Kategori: parfum internasional

  • Bibit Unggul dan Keterlibatan Perempuan, Rahasia Harumnya Kopi Parahyangan

    Bibit Unggul dan Keterlibatan Perempuan, Rahasia Harumnya Kopi Parahyangan

    Di Tanah Parahyangan, hamparan hijau yang indah dan pegunungan nan megah seolah menjadi penjaga abadi sebuah rahasia. Di balik selimut kabut ini tersimpan semangat para petani yang merawat perkebunan kopi unggulan Jawa Barat.

    Parfum AXL

  • Kebebasan di Balik Kesederhanaan All New Subaru Forester

    Kebebasan di Balik Kesederhanaan All New Subaru Forester

    Membeli sebuah mobil, pada hakikatnya, adalah membeli kebebasan. Kebebasan untuk bepergian ke mana pun dan kapan pun kita mau. Beberapa mobil kemudian memberikan bonus berupa kemampuan untuk pergi lebih jauh menerabas rintangan yang tak bisa dilalui mobil kebanyakan.

    Salah satu merek yang memberikan ”bonus” itu adalah Subaru. Dengan pengalaman panjangnya memproduksi mobil berpenggerak empat roda (all wheel drive/AWD), Subaru membuka kemungkinan penjelajahan yang lebih luas bagi para penggunanya.

    Apalagi di era SUV (sport utility vehicle) saat ini, pabrikan asal Jepang itu ingin menegaskan tekadnya sebagai produsen SUV terkemuka. Citranya di masa lalu yang identik dengan motorsport dan mobil reli hendak digeser dengan citra produk-produk SUV-nya.

    Dari sembilan model yang saat ini dipasarkan Subaru di pasar global, lima model adalah SUV atau crossover SUV. Bahkan model Subaru Outback, yang dulu berbentuk mobil station wagon atau estate berkolong rendah, kini pun berubah menjadi sebuah crossover SUV berkolong tinggi.

    Di Tanah Air, produk terbaru Subaru adalah Subaru Forester generasi keenam yang diluncurkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, akhir Juli silam. Walau masih mengandalkan dua keunggulan utama Subaru, yakni mesin berkonfigurasi Boxer dan sistem Symmetrical AWD, Forester baru ini membawa kesegaran dengan desain yang lebih gagah dan mesin baru.

    Dengan dimensi panjang 4,655 meter (m), lebar 1,830 m, dan tinggi 1,730 m, Forester menempati posisi sebagai SUV berukuran menengah di jajaran lini produk Subaru. Dia berada di atas Subaru Crosstrek dan di bawah Subaru Ascent (tidak dipasarkan resmi di Indonesia). Dibandingkan kompetitornya yang memiliki spesifikasi hampir sama, Forester terbaru ini lebih pendek 8,5 sentimeter (cm) dibandingkan Mazda CX-60.

    AXL mendapat giliran menjajal langsung Forester generasi keenam ini pada pekan terakhir September lalu. Kesan pertama saat melihat SUV berkapasitas lima tempat duduk ini adalah garis-garis desainnya yang lebih tegas dan solid dibandingkan generasi sebelumnya sehingga mengesankan tampilan lebih gagah.

    Perubahan terbesar terletak pada garis bodi sampingnya yang tadinya cenderung merunduk landai ke depan menjadi lebih mendatar dari belakang ke depan. Alhasil, moncongnya menjadi lebih mendongak dan dihiasi gril yang lebih besar.

    Tidak mencolok

    Walaupun membawa kesegaran, desain mobil ini tetap mempertahankan DNA Forester yang memilih siluet sederhana dan tidak mencolok. Tidak ada kecenderungan untuk membuat mobil tampil futuristik secara berlebihan. Strategi desain ini membuat tampilan Forester cenderung ”awet” dan ”dewasa”.

    Kebersahajaan ini berlanjut ke interior. Desain roda kemudi dan dasbor secara keseluruhan terkesan semenjana, tidak neko-neko. Roda kemudinya berbentuk bundar sempurna, sementara penataan kluster instrumen dan garis-garis dasbornya masih ”lazim”-nya mobil biasa. Bahkan, pada varian Forester 2.5i-S EyeSight yang masuk ke Indonesia ini, kluster instrumen masih mengandalkan jarum-jarum analog. Sebuah fitur yang semakin langka pada mobil baru dewasa ini yang berlomba-lomba memaksimalkan layar digital.

    Bahan pelapis dasbor, pelapis pintu bagian dalam (door trim), dan jok kursi juga tidak menggunakan material atau warna yang aneh-aneh. Warna abu-abu gelap mendominasi interior. Di beberapa bagian dasbor bahkan masih ada material plastik keras tanpa pelapis empuk (soft touch).

    Hanya dalam brosur resmi mobil ini disebutkan adanya pilihan warna coklat untuk pelapis jok, door trim, dan konsol tengah. Pilihan warna interior ini hanya tersedia di Forester dengan warna eksterior Crystal Black Silica dan Brilliant Bronze Metallic.

    Meski tampil sederhana, bukan berarti mobil ini ketinggalan dalam soal teknologi. Dimulai dari desain kursi depannya yang menggunakan teknologi medical ergonomic seat. Rancangan jok ini dikembangkan bersama institusi medis di Jepang dengan meriset pola pergerakan tubuh manusia saat berkendara.

    Hasilnya adalah kursi yang dirancang lebih menopang tulang panggul dan punggung bawah, mengurangi tekanan di bagian leher dan pinggang, menjaga postur tubuh tetap ideal sepanjang perjalanan, dan alhasil mengurangi rasa pegal saat duduk dalam waktu lama. Oleh Subaru Indonesia, kursi ini dinamai ”jok antipegal”.

    Saat menjajal mengendarai Forester ini selama lebih dari dua jam nonstop, terbukti kursi tersebut bisa menopang tubuh dengan baik. Dipadukan dengan putaran roda kemudi yang ringan dan ergonomi posisi memegang roda kemudi, mengendarai mobil ini dalam waktu lama menjadi tidak melelahkan.

    Teknologi modern

    Teknologi canggih lainnya adalah driver monitoring system (DMS) yang berbasis teknologi pengenalan wajah pengemudi. Berdasarkan sejumlah parameter yang sudah diset saat membuat profil pengemudi, mobil bisa mengembalikan berbagai setelan, seperti pengaturan kaca spion luar, setelan audio, hingga AC sesuai dengan profil pengemudi. DMS ini juga disiplin mengingatkan pengemudi untuk selalu menjaga pandangan ke arah depan untuk menghindari distraksi.

    Sebagai mobil yang lahir pada abad ke-21, Subaru Forester terbaru ini juga dilengkapi layar infotainment digital berukuran 11,6 inci yang dipasang vertikal (posisi portrait). Berbagai kontrol fungsi mobil bisa diakses melalui layar ini, seperti AC, audio, dan peranti keselamatan aktif dan bantuan pengemudi EyeSight.

