ kita ingin bikin festival yang benar-benar memberi panggung untuk dessert,” kata Tria.

    Tria menjelaskan, JDW sejak awal bukan sekadar bazar kuliner, melainkan restaurant week selama tiga minggu penuh. Puluhan restoran, toko kue, hingga kedai gelato yang terpilih diajak membuat menu limited edition yang hanya tersedia selama festival.

    Tim dari JDW mengurasi semua dessert yang diikutsertakan. Dengan demikian, peserta JDW ini berbasis kurasi, bukan keikutsertaan yang hanya sekadar berbayar. Total ada 44 peserta terkurasi dari jenama dessert, restoran, toko kue, dan toko es krim.

    Tria mengungkapkan, dibandingkan JDW tahun 2024 lalu, pendapatan (revenue) selama JDW 2025 kali ini meningkat 27 persen. Angka ini, menurut dia, cukup menjanjikan di tengah situasi ekonomi yang cenderung dingin stagnan.

    Bagi Tria, kekuatan JDW juga terletak pada posisinya sebagai affordable luxury, kemewahan yang terjangkau. ”Di tengah ekonomi yang turun, dessert bisa jadi affordable luxury. Di resto, harga dessert lebih terjangkau dibanding main course (makanan utama), tapi tetap kasih rasa spesial. Jadi, orang tetap bisa menikmati pengalaman kuliner yang menyenangkan tanpa keluar biaya besar,” imbuh Tria.

    Fenomena dessert di kota seperti Jakarta beberapa tahun terakhir ini rupanya juga memengaruhi minat anak muda untuk bersekolah mengambil jurusan pastri. Hal itu diungkapkan oleh Anton Hamdali dari marketing communication perwakilan Le Cordon Bleu (LCB) di Indonesia. Menurut dia, gejala minat itu sudah tampak sebelum pandemi. Setelah pandemi, minat anak-anak muda lulusan SMA untuk sekolah pastri di LCB di sejumlah negara meningkat nyata.

    ”Setelah Covid, definitely lebih banyak lagi, baik laki-laki maupun perempuan. Dari Indonesia kebanyakan masih ke LCB di Australia,” kata Anton.

    Meski sudah memperluas festival hingga terselenggara di Bandung dan Medan, visi JDW tetap jelas, membawa Jakarta ke peta kuliner global. ”Kami ingin Jakarta ada di peta kuliner global, seperti Bangkok atau Kuala Lumpur. Tapi, pendekatannya tetap rooted in local. Misalnya, ada menu unik kayak nasi-uduk cheesecake. Orang mungkin mikir aneh, tapi ternyata enak banget. Jadi, ada kebanggaan lokal yang kita angkat,” papar Tria.

    Konsep kelokalan itulah yang kemudian mewujud menjadi aneka dessert kontemporer hasil penafsiran dari kuliner lokal atau tradisional. Selain nasi-uduk cheesecake tadi, ada pula dessert unik, yakni ginger and mung beans alias angsle karya Vivianatalia Simangunsong, sous chef dari ESA Restaurant di kawasan SCBD, Jakarta.

    Angsle tersebut dalam JDW 2025 memenangi Golden Swirl Awards untuk kategori Plated Dessert of the Year. Konsep segar yang ditonjolkan adalah menggabungkan hot and cold dan semprotan ekstrak jahe. Dinginnya didapatkan dari gelato ketan putih dan sensasi hangat dimunculkan dari busa (foam) jahe yang dituang di atas gelato.

    Sebelum dituangi busa jahe, bagian atas gelato disemprot ekstrak jahe. Ekstrak jahe ini memperkuat busa jahe dari segi aroma. Sementara busa jahe tampil ”hangat” saat sampai di kerongkongan. Baik angsle tradisional maupun dessert modern ini sama-sama memiliki aroma khas jahe. Eksplorasi teknik dalam kreasi ini membutuhkan keunggulan keterampilan tersendiri.

    Tema lokal

    Selama tiga tahun terakhir, JDW memang konsisten mengangkat tema lokal untuk dieksplorasi dengan pendekatan kontemporer. Cara ini mengangkat khazanah kuliner tradisional menjadi lebih modern dan selaras dengan lanskap internasional. Kuncinya di inovasi yang juga napas penting dalam JDW.

