Di Tanah Parahyangan, hamparan hijau yang indah dan pegunungan nan megah seolah menjadi penjaga abadi sebuah rahasia. Di balik selimut kabut ini tersimpan semangat para petani yang merawat perkebunan kopi unggulan Jawa Barat.
Kategori: parfum kualitas terbaik
-

Ketika Kecap Manis Bersanding dengan Bumbu Perancis
La Vie en Rose mengalun pelan dari pengeras suara di halaman depan Institut Français d’Indonésie, Jakarta, Selasa (1/10/2025) sore itu. Sesekali berganti dengan ”Le Festin” dari film Ratatouille dan musik-musik musette khas Perancis lainnya, seakan menegaskan nuansa keanggunan Perancis yang kini berbaur di jantung Jakarta. Sementara itu, aroma lelehan mentega, kesegaran anggur, dan adonan roti, berbaur mengiringi langkah para tamu yang mulai memenuhi ruangan.
Sore itu, pekan Gastronomi Perancis yang digelar oleh Institut Français d’Indonésie edisi ketiga resmi dibuka. Rangkaian acara bertajuk ”Le Goût de France-Cita Rasa Perancis, J’adore!” itu menggaet lebih dari 150 restoran di 40 kota dan 10 pulau di Indonesia, serta akan menyelenggarakan lebih dari 200 acara publik selama dua pekan, sepanjang 1–13 Oktober 2025.
Indonesia dan Perancis sama-sama ”foodie”, bangsa pencinta kuliner. Makanan adalah jembatan untuk berbagi nilai dan belajar satu sama lain.
Agenda yang disiapkan berlapis, mulai dari pertunjukan memasak langsung bersama chef tamu, jamuan kolaboratif di hotel-hotel ternama, pelatihan dan lokakarya untuk pengajar dan pelajar sekolah vokasi, hingga pameran ilustrasi makanan. Tidak hanya itu, ada pula kompetisi resep di media sosial yang mengajak publik luas ikut merasakan semangatnya, serta forum bisnis yang mempertemukan produsen anggur dan pengusaha lokal.
”Indonesia dan Perancis sama-sama foodie, bangsa pencinta kuliner. Makanan adalah jembatan untuk berbagi nilai dan belajar satu sama lain,” ujar Duta Besar Perancis untuk Indonesia Fabian Penone, dalam sambutannya. Ia menyebut bahwa tahun ini istimewa, bukan hanya karena jumlah kegiatan yang melonjak, melainkan juga karena bertepatan dengan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
”Chef” Rosier membumbui Jakarta
Sorotan acara jatuh pada kehadiran Chef Andrée Rosier. Perempuan asal Biarritz itu bukan hanya seorang koki yang berhasil meraih bintang Michelin, tetapi juga perempuan pertama yang meraih gelar Meilleur Ouvrier de France (MOF) pada 2007, sebuah gelar bergengsi yang hanya dianugerahkan lewat ujian dapur paling ketat di Perancis.
Selain itu, Ia juga pernah menerima penghargaan Ksatria Legion of Honour dari pemerintah Perancis. ”Saya mulai memasak sejak kecil, dari ibu saya yang pandai di dapur,” ujarnya sambil tersenyum.
”Masakan adalah cerita dan saya ingin berbagi cerita saya di sini,” imbuhnya.
”Chef” Jean Yves Leuranguer, sesama penerima gelar MOF dan menjadi mentor bagi Rossier, menjelaskan betapa ketatnya ujian dapur yang mereka jalani. ”Setiap empat tahun sekali, seperti Olimpiade. Dari 900 koki, hanya belasan yang lolos. Ada ujian teori, lalu 15 hari persiapan, dan di final kami harus memasak hidangan lengkap sesuai instruksi juri,” katanya.
”Saat mengenakan jaket MOF, beban itu berat. Tapi, tanggung jawab untuk berbagi lebih besar,” tambahnya.