    Bedanya dengan layar kontrol di mobil-mobil modern lainnya, menu di layar Forester ini dibuat simpel. Hanya ada tiga submenu pada layar ini, yakni Vehicle Control, Driving Assistance, dan More Setting, dengan masing-masing submenu hanya berisi 2-6 perintah. Selain itu, ukuran huruf pada menu-menu tersebut juga dibuat besar sehingga mudah dikenali saat mata beralih sesaat melihat ke layar kontrol itu.

    Dua menu lainnya, yakni pilihan mode X-Mode untuk mengatur kemampuan offroad mobil dan pengaturan AC, dibikin tampil permanen di bagian atas dan bawah layar sehingga mudah diakses dan diatur secara intuitif.

    Namun, kesenangan berkendara Subaru Forester ini tetap berpusat pada sistem penggeraknya. Mesinnya kini menggunakan mesin berkode FB25 dengan empat silinder dalam konfigurasi Boxer (horizontally opposed). Kapasitasnya 2,5 liter (2.498 cc) yang mengeluarkan tenaga maksimum 185 PS pada putaran mesin 5.800 rpm dan torsi puncak 247 Nm pada 3.700 rpm.

    Tenaga mesin disalurkan ke empat roda melalui transmisi CVT Lineartronic yang bisa menyimulasikan pergantian ”gigi” manual 8 tingkat percepatan. Walau karakter CVT masih agak terasa saat akselerasi awal, secara keseluruhan akselerasi Forester baru ini terasa ringan dan linier. Meraih kecepatan tinggi di jalan tol juga tak butuh waktu terlalu lama.

    Selama pengujian, mobil diisi bensin beroktan 95 sesuai rekomendasi pabrik. Konsumsi bahan bakar dengan rute kombinasi berdasarkan perhitungan komputer mobil adalah 12 liter per 100 km, atau sekitar 8,3 km per liter. Namun dengan metode penuh ke penuh, konsumsi BBM-nya mencapai 9,4 km per liter. Angka yang wajar untuk mesin 2.500 cc.

    Saat jalanan aspal di depan habis dan hanya tersisa jalan tanah berbatu atau berlumpur, mobil ini masih bisa membawa penggunanya terus maju. Fitur X-Mode memberikan tiga pilihan mode berkendara, yakni Normal untuk jalanan beraspal normal, lalu mode Snow/Dirt untuk jalanan berlapis salju ringan dan jalan tanah berpasir, dan terakhir mode Deep Snow/Mud untuk jalanan berlapis salju tebal atau lumpur.

    Semua mode berkendara ini bisa diterapkan sembari kita menikmati suara sistem audio premium besutan Harman/Kardon dengan 11 pelantang suara (speaker) dan merasakan kelapangan dengan atap kaca panoramic sunroof yang bisa dibuka.

    Secara umum, mobil seharga Rp 735.500.000 (on the road, Jabodetabek) ini memiliki kemampuan yang mumpuni di balik tampilannya yang simpel. Jika Anda orang yang tak mau tampil mencolok, tidak neko-neko, dan mementingkan kebebasan bergerak, baik dalam keseharian maupun dalam petualangan di saat liburan, mobil ini bisa jadi pilihan yang tepat.

    Parfum AXL

  • Tak Kenal Maka Tak Matcha

    Tak Kenal Maka Tak Matcha

    Matcha tengah digandrungi kaum urban kelas menengah perkotaan, khususnya generasi Z. Segala yang serba matcha kini mudah ditemui di berbagai kafe, restoran, juga kedai patiseri. Kelas-kelas kursus penyeduhan matcha juga bertebaran. Di balik segala inovasinya, tak ada salahnya mengingat kembali pada esensi matcha dalam wujud sejatinya.

    Setelah pandemi, matcha makin menjadi tren rasa yang hadir di mana-mana. Berbagai kudapan manis yang viral menyertakan elemen matcha. Matcha sebagai minuman populer jarang ditawarkan secara tunggal. Umumnya dipadukan dengan bahan lainnya, seperti susu dan buah-buahan.

    Kreasi beragam matcha bisa ditemukan di toko roti dan kue, seperti kafe Fragments di Ashta District 8, Jakarta. Setiap gelas matcha latte, misalnya, dibanderol Rp 60.000. Matcha paling ekonomis, usucha, bisa dicicipi dengan harga Rp 55.000. Sementara, matcha jeju tangerine yang menyuguhkan kekhasan ”Negeri Ginseng” dijual seharga Rp 70.000.

    Ryan Kim, pemilik Fragments yang berasal dari Korea Selatan, memadukan matcha dengan cheong atau sirup dari fermentasi buah dan gula khas Korea. ”Sejak masih tinggal di Korsel, aku cinta banget sama matcha. Semula, aku melihat orang Indonesia tidak begitu menyukainya. Di Jepang dan Korsel, sejak dulu selalu populer,” ujar chef Ryan.

    Dia amat gembira mendapati animo masyarakat Indonesia sangat tinggi untuk menikmati matcha selama beberapa tahun ini. Sejak dua bulan lalu, akhirnya Kim turut mencantumkan menu minuman matcha di Fragments. Menurut dia, tren dari luar negeri kerap menyebar dengan cepat di Indonesia, sehingga tak heran menu matcha di Fragments selalu ludes diburu konsumen. Tingginya minat itu belum sebanding dengan ketersediaan stok.

    Membuat matcha itu butuh ketenangan. Harus ”mindful” dan hadir-penuh dalam setiap langkah. Saya ajarkan ”step by step”, supaya peserta benar-benar fokus dan tidak terburu-buru. Matcha itu bukan hanya minuman tren, melainkan sebuah ritual dengan sejarah panjang di Jepang.

    ”Kebetulan, sedang langka karena cuaca di negara asalnya kurang baik. Sekarang, sudah sedikit mendingan,” ucapnya.

    Di Korsel, Pulau Jeju dikenal dengan teh hijaunya yang berkualitas. Banyak wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korsel sehingga memicu maraknya konsumsi matcha. Setelah kembali ke Tanah Air, minuman yang mereka nikmati di kafe saat melancong kemudian dicari lagi. ”Mungkin juga drakor dan K-pop bikin matcha semakin dikenal meski komoditas Jepang masih lebih populer daripada Korsel,” ucapnya.

    Belajar menyeduh

    Menikmati matcha kini tidak sebatas mendatangi kafe atau restoran berbasis matcha. Banyak penggemar matcha berupaya lebih jauh untuk bisa meraciknya sendiri di rumah. Perlengkapan untuk menyeduh matcha juga banyak dijual lewat lokapasar. Namun, untuk menyeduh dengan benar, kursus singkat penyeduhan matcha menjadi magnet berikutnya.

    Salah satunya kursus singkat yang diadakan Obi Matcha dan restoran La Balena di Jakarta, Sabtu (13/9/2025). Di sana, peserta tak hanya belajar teknik menyeduh matcha yang tepat, tetapi juga memahami filosofi di balik tradisi minum teh di Jepang.

    Pendiri Obi Matcha, Olivia Budiono, menggunakan matcha impor dari Yame, di Prefektur Fukuoka, Jepang, dengan tingkatan ceremonial atau kualitas tinggi yang digunakan dalam upacara minum teh Jepang (chanoyu). Dia dan rekannya pernah menimba ilmu tentang matcha selama 6 bulan dengan seorang sensei profesor teh di Jepang.

