Kategori: parfum internasional

  • Mengenal Sosok Marcella Zalianty dan Kiprah Kariernya Jadi Bintang Movie Tanah Air

    Mengenal Sosok Marcella Zalianty dan Kiprah Kariernya Jadi Bintang Movie Tanah Air

    Olenka, Jakarta – Dunia movie Indonesia telah melahirkan banyak aktris kenamaan yang tetap eksis hingga kini. Salah satunya adalah Marcella Zalianty, yang dikenal lewat kepiawaiannya dalam memerankan berbagai karakter hingga berhasil meraih penghargaan Pemeran Utama Wanita Terbaik di ajang Competition Movie Indonesia (FFI).
    Belum lama ini, Marcella kembali mencuri perhatian lewat aktingnya sebagai Jumiati dalam movie Sihir Pelakor yang tayang pada 30 Juli 2025. Peran ini sekaligus menandai kembalinya ia ke style horor, setelah sebelumnya lebih banyak dikenal melalui film-film drama dan sosial-politik.
    Bakat seni Marcella sendiri tak lepas dari pengaruh sang ibunda, Tetty Liz Indriati, aktris senior yang juga telah lama berkiprah di dunia perfilman. Berikut Olenka rangkum perjalanan karier Marcella Zalianty, sosok bintang movie yang namanya begitu lekat dengan industri hiburan Tanah Air, Jumat (3/10/2025).

    Profil dan Kehidupan Pribadi
    Marcella Zalianty lahir di Jakarta pada 7 Maret 1980. Ia merupakan putri dari aktris senior Tetty Liz Indriati.
    Bakat seni jelas mengalir dalam darahnya, terlebih sang adik, Olivia Zalianty, juga menapaki jalan yang sama di dunia seni peran. Memiliki keturunan Tionghoa dan Batak, Marcella tumbuh dalam pola asuhan sang ibu yang dikenal disiplin dan tegas dalam mendidik anak-anaknya.
    Meski akhirnya dikenal luas sebagai aktris papan atas, Marcella tidak melupakan pentingnya pendidikan. Ia menempuh studi S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Pelita Harapan, lalu melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 dengan mengambil Ilmu Hukum di Universitas Padjadjaran serta Kebijakan Publik di Sekolah Tinggi Kepemerintahan dan Kebijakan Publik.
    Di luar karier, kehidupan pribadi Marcella juga menarik perhatian publik. Pada 29 November 2010, ia menikah dengan pembalap nasional Ananda Mikola. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai dua buah hati, Kana Mahatma Soeprapto dan Ayrton Magali Sastra Soeprapto, yang melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka.

    Parfum AXL

  • Deretan Perempuan Inspiratif di Bidang Sastra

    Deretan Perempuan Inspiratif di Bidang Sastra

    Olenka, Jakarta – Perempuan dan tulisan. Sejak R.A. Kartini dikenal sebagai salah satu tokoh emansipasi yang dikenal berkat tulisan-tulisan bernasnya dalam Habislah Gelap, Terbitlah Terang, makin banyak perempuan Indonesia yang menulis. Lewat jenis tulisan yang berbeda, para perempuan berikut memilih menulis cerita-cerita indah dan menggugah lewat karya sastra.
    Tulisan sastra memang fiksi. Namun, di dalamnya tersimpan hasil pemikiran mendalam penulisnya mengenai fenomena dan kejadian di sekitarnya. Lewat tangan dingin mereka, para penulis perempuan ini ikut merekam sejarah dan membuka mata pembacanya tentang pemikiran yang berbeda dan unique dari perasaan seorang perempuan.