    ”Tiga tahun belakangan, kami selalu mendorong tema-tema yang punya nilai lokal. Tiga tahun lalu temanya cerita rakyat atau folklore, setahun lalu wildlife atau flora dan fauna Indonesia. Tahun ini kami memilih tribute to Jakarta, karena ingin produk pastri dan dessert di Jakarta punya pembeda berupa infusi unsur lokal,” tutur Tria.

    Bagi Tria, identitas lokal inilah yang akan membedakan Jakarta dengan kota lain. ”Kalau croissant di Jakarta sama saja dengan yang ada di Singapura, Bangkok, atau Kuala Lumpur, untuk apa orang jauh-jauh datang ke sini? Mereka pasti mencari sesuatu yang berbeda. Pariwisata tujuannya, kan, mengajak orang datang dan spending money. Jadi, kita harus punya sesuatu yang berbeda,” lanjutnya.

    ”Dessert hopping”

    Selain adanya penghargaan Golden Swirl Awards dalam 13 kategori, JDW 2025 lalu juga diwarnai dengan dessert hopping, jalan-jalan kuliner mencicipi dessert dari beberapa restoran terpilih. Grup-tur icip-icip ini memulai perjalanannya di Monas, akhir Agustus lalu.

    Dengan mengunjungi beberapa restoran dan kafe pilihan, pengunjung diajak mengenal Ibu Kota bukan hanya lewat cerita, melainkan juga lewat rasa. Oleh karena itu, JDW juga didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Jakarta.

    Dalam dessert hopping itu, peserta diajak singgah ke kafe Chicory di Menteng, Jakarta Pusat. Dari luar, bangunan kafe bergaya klasik Eropa itu langsung memancarkan nuansa hangat. Di dalam, aroma kopi berpadu dengan wangi butter dan gula panggang. Chef Priscilla Wignjopranoto memperkenalkan kreasi berjudul Tonkoko. Inspirasi menu ini datang dari kenangan masa kecilnya.

    ”Namanya Tonkoko, itu inspirasi dari jajanan tradisional yang saya suka makan waktu kecil, kue rangi atau kue pancong yang mirip-mirip itu. Tapi, ini kami kasih modern touch dengan memperkenalkan cream cheese dan tongkabiun,” ujar Priscilla.

    Tujuannya sederhana, memodernisasi camilan masa kecil tanpa mengubah rasa dasarnya. Hanya sedikit sentuhan tambahan agar jajanan yang akrab bisa tampil baru dan segar.

    Perjalanan kemudian berlanjut ke Kemang, Jakarta Selatan, yakni ke restoran Knots. Ruangannya lebih kontemporer, dengan meja kayu panjang, lampu temaram, dan musik yang mengalun pelan. Di sini, Chef Letare Ulima dan Chef Riesky Vernandes menafsirkan ulang dua kudapan, bolen dan kue rangi.

    ”Sebenarnya untuk Jakarta, kami memilih dua ikon, kue rangi dan bolen. Alasannya sederhana, karena kami dan partner sama-sama suka. Bedanya, kami ingin membuat ala Knots, yaitu patiseri,” kata Letare.

    Bolen mereka dimodifikasi. Pisangnya ditumis dulu dengan mentega (butter) lokal, menghasilkan aroma gurih yang lebih kaya. Sementara kue rangi diberi sentuhan teknik masak Perancis dan Italia. Ada cokelat, ada es krim, hingga lapisan saus dan kuah.

    Perjalanan icip-icip ini lalu berlabuh di di Natsuka Cafe, Cilandak, Jakarta Selatan. Di sini, Chef Keshia menamai kreasinya Miso no Shiro. Menu ini tidak sekadar manis, tetapi juga merupakan sebuah representasi visual. ”Miso no Shiro diciptakan untuk menangkap banyak layer. Karena kami ingin mempresentasikan banyaknya layer di Jakarta yang modern dan minimalis,” ucap Keshia.