    Ia berharap peserta tak hanya menikmati rasa matcha, tetapi juga memahami esensi di baliknya. ”Harapan saya, setelah ikut workshop ini, peserta bisa bikin matcha dengan cara tradisional di rumah. Setiap kali mereka bikin, hasilnya tetap konsisten dan sesuai, bukan asal-asalan,” ujarnya.

    Olivia Djajadi, seorang instruktur, mengajarkan tahap demi tahap penyeduhan matcha. Semua dilakukannya dengan sangat hati-hati, dari menuang dan menyaring 1-2 sendok teh bubuk matcha (3-4 gram), menuangkan air panas 60 mililiter dengan suhu 80 derajat celsius secara perlahan, lalu mengaduknya dengan chasen (whisk dari bambu) dengan gerakan M atau W sampai berbusa dan larut sempurna. Selanjutnya, jika ingin dijadikan matcha latte bisa ditambahkan pemanis atau susu.

    ”Membuat matcha itu butuh ketenangan. Harus mindful dan hadir-penuh dalam setiap langkah. Saya ajarkan step by step, supaya peserta benar-benar fokus dan tidak terburu-buru. Matcha itu bukan hanya minuman tren, melainkan sebuah ritual dengan sejarah panjang di Jepang,” kata Olivia.

    Lokakarya matcha seperti ini memperkaya pengetahuan para penikmatnya. Dari yang awalnya membeli minuman di kafe, kini mendalami teknik penyeduhannya. Seperti Alisha Oceani, peserta lokakarya, terlihat amat antusias memperhatikan tahapan penyeduhan. Sudah lama dia menyukai matcha, tetapi baru kali ini mengikuti kelas penyeduhan teh.

    ”Seru banget, peralatannya lengkap dan penjelasannya detail. Aku sudah pernah bikin matcha di rumah, tapi setelah ikut ini, aku jadi lebih paham prosesnya. Sekarang aku jadi pengen level up peralatan yang kupakai, nggak cuma yang dibeli di marketplace biasa,” ungkap Alisha.

    Mengutip sebuah artikel di Forbes, di kalangan gen Z matcha tidak lagi dibingkai sebagai makanan sehat, melainkan juga menjadi semacam performance sosial. Dengan membuatnya sendiri di rumah atau membawanya ke ruang publik menjadi ritual pribadi yang sekaligus berfungsi sebagai penanda sosial. Momen tersebut ketika dibagikan di media sosial lantas seolah menjadi simbol tersendiri.

    Matcha sejati

    Kehadiran kafe-kafe berbasis matcha turut memperkenalkan minuman ini secara luas. Namun, jangan pernah samakan teh hijau matcha dengan teh hijau biasa. Keduanya berbeda dari bagian yang dikonsumsi. Belum tentu matcha yang digunakan memiliki kualitas baik dan murni.

    Konsumsi matcha yang murni berarti kamu mengonsumsi seluruh bagian daun tehnya, bukan hanya ekstraknya. Jadi, kalau kualitas daun tehnya bagus dan asli, tubuhmu sudah cukup mendapatkan manfaat hanya dari konsumsi satu hingga dua kali seminggu.

    Sensei of Chado dari Urasenke Tankokai Indonesia Suwarni Widjaja mengatakan, tidak mudah untuk membedakan matcha yang asli dan sudah campuran dari fisik dan rasa. Menurutnya penting untuk dipahami agar tren gaya hidup yang berkembang selaras dengan pemahaman terhadap kualitas dan manfaat dari matcha itu sendiri.

    Urasenke merupakan salah satu dari tiga aliran utama upacara minum teh di Jepang. Urasenke Tankokai Indonesia adalah cabang organisasi urasenke di Jepang yang melestarikan dan mempromosikan chado. Di balik chado yang berarti ”jalan teh”, sebenarnya berakar pada filosofi Buddhisme Zen yang menekankan pada kesadaran melalui meditasi. Upacara minum teh adalah medium disiplin spiritual dan estetika dalam perjalanan penyempurnaan diri.

    Konsumsi matcha secara murni, ditekankan Suwarni, tidak perlu dilakukan setiap hari. Untuk mendapatkan manfaatnya cukup menggunakan sekitar satu hingga dua gram per takaran. Murni yang dimaksud adalah tidak menambahkan bahan pemanis atau lainnya ke dalamnya. Hanya air panas dan bubuk teh hijau matcha.

    ”Konsumsi matcha yang murni berarti kamu mengonsumsi seluruh bagian daun tehnya, bukan hanya ekstraknya. Jadi, kalau kualitas daun tehnya bagus dan asli, tubuhmu sudah cukup mendapatkan manfaat hanya dari konsumsi satu hingga dua kali seminggu,” ucapnya.

    Dalam wujud sejatinya, matcha mengandung antioksidan yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas dan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh. Sejumlah studi dan artikel ilmiah menunjukkan manfaat matcha bisa didapatkan saat seseorang mengonsumsi bubuk matcha yang berkualitas.

    Konsumsi teh hijau, telah lama menjadi bagian tradisi China. Kemudian berkembang ke Jepang. Di sana, penyeduhan matcha merupakan simbol kesederhanaan dan penghormatan terhadap tradisi kehidupan. Dalam chanoyu, pemilihan jenis matcha yang digunakan tidak boleh menggunakan tingkatan biasa, harus menggunakan yang kualitas tinggi dan asli.

    Menurut Suwarni, matcha yang asli memiliki warna hijau yang khas dan rasa otentik, berbeda dengan grade biasa. Ada beberapa merek yang digunakan untuk sekolah teh Urasenke, yakni Marukyu Koyamaen, Kambayashi, dan Ippodo. Ketiga merek itu memiliki sejarah panjang produksi teh, yang di antaranya dikenal sebagai pemasok teh hijau resmi untuk keluarga kaisar Jepang.

    Ketika mengetahui tradisi dan budaya asalnya, matcha mengajarkan kita untuk kembali pada yang alami bukan sekadar ramai dibicarakan. Saat ini, minat untuk belajar matcha meningkat pesat di Urasenke Indonesia. Materi yang diajarkan mulai dari penghormatan hingga latihan terstruktur.

    Kelas ini bersifat seumur hidup karena belajar matcha dianggap sebagai bagian proses tanpa akhir. Bahkan, seorang sensei teh seperti Suwarni pun masih terus belajar agar pengetahuannya tidak stagnan.

    ”Murid baru terus bertambah setiap bulan, termasuk dari Jepang. Jumlahnya meningkat sampai 3 kali lebih banyak dibanding tahun 2023,” ujar Suwarni.

    Tren global

    Tren matcha tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga dunia. Mengutip data Grand View Research, perusahaan konsultan dan riset pasar berbasis di Amerika Serikat, pasar matcha global diperkirakan mencapai 4,3 miliar dollar AS pada tahun 2023 dan diproyeksikan mencapai 7,43 miliar dollar AS pada tahun 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 7,9 persen dari tahun 2024 hingga 2030.