Dalam agenda di hari itu, Chef Rosier memimpin kegiatan demo memasak hidangan yang dinamai Crevette Sauvages. Bahan baku utamanya di antaranya adalah udang, avokad, brokoli, minyak biji anggur, dan bumbu-bumbu lainnya.
Dengan cekatan, Rosier menyiapkan udang dan brokoli yang akan dimasak. Uniknya, ketika membaluri udang, kecap manis khas Indonesia turut digunakan sebagai penambah rasa, bersamaan dengan kecap asin dan taburan bubuk cabai Espelette khas Biarritz, kota kelahiran sang koki.
Setelah dibumbui, udang dibakar dengan cepat menggunakan torch, brokoli ditumis dengan minyak biji anggur ditambah parutan jahe segar. Setelah semua selesai dimasak, hidangan itu disajikan bersama puree avokad dan dihias dengan beberapa bunga segar. Perpaduan sederhana, tetapi meninggalkan kesan rasa yang menyeberangi batas geografis.
Para tamu mencicipi bergiliran, beberapa mengambil ponsel untuk mengabadikan hidangan. Yang lain sibuk bertanya resep.
Jakarta beraroma Paris
Selain meja demo masak, stan-stan kuliner berderet menawarkan cita rasa lain yang menggugah perut para pengunjung. Stan Boulangerie La Parisien contohnya. Aroma roti hangat hasil panggangan menyeruak membuat beberapa tamu rela mengantre untuk mencicipi roti sourdough renyah berbagai rasa yang tersuguh di atas papan kayu.
Beberapa langkah dari sana, Amuz Restaurant menawarkan jambon beurre, baguette berisi pork ham dan keju, dan disajikan pula variasi dengan daging sapi. Tekstur roti yang empuk dan renyah berpadu dengan gurihnya ham dan keju emmental, sederhana tetapi mengingatkan pada kafe-kafe kecil di Paris.
Masakan adalah cerita, dan saya ingin berbagi cerita saya di sini.
Fairmont Jakarta juga menyediakan kudapan yang tak kalah menarik. Foie Gras Mousse dengan truffle oil dijejerkan di atas meja, beserta hidangan pencuci mulut berupa Hazelnut & Almond Paris Breast berhasil menarik minat pengunjung yang sekadar menginginkan gigitan kecil.
Di meja lain, The Sari Delicatessen mencuri perhatian hampir setiap pengunjung karena menghadirkan boeuf bourguignon, daging sapi yang dimasak perlahan dalam anggur merah. Kuahnya pekat, dagingnya lembut, membuat siapa pun yang mencicipinya tak perlu banyak bicara, cukup mengangguk pelan karena cita rasanya yang tak terkatakan.
Tak ketinggalan chicken ballotine dengan kulit ayam garing, disajikan bersama bayam tumis dan kentang tumbuk halus. Kulit renyahnya pecah di mulut, lalu berganti kelembutan daging dan saus yang pekat.
Tak hanya chef tamu dari Perancis, ada pula chef Indonesia yang hadir. Salah satunya Kadek Sumiarta, juru masak muda dari Bali yang baru saja menempati posisi keempat dalam kompetisi kuliner Escoffier World di Paris tahun lalu.
Di Jakarta ia tampil sebagai bukti bahwa talenta Indonesia kian diperhitungkan. Dari jalur populer, beberapa alumni MasterChef Indonesia juga terlihat hadir, menambah semarak acara.
Bagi publik, Pekan Gastronomi Perancis menghadirkan lebih dari sekadar perjamuan. Ada lokakarya memasak di sekolah-sekolah vokasi, program magang bagi mahasiswa kuliner, juga pameran ilustrasi makanan karya Guillaume Long yang dikenal lewat komik À boire et à manger.
Long turut memeriahkan acara di sore hari itu dengan membuat ilustrasi hasil masakan dari Chef Rosier. Semuanya menjadi satu kesatuan dalam upaya mentransmisikan kekayaan budaya kedua negara.