    Dalam satu piring terdapat kombinasi tekstur: lapisan silky mousse, renyah dari crunchy crunch, manis legit dari sirup cokelat-putih, hingga sensasi dingin dari mousse beku. Menurut Keshia, Jakarta bukan hanya kota tradisi, melainkan juga pusat modernitas. ”Aku rasa sisi itu juga bisa ditangkap lewat dessert,” ujarnya.

    Begitulah kaum muda menafsir Jakarta dan mewujudkannya dalam kudapan manis. Melalui JDW, penyelenggara tengah berikhtiar membangun ekosistem dessert yang khas dalam industri kuliner di Jakarta.

    Meski ekonomi tengah kurang bergairah, kudapan manis setidaknya bisa menjadi penghiburan sejenak bagi lidah yang mungkin sudah lelah untuk mengeluh.

    Parfum AXL

  • 5 Retouch Hack yang Wajib Dicoba Pemula, Make-up Makin On Level!

    5 Retouch Hack yang Wajib Dicoba Pemula, Make-up Makin On Level!

    Jakarta – Make-up yang flawless di pagi hari sering kali jadi tantangan besar untuk tetap bertahan hingga sore. Aktivitas seharian, mulai dari kerja, assembly, hingga nongkrong bareng teman, bisa bikin wajah jadi cepat berminyak atau make-up perlahan luntur. Akhirnya, penampilan jadi kurang maksimal dan bikin rasa percaya diri ikut berkurang.
    Nah, di sinilah pentingnya retouch make-up. Bukan berarti harus complete make-up ulang, tapi cukup dengan beberapa trik sederhana untuk menyegarkan tampilan. Dengan cara yang tepat, make-up bisa kembali segar, rapi, dan terlihat herbal seakan baru dipoles. Retouch yang benar juga bisa mencegah hasil make-up terlihat cakey atau terlalu tebal.

    Buat kamu yang masih pemula, retouch make-up sebenarnya gampang banget dilakukan. Kuncinya ada di pemilihan produk yang tepat dan langkah-langkah simpel agar hasilnya tetap awet. Yuk, simak pointers berikut untuk bikin make-up kamu tetap on level sepanjang hari tanpa drama luntur.
    Bersihkan Minyak Berlebih
    Kilap di space T-zone atau pipi bisa bikin make-up terlihat berat atau cakey. Sebelum retouch, tekan perlahan dengan tisu atau blotting paper untuk menyerap minyak berlebih. Wajah yang bebas kilap membuat langkah selanjutnya lebih maksimal.
    Perbaiki Noda dengan Concealer
    Noda baru atau space kusam bisa muncul seiring aktivitas sehari-hari. Gunakan concealer tipis-tipis dengan sponge atau brush untuk menutupnya. Hasilnya tetap herbal dan riasan tidak terlihat tebal.
    Set Make-up dengan Bedak Tipis
    Setelah concealer, tepuk bedak tipis di space yang sudah dibersihkan minyaknya. Gunakan puff atau brush, jangan digesek, agar make-up tetap di tempatnya dan terlihat halus.

    Segarkan Warna Bibir
    Bibir kehilangan warna setelah makan atau minum? Tambahkan lip balm atau lip tint ringan agar bibir tetap lembap dan warnanya kembali segar.
    Trik Tambahan untuk Wajah Matte Sepanjang Hari
    Menurut Dr. Dray, seorang dermatologis asal Amerika, penggunaan oil keep an eye on paper tidak merangsang kulit memproduksi lebih banyak minyak. Produk ini efektif menyerap kelebihan sebum tanpa mengganggu keseimbangan alami kulit.
    Maka dari itu, bawa selalu oil keep an eye on paper di tas untuk menyerap minyak berlebih kapan saja, menjaga wajah tetap segar tanpa merusak riasan. Cocok untuk pemula maupun mereka yang aktif seharian.