    Tingginya minat terhadap matcha itu tak sebanding dengan pasokannya yang cenderung stagnan. Tak heran, seperti diulas di salah satu artikel di BBC, di Jepang saja misalnya, pembeli matcha di berbagai toko kerap dibatasi hanya satu atau dua kemasan saja per orang.

    Popularitas matcha di panggung global diduga terkait dengan meledaknya turisme di Jepang pascapandemi. Seiring melemahnya mata uang yen, Jepang menjadi destinasi turis mancanegara yang menarik. Dampak ikutannya, segala terkait komoditas Jepang seperti matcha pun diminati. Apalagi selebritas Hollywood seperti Gwyneth Paltrow, Kylie Jenner, Rihanna, hingga Brad Pitt pun menggemari matcha.

    Pada tahun 2023, negara-negara di Asia Pasifik mendominasi pasar global matcha sebesar 57,76 persen. Grand View Research menyebutkan, pasar matcha di Amerika Serikat dan Eropa menjadi pangsa pasar yang substansial pada tahun 2023. Hal ini salah satunya disebabkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat kesehatan dari matcha. Dunia tengah menghijau, bukan oleh hutan, tapi matcha.

    Parfum AXL

  • Hidup Sedang Pahit, Carilah yang Manis

    Hidup Sedang Pahit, Carilah yang Manis

    Laburan tipis kecoklatan yang melapisi permukaan keik kuning keemasan itu terlihat menggiurkan. Ketika disuap, ia lumer tak berdaya di dalam mulut. Samar-samar, rasa manisnya terjejak gurih. Inilah nasi-uduk cheesecake. Begitulah, kini kudapan manis atau dessert yang digagas dengan pendekatan kontemporer menjadi kemewahan terjangkau kaum urban.

    Nasi-uduk cheesecake tersebut merupakan salah satu menu dessert yang hadir dalam Jakarta Dessert Week ke-6 yang digelar akhir Agustus hingga September lalu. Nyeleneh memang. Tapi, dessert eksperimental itu berhasil menerjemahkan makanan tradisional secara kontemporer. Nasi uduk dibaca sebagai konsep, ditafsir ulang, dan diwujudkan menjadi menu dessert.

    Mari lanjutkan pencicipan ini dengan elemen lain di sekitar keik tadi. Saus coklat kemerahan rupanya berperan seperti sambal, yang memberi sentilan pedas, asam, manis. Puncak kejutan apa lagi kalau bukan krim pastri bercita rasa nasi uduk. Istimewa, menilik racikan likat yang menyusupkan kegurihan semur itu ditingkahi sekelebat aroma jeruk nipis. Butiran crumble yang diracik dari bawang merah menyatu dengan sejumput kering kentang dan kacang tanah.

    Unik betul memang, peleburan kuliner yang sungguh kaya, seakan sepiring nasi uduk lengkap dengan lauk-pauk luruh di dalamnya. Sedikit bergeser dari ”khitah” kue keju, namun ajaibnya tercecap pas. Kelezatan ala Barat dan Timur itu yang disajikan estetik beralaskan daun pisang.

    Kudapan nasi-uduk cheesecake ini hasil kreasi Ryan Kim. Ia sebetulnya pusing tujuh keliling untuk memastikan komposisi paling klop. ”Susah banget, soalnya spesial. Belum pernah lihat nasi uduk jadi dessert (pencuci mulut). Kalau orang Indonesia sudah biasa makan nasi uduk,” ujar chef asal Korea Selatan ini.

    Jakarta Dessert Week (JDW) merupakan perhelatan tahunan yang sudah digelar sejak tahun 2019. Salah satu pendiri JDW, Tria Nuragustina, mengatakan, acara itu digagas berawal dari sekadar obrolan saat kumpul-kumpul kalangan pelaku bisnis kuliner atau food and beverage.

    ”Kita lihat kalau di luar negeri, dessert itu selalu jadi bagian dari makan lengkap—ada appetizer, main course, lalu dessert. Tapi, di Indonesia, orang kebanyakan makan nasi goreng, lalu pulang, nggak makan dessert. Padahal, dessert itu punya nilai seni yang luar biasa. Dari situ kita ingin bikin festival yang benar-benar memberi panggung untuk dessert,” kata Tria.

    Tria menjelaskan, JDW sejak awal bukan sekadar bazar kuliner, melainkan restaurant week selama tiga minggu penuh. Puluhan restoran, toko kue, hingga kedai gelato yang terpilih diajak membuat menu limited edition yang hanya tersedia selama festival.

    Tim dari JDW mengurasi semua dessert yang diikutsertakan. Dengan demikian, peserta JDW ini berbasis kurasi, bukan keikutsertaan yang hanya sekadar berbayar. Total ada 44 peserta terkurasi dari jenama dessert, restoran, toko kue, dan toko es krim.

    Tria mengungkapkan, dibandingkan JDW tahun 2024 lalu, pendapatan (revenue) selama JDW 2025 kali ini meningkat 27 persen. Angka ini, menurut dia, cukup menjanjikan di tengah situasi ekonomi yang cenderung dingin stagnan.

    Bagi Tria, kekuatan JDW juga terletak pada posisinya sebagai affordable luxury, kemewahan yang terjangkau. ”Di tengah ekonomi yang turun, dessert bisa jadi affordable luxury. Di resto, harga dessert lebih terjangkau dibanding main course (makanan utama), tapi tetap kasih rasa spesial. Jadi, orang tetap bisa menikmati pengalaman kuliner yang menyenangkan tanpa keluar biaya besar,” imbuh Tria.

    Fenomena dessert di kota seperti Jakarta beberapa tahun terakhir ini rupanya juga memengaruhi minat anak muda untuk bersekolah mengambil jurusan pastri. Hal itu diungkapkan oleh Anton Hamdali dari marketing communication perwakilan Le Cordon Bleu (LCB) di Indonesia. Menurut dia, gejala minat itu sudah tampak sebelum pandemi. Setelah pandemi, minat anak-anak muda lulusan SMA untuk sekolah pastri di LCB di sejumlah negara meningkat nyata.

    ”Setelah Covid, definitely lebih banyak lagi, baik laki-laki maupun perempuan. Dari Indonesia kebanyakan masih ke LCB di Australia,” kata Anton.

    Meski sudah memperluas festival hingga terselenggara di Bandung dan Medan, visi JDW tetap jelas, membawa Jakarta ke peta kuliner global. ”Kami ingin Jakarta ada di peta kuliner global, seperti Bangkok atau Kuala Lumpur. Tapi, pendekatannya tetap rooted in local. Misalnya, ada menu unik kayak nasi-uduk cheesecake. Orang mungkin mikir aneh, tapi ternyata enak banget. Jadi, ada kebanggaan lokal yang kita angkat,” papar Tria.

    Konsep kelokalan itulah yang kemudian mewujud menjadi aneka dessert kontemporer hasil penafsiran dari kuliner lokal atau tradisional. Selain nasi-uduk cheesecake tadi, ada pula dessert unik, yakni ginger and mung beans alias angsle karya Vivianatalia Simangunsong, sous chef dari ESA Restaurant di kawasan SCBD, Jakarta.