Pekan Gastronomi Prancis baru saja dimulai, tetapi jejak rasa yang ditinggalkannya sudah lebih dulu tertanam. Makanan bisa menjadi jembatan, dan tradisi bisa hidup kembali di setiap gigitan.
-

Hidup Sedang Pahit, Carilah yang Manis
Laburan tipis kecoklatan yang melapisi permukaan keik kuning keemasan itu terlihat menggiurkan. Ketika disuap, ia lumer tak berdaya di dalam mulut. Samar-samar, rasa manisnya terjejak gurih. Inilah nasi-uduk cheesecake. Begitulah, kini kudapan manis atau dessert yang digagas dengan pendekatan kontemporer menjadi kemewahan terjangkau kaum urban.
Nasi-uduk cheesecake tersebut merupakan salah satu menu dessert yang hadir dalam Jakarta Dessert Week ke-6 yang digelar akhir Agustus hingga September lalu. Nyeleneh memang. Tapi, dessert eksperimental itu berhasil menerjemahkan makanan tradisional secara kontemporer. Nasi uduk dibaca sebagai konsep, ditafsir ulang, dan diwujudkan menjadi menu dessert.
Mari lanjutkan pencicipan ini dengan elemen lain di sekitar keik tadi. Saus coklat kemerahan rupanya berperan seperti sambal, yang memberi sentilan pedas, asam, manis. Puncak kejutan apa lagi kalau bukan krim pastri bercita rasa nasi uduk. Istimewa, menilik racikan likat yang menyusupkan kegurihan semur itu ditingkahi sekelebat aroma jeruk nipis. Butiran crumble yang diracik dari bawang merah menyatu dengan sejumput kering kentang dan kacang tanah.
Unik betul memang, peleburan kuliner yang sungguh kaya, seakan sepiring nasi uduk lengkap dengan lauk-pauk luruh di dalamnya. Sedikit bergeser dari ”khitah” kue keju, namun ajaibnya tercecap pas. Kelezatan ala Barat dan Timur itu yang disajikan estetik beralaskan daun pisang.
Kudapan nasi-uduk cheesecake ini hasil kreasi Ryan Kim. Ia sebetulnya pusing tujuh keliling untuk memastikan komposisi paling klop. ”Susah banget, soalnya spesial. Belum pernah lihat nasi uduk jadi dessert (pencuci mulut). Kalau orang Indonesia sudah biasa makan nasi uduk,” ujar chef asal Korea Selatan ini.
Jakarta Dessert Week (JDW) merupakan perhelatan tahunan yang sudah digelar sejak tahun 2019. Salah satu pendiri JDW, Tria Nuragustina, mengatakan, acara itu digagas berawal dari sekadar obrolan saat kumpul-kumpul kalangan pelaku bisnis kuliner atau food and beverage.
”Kita lihat kalau di luar negeri, dessert itu selalu jadi bagian dari makan lengkap—ada appetizer, main course, lalu dessert. Tapi, di Indonesia, orang kebanyakan makan nasi goreng, lalu pulang, nggak makan dessert. Padahal, dessert itu punya nilai seni yang luar biasa. Dari situ kita ingin bikin festival yang benar-benar memberi panggung untuk dessert,” kata Tria.
Tria menjelaskan, JDW sejak awal bukan sekadar bazar kuliner, melainkan restaurant week selama tiga minggu penuh. Puluhan restoran, toko kue, hingga kedai gelato yang terpilih diajak membuat menu limited edition yang hanya tersedia selama festival.
Tim dari JDW mengurasi semua dessert yang diikutsertakan. Dengan demikian, peserta JDW ini berbasis kurasi, bukan keikutsertaan yang hanya sekadar berbayar. Total ada 44 peserta terkurasi dari jenama dessert, restoran, toko kue, dan toko es krim.
Tria mengungkapkan, dibandingkan JDW tahun 2024 lalu, pendapatan (revenue) selama JDW 2025 kali ini meningkat 27 persen. Angka ini, menurut dia, cukup menjanjikan di tengah situasi ekonomi yang cenderung dingin stagnan.