    Berikut sejumlah perempuan penulis sastra di Indonesia dari masa ke masa yang berhasil Olenka rangkumkan:
    1. Siti Rukiah
    Nama Siti Rukiah Kertapati mungkin asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, bahkan di telinga penggemar sastra Indonesia. Padahal, dia merupakan sosok penulis perempuan yang mampu eksis di tengah dominasi penulis laki-laki di masa Kemerdekaan.
    Rukiah lahir di Purwakarta pada 25 April 1927. Pada usia 19 tahun, dia menulis puisi untuk Majalah Gelombang Zaman dan Godam Jelata serta pernah menjadi staf redaksi di Majalah Pudjangga Baru. Pernikahannya dengan editor Majalah Godam Jelata, yakni Sidik Kertapati, membuatnya memiliki nama belakang Kertapati. Beberapa karyanya adalah novel Kejatuhan dan Hati (1950), Si Rawun dan Kawan-Kawannya (1955), Teuku Hasan Johan Pahlawan (1957), Pak Supi Kakek Pengungsi, Taman Sandjak Si Kecil (1959), Dongeng-Dongeng Kutilang (1962), Jaka Tingkir (1962), dan Kisah Perjalanan Si Apin (1962).
    Siti Rukiah pernah mendapatkan penghargaan Seni Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) pada 1952 untuk kumpulan cerita pendek dan sajak. Namun, sejak tahun 1965, namanya tidak lagi terdengar di dunia sastra Tanah Air.
    2. Marga T.
    Di technology tahun 1970-an, karya-karya Marga T. alias Marga Tjoa menarik perhatian publik. Marga T. Penulis keturunan Tionghoa ini lahir di Jakarta pada 27 Januari 1943 dengan nama lengkap Intan Margaretha Harjamulia. Sementara itu, nama aslinya adalah Tjoa Liang Tjoe dan merupakan lulusan Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti, Jakarta.
    Semasa hidupnya, Marga T. tercatat melahirkan 128 cerita pendek dan 67 buku. Dia meninggal dunia di Australia pada Kamis, 17 Agustus 2023. Beberapa karya fenomenalnya adalah novel Karmila, Badai Pasti Berlalu, Gema Sebuah Hati, Bukan Impian Semusim, dan Ranjau-ranjau Cinta.
    Dua novelnya, Karmila (1973) dan Badai Pasti Berlalu (1874), menuai sukses saat diangkat ke layar lebar. Movie Karmila tayang pada 1974 dan difilmkan ulang pada 1981 hingga diangkat menjadi seri sinetron televisi dengan judul yang sama di tahun 1991. Sementara itu, movie Badai Pasti Berlalu rilis di tahun 1977 dan digarap ulang pada tahun 2007. Begitupun lagu “Badai Pasti Berlalu” yang mengiringi movie tersebut di tahun 2007 sukses menjadi hits di pasaran dan masih terkenal hingga saat ini.
    3. Nh. Dini
    Novel Pada Sebuah Kapal yang terbit di tahun 1972 telah melambungkan nama Nh. Dini. Perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 29 Februari 1936 ini memiliki nama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin.
    Menunjukkan minat dan bakat menulis sejak kecil, karya pertamanya dimuat dalam majalah pada tahun 1952. Selanjutnya, Nh. Dini menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Dua Dunia di tahun 1956. Menulis lebih dari 30 judul buku, Nh. Dini diganjar berbagai penghargaan, termasuk SEA Write Award pada tahun 2003 dan Lifetime Success Award dari Ubud Writers and Readers Competition pada tahun 2017.
    4. Mira W.
    Mira Widjaja (Wong) atau lebih dikenal dengan nama pena Mira W. lahir pada 13 September 1951 di Jakarta. Dia merupakan lulusan FK Usakti pada tahun 1980. Sepanjang karier menulisnya, Mira W. telah menghasilkan 23 buku yang meliputi 19 novel, tiga kumpulan cerita pendek, dan sebuah kumpulan puisi.
    Salah satu karyanya yang terlaris adalah Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi yang mencapai oplah 10.000, bahkan mengalami lima kali cetak ulang. Karya tersebut telah difilmkan, beserta sejumlah karya lainnya yang difilmkan bahkan diadaptasi menjadi serial TV seperti Kemilau Kemuning Senja, Ketika Cinta Harus Memilih, Permainan Bulan Desember, Dari Jendela SMP, dan Tak Kupersembahkan Keranda Bagimu.
    5. Leila S. Chudori
    Leila S. Chudori atau Leila Salikha Chudori merupakan sastrawan perempuan Indonesia yang pernah menjadi wartawan majalah Pace. Leila lahir di Jakarta pada tanggal 12 Desember 1962 dan merupakan putri dari Mohammad Chudori, seorang wartawan Kantor Berita Antara dan surat kabar The Jakarta Put up.