    Angsle tersebut dalam JDW 2025 memenangi Golden Swirl Awards untuk kategori Plated Dessert of the Year. Konsep segar yang ditonjolkan adalah menggabungkan hot and cold dan semprotan ekstrak jahe. Dinginnya didapatkan dari gelato ketan putih dan sensasi hangat dimunculkan dari busa (foam) jahe yang dituang di atas gelato.

    Sebelum dituangi busa jahe, bagian atas gelato disemprot ekstrak jahe. Ekstrak jahe ini memperkuat busa jahe dari segi aroma. Sementara busa jahe tampil ”hangat” saat sampai di kerongkongan. Baik angsle tradisional maupun dessert modern ini sama-sama memiliki aroma khas jahe. Eksplorasi teknik dalam kreasi ini membutuhkan keunggulan keterampilan tersendiri.

    Tema lokal

    Selama tiga tahun terakhir, JDW memang konsisten mengangkat tema lokal untuk dieksplorasi dengan pendekatan kontemporer. Cara ini mengangkat khazanah kuliner tradisional menjadi lebih modern dan selaras dengan lanskap internasional. Kuncinya di inovasi yang juga napas penting dalam JDW.

    ”Tiga tahun belakangan, kami selalu mendorong tema-tema yang punya nilai lokal. Tiga tahun lalu temanya cerita rakyat atau folklore, setahun lalu wildlife atau flora dan fauna Indonesia. Tahun ini kami memilih tribute to Jakarta, karena ingin produk pastri dan dessert di Jakarta punya pembeda berupa infusi unsur lokal,” tutur Tria.

    Bagi Tria, identitas lokal inilah yang akan membedakan Jakarta dengan kota lain. ”Kalau croissant di Jakarta sama saja dengan yang ada di Singapura, Bangkok, atau Kuala Lumpur, untuk apa orang jauh-jauh datang ke sini? Mereka pasti mencari sesuatu yang berbeda. Pariwisata tujuannya, kan, mengajak orang datang dan spending money. Jadi, kita harus punya sesuatu yang berbeda,” lanjutnya.

    ”Dessert hopping”

    Selain adanya penghargaan Golden Swirl Awards dalam 13 kategori, JDW 2025 lalu juga diwarnai dengan dessert hopping, jalan-jalan kuliner mencicipi dessert dari beberapa restoran terpilih. Grup-tur icip-icip ini memulai perjalanannya di Monas, akhir Agustus lalu.

    Dengan mengunjungi beberapa restoran dan kafe pilihan, pengunjung diajak mengenal Ibu Kota bukan hanya lewat cerita, melainkan juga lewat rasa. Oleh karena itu, JDW juga didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Jakarta.

    Dalam dessert hopping itu, peserta diajak singgah ke kafe Chicory di Menteng, Jakarta Pusat. Dari luar, bangunan kafe bergaya klasik Eropa itu langsung memancarkan nuansa hangat. Di dalam, aroma kopi berpadu dengan wangi butter dan gula panggang. Chef Priscilla Wignjopranoto memperkenalkan kreasi berjudul Tonkoko. Inspirasi menu ini datang dari kenangan masa kecilnya.

    ”Namanya Tonkoko, itu inspirasi dari jajanan tradisional yang saya suka makan waktu kecil, kue rangi atau kue pancong yang mirip-mirip itu. Tapi, ini kami kasih modern touch dengan memperkenalkan cream cheese dan tongkabiun,” ujar Priscilla.

    Tujuannya sederhana, memodernisasi camilan masa kecil tanpa mengubah rasa dasarnya. Hanya sedikit sentuhan tambahan agar jajanan yang akrab bisa tampil baru dan segar.

    Perjalanan kemudian berlanjut ke Kemang, Jakarta Selatan, yakni ke restoran Knots. Ruangannya lebih kontemporer, dengan meja kayu panjang, lampu temaram, dan musik yang mengalun pelan. Di sini, Chef Letare Ulima dan Chef Riesky Vernandes menafsirkan ulang dua kudapan, bolen dan kue rangi.

    ”Sebenarnya untuk Jakarta, kami memilih dua ikon, kue rangi dan bolen. Alasannya sederhana, karena kami dan partner sama-sama suka. Bedanya, kami ingin membuat ala Knots, yaitu patiseri,” kata Letare.

    Bolen mereka dimodifikasi. Pisangnya ditumis dulu dengan mentega (butter) lokal, menghasilkan aroma gurih yang lebih kaya. Sementara kue rangi diberi sentuhan teknik masak Perancis dan Italia. Ada cokelat, ada es krim, hingga lapisan saus dan kuah.

    Perjalanan icip-icip ini lalu berlabuh di di Natsuka Cafe, Cilandak, Jakarta Selatan. Di sini, Chef Keshia menamai kreasinya Miso no Shiro. Menu ini tidak sekadar manis, tetapi juga merupakan sebuah representasi visual. ”Miso no Shiro diciptakan untuk menangkap banyak layer. Karena kami ingin mempresentasikan banyaknya layer di Jakarta yang modern dan minimalis,” ucap Keshia.

    Dalam satu piring terdapat kombinasi tekstur: lapisan silky mousse, renyah dari crunchy crunch, manis legit dari sirup cokelat-putih, hingga sensasi dingin dari mousse beku. Menurut Keshia, Jakarta bukan hanya kota tradisi, melainkan juga pusat modernitas. ”Aku rasa sisi itu juga bisa ditangkap lewat dessert,” ujarnya.

    Begitulah kaum muda menafsir Jakarta dan mewujudkannya dalam kudapan manis. Melalui JDW, penyelenggara tengah berikhtiar membangun ekosistem dessert yang khas dalam industri kuliner di Jakarta.

    Meski ekonomi tengah kurang bergairah, kudapan manis setidaknya bisa menjadi penghiburan sejenak bagi lidah yang mungkin sudah lelah untuk mengeluh.

    Parfum AXL

  • Sociolla Award 2025 Hadir dengan 100 Hotlist, Kurasi Kredibel dari 58 Logo Kecantikan Ternama

    Sociolla Award 2025 Hadir dengan 100 Hotlist, Kurasi Kredibel dari 58 Logo Kecantikan Ternama