Bagi Tria, kekuatan JDW juga terletak pada posisinya sebagai affordable luxury, kemewahan yang terjangkau. ”Di tengah ekonomi yang turun, dessert bisa jadi affordable luxury. Di resto, harga dessert lebih terjangkau dibanding main course (makanan utama), tapi tetap kasih rasa spesial. Jadi, orang tetap bisa menikmati pengalaman kuliner yang menyenangkan tanpa keluar biaya besar,” imbuh Tria.
Fenomena dessert di kota seperti Jakarta beberapa tahun terakhir ini rupanya juga memengaruhi minat anak muda untuk bersekolah mengambil jurusan pastri. Hal itu diungkapkan oleh Anton Hamdali dari marketing communication perwakilan Le Cordon Bleu (LCB) di Indonesia. Menurut dia, gejala minat itu sudah tampak sebelum pandemi. Setelah pandemi, minat anak-anak muda lulusan SMA untuk sekolah pastri di LCB di sejumlah negara meningkat nyata.
”Setelah Covid, definitely lebih banyak lagi, baik laki-laki maupun perempuan. Dari Indonesia kebanyakan masih ke LCB di Australia,” kata Anton.
Meski sudah memperluas festival hingga terselenggara di Bandung dan Medan, visi JDW tetap jelas, membawa Jakarta ke peta kuliner global. ”Kami ingin Jakarta ada di peta kuliner global, seperti Bangkok atau Kuala Lumpur. Tapi, pendekatannya tetap rooted in local. Misalnya, ada menu unik kayak nasi-uduk cheesecake. Orang mungkin mikir aneh, tapi ternyata enak banget. Jadi, ada kebanggaan lokal yang kita angkat,” papar Tria.
Konsep kelokalan itulah yang kemudian mewujud menjadi aneka dessert kontemporer hasil penafsiran dari kuliner lokal atau tradisional. Selain nasi-uduk cheesecake tadi, ada pula dessert unik, yakni ginger and mung beans alias angsle karya Vivianatalia Simangunsong, sous chef dari ESA Restaurant di kawasan SCBD, Jakarta.
Angsle tersebut dalam JDW 2025 memenangi Golden Swirl Awards untuk kategori Plated Dessert of the Year. Konsep segar yang ditonjolkan adalah menggabungkan hot and cold dan semprotan ekstrak jahe. Dinginnya didapatkan dari gelato ketan putih dan sensasi hangat dimunculkan dari busa (foam) jahe yang dituang di atas gelato.
Sebelum dituangi busa jahe, bagian atas gelato disemprot ekstrak jahe. Ekstrak jahe ini memperkuat busa jahe dari segi aroma. Sementara busa jahe tampil ”hangat” saat sampai di kerongkongan. Baik angsle tradisional maupun dessert modern ini sama-sama memiliki aroma khas jahe. Eksplorasi teknik dalam kreasi ini membutuhkan keunggulan keterampilan tersendiri.
Tema lokal
Selama tiga tahun terakhir, JDW memang konsisten mengangkat tema lokal untuk dieksplorasi dengan pendekatan kontemporer. Cara ini mengangkat khazanah kuliner tradisional menjadi lebih modern dan selaras dengan lanskap internasional. Kuncinya di inovasi yang juga napas penting dalam JDW.
”Tiga tahun belakangan, kami selalu mendorong tema-tema yang punya nilai lokal. Tiga tahun lalu temanya cerita rakyat atau folklore, setahun lalu wildlife atau flora dan fauna Indonesia. Tahun ini kami memilih tribute to Jakarta, karena ingin produk pastri dan dessert di Jakarta punya pembeda berupa infusi unsur lokal,” tutur Tria.