    Saat masih berusia 11 tahun, ia telah memublikasikan karyanya di majalah Si Kuncung (1973) lewat cerpen berjudul “Pesan Sebatang Pohon Pisang”. Setelah melahirkan banyak cerpen yang dimuat di berbagai surat kabar, buku kumpulan cerpen berjudul 9 dari Nadira terbit di tahun 2009. Karya tersebut mendapat “Penghargaan Sastra” dari Badan Pengembagan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2011.
    Beberapa novelnya yang terkenal adalah Pulang (2012) serta Laut Bercerita (2017). Bahkan, pemutaran nonkomersial movie Laut Bercerita selalu ramai peminat hingga saat ini. Sementara itu, sejumlah skenario yang ditulis Leila adalah drama televisi  “Dunia Tanpa Koma” (2006), movie pendek “Drupadi” (sebuah tafsir dari kisah Mahabrata, 2008), dan skenario movie “Kata Maaf Terakhir” (2009).
    6. Ayu Utami
    Ayu Utami merupakan lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang lahir pada 21 November 1968. Novel pertamanya yang berjudul Saman langsung menarik perhatian publik. Bahkan, karya tersebut berhasil menjuarai sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1998 serta terjual sebanyak 55 ribu eksemplar dalam waktu tiga tahun.
    Beragam karya lainnya yang telah diterbitkan Ayu Utama adalah Larung (2001), Bilangan Fu (2008), Si Parasit Lajang (2012), dan Cerita Cinta Enrico (2012). Berkat karya-karyanya, ia menerima Prince Claus Award pada tahun 2000 untuk kontribusinya dalam bidang budaya dan pembangunan. Saat ini, Ayu Utami masih aktif dalam dunia literasi Indonesia dengan menggelar beragam kelas pelatihan menulis.
    7. Dee Lestari
    Dewi Lestari Simangunsong merupakan penulis, penyanyi, dan pencipta lagu asal Indonesia. Dalam karier bermusiknya, dia dikenal sebagai penyanyi dalam trio Rida Sita Dewi. Sementara itu, dia menggunakan nama pena Dee Lestari dalam karier kepenulisannya.
    Novel pertamanya berjudul Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh terbit pada tahun 2001. Novel easiest supplier yang terjual sebanyak 7 ribu eksemplar dalam dua minggu ini terus berlanjut ke dalam 6 bagian yang terakhir di tahun 2016. Karya lainnya adalah Filosofi Kopi, Madre, Perahu Kertas, Rectoverso, hingga Aroma Karsa. Banyak dari judul-judul tersebut telah diangkat ke layar lebar.
    8. Ratih Kumala
    Belum lama ini, novel karya Ratih Kumala yang diangkat ke serial movie mampu mengguncang dunia perfilman Indonesia, bahkan luar negeri. Gadis Kretek yang dimainkan oleh Dian Sastrowardoyo menjadi perbincangan dan mendapat pujian baik dari dalam maupun luar negeri.
    Ratih Kumala lahir di Jakarta pada 4 Juni 1980 dan merupakan lulusan Sastra Inggris di Universitas Sebelas Maret. Novel pertamanya berjudul Tabula Rasa (2004) berhasil meraih penghargaan sebagai pemenang ketiga dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. Karya Ratih selanjutnya adalah Genesis (2005); kumpulan cerpen Larutan Senja (2006); Kronik Betawi (2009); Gadis Kretek (2012); Bastian dan Jamur Ajaib (2015); hingga Wesel Pos (2018).
    9. Ika Natasa
    Ika Natassa merupakan penulis Indonesia yang lahir pada 25 Desember 1977 di Medan, Sumatera Utara. Sebelum sukses menjadi penulis, dia merupakan seorang bankir dan sempat bekerja di Financial institution Mandiri sejak tahun 2002.
    Novel debutnya berjudul A Very Yuppy Marriage ceremony yang terbit di tahun 2007. Konsisten mengusung cerita unik dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, beberapa karya Ika selanjutnya adalah Divortiare (2008); Underground (2010); Antologi Rasa (2011); Twivortiare (2012); Important 11 (2015); The Structure of Love (2016); Susah Sinyal (2017); Sementara, Selamanya (2020); hingga Heartbreak Motel (2022).
    10. Djenar Maesa Ayu
    Djenar Maesa Ayu atau yang akrab disapa Nai ini merupakan perempuan kelahiran Jakarta pada 14 Januari 1973. Dia juga dikenal sebagai aktris, produser, serta sutradara asal Indonesia.
    Karya pertamanya adalah cerpen “Lintah” (2002) yang dimuat di Kompas. Cerpen “Menyusu Ayah” menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh. ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Suckling Father”. Sementara itu, buku kumpulan cerpen pertamanya berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! (2004) berhasil masuk dalam sepuluh buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003. Karya lain dari Djenar adalah novel berjudul Nayla (2005).