    Parfum AXL

  • Benang Jarum Hadirkan Viola Assortment di Type Country XIX

    Benang Jarum Hadirkan Viola Assortment di Type Country XIX

    Jakarta – Gelaran mode tahunan Type Country XIX di Senayan Town kembali menjadi panggung prestisius bagi emblem lokal untuk menunjukkan karya terbaiknya. Tahun ini, Benang Jarum tampil memukau dengan menghadirkan koleksi terbaru yang menegaskan identitasnya sebagai label ready-to-wear fashionable dan relevan bagi perempuan masa kini.
    Type Country, yang rutin menghadirkan desainer lokal maupun internasional, menjadi ruang bagi Benang Jarum untuk menampilkan kekuatan desain khasnya. Logo ini dikenal dengan pola dan motif ikonik yang selalu standout, memadukan elemen elegan dan artistik, serta menghadirkan busana yang bukan hanya mewah, namun juga fungsional untuk dikenakan sehari-hari.
    Kehadiran di runway Type Country XIX sekaligus menegaskan konsistensi Benang Jarum dalam menjaga element, identitas, serta daya tarik yang mampu merangkul pasar lokal maupun world.

    Pada kesempatan ini, Benang Jarum meluncurkan Viola Assortment, koleksi terbaru yang resmi diperkenalkan pada 23 September 2025. Terinspirasi dari keindahan bunga viola, koleksi ini menampilkan motif floral abstrak dengan teknik watercolor yang berpadu harmonis dengan garis stripes watercolor serta signature monogram khas Benang Jarum.
    Siluet yang mengalir, element bordir halus, dan potongan flexible menjadikan koleksi ini pilihan tepat bagi perempuan fashionable yang menginginkan busana dengan sentuhan delicate luxurious, fashionable, dan tetap praktis untuk berbagai kesempatan.

    Mifthahul Jannah, Inventive Director Benang Jarum, menyampaikan komitmennya untuk terus mengangkat type Indonesia ke degree lebih tinggi.
    “Benang Jarum selalu berkomitmen untuk membawa type Indonesia ke panggung yang lebih luas. Kami ingin menunjukkan bahwa desain ready-to-wear lokal tidak hanya relevan di pasar domestik, tapi juga memiliki kualitas dan karakter untuk bersaing di degree world,” ungkapnya.
    Viola Assortment resmi diperkenalkan di runway Type Country XIX, dan kini sudah tersedia di butik Benang Jarum maupun platform on-line resmi. Kehadirannya di ajang mode bergengsi ini sekaligus memperkuat posisi Benang Jarum sebagai emblem yang konsisten menghadirkan karya ready-to-wear berkelas, dengan perpaduan antara keanggunan, identitas kuat, dan fleksibilitas gaya bagi perempuan masa kini.

    Parfum AXL

  • Mengenal Diana Kusumastuti, Arsitek Perempuan di Balik Megaproyek IKN yang Kini Menjabat Wakil Menteri PU

    Mengenal Diana Kusumastuti, Arsitek Perempuan di Balik Megaproyek IKN yang Kini Menjabat Wakil Menteri PU

    Jakarta – Dalam susunan Kabinet Merah Putih, terdapat sejumlah tokoh perempuan yang dipercaya mengisi jabatan strategis.

    Salah satunya adalah Ir. Diana Kusumastuti, M.T. yang resmi dilantik oleh Presiden RI, Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024 sebagai Wakil Menteri (Wamen) Pekerjaan Umum.

    Sosok Diana sendiri dikenal luas sebagai birokrat senior yang telah lama berkecimpung di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Ia juga pernah menjadi ‘anak buah’ Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono di technology Presiden Joko Widodo.

    Dengan karier panjang, dedikasi, dan segudang prestasi, Diana Kusumastuti membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi motor penggerak pembangunan bangsa.

    Lantas, siapa sebenarnya Diana Kusumastuti dan bagaimana sepak terjang kariernya hingga dipercaya mendampingi menteri di kabinet?

    Latar Belakang Pendidikan

    Dikutip dari Kumparan, Diana lahir di Surakarta pada Juli 1967. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Teknik Arsitektur di Universitas Diponegoro, Semarang, pada tahun 1991.

    Perjalanan akademiknya berlanjut ke Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat ia menempuh magister Teknik Studi Pembangunan hingga lulus pada 2004.

    Tak hanya itu, Diana juga tercatat mengikuti Diklat Kepemimpinan Tingkat II sebagai bagian dari pengembangan kapasitas aparatur negara.