Bagi Tria, identitas lokal inilah yang akan membedakan Jakarta dengan kota lain. ”Kalau croissant di Jakarta sama saja dengan yang ada di Singapura, Bangkok, atau Kuala Lumpur, untuk apa orang jauh-jauh datang ke sini? Mereka pasti mencari sesuatu yang berbeda. Pariwisata tujuannya, kan, mengajak orang datang dan spending money. Jadi, kita harus punya sesuatu yang berbeda,” lanjutnya.
”Dessert hopping”
Selain adanya penghargaan Golden Swirl Awards dalam 13 kategori, JDW 2025 lalu juga diwarnai dengan dessert hopping, jalan-jalan kuliner mencicipi dessert dari beberapa restoran terpilih. Grup-tur icip-icip ini memulai perjalanannya di Monas, akhir Agustus lalu.
Dengan mengunjungi beberapa restoran dan kafe pilihan, pengunjung diajak mengenal Ibu Kota bukan hanya lewat cerita, melainkan juga lewat rasa. Oleh karena itu, JDW juga didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Jakarta.
Dalam dessert hopping itu, peserta diajak singgah ke kafe Chicory di Menteng, Jakarta Pusat. Dari luar, bangunan kafe bergaya klasik Eropa itu langsung memancarkan nuansa hangat. Di dalam, aroma kopi berpadu dengan wangi butter dan gula panggang. Chef Priscilla Wignjopranoto memperkenalkan kreasi berjudul Tonkoko. Inspirasi menu ini datang dari kenangan masa kecilnya.
”Namanya Tonkoko, itu inspirasi dari jajanan tradisional yang saya suka makan waktu kecil, kue rangi atau kue pancong yang mirip-mirip itu. Tapi, ini kami kasih modern touch dengan memperkenalkan cream cheese dan tongkabiun,” ujar Priscilla.
Tujuannya sederhana, memodernisasi camilan masa kecil tanpa mengubah rasa dasarnya. Hanya sedikit sentuhan tambahan agar jajanan yang akrab bisa tampil baru dan segar.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Kemang, Jakarta Selatan, yakni ke restoran Knots. Ruangannya lebih kontemporer, dengan meja kayu panjang, lampu temaram, dan musik yang mengalun pelan. Di sini, Chef Letare Ulima dan Chef Riesky Vernandes menafsirkan ulang dua kudapan, bolen dan kue rangi.
”Sebenarnya untuk Jakarta, kami memilih dua ikon, kue rangi dan bolen. Alasannya sederhana, karena kami dan partner sama-sama suka. Bedanya, kami ingin membuat ala Knots, yaitu patiseri,” kata Letare.
Bolen mereka dimodifikasi. Pisangnya ditumis dulu dengan mentega (butter) lokal, menghasilkan aroma gurih yang lebih kaya. Sementara kue rangi diberi sentuhan teknik masak Perancis dan Italia. Ada cokelat, ada es krim, hingga lapisan saus dan kuah.
Perjalanan icip-icip ini lalu berlabuh di di Natsuka Cafe, Cilandak, Jakarta Selatan. Di sini, Chef Keshia menamai kreasinya Miso no Shiro. Menu ini tidak sekadar manis, tetapi juga merupakan sebuah representasi visual. ”Miso no Shiro diciptakan untuk menangkap banyak layer. Karena kami ingin mempresentasikan banyaknya layer di Jakarta yang modern dan minimalis,” ucap Keshia.
Dalam satu piring terdapat kombinasi tekstur: lapisan silky mousse, renyah dari crunchy crunch, manis legit dari sirup cokelat-putih, hingga sensasi dingin dari mousse beku. Menurut Keshia, Jakarta bukan hanya kota tradisi, melainkan juga pusat modernitas. ”Aku rasa sisi itu juga bisa ditangkap lewat dessert,” ujarnya.
Begitulah kaum muda menafsir Jakarta dan mewujudkannya dalam kudapan manis. Melalui JDW, penyelenggara tengah berikhtiar membangun ekosistem dessert yang khas dalam industri kuliner di Jakarta.