    Parfum AXL

  • Profil dan Perjalanan Karier Rachel Maryam, dari Dunia Hiburan ke Panggung Politik

    Profil dan Perjalanan Karier Rachel Maryam, dari Dunia Hiburan ke Panggung Politik

    Olenka, Jakarta – Ada banyak artis Tanah Air yang melebarkan sayap kariernya ke dunia politik, salah satunya Rachel Maryam. Aktris cantik berdarah Sunda ini kini kembali menjabat sebagai anggota DPR RI untuk periode 2024–2029.
    Perjalanan politik Rachel terbilang konsisten. Ia pertama kali terpilih sebagai anggota DPR pada tahun 2009 dan terus dipercaya masyarakat hingga kini, menjadikannya sudah empat periode berturut-turut mengemban amanah di parlemen. Saat ini, Rachel Maryam aktif bertugas di Komisi I DPR RI serta di Badan Anggaran.
    Berikut telah Olenka rangkum dari pelbagai sumber, Minggu (5/10/2025), untuk mengenal lebih lanjut sosok Rachel Maryam dan perjalanan kariernya dari dunia hiburan ke panggung politik.

    Profil dan Kehidupan Pribadi
    Pemilik nama lengkap Rachel Maryam Sayidina ini lahir di Bandung pada 20 April 1980. Meski kini dikenal aktif di dunia politik, perjalanan pendidikannya justru dimulai dari bidang yang berbeda.
    Rachel sempat menempuh studi di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung dengan mengambil jurusan Manajemen Tata Hidang, sesuai keinginan sang ibu yang menginginkan putrinya menekuni dunia perhotelan.
    Namun, jauh di dalam hatinya, Rachel sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) karena merasa lebih cocok dengan dunia seni. Ketidaksesuaian jurusan dengan minatnya membuat Rachel akhirnya tidak menyelesaikan kuliahnya, dan tak lama kemudian, ia justru menemukan jalannya sendiri di dunia hiburan.

    Parfum AXL

  • Mengenal Sosok Dian Sastrowardoyo, Mulai deri Perjalanan Karier hingga Fakta Menarik Si ‘Cinta’!

    Mengenal Sosok Dian Sastrowardoyo, Mulai deri Perjalanan Karier hingga Fakta Menarik Si ‘Cinta’!

    Olenka, Jakarta – Nama Dian Paramita Sastrowardoyo, atau yang lebih dikenal sebagai Dian Sastro, sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Sejak kemunculannya di layar lebar awal 2000-an, Dian telah menjadi wajah dari banyak perubahan dalam industri hiburan Tanah Air.
    Namun, di balik pesona dan ketenarannya, ia adalah sosok perempuan yang berpendidikan tinggi, peduli terhadap isu sosial, dan mampu menyeimbangkan peran sebagai ibu, aktris, serta aktivis.
    Melalui karya-karyanya, kiprah sosialnya, dan cara ia menjalani kehidupan pribadi, Dian Sastrowardoyo telah menjadi simbol inspirasi bagi banyak perempuan Indonesia. Ia membuktikan bahwa menjadi “perempuan hebat” tidak harus meninggalkan nilai-nilai keluarga, melainkan bagaimana seorang perempuan mampu menjalani berbagai peran tersebut.

    Menjunjung Tinggi Pendidikan
    Lahir di Jakarta pada 16 Maret 1982, Dian tumbuh dalam keluarga yang sangat menghargai pendidikan. Ia merupakan cucu dari tokoh nasional Prof. Mr. Suryono Sastrowardoyo, seorang intelektual dan diplomat Indonesia.
    Lingkungan keluarganya yang sarat dengan nilai intelektualitas inilah yang kemudian membentuk cara pandangnya terhadap pentingnya ilmu pengetahuan. Sejak kecil, Dian dikenal sebagai sosok yang tekun dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai hal, terutama hal-hal yang berkaitan dengan pemikiran dan filsafat.
    Dian menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Indonesia (UI) dengan mengambil jurusan Filsafat, dan berhasil lulus pada tahun 2007. Ia kerap menyebut bahwa belajar filsafat memberinya kemampuan untuk berpikir kritis dan reflektif terhadap kehidupan.