    Jejak Karier di Kementerian PUPR

    Sebelum masuk birokrasi, Diana sempat bekerja di perusahaan kontraktor dan menjadi konsultan inside. Kariernya di Kementerian PUPR sendiri dimulai pada tahun 1993 melalui Direktorat Bina Program.

    Dikutip dari Tribunnews, Diana kemudian dipercaya menangani berbagai sub-direktorat, antara lain Program Rencana Jangka Menengah, Program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, serta Program Tata Bangunan dan Lingkungan Permukiman.

    Beberapa tugas penting yang pernah diemban Diana Kusumastuti antara lain memimpin pembangunan venue Asian Video games di Jakarta dan Palembang, melakukan revitalisasi Stadion Manahan Solo, serta merehabilitasi sejumlah bangunan cagar budaya seperti Masjid Istiqlal Jakarta, Pasar Johar Semarang, dan Pasar Atas Bukittinggi.

    Diana juga pernah terlibat dalam penataan 8 destinasi pariwisata tremendous prioritas dan menjalankan program Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) di daerah 3T, yang menunjukkan peran strategisnya dalam pembangunan infrastruktur nasional.

    Kemudian, pada 2019, Diana menjabat sebagai Direktur Bina Penataan Bangunan. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Direktur Jenderal Cipta Karya (2020–2024).

    Dalam posisi ini, Diana memainkan peran sentral dalam pembangunan infrastruktur nasional, termasuk mengelola anggaran proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

    Parfum AXL

  • Sociolla Dorong Pertumbuhan Emblem Lokal dan Perluas Jangkauan di Indonesia

    Sociolla Dorong Pertumbuhan Emblem Lokal dan Perluas Jangkauan di Indonesia

    Jakarta – Sociolla terus menunjukkan komitmennya sebagai platform kecantikan terdepan di Indonesia dengan mendukung pertumbuhan model lokal sekaligus memperluas jaringan distribusinya.
    Meski sudah memiliki toko di Vietnam, Sociolla menegaskan bahwa fokus utama tahun ini masih tertuju pada ekspansi dalam negeri.
    “Sebenarnya kita sudah memiliki toko di Vietnam. Jadi kita belum ada rencana untuk ekspansi lagi di luar negeri tahun ini. Kalau ekspansi di Indonesia, pasti ada terus. Sampai akhirnya ditungguin saja,” ujar Ghea Yantra, SVP Advertising Operations Social Bella, saat Press Convention Kick-Off Sociolla Award 2025, di Jakarta, Senin (29/9/2025).
    Ghea menambahkan bahwa ekspansi Sociolla di Indonesia terus berjalan dinamis. Bahkan Sociolla pernah membuka tiga toko sekaligus dalam satu hari.
    “Hari ini ke teman-teman media sambil get ready buka toko juga. Tapi kita sendiri juga masih sangat semangat untuk terus mendekatkan diri ke para good looks fanatic di seluruh Indonesia,” lanjutnya.
    Pertumbuhan Emblem Lokal Melalui Kampanye Love Native
    Ghea memaparkan, Sociolla kini menaungi lebih dari 200 model lokal yang bergabung dalam jaringan distribusi baik on-line maupun offline.
    Kehadiran brand-brand tersebut memperkaya pilihan konsumen sekaligus menegaskan peran Sociolla sebagai rumah bagi pelaku industri kecantikan lokal.
    “General model lokal luar biasa di Sociolla itu sendiri. Kalau sekarang sih sudah kurang lebih 200 model lebih. Kita juga memiliki marketing campaign yang bernama Love Native. Jadi kita terus jadi platform untuk teman-teman para model lokal,” jelas Ghea.

    Parfum AXL

  • Menelaah Pergeseran Tren Kecantikan di Indonesia dan Peran Sociolla dalam Mendorong Inovasi Industri

    Menelaah Pergeseran Tren Kecantikan di Indonesia dan Peran Sociolla dalam Mendorong Inovasi Industri