Meski ekonomi tengah kurang bergairah, kudapan manis setidaknya bisa menjadi penghiburan sejenak bagi lidah yang mungkin sudah lelah untuk mengeluh.
-

5 Retouch Hack yang Wajib Dicoba Pemula, Make-up Makin On Level!
Jakarta – Make-up yang flawless di pagi hari sering kali jadi tantangan besar untuk tetap bertahan hingga sore. Aktivitas seharian, mulai dari kerja, assembly, hingga nongkrong bareng teman, bisa bikin wajah jadi cepat berminyak atau make-up perlahan luntur. Akhirnya, penampilan jadi kurang maksimal dan bikin rasa percaya diri ikut berkurang.
Nah, di sinilah pentingnya retouch make-up. Bukan berarti harus complete make-up ulang, tapi cukup dengan beberapa trik sederhana untuk menyegarkan tampilan. Dengan cara yang tepat, make-up bisa kembali segar, rapi, dan terlihat herbal seakan baru dipoles. Retouch yang benar juga bisa mencegah hasil make-up terlihat cakey atau terlalu tebal.Buat kamu yang masih pemula, retouch make-up sebenarnya gampang banget dilakukan. Kuncinya ada di pemilihan produk yang tepat dan langkah-langkah simpel agar hasilnya tetap awet. Yuk, simak pointers berikut untuk bikin make-up kamu tetap on level sepanjang hari tanpa drama luntur.
Bersihkan Minyak Berlebih
Kilap di space T-zone atau pipi bisa bikin make-up terlihat berat atau cakey. Sebelum retouch, tekan perlahan dengan tisu atau blotting paper untuk menyerap minyak berlebih. Wajah yang bebas kilap membuat langkah selanjutnya lebih maksimal.
Perbaiki Noda dengan Concealer
Noda baru atau space kusam bisa muncul seiring aktivitas sehari-hari. Gunakan concealer tipis-tipis dengan sponge atau brush untuk menutupnya. Hasilnya tetap herbal dan riasan tidak terlihat tebal.
Set Make-up dengan Bedak Tipis
Setelah concealer, tepuk bedak tipis di space yang sudah dibersihkan minyaknya. Gunakan puff atau brush, jangan digesek, agar make-up tetap di tempatnya dan terlihat halus.Segarkan Warna Bibir
Bibir kehilangan warna setelah makan atau minum? Tambahkan lip balm atau lip tint ringan agar bibir tetap lembap dan warnanya kembali segar.
Trik Tambahan untuk Wajah Matte Sepanjang Hari
Menurut Dr. Dray, seorang dermatologis asal Amerika, penggunaan oil keep an eye on paper tidak merangsang kulit memproduksi lebih banyak minyak. Produk ini efektif menyerap kelebihan sebum tanpa mengganggu keseimbangan alami kulit.
Maka dari itu, bawa selalu oil keep an eye on paper di tas untuk menyerap minyak berlebih kapan saja, menjaga wajah tetap segar tanpa merusak riasan. Cocok untuk pemula maupun mereka yang aktif seharian. -

Benang Jarum Hadirkan Viola Assortment di Type Country XIX
Jakarta – Gelaran mode tahunan Type Country XIX di Senayan Town kembali menjadi panggung prestisius bagi emblem lokal untuk menunjukkan karya terbaiknya. Tahun ini, Benang Jarum tampil memukau dengan menghadirkan koleksi terbaru yang menegaskan identitasnya sebagai label ready-to-wear fashionable dan relevan bagi perempuan masa kini.
Type Country, yang rutin menghadirkan desainer lokal maupun internasional, menjadi ruang bagi Benang Jarum untuk menampilkan kekuatan desain khasnya. Logo ini dikenal dengan pola dan motif ikonik yang selalu standout, memadukan elemen elegan dan artistik, serta menghadirkan busana yang bukan hanya mewah, namun juga fungsional untuk dikenakan sehari-hari.