    Tak berhenti di situ, kecintaannya terhadap dunia akademik mendorongnya untuk melanjutkan studi Magister Manajemen Keuangan di universitas yang sama, yang berhasil ia tuntaskan pada tahun 2014. Baginya, pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi tentang memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman diri.
    Karier Gemilang di Dunia Hiburan
    Dian memulai perjalanannya di dunia hiburan sebagai seorang fashion. Pada tahun 1996, ia menorehkan prestasi dengan menjadi pemenang Gadis Sampul, ajang bergengsi yang telah melahirkan banyak bintang muda Indonesia. Kemenangan itu membuka pintu bagi Dian untuk terjun ke dunia seni peran.
    Namun, siapa sangka, enam tahun kemudian, perannya sebagai Cinta dalam movie “Ada Apa dengan Cinta?” (AADC) akan mengubah hidupnya secara drastis dan menjadikannya ikon perfilman nasional.

    Movie yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo itu bukan hanya menjadi fenomena budaya, tetapi juga menandai kebangkitan sinema Indonesia di awal 2000-an. Karakter Cinta yang diperankannya menjadi karakter yang terasa nyata dan relevan bagi banyak penonton. Kesuksesan movie tersebut bahkan melampaui layar lebar, menciptakan gelombang tren baru di dunia hiburan dan fesyen kala itu.
    Selepas AADC, Dian tidak berhenti pada satu citra. Ia menantang dirinya untuk terus berkembang dengan mengambil peran-peran kompleks di berbagai movie seperti Pasir Berbisik (2001), Drupadi (2008), 3 Doa 3 Cinta (2008), 7/24 (2014), hingga Kartini (2017), di mana ia memerankan tokoh pahlawan emansipasi perempuan Indonesia.
    Lewat peran tersebut, Dian berhasil menghidupkan kembali semangat perjuangan Kartini dengan nuansa fashionable yang dekat dengan generasi masa kini. Konsistensinya dalam memilih proyek berkualitas menjadikannya salah satu aktris paling dihormati di Indonesia, dengan berbagai penghargaan bergengsi sebagai bukti pengakuan atas talentanya.
    Perempuan Trendy dan Sosok Ibu yang Inspiratif

    Meski kariernya di dunia hiburan terus bersinar, Dian tetap memprioritaskan perannya sebagai seorang ibu dan istri. Ia menikah dengan Maulana Indraguna Sutowo pada tahun 2010 dan dikaruniai dua anak, Shailendra Naryama Sastraguna Sutowo dan Ishana Ariandra Nariratana Sutowo.
    Di tengah padatnya jadwal syuting dan aktivitas sosial, Dian dikenal sebagai ibu yang aktif mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya. Ia sering berbagi cerita tentang pentingnya pola asuh yang seimbang antara disiplin dan kasih sayang.
    Dian percaya bahwa menjadi ibu bukan berarti kehilangan jati diri atau berhenti berkarya. Sebaliknya, peran sebagai orang tua memberinya inspirasi baru dalam menjalani kehidupan. Ia juga kerap membahas bagaimana perempuan bisa tetap produktif tanpa merasa bersalah meninggalkan anak, asalkan dilakukan dengan komunikasi dan perencanaan yang baik.

    “Menjadi ibu bukan alasan untuk berhenti berkembang. Justru dari situ, kita belajar tentang makna tanggung jawab dan cinta yang sesungguhnya,” tulisnya dalam salah satu unggahan media sosialnya.
    Kepedulian Sosial dan Aktivisme
    Dian Sastrowardoyo tidak hanya bersinar di layar kaca, tetapi juga berperan aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia mendirikan Yayasan Dian Sastrowardoyo, yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dan pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
    Melalui yayasan ini, ia memberikan beasiswa, pelatihan keterampilan, dan akses pendidikan untuk membantu menciptakan generasi muda yang lebih tangguh dan berdaya saing.