    Jakarta – Industri kecantikan di Indonesia tengah mengalami dinamika yang begitu cepat. Pergeseran tren make-up dan skin care tidak hanya dipengaruhi faktor estetika, tetapi juga perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, hingga pemanfaatan information.
    Hal ini diungkapkan oleh Amanda Melissa, VP Knowledge Control & Industry Intelligence Social Bella, yang menilai pasar kecantikan di Indonesia semakin cerdas, variatif, dan menantang.
    Amanda menyebut, faktor utama yang mendorong perubahan tren kecantikan adalah meningkatnya literasi konsumen. Jika dulu label ‘brightening’ saja sudah cukup menarik minat, kini konsumen datang dengan pertanyaan yang lebih spesifik.
    “Konsumen itu semakin lebih pintar ketika mencari produk kecantikannya. Dulu cukup dengan label brightening. Sekarang mereka bisa tanya, ‘Mbak, moisturizer yang ada centella mana? Atau serum dengan niacinamide yang mana?’ Pintar banget tuh. Dan itu impact-nya post-COVID, ketika logo ramai beriklan dan sosmed makin aktif,” ungkap Amanda, saat Press Convention Kick-Off Sociolla Award 2025, di Jakarta, Senin (29/9/2025).
    Perempuan yang akrab disapa Mandy ini lantas menuturkan, dalam kurun 2–3 tahun, konsumen Indonesia berubah drastis. Mereka tidak hanya menuntut produk skin care, tapi juga frame care, hair care, hingga make-up dengan fungsi tambahan.

    “Sekarang cushion misalnya, bukan hanya untuk menutupi jerawat, tapi juga dituntut bisa menyembuhkan tanpa menimbulkan jerawat baru,” tukasnya.
    Selain literasi, sambung Amanda, perubahan demografi juga memberi warna pada industri kecantikan. Generasi muda seperti Gen Z membawa kebutuhan berbeda dengan Gen Y, Gen X, atau bahkan konsumen usia 30 tahun ke atas yang lebih mapan secara finansial.
    “Indonesia memang negara dengan demografi muda. Tapi generasi yang 30 tahun ke atas, yang punya daya beli kuat, juga makin besar. Sementara Gen Z baru masuk pasar dengan preferensi berbeda. Jadi marketplace makin ramai, makin seru,” jelas Amanda.
    Amanda melanjutkan, perubahan ekonomi pun semakin terlihat. Segmen harga produk tidak lagi hanya terbagi dua, yakni murah dan top class, melainkan melebar ke banyak lapisan. Amanda bilang, dari masker Rp100 ribu, cushion Rp300 ribu–Rp500 ribu, hingga produk dengan harga jutaan, semua punya pasarnya masing-masing.
    “Sekarang ke toko Sociolla bisa pusing, karena banyak banget pilihannya. Itu menandakan marketplace kita berkembang cepat,” katanya.

    Parfum AXL

  • From This Island Luncurkan Serum Baru & Dukung Literasi Anak Papua

    From This Island Luncurkan Serum Baru & Dukung Literasi Anak Papua

    Jakarta – Setelah sukses menarik perhatian lewat Papua Crimson Fruit Plumping Cream, emblem skin care lokal From This Island besutan Maudy Ayunda kini menghadirkan inovasi terbarunya, Papua Crimson Fruit Potent Plumping Serum.
    Kehadiran serum ini semakin menegaskan peran Papua Crimson Fruit sebagai hero factor andalan emblem tersebut, dengan method yang lebih kuat serta tekstur ringan sehingga tetap nyaman digunakan setiap hari.
    From This Island menghadirkan inovasi baru lewat teknologi paten Lumera™, yang memaksimalkan potensi antioksidan Papua Crimson Fruit. Diperkaya Bakuchiol, Acetyl-Hexapeptide-8, dan Adenosine, serum ini membantu kulit lebih kencang, halus, kenyal, dan bercahaya alami.
    Peluncurannya dikemas dalam kampanye “Tremendous Elevate, Tremendous You”, mempertemukan Maudy Ayunda dan Ade Raisebagai simbol kecantikan, kecerdasan, kebugaran, dan kekuatan, mewakili manfaat serum yang menghidrasi sekaligus menjaga vitalitas kulit.

    Dari kulit terawat hingga masa depan anak Papua. Lebih dari sekadar menghadirkan skin care inovatif, peluncuran serum ini juga menegaskan komitmen From This Island untuk memberi dampak sosial yang nyata.
    “Sejak awal launching kita punya program affect product yang mana sebagian dari hasil penjualan akan kami salurkan kembali ke pulau dimana hero ingredientsnya berasal. Untuk product papua purple fruit kami bekerjasama dengan Wahana Visi Indonesia dengan menyediakan buku untuk 10 rumah baca di Biak dan Sentani untuk mendukung program literasi anak anak di Papua,” kata Maudy Ayunda, Founder From This Island.
    Sabtarina Febriyanti, Zonal Program Supervisor Indonesia Timur WVI, menegaskan bahwa akses terhadap buku dan literasi masih menjadi tantangan besar bagi anak-anak Papua.

    Parfum AXL

  • Profil Cathy Sharon dan Perjalanan Kariernya dari Panggung Hiburan ke Dunia Bisnis

    Profil Cathy Sharon dan Perjalanan Kariernya dari Panggung Hiburan ke Dunia Bisnis

    Jakarta – Cathy Sharon dikenal sebagai salah satu artis yang memiliki pesona awet muda. Di usia 42 tahun, kakak dari Julie Estelle ini tetap tampil menawan dengan gaya model yang selalu trendi dan relevan dengan perkembangan zaman.
    Tak hanya soal penampilan, Cathy juga menjadi sosok yang menginspirasi banyak orang lewat perjalanan kariernya. Ia memulai langkah di dunia hiburan, lalu perlahan merambah ke ranah bisnis dan berhasil menunjukkan konsistensi serta ketekunan dalam setiap peran yang dijalaninya.
    Berikut ini Olenka rangkum dari berbagai sumber, Rabu (1/10/2025), untuk mengenal lebih lanjut sosok dan perjalanan karier Cathy Sharon.

    Profil dan Kehidupan Pribadi
    Catherine Sharon Gasnier, atau yang lebih akrab dikenal dengan Cathy Sharon, lahir pada 8 Oktober 1982. Dalam hitungan hari, usianya akan genap 43 tahun. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Thierry Gasnier dan Hilda Limbara.
    Dari sang ayah, Cathy mewarisi darah Prancis, sementara sang ibu yang berasal dari Sulawesi Tengah memberikan sentuhan Indonesia dalam garis keturunannya. Ia juga memiliki dua adik perempuan yang tak kalah dikenal, yakni Julie Estelle dan Charlotte Christie.

    Parfum AXL

  • 6 Atlet Panjat Tebing Perempuan Indonesia yang Bikin Bangga

    6 Atlet Panjat Tebing Perempuan Indonesia yang Bikin Bangga

    Jakarta – Olahraga panjat tebing semakin populer di Indonesia. Bukan hanya karena tantangan adrenalin yang ditawarkan, tapi juga berkat kiprah atlet-atlet Tanah Air yang sukses mengharumkan nama bangsa di kancah nasional hingga internasional. Dari generasi senior hingga talenta muda, deretan atlet perempuan Indonesia terus menunjukkan prestasi membanggakan.
    Meski awalnya olahraga ini di Indonesia lebih banyak digeluti laki-laki, kini para atlet putri justru menjadi sorotan utama. Mereka tidak hanya rajin menyumbang medali di ajang bergengsi, tapi juga mencetak rekor dunia. Berikut enam atlet panjat tebing perempuan Indonesia yang prestasinya patut diacungi jempol:

    1. Desak Made Rita Kusuma Dewi
    Atlet asal Buleleng, Bali, ini adalah salah satu bintang paling bersinar di panjat tebing dunia. Lahir pada 24 Januari 2001, Desak Rita sudah akrab dengan olahraga ini sejak SD ketika secara tak sengaja melihat dinding panjat di Singaraja.
    Sejak itu, ia menekuni panjat tebing dan sering mewakili Bali di berbagai kejuaraan nasional. Ketekunannya membuahkan hasil besar ketika ia menyabet emas PON XX Papua 2021 dan Asian Video games 2022 Hangzhou.