Kehadiran di runway Type Country XIX sekaligus menegaskan konsistensi Benang Jarum dalam menjaga element, identitas, serta daya tarik yang mampu merangkul pasar lokal maupun world.Pada kesempatan ini, Benang Jarum meluncurkan Viola Assortment, koleksi terbaru yang resmi diperkenalkan pada 23 September 2025. Terinspirasi dari keindahan bunga viola, koleksi ini menampilkan motif floral abstrak dengan teknik watercolor yang berpadu harmonis dengan garis stripes watercolor serta signature monogram khas Benang Jarum.
Siluet yang mengalir, element bordir halus, dan potongan flexible menjadikan koleksi ini pilihan tepat bagi perempuan fashionable yang menginginkan busana dengan sentuhan delicate luxurious, fashionable, dan tetap praktis untuk berbagai kesempatan.Mifthahul Jannah, Inventive Director Benang Jarum, menyampaikan komitmennya untuk terus mengangkat type Indonesia ke degree lebih tinggi.
“Benang Jarum selalu berkomitmen untuk membawa type Indonesia ke panggung yang lebih luas. Kami ingin menunjukkan bahwa desain ready-to-wear lokal tidak hanya relevan di pasar domestik, tapi juga memiliki kualitas dan karakter untuk bersaing di degree world,” ungkapnya.
Viola Assortment resmi diperkenalkan di runway Type Country XIX, dan kini sudah tersedia di butik Benang Jarum maupun platform on-line resmi. Kehadirannya di ajang mode bergengsi ini sekaligus memperkuat posisi Benang Jarum sebagai emblem yang konsisten menghadirkan karya ready-to-wear berkelas, dengan perpaduan antara keanggunan, identitas kuat, dan fleksibilitas gaya bagi perempuan masa kini. -

Mengenal Diana Kusumastuti, Arsitek Perempuan di Balik Megaproyek IKN yang Kini Menjabat Wakil Menteri PU
Jakarta – Dalam susunan Kabinet Merah Putih, terdapat sejumlah tokoh perempuan yang dipercaya mengisi jabatan strategis.
Salah satunya adalah Ir. Diana Kusumastuti, M.T. yang resmi dilantik oleh Presiden RI, Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024 sebagai Wakil Menteri (Wamen) Pekerjaan Umum.
Sosok Diana sendiri dikenal luas sebagai birokrat senior yang telah lama berkecimpung di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Ia juga pernah menjadi ‘anak buah’ Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono di technology Presiden Joko Widodo.
Dengan karier panjang, dedikasi, dan segudang prestasi, Diana Kusumastuti membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi motor penggerak pembangunan bangsa.
Lantas, siapa sebenarnya Diana Kusumastuti dan bagaimana sepak terjang kariernya hingga dipercaya mendampingi menteri di kabinet?
Latar Belakang Pendidikan
Dikutip dari Kumparan, Diana lahir di Surakarta pada Juli 1967. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Teknik Arsitektur di Universitas Diponegoro, Semarang, pada tahun 1991.
Perjalanan akademiknya berlanjut ke Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat ia menempuh magister Teknik Studi Pembangunan hingga lulus pada 2004.
Tak hanya itu, Diana juga tercatat mengikuti Diklat Kepemimpinan Tingkat II sebagai bagian dari pengembangan kapasitas aparatur negara.
Jejak Karier di Kementerian PUPR
Sebelum masuk birokrasi, Diana sempat bekerja di perusahaan kontraktor dan menjadi konsultan inside. Kariernya di Kementerian PUPR sendiri dimulai pada tahun 1993 melalui Direktorat Bina Program.
Dikutip dari Tribunnews, Diana kemudian dipercaya menangani berbagai sub-direktorat, antara lain Program Rencana Jangka Menengah, Program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, serta Program Tata Bangunan dan Lingkungan Permukiman.
Beberapa tugas penting yang pernah diemban Diana Kusumastuti antara lain memimpin pembangunan venue Asian Video games di Jakarta dan Palembang, melakukan revitalisasi Stadion Manahan