    Selain itu, Dian juga sering terlibat dalam kampanye sosial yang menyoroti isu-isu penting, seperti deteksi dini kanker, kesetaraan gender, dan kesehatan psychological. Ia berpartisipasi dalam sejumlah program kemanusiaan, termasuk kampanye literasi dan gerakan perempuan di berbagai daerah di Indonesia.
    A laugh Reality
    Di balik keseriusan dan kecerdasannya, Dian juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan menyenangkan. Ia memiliki kegemaran membaca dan sering membagikan daftar buku favoritnya di media sosial.

    Beberapa bacaan favoritnya di antaranya adalah The Alchemist karya Paulo Coelho dan Guy’s Seek for That means karya Viktor Frankl — dua buku yang menurutnya mengubah cara pandangnya tentang kehidupan.
    Tak hanya itu, Dian juga dikenal sangat disiplin menjaga kesehatan tubuh dan pikiran. Ia rutin berolahraga, terutama yoga dan lari pagi, sebagai bentuk meditasi dan self-care. Di sela kesibukannya, ia juga gemar memasak untuk keluarganya dan bahkan sempat membagikan resep masakan sehat buatannya kepada para pengikutnya.
    Menariknya, Dian pernah mengaku bahwa ia bukan tipe orang yang suka berpesta atau hura-hura. Ia lebih senang menghabiskan waktu di rumah, membaca buku, atau berdiskusi tentang ide-ide besar bersama teman dekatnya. Hal ini menunjukkan bahwa di balik glamor dunia hiburan, Dian tetap mempertahankan kesederhanaan dan keaslian dirinya.

    Parfum AXL

  • Luhut Larang Kemenkeu Tarik Anggaran MBG, Purbaya: Kalau Penyerapannya Kurang Kita Ambil!

    Luhut Larang Kemenkeu Tarik Anggaran MBG, Purbaya: Kalau Penyerapannya Kurang Kita Ambil!

    Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa tetap pada pendirian untuk menggambil anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tak terserap secara efektif. Purbaya menegaskan agenda penarikan anggaran tersebut bakal ia kebut pada akhir Oktober 2025 ini.

    Purbaya mengatakan penarikan anggaran tak terserap oleh Kementerian Keuangan dilakukan untuk mengukur kinerja Badan Gizi Nasional (BGN) dalam penggunaan anggaran, dia mengatakan, apabila setelah penarikan anggaran itu BGN ternyata masih membutuhkan dana tambahan, maka Kementerian Keuangan kata dia bakal kembali mengalokasikan anggaran untuk program andalan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

    “Kalau nanti akhir Oktober, saya bisa prediksi berapa penyerapannya, kalau kurang kita ambil uangnya. Kalau lebih kita tambah. Kita lihat seberapa efektif dia menjalankan programnya dengan baik,” ujar Purbaya dilansir Senin (6/09/2025).

    Purbaya menegaskan,penarikan anggaran tak terserap itu jelas sangat membantu BGN dalam mengebut program ini. Dia yakin program yang bisa menyerap anggaran dengan baik, bakal berjalan lancar tanpa adanya hambatan berarti.

    “Jadi enggak ada target, justru kita mau bantu mereka supaya programnya berjalan dengan baik dan lancar,” tuturnya.

    Purbaya melanjutkan anggaran yang tak terserap membuat dana yang telah digelontorkan pemerintah hanya terparkir menjadi dana pasif yang tak mendatangkan manfaat, baginya uang nganggur itu lebih baik digunakan untuk menopang program lain yang dapat membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat.

    “Akan terus berjalan, cuma kita pastikan lebih baik pelaksanaannya, bukan saya yang mandor, tapi kalau uangnya enggak dipakai, saya ambil,” tegasnya.

    Luhut menegaskan anggaran yang telah dikucurkan untuk menyokong program ini tak perlu diutak atik lagi. Secara tak langsung Luhut tidak sepakat dengan rencana Purbaya.

    “Tadi kami pastikan juga bahwa penyerapan anggarannya sekarang kelihatan sangat membaik. Sehingga Menteri Keuangan tidak perlu nanti mengambil anggaran yang tidak terserap,” ujar Luhut.

    “Itu kami ingatkan tadi sama Dadan, karena itu cost of fund juga. Jadi jangan sampai dana yang dialokasikan tidak terserap,” tambahnya memungkasi.

    parfum AXL

  • Aksi Purbaya yang Cuek dengan Imbauan Luhut: Dana MBG Tetap Ditarik!