    Prestasi paling mencolok hadir di IFSC International Championship 2023 di Bern, Swiss, ketika ia meraih medali emas sekaligus menjadi Juara Dunia pace mountaineering putri. Kariernya yang cemerlang juga membawanya lolos ke Olimpiade Paris 2024. Meski gagal meraih medali, keberadaan Desak Rita di kancah dunia membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing di degree tertinggi.
    2. Rajiah Sallsabillah
    Perempuan kelahiran Tangerang, 30 April 1999, ini awalnya hanya “iseng” ikut seleksi tim panjat tebing saat berusia 14 tahun. Namun, keisengan itu justru mengubah jalan hidupnya. Ia diterima sebagai atlet, lalu menjalani latihan intensif yang mengasah kemampuannya hingga menjadi salah satu panjat tebing putri terbaik di Indonesia.

    Rajiah pernah menyumbang emas Asian Video games 2018 di nomor Ladies’s Velocity Relay dan menjuarai IFSC International Cup Chamonix 2023. Ia bahkan mewakili Indonesia di Olimpiade Paris 2024, meski tak berhasil membawa pulang medali. Konsistensinya di berbagai ajang internasional membuktikan ketangguhannya dan menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan besar di cabang pace mountaineering.
    3. Aries Susanti Rahayu
    Dikenal dengan julukan “Spiderwoman”, Aries adalah ikon panjat tebing Indonesia. Lahir di Grobogan, Jawa Tengah, 21 Maret 1995, ia awalnya adalah atlet atletik sebelum beralih ke panjat tebing berkat ajakan guru olahraganya. Keputusannya itu terbukti tepat, karena kariernya melesat pesat. Ia mencuri perhatian publik ketika meraih emas di Asian Video games 2018.
    Puncak prestasinya terjadi di IFSC International Cup Xiamen 2019, saat Aries memecahkan rekor dunia pace mountaineering dengan catatan waktu 6,995 detik. Pencapaian itu membuat namanya dikenal luas dan ia pun dijuluki sebagai Spiderwoman. Dengan karier yang berkilau, Aries menjadi inspirasi banyak atlet muda untuk berani bermimpi menembus panggung dunia.

    4. Amanda Narda Mutia
    Nama Amanda mulai banyak dibicarakan setelah tampil gemilang di PON XXI Aceh-Sumut 2024. Atlet asal Jawa Timur ini berhasil menyumbangkan emas nomor boulder tim dan pace relay putri, menambah deretan prestasi bagi kontingen Jatim. Ketenangannya dalam menghadapi tekanan kompetisi membuatnya semakin disegani.
    Tak hanya di degree nasional, Amanda juga sudah beberapa kali berlaga di kompetisi internasional, termasuk ajang kualifikasi Olimpiade. Keikutsertaannya di panggung international menjadi bukti bahwa talenta Indonesia terus meluas dan bersaing di antara atlet-atlet dunia.

    5. Alma Ariella Sani
    Masih sangat muda, baru berusia 15 tahun, Alma Ariella Sani mencuri perhatian lewat prestasinya di PON XXI 2024. Ia sukses menyabet emas nomor Mixed Putri serta ikut membawa pulang emas di nomor boulder tim untuk Jawa Timur. Kemenangan ini menjadikannya salah satu wajah baru yang bersinar di dunia panjat tebing Tanah Air.
    Kiprahnya di usia belia memberi harapan besar bagi masa depan olahraga ini. Alma dinilai sebagai simbol regenerasi yang menjanjikan, di mana bakat dan keberaniannya menjadi inspirasi generasi muda lain untuk berprestasi meski masih sangat muda.

    6. Fitria Hartani
    Fitria adalah salah satu atlet asal Jawa Timur yang kiprahnya tak boleh dilewatkan. Ia sempat masuk tim pelatnas untuk seleksi Olimpiade Tokyo 2020, sebuah pencapaian bergengsi yang hanya bisa diraih oleh atlet bermental kuat. Selain itu, Fitria juga dikenal berprestasi di ajang Pra-PON dengan torehan beberapa medali penting.
    Meski namanya tak selalu muncul di headline besar, perjuangannya di balik layar membuktikan dedikasinya pada dunia panjat tebing. Keberadaan atlet seperti Fitria menunjukkan bahwa kekuatan tim Indonesia bukan hanya berasal dari nama-nama besar, tapi juga dari kerja keras semua atlet yang konsisten berjuang.

    Parfum AXL