    Jakarta – Memasuki satu dekade kiprahnya sebagai pionir omni-channel good looks store di Indonesia, Sociolla kembali menghadirkan Sociolla Award 2025.
    Tahun ini, penghargaan tahunan tersebut dikemas lebih istimewa melalui kurasi eksklusif “100 Hotlist”, daftar 100 produk kecantikan dari 58 emblem ternama, yang dipilih secara komprehensif berdasarkan actual consumer opinions, performa penjualan, serta analisis tren dari Soco Perception Manufacturing facility.
    Ghea Yantra, selaku SVP Advertising and marketing Operations Social Bella, menegaskan bahwa Sociolla sejak awal berkomitmen membangun ekosistem kecantikan yang kredibel dan transparan.
    “Selama 10 tahun, kami tidak hanya hadir sebagai omni-channel store terpercaya, tapi juga menciptakan ekosistem kecantikan yang lengkap. Hingga kini, kami punya lebih dari 7,6 juta pengguna dan lebih dari 3,5 juta ulasan di Soco App, serta lebih dari 125 toko di 55 kota Indonesia. Semua produk yang kami hadirkan pasti autentik, aman, dan relevan bagi para good looks fanatic,” papar Ghea, saat Press Convention Kick-Off Sociolla Award 2025, di Jakarta, Senin (29/9/2025).
    Menurutnya, kurasi 100 Hotlist menjadi tonggak baru dalam penyelenggaraan Sociolla Award.
    “Produk yang masuk hotlist harus memenuhi tiga pilar, yakni punya ranking minimum 4,5 dari pengguna, memiliki catatan penjualan konsisten sepanjang Juni 2024–Juni 2025, dan relevan dengan tren yang terdeteksi oleh Soco Perception Manufacturing facility. Dari 100 hotlist inilah publik bisa menentukan pemenang melalui proses balloting terbuka di Soco App hingga 29 Oktober 2025,” jelasnya.

    Transparansi dan Inovasi dalam Penjurian
    Sementara itu, Amanda Melissa, selaku VP Knowledge Control & Trade Intelligence Social Bella, menambahkan bahwa sistem baru ini membuat penghargaan lebih holistik dibanding award kecantikan lainnya.
    “Kami ingin memastikan produk yang terpilih memang the most efficient of the most efficient. Overview actual client dengan ranking di atas 4,5 menjamin kualitas, knowledge penjualan menunjukkan konsistensi dan repurchase, sementara analisis tren memastikan produk relevan dengan kebutuhan konsumen hari ini. Tapi ujungnya, siapa pemenangnya tetap ditentukan publik lewat balloting. It’s a sport changer,” terang Amanda.
    Lebih jauh, Amanda menilai kombinasi overview, gross sales, dan tren menjadikan Sociolla Award berbeda dari penghargaan lain di Indonesia.
    “Kita satu-satunya yang bisa menghadirkan award yang benar-benar holistik. Nggak hanya gross sales, nggak hanya overview, tapi gabungan knowledge yang utuh. Harapannya, emblem pemenang bisa menginspirasi konsumen sekaligus memotivasi emblem lain untuk terus berinovasi,” tambahnya.

    Parfum AXL

  • Sociolla Dorong Pertumbuhan Emblem Lokal dan Perluas Jangkauan di Indonesia

    Sociolla Dorong Pertumbuhan Emblem Lokal dan Perluas Jangkauan di Indonesia

    Jakarta – Sociolla terus menunjukkan komitmennya sebagai platform kecantikan terdepan di Indonesia dengan mendukung pertumbuhan model lokal sekaligus memperluas jaringan distribusinya.
    Meski sudah memiliki toko di Vietnam, Sociolla menegaskan bahwa fokus utama tahun ini masih tertuju pada ekspansi dalam negeri.
    “Sebenarnya kita sudah memiliki toko di Vietnam. Jadi kita belum ada rencana untuk ekspansi lagi di luar negeri tahun ini. Kalau ekspansi di Indonesia, pasti ada terus. Sampai akhirnya ditungguin saja,” ujar Ghea Yantra, SVP Advertising Operations Social Bella, saat Press Convention Kick-Off Sociolla Award 2025, di Jakarta, Senin (29/9/2025).
    Ghea menambahkan bahwa ekspansi Sociolla di Indonesia terus berjalan dinamis. Bahkan Sociolla pernah membuka tiga toko sekaligus dalam satu hari.
    “Hari ini ke teman-teman media sambil get ready buka toko juga. Tapi kita sendiri juga masih sangat semangat untuk terus mendekatkan diri ke para good looks fanatic di seluruh Indonesia,” lanjutnya.
    Pertumbuhan Emblem Lokal Melalui Kampanye Love Native
    Ghea memaparkan, Sociolla kini menaungi lebih dari 200 model lokal yang bergabung dalam jaringan distribusi baik on-line maupun offline.
    Kehadiran brand-brand tersebut memperkaya pilihan konsumen sekaligus menegaskan peran Sociolla sebagai rumah bagi pelaku industri kecantikan lokal.
    “General model lokal luar biasa di Sociolla itu sendiri. Kalau sekarang sih sudah kurang lebih 200 model lebih. Kita juga memiliki marketing campaign yang bernama Love Native. Jadi kita terus jadi platform untuk teman-teman para model lokal,” jelas Ghea.

    Parfum AXL

  • Menelaah Pergeseran Tren Kecantikan di Indonesia dan Peran Sociolla dalam Mendorong Inovasi Industri

    Menelaah Pergeseran Tren Kecantikan di Indonesia dan Peran Sociolla dalam Mendorong Inovasi Industri

    Jakarta – Industri kecantikan di Indonesia tengah mengalami dinamika yang begitu cepat. Pergeseran tren make-up dan skin care tidak hanya dipengaruhi faktor estetika, tetapi juga perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, hingga pemanfaatan information.
    Hal ini diungkapkan oleh Amanda Melissa, VP Knowledge Control & Industry Intelligence Social Bella, yang menilai pasar kecantikan di Indonesia semakin cerdas, variatif, dan menantang.
    Amanda menyebut, faktor utama yang mendorong perubahan tren kecantikan adalah meningkatnya literasi konsumen. Jika dulu label ‘brightening’ saja sudah cukup menarik minat, kini konsumen datang dengan pertanyaan yang lebih spesifik.
    “Konsumen itu semakin lebih pintar ketika mencari produk kecantikannya. Dulu cukup dengan label brightening. Sekarang mereka bisa tanya, ‘Mbak, moisturizer yang ada centella mana? Atau serum dengan niacinamide yang mana?’ Pintar banget tuh. Dan itu impact-nya post-COVID, ketika logo ramai beriklan dan sosmed makin aktif,” ungkap Amanda, saat Press Convention Kick-Off Sociolla Award 2025, di Jakarta, Senin (29/9/2025).
    Perempuan yang akrab disapa Mandy ini lantas menuturkan, dalam kurun 2–3 tahun, konsumen Indonesia berubah drastis. Mereka tidak hanya menuntut produk skin care, tapi juga frame care, hair care, hingga make-up dengan fungsi tambahan.

    “Sekarang cushion misalnya, bukan hanya untuk menutupi jerawat, tapi juga dituntut bisa menyembuhkan tanpa menimbulkan jerawat baru,” tukasnya.
    Selain literasi, sambung Amanda, perubahan demografi juga memberi warna pada industri kecantikan. Generasi muda seperti Gen Z membawa kebutuhan berbeda dengan Gen Y, Gen X, atau bahkan konsumen usia 30 tahun ke atas yang lebih mapan secara finansial.
    “Indonesia memang negara dengan demografi muda. Tapi generasi yang 30 tahun ke atas, yang punya daya beli kuat, juga makin besar. Sementara Gen Z baru masuk pasar dengan preferensi berbeda. Jadi marketplace makin ramai, makin seru,” jelas Amanda.
    Amanda melanjutkan, perubahan ekonomi pun semakin terlihat. Segmen harga produk tidak lagi hanya terbagi dua, yakni murah dan top class, melainkan melebar ke banyak lapisan. Amanda bilang, dari masker Rp100 ribu, cushion Rp300 ribu–Rp500 ribu, hingga produk dengan harga jutaan, semua punya pasarnya masing-masing.
    “Sekarang ke toko Sociolla bisa pusing, karena banyak banget pilihannya. Itu menandakan marketplace kita berkembang cepat,” katanya.

    Parfum AXL

  • Produk Terbaru CeraVe Atasi Jerawat dalam 3 Hari: Blemish Regulate Vary

    Produk Terbaru CeraVe Atasi Jerawat dalam 3 Hari: Blemish Regulate Vary

    Jakarta – CeraVe, merek perawatan kulit yang dikembangkan bersama dermatolog, resmi meluncurkan rangkaian terbaru Blemish Regulate Vary pada CeraVe Zits Academy di Mal Kota Kasablanka hingga 5 Oktober 2025. Melalui dua langkah penting ini, CeraVe menegaskan komitmennya untuk membantu masyarakat Indonesia memutus siklus jerawat dengan solusi perawatan kulit yang efektif sekaligus delicate, sambil memperkuat pores and skin barrier.
    Nama CeraVe berasal dari gabungan kata CERAmides dan MVE supply generation (MultiVesicular Emulsion). Produk CeraVe diformulasikan dengan tiga ceramide esensial yang skin-identical (1, 3, dan 6-II) yang identik dengan ceramide alami di kulit.

    “Kami percaya bahwa kulit merupakan refleksi dari kesehatan diri. Didirikan pada tahun 2005 oleh sekumpulan dermatolog, CeraVe hadir sebagai solusi untuk berbagai masalah kulit dengan komitmen memperkuat pores and skin barrier. Sejak hadir pada awal 2024 di Indonesia, CeraVe semakin diterima oleh konsumen, dan memasuki tahun keduanya kami melangkah lebih jauh dengan berbagai inisiatif baru, termasuk peluncuran Blemish Regulate Vary melalui acara CeraVe Zits Academy,” ujar Silvia Yohana, Common Supervisor, L’Oréal Dermatological Attractiveness Indonesia, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (1/10/2025).
    Banyak orang mengira jerawat hanya masalah remaja atau hormon yang akan hilang seiring waktu. Padahal, jerawat dapat muncul di setiap tahapan usia dan menjadi alasan utama orang mencari pertolongan dermatolog di seluruh dunia. Untuk memutus siklusnya, jerawat perlu dipahami bukan sekadar fase singkat, melainkan masalah kulit berulang yang membutuhkan penanganan tepat.
    “Di Indonesia, jerawat masih menjadi masalah kulit nomor satu, yang dialami oleh sekitar 58% masyarakat selama 12 bulan terakhir. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakstabilan hormon, tingkat stres yang tinggi, hingga faktor eksternal lainnya. Apabila tidak ditangani dengan baik, dampaknya lebih dari sekadar tampilan kulit, jerawat dapat memengaruhi rasa percaya diri, suasana hati, hingga interaksi sosial,” ujar Pandu Brodjonegoro, Advertising Director, L’Oréal Dermatological Attractiveness Indonesia.
    dr. Vidyani Adiningtyas, Sp. DVE, Dermatolog, Dermsquad CeraVe Indonesia, menjelaskan bahwa jika kandungan ceramide rusak, pores and skin barrier dapat terganggu dan menyebabkan kemerahan, peradangan, gatal. Kulit dengan pores and skin barrier yang rusak biasanya mengalami defisiensi ceramide.
    “Karena itu, jika ingin memperbaiki pores and skin barrier, kita perlu fokus menutrisi kulit dengan jenis ceramide 1, 3, dan 6-II. Semakin banyak ceramide, tidak otomatis lebih baik. Yang penting jenis ceramide sesuai dengan kebutuhan kulit. Selain itu, produk dengan teknologi pelepasan molekul bertahap juga penting. Dengan begitu, ceramide bisa dilepaskan perlahan sehingga bertahan lebih lama di kulit, menjaga kelembapan, dan membuat kulit tetap terhidrasi sepanjang hari,” jelasnya.
    Rangkaian Blemish Regulate Vary
    Blemish Regulate Vary terdiri dari tiga produk yang bisa didapatkan secara resmi di CeraVe Professional Store dan Watsons Indonesia sebagai berikut:

    Blemish Regulate Cleanser, pembersih wajah untuk mengangkat sebum berlebih serta meredakan jerawat sambil memperkuat pores and skin barrier;
    Blemish Regulate Gel, pelembap berbentuk gel untuk mencegah jerawat baru serta memperbaiki tampilan pori-pori tanpa mengganggu pores and skin barrier; serta
    Resurfacing Retinol Serum, serum ringan untuk mengurangi noda bekas jerawat dan noda hitam, menyamarkan pori, meratakan warna kulit, memperbaiki tekstur, sekaligus memperkuat pores and skin barrier.

    Parfum AXL

  • Rayakan Satu Dekade, Sociolla Hadirkan Ok-BeautyLand di Jakarta dengan Beragam Promo Menarik

    Rayakan Satu Dekade, Sociolla Hadirkan Ok-BeautyLand di Jakarta dengan Beragam Promo Menarik

    Jakarta – Sebagai bagian dari perayaan satu dekade Sociolla, Sociolla mempersembahkan Ok-BeautyLand 2025 yamg akan berlangsung di Laguna Atrium, Central Park pada 1-5 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan wujud dari komitmen Sociolla dalam menghadirkan pengalaman kecantikan yang relevan dengan kebutuhan para konsumen.
    SVP Advertising Operations Social Bella, Ghea Yantra, mengungkapkan bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar pameran kecantikan. Melalui kegiatan ini, Sociolla ingin memberikan pengalaman berbelanja seperti di Korea, mulai dari suasana belanja, hiburan, hingga aktivitas menarik lainnya.
    “Sociolla Ok-BeautyLand merupakan tournament yang menawarkan pelanggan untuk menemukan berbagai produk-produk dari Korea dan bisa mencobanya secara langsung. Ada berbagai keseruan menarik yang dapat dirasakan pengunjung, seperti promo, diskon, dan new launches,” ungkapnya dalam Ok-BeautyLand, Kamis (2/10/2025), Jakarta.

    Melalui Ok-BeautyLand, para pengunjung dapat merasakan pengalaman singkat berlibur ke Korea dengan atmosfer khas daerah populer, seperti Seongsu, Gangnam, hingga Hongdae. Dengan berbagai aktivitas yang seru dan menarik, seperti merchandising device virtual good looks blind field, freebies, hingga permainan asal Korea di beberapa sales space yang ada.
    Rangkaian Seru di Sociolla Ok-BeautyLand

    Pamper in Hanok Area (Seongsu-Impressed)

    Hadir instalasi AMORE PACIFIC yang membuat para pengunjung merasakan sensasi berada di Korea. Tak hanya itu, para pengunjung dapat menikmati fast pampering carrier menggunakan rangkaian produk top rate dari AMOREPACIFIC serta kesempatan mengikuti fortunate draw dengan hadiah eksklusif, dan berbagai video games seru.

    Skin care District – Gan Glow (Gangnam-Impressed)

    Menawarkan pengalaman seperti menelusuri Gangnam District, kawasan yang dikenal sebagai surganya kecantikan. Space ini menghadirkan rekomendasi skin care terbaik untuk berbagai kebutuhan kulit. Di sini, pengunjung juga dapat mencoba aktivitas menarik seperti pores and skin test UV test, hingga kesempatan bertemu dengan good looks content material writer favorit.

    Make-up District (Hongdae-Impressed)

    Menghadirkan nuansa yang sama seperti di Hongdae, pengunjung dapat mencoba berbagai make-up dan menemukan gaya yang paling sesuai. Keseruan space ini bertambah dengan hadirnya layanan make-up contact up, private colour research, DIY product customization, hingga product engraving untuk menambah personalisasi pada produk yang telah dibeli.

    Non-public Care District – Nam Zen (Namsan-Impressed)

    Terinspirasi dari keindahan Namsan yang memiliki suasana alami. Space ini menghadirkan rangkaian hair care, frame care, dan private care. Para pengunjung dapat mencoba aktivitas menarik seperti scalp test dan hair do.

    Beragam promo turut hadir untuk melengkapi keistimewaan kegiatan ini. Terdapat diskon hingga 90%, Purchase 1 Get 1, flash sale di jam tertentu setiap hari, voucher eksklusif, hingga freebies bernilai Rp500 juta. Tak hanya itu, anggota SOCO yang terdaftar berkesempatan memperoleh good looks blind field melalui virtual merchandising device dengan menukarkan minimum 50 SOCO Issues di aplikasi SOCO.
    Kehadiran Perdana SungBoon Editor di Indonesia di Sociolla Ok-BeautyLand
    Dalam rangkaian Sociolla Ok-BeautyLand, SungBoon Editor, emblem skin care asal Korea Selatan, menandai debutnya di Indonesia. Mengusung filosofi “Just right Aspect, Particular Impact, Day by day Utilization”, nama SungBoon memiliki arti uncooked aspect yang mencerminkan not anything pointless, the whole thing intentional.
    Emblem ini dikenal sebagai Best Sluggish Growing old Emblem dengan sejumlah pencapaian world, mulai dari Inexperienced Tomato Pore Lifting Ampoule yang telah terjual lebih dari 6 juta unit di Korea, hingga Deep Collagen Masks yang berhasil meraih posisi nomor satu di Amazon AS
    Setiap produknya diformulasikan dengan hero components yang dipatenkan, mulai dari Inexperienced Tomato untuk membantu perawatan pori, Apple Peel untuk memperhalus tekstur kulit, Collagen untuk menjaga elastisitas, hingga Grape Vita C dan Silk Peptide untuk mencerahkan serta memperkuat kulit. Formulasi ini efektif menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia yang menghadapi tantangan kulit di iklim tropis.

    Parfum AXL

  • Mengenang Theresia Widia Soerjaningsih, Rektor Pertama dan Perempuan Visioner Pendiri Binus College

    Mengenang Theresia Widia Soerjaningsih, Rektor Pertama dan Perempuan Visioner Pendiri Binus College

    Jakarta – Ir. Theresia Widia Soerjaningsih, MM., Ph.D. adalah sosok perempuan Indonesia yang namanya tak bisa dilepaskan dari sejarah lahir dan berkembangnya Universitas Bina Nusantara (Binus College).

    Sebagai pelopor sekaligus Rektor pertama, kiprahnya menempatkan Binus sebagai salah satu universitas swasta paling bergengsi di Indonesia, dengan reputasi yang terus bergaung hingga kancah internasional.

    Kisah hidup Theresia Widia Soerjaningsih menjadi bukti nyata bahwa tekad, keberanian, dan visi besar mampu melahirkan karya enormous. Dari bimbingan belajar sederhana di teras rumah, lahirlah sebuah institusi pendidikan tinggi yang berpengaruh besar bagi generasi muda.

    Dan, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (3/10/2025), berikut Olenka ulas profil singkat sosok inspiratif Theresia Widia Soerjaningsih.

    Latar Belakang Keluarga dan Masa Kecil

    Dikutip dari Wikipedia, Theresia Widia Soerjaningsih lahir di Malang, Jawa Timur pada 19 Oktober 1950. Ia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara, putri pasangan Joseph Wibowo Hadipuspito dan Cicilia Setianingsih.

    Sejak kecil, perempuan yang akrab disapa Widia ini dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi. Awalnya, ia bercita-cita menjadi dokter, lalu sempat tertarik menjadi pramugari, sebelum akhirnya menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Trisakti, Jakarta.

    Dalam perjalanan hidupnya, Theresia membangun keluarga bersama suaminya, Eko Atmo Boedi Santoso, dan dikaruniai tiga anak, yakni Stephen Wahyudi Santoso, BSE, M.SIST, Francis Budiraharja Santoso, dan Patrice Damayanti Santoso.

    Widia juga dikenal dekat dengan saudara-saudaranya, antara lain Ir. Bernard Gunawan Hadipuspito dan Carmelus, yang kelak turut aktif dalam pengembangan Binus.

    Perjuangan Awal dan Cikal Bakal Binus

    Perjalanan mendirikan Binus bermula dari kesulitan ekonomi yang dialami Widia semasa kuliah.

    Dikutip dari Wikipedia, karena bisnis keluarganya menerima pembayaran dengan cek kosong, mereka pun berinisiatif membuka bimbingan belajar sederhana di rumah kos di Grogol. Di sana, Widia mengajar fisika dan matematika, sementara kakaknya mengajar kimia dan biologi, sementara satu saudara lain mengurus pemasaran.

    Bimbingan belajar tersebut kemudian berkembang pesat, hingga akhirnya, bersama sang ayah Joseph Wibowo Hadipoespito, usaha kecil itu menjelma menjadi Trendy Pc Direction pada tahun 1974. Inilah yang menjadi cikal bakal Universitas Bina Nusantara.

    Seiring perkembangannya, Trendy Pc Direction yang digagas Widia dan sang Ayah bertransformasi menjadi Akademi Teknik Komputer (ATK) dengan jurusan Manajemen Informatika dan Teknologi Informasi.

    Kemudian pada tahun 1996, resmi berdiri Universitas Bina Nusantara (Binus College) dengan Theresia Widia Soerjaningsih sebagai rektor pertamanya. Dikutip dari Inews, nama Bina Nusantara sendiri diberikan oleh Rudy Poerwana, yang berarti Membangun Nusantara.

    Dan, dikutip dari laman resmi Binus College, perjuangan Widia yang dimulai dari teras rumah akhirnya membuahkan hasil. Binus kini dikenal sebagai salah satu universitas terbaik di Asia. Universitas ini melahirkan banyak alumni berprestasi di berbagai bidang, termasuk tokoh besar seperti William Tanuwijaya, pendiri Tokopedia.

    Parfum AXL