    Aksi Purbaya yang Cuek dengan Imbauan Luhut: Dana MBG Tetap Ditarik!

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menyorot perhatian publik dengan aksinya tetap menarik dana program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), jika  penyerapan anggaran hingga akhir Oktober ini masih rendah.

    Adapun aksinya tersebut sekaligus merespons permintaan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan agar anggaran MBG tidak dipotong.

    “Pak Luhut itu kan sudah mengakses penyerapan anggarannya, berarti dia nilai itu sudah bagus semua. Tapi kan kita melihat sampai akhir Oktober, kalau tidak menyerap ya kita akan potong juga,” cetusnya, seperti dikutip Senin (6/10/2025).

    Diketahui sebelumnya, Luhut meminta agar Purbaya tidak mengurangi angaran MBG karena dinilai penyerapan anggaran program tersebut sudah membaik.

    “Tadi kami pastikan juga bahwa penyerapan anggarannya sekarang kelihatan sangat membaik, sehingga Menteri Keuangan (Purbaya Yudhi Sadewa) ndak perlu nanti ngambil-ngambil anggaran yang tidak terserap,” ujar Luhut beberapa waktu lalu.

    parfum AXL

  • Istana Ungkap Isi Pertemuan Prabowo dan Jokowi: Bahas Masalah Negara

    Istana Ungkap Isi Pertemuan Prabowo dan Jokowi: Bahas Masalah Negara

    Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan isi pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).

    Adapun diketahui, pertemuan tersebut berlangsung di kediaman Prabowo di Jalan Kartanegara IV, Jakarta Selatan pada Sabtu (4/10) .

    “Kebetulan Pak Presiden ke-7, Pak Jokowi ada di Jakarta. Sudah, janjian ketemu waktunya makan siang. Tentu banyak hal yang dipercakapkan mengenai masalah-masalah kebangsaan. Termasuk memberikan masukan ke depan sebaiknya seperti apa untuk beberapa hal,” jelasnya kepada pewarta di Jakarta, Minggu (5/10).

    Lanjutnya, ia mengatakan jika pertemuan itu dilakukan dalam rangka kunjungan balasan saat Kepala Negara berada di Jawa Tengah.

    Diketahui, pertemuan Prabowo dan Jokowi berlangsung tertutup. Hal tersebut dikonfirmasi ajudan Jokowi, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah.

    “Ya, betul (sekaligus makan siang). Pertemuan berlangsung hanya empat mata. Pak Presiden Prabowo dan Pak Jokowi saja,” sambungnya.

    parfum AXL

  • Aksi Purbaya Tolak Pajak Baru Dipuji Mahfud MD: Terus Maju Pak, Bravo!

    Aksi Purbaya Tolak Pajak Baru Dipuji Mahfud MD: Terus Maju Pak, Bravo!

    Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD memberikan apresiasi tinggi atas aksi-aksi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, salah satunya dengan tidak memberlakukan pajak baru di Indonesia dalam waktu dekat.

    Diketahui, Purbaya melakukan penundaan untuk penerapan skema baru pungutan bagi para pedagang di e-commerce, seperti Shopee dan Tokopedia.

    “Salut kepada Menkeu Pak Purbaya. Dia tidak membebani rakyat dengan pungutan pajak-pajak baru. Dia sikat korupsi, dia lakukan efektivitas dan efisiensi di K/L dan BUMN. Dia mulai hantam korupsi dan ilegalitas di perpajakan dan kepabeanan,” cuit Mahfud MD dalam akun X pribadinya seperti dilihat, Senin (6/10/2025).

    Menurutnya, langkahnya tersebut dinilai lebih berpihak kepada rakyat dan fokus pada pemberantasan korupsi, hingga efisiensi anggaran.

    “Terus maju, Pak. Bravo,” tukasnya.

    parfum AXL

  • Menteri UMKM Beber Dampak MBG Bagi Masyarakat Kelas Bawah

    Menteri UMKM Beber Dampak MBG Bagi Masyarakat Kelas Bawah


    Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi anak-anak dan ibu hamil. 

    Dia mengatakan, program andalan Presiden Prabowo membawa banyak sekali manfaat bagi masyarakat, salah satunya menggerakan roda ekonomi yang menyasar hingga masyarakat kelas bawah. Untuk itu dia  meminta supaya masyarakat mendukung penuh program tersebut. 

    “MBG bukan hanya sekadar menyasar peningkatan gizi anak, tetapi juga membangun ekosistem usaha agar betul-betul ekonomi bergerak di lapisan bawah,” ujar Maman dalam keterangan pers Kementerian UMKM di Jakarta, Kamis (2/10/2025).

    Ia mengakui sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program masih perlu dievaluasi dan disempurnakan. Menurutnya, masih ada waktu untuk memperbaiki sistem, tata kelola, serta aspek lain yang relevan. Maman pun menanggapi tudingan adanya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) fiktif, yang menurutnya merupakan kekeliruan.

    “Dalam kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN), dikenal istilah roll back, di mana terhadap kasus itu ditemukan sekitar 5.000 SPPG yang telah mendaftar, namun tidak segera membangun dan memulai kegiatan. Itulah yang akan dihapus jika tidak melanjutkan pembangunan. Jadi bukan berarti ada SPPG fiktif,” ucap Maman.

    Ia mengungkapkan, banyak pengusaha yang telah memperoleh titik SPPG, tetapi belum mampu membangun karena keterbatasan finansial. Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan regulasi BGN.

    “Pertama, BGN sendiri yang menentukan titik beserta sekolahnya. Kedua, jangan beri kesempatan bagi siapa pun untuk mengelola dapur umum yang jumlahnya melebihi batas,” katanya.

    Lebih lanjut, Maman menekankan bahwa dampak ekonomi dari MBG tidak kalah penting dibanding aspek gizi. Ia menyebut satu SPPG bisa melibatkan hingga 15 pemasok, dan setiap pemasok memiliki 3–5 pekerja. “Artinya, ada multiplier effect berupa keterlibatan UMKM sekaligus penyerapan tenaga kerja lokal. Dan itu nyata terjadi,” tegasnya.

    parfum AXL

  • Pangkas Dana Daerah Sebesar Rp227 T, Menteri Purbaya: Jangan Sampai Nanti Ramai-ramai Ditangkap KPK

    Pangkas Dana Daerah Sebesar Rp227 T, Menteri Purbaya: Jangan Sampai Nanti Ramai-ramai Ditangkap KPK

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan dirinya memangkas anggaran transfer ke daerah (TKD) lantaran penyerapan anggaran yang tak efisien.

    Dia meminta agar para pemerintah daerah  belajar memaksimalkan penyerapan anggaran, apabila seluruh anggaran terserap dengan baik Purbaya mengaku bisa menambah anggaran TKD di tahun anggaran mendatang.

    Tak hanya itu alasan lain yang membuat dirinya memangkas anggaran tersebut adalah  indikasi penyelewengan, Purbaya bilang anggaran yang tak terserap juga sangat rentan disalahgunakan.

    “Mereka mesti belajar juga, perbaiki cara mereka menyerap anggaran. Jangan sampai ramai-ramai ada penangkapan (Oleh KPK). Kalau bisa tunjukkan kinerja yang baik dan bersih, saya bisa rayu atasan saya untuk tambah anggaran,” ujar Menteri Purbaya Yudhi Sadewa kepada wartawan seusai pemusnahan rokok ilegal di Indrapura, Surabaya, dilansir Jumat (3/10/2025).

    Adapun Pemerintah Pusat memangkas anggaran transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp 227 triliun dalam RAPBN 2026. Dalam RAPBN 2026, dana TKD hanya dialokasikan sebesar Rp 693 triliun, atau turun 24,6% dari alokasi tahun sebelumnya. Ini artinya, terjadi pemangkasan senilai Rp 227 triliun.

    Meski demikian, Purbaya Sadewa menekankan, bukan berarti anggaran untuk daerah berkurang secara keseluruhan. Menurutnya, alokasi program yang ditujukan untuk pembangunan daerah justru meningkat dari Rp 900 triliun menjadi Rp 1,3 triliun.

    “Jadi, uangnya secara total tidak berkurang. Hanya salurannya saja yang diatur ulang agar lebih efisien dan tepat sasaran,” tambahnya.

    Kementerian Keuangan akan mendorong daerah untuk meningkatkan kualitas pelaporan keuangan, menyerap anggaran secara tepat guna, dan fokus pada hasil pembangunan.

    parfum AXL