Matcha tengah digandrungi kaum urban kelas menengah perkotaan, khususnya generasi Z. Segala yang serba matcha kini mudah ditemui di berbagai kafe, restoran, juga kedai patiseri. Kelas-kelas kursus penyeduhan matcha juga bertebaran. Di balik segala inovasinya, tak ada salahnya mengingat kembali pada esensi matcha dalam wujud sejatinya.
Setelah pandemi, matcha makin menjadi tren rasa yang hadir di mana-mana. Berbagai kudapan manis yang viral menyertakan elemen matcha. Matcha sebagai minuman populer jarang ditawarkan secara tunggal. Umumnya dipadukan dengan bahan lainnya, seperti susu dan buah-buahan.
Kreasi beragam matcha bisa ditemukan di toko roti dan kue, seperti kafe Fragments di Ashta District 8, Jakarta. Setiap gelas matcha latte, misalnya, dibanderol Rp 60.000. Matcha paling ekonomis, usucha, bisa dicicipi dengan harga Rp 55.000. Sementara, matcha jeju tangerine yang menyuguhkan kekhasan ”Negeri Ginseng” dijual seharga Rp 70.000.
Ryan Kim, pemilik Fragments yang berasal dari Korea Selatan, memadukan matcha dengan cheong atau sirup dari fermentasi buah dan gula khas Korea. ”Sejak masih tinggal di Korsel, aku cinta banget sama matcha. Semula, aku melihat orang Indonesia tidak begitu menyukainya. Di Jepang dan Korsel, sejak dulu selalu populer,” ujar chef Ryan.
Dia amat gembira mendapati animo masyarakat Indonesia sangat tinggi untuk menikmati matcha selama beberapa tahun ini. Sejak dua bulan lalu, akhirnya Kim turut mencantumkan menu minuman matcha di Fragments. Menurut dia, tren dari luar negeri kerap menyebar dengan cepat di Indonesia, sehingga tak heran menu matcha di Fragments selalu ludes diburu konsumen. Tingginya minat itu belum sebanding dengan ketersediaan stok.
Membuat matcha itu butuh ketenangan. Harus ”mindful” dan hadir-penuh dalam setiap langkah. Saya ajarkan ”step by step”, supaya peserta benar-benar fokus dan tidak terburu-buru. Matcha itu bukan hanya minuman tren, melainkan sebuah ritual dengan sejarah panjang di Jepang.
”Kebetulan, sedang langka karena cuaca di negara asalnya kurang baik. Sekarang, sudah sedikit mendingan,” ucapnya.
Di Korsel, Pulau Jeju dikenal dengan teh hijaunya yang berkualitas. Banyak wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korsel sehingga memicu maraknya konsumsi matcha. Setelah kembali ke Tanah Air, minuman yang mereka nikmati di kafe saat melancong kemudian dicari lagi. ”Mungkin juga drakor dan K-pop bikin matcha semakin dikenal meski komoditas Jepang masih lebih populer daripada Korsel,” ucapnya.
Belajar menyeduh
Menikmati matcha kini tidak sebatas mendatangi kafe atau restoran berbasis matcha. Banyak penggemar matcha berupaya lebih jauh untuk bisa meraciknya sendiri di rumah. Perlengkapan untuk menyeduh matcha juga banyak dijual lewat lokapasar. Namun, untuk menyeduh dengan benar, kursus singkat penyeduhan matcha menjadi magnet berikutnya.
Salah satunya kursus singkat yang diadakan Obi Matcha dan restoran La Balena di Jakarta, Sabtu (13/9/2025). Di sana, peserta tak hanya belajar teknik menyeduh matcha yang tepat, tetapi juga memahami filosofi di balik tradisi minum teh di Jepang.
Pendiri Obi Matcha, Olivia Budiono, menggunakan matcha impor dari Yame, di Prefektur Fukuoka, Jepang, dengan tingkatan ceremonial atau kualitas tinggi yang digunakan dalam upacara minum teh Jepang (chanoyu). Dia dan rekannya pernah menimba ilmu tentang matcha selama 6 bulan dengan seorang sensei profesor teh di Jepang.
Ia berharap peserta tak hanya menikmati rasa matcha, tetapi juga memahami esensi di baliknya. ”Harapan saya, setelah ikut workshop ini, peserta bisa bikin matcha dengan cara tradisional di rumah. Setiap kali mereka bikin, hasilnya tetap konsisten dan sesuai, bukan asal-asalan,” ujarnya.
Olivia Djajadi, seorang instruktur, mengajarkan tahap demi tahap penyeduhan matcha. Semua dilakukannya dengan sangat hati-hati, dari menuang dan menyaring 1-2 sendok teh bubuk matcha (3-4 gram), menuangkan air panas 60 mililiter dengan suhu 80 derajat celsius secara perlahan, lalu mengaduknya dengan chasen (whisk dari bambu) dengan gerakan M atau W sampai berbusa dan larut sempurna. Selanjutnya, jika ingin dijadikan matcha latte bisa ditambahkan pemanis atau susu.
”Membuat matcha itu butuh ketenangan. Harus mindful dan hadir-penuh dalam setiap langkah. Saya ajarkan step by step, supaya peserta benar-benar fokus dan tidak terburu-buru. Matcha itu bukan hanya minuman tren, melainkan sebuah ritual dengan sejarah panjang di Jepang,” kata Olivia.
Lokakarya matcha seperti ini memperkaya pengetahuan para penikmatnya. Dari yang awalnya membeli minuman di kafe, kini mendalami teknik penyeduhannya. Seperti Alisha Oceani, peserta lokakarya, terlihat amat antusias memperhatikan tahapan penyeduhan. Sudah lama dia menyukai matcha, tetapi baru kali ini mengikuti kelas penyeduhan teh.
”Seru banget, peralatannya lengkap dan penjelasannya detail. Aku sudah pernah bikin matcha di rumah, tapi setelah ikut ini, aku jadi lebih paham prosesnya. Sekarang aku jadi pengen level up peralatan yang kupakai, nggak cuma yang dibeli di marketplace biasa,” ungkap Alisha.
Mengutip sebuah artikel di Forbes, di kalangan gen Z matcha tidak lagi dibingkai sebagai makanan sehat, melainkan juga menjadi semacam performance sosial. Dengan membuatnya sendiri di rumah atau membawanya ke ruang publik menjadi ritual pribadi yang sekaligus berfungsi sebagai penanda sosial. Momen tersebut ketika dibagikan di media sosial lantas seolah menjadi simbol tersendiri.
Matcha sejati
Kehadiran kafe-kafe berbasis matcha turut memperkenalkan minuman ini secara luas. Namun, jangan pernah samakan teh hijau matcha dengan teh hijau biasa. Keduanya berbeda dari bagian yang dikonsumsi. Belum tentu matcha yang digunakan memiliki kualitas baik dan murni.
Konsumsi matcha yang murni berarti kamu mengonsumsi seluruh bagian daun tehnya, bukan hanya ekstraknya. Jadi, kalau kualitas daun tehnya bagus dan asli, tubuhmu sudah cukup mendapatkan manfaat hanya dari konsumsi satu hingga dua kali seminggu.
Sensei of Chado dari Urasenke Tankokai Indonesia Suwarni Widjaja mengatakan, tidak mudah untuk membedakan matcha yang asli dan sudah campuran dari fisik dan rasa. Menurutnya penting untuk dipahami agar tren gaya hidup yang berkembang selaras dengan pemahaman terhadap kualitas dan manfaat dari matcha itu sendiri.
Urasenke merupakan salah satu dari tiga aliran utama upacara minum teh di Jepang. Urasenke Tankokai Indonesia adalah cabang organisasi urasenke di Jepang yang melestarikan dan mempromosikan chado. Di balik chado yang berarti ”jalan teh”, sebenarnya berakar pada filosofi Buddhisme Zen yang menekankan pada kesadaran melalui meditasi. Upacara minum teh adalah medium disiplin spiritual dan estetika dalam perjalanan penyempurnaan diri.
Konsumsi matcha secara murni, ditekankan Suwarni, tidak perlu dilakukan setiap hari. Untuk mendapatkan manfaatnya cukup menggunakan sekitar satu hingga dua gram per takaran. Murni yang dimaksud adalah tidak menambahkan bahan pemanis atau lainnya ke dalamnya. Hanya air panas dan bubuk teh hijau matcha.
”Konsumsi matcha yang murni berarti kamu mengonsumsi seluruh bagian daun tehnya, bukan hanya ekstraknya. Jadi, kalau kualitas daun tehnya bagus dan asli, tubuhmu sudah cukup mendapatkan manfaat hanya dari konsumsi satu hingga dua kali seminggu,” ucapnya.
Dalam wujud sejatinya, matcha mengandung antioksidan yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas dan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh. Sejumlah studi dan artikel ilmiah menunjukkan manfaat matcha bisa didapatkan saat seseorang mengonsumsi bubuk matcha yang berkualitas.
Konsumsi teh hijau, telah lama menjadi bagian tradisi China. Kemudian berkembang ke Jepang. Di sana, penyeduhan matcha merupakan simbol kesederhanaan dan penghormatan terhadap tradisi kehidupan. Dalam chanoyu, pemilihan jenis matcha yang digunakan tidak boleh menggunakan tingkatan biasa, harus menggunakan yang kualitas tinggi dan asli.
Menurut Suwarni, matcha yang asli memiliki warna hijau yang khas dan rasa otentik, berbeda dengan grade biasa. Ada beberapa merek yang digunakan untuk sekolah teh Urasenke, yakni Marukyu Koyamaen, Kambayashi, dan Ippodo. Ketiga merek itu memiliki sejarah panjang produksi teh, yang di antaranya dikenal sebagai pemasok teh hijau resmi untuk keluarga kaisar Jepang.
Ketika mengetahui tradisi dan budaya asalnya, matcha mengajarkan kita untuk kembali pada yang alami bukan sekadar ramai dibicarakan. Saat ini, minat untuk belajar matcha meningkat pesat di Urasenke Indonesia. Materi yang diajarkan mulai dari penghormatan hingga latihan terstruktur.
Kelas ini bersifat seumur hidup karena belajar matcha dianggap sebagai bagian proses tanpa akhir. Bahkan, seorang sensei teh seperti Suwarni pun masih terus belajar agar pengetahuannya tidak stagnan.
”Murid baru terus bertambah setiap bulan, termasuk dari Jepang. Jumlahnya meningkat sampai 3 kali lebih banyak dibanding tahun 2023,” ujar Suwarni.
Tren global
Tren matcha tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga dunia. Mengutip data Grand View Research, perusahaan konsultan dan riset pasar berbasis di Amerika Serikat, pasar matcha global diperkirakan mencapai 4,3 miliar dollar AS pada tahun 2023 dan diproyeksikan mencapai 7,43 miliar dollar AS pada tahun 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 7,9 persen dari tahun 2024 hingga 2030.
Tingginya minat terhadap matcha itu tak sebanding dengan pasokannya yang cenderung stagnan. Tak heran, seperti diulas di salah satu artikel di BBC, di Jepang saja misalnya, pembeli matcha di berbagai toko kerap dibatasi hanya satu atau dua kemasan saja per orang.
Popularitas matcha di panggung global diduga terkait dengan meledaknya turisme di Jepang pascapandemi. Seiring melemahnya mata uang yen, Jepang menjadi destinasi turis mancanegara yang menarik. Dampak ikutannya, segala terkait komoditas Jepang seperti matcha pun diminati. Apalagi selebritas Hollywood seperti Gwyneth Paltrow, Kylie Jenner, Rihanna, hingga Brad Pitt pun menggemari matcha.
Pada tahun 2023, negara-negara di Asia Pasifik mendominasi pasar global matcha sebesar 57,76 persen. Grand View Research menyebutkan, pasar matcha di Amerika Serikat dan Eropa menjadi pangsa pasar yang substansial pada tahun 2023. Hal ini salah satunya disebabkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat kesehatan dari matcha. Dunia tengah menghijau, bukan oleh hutan, tapi matcha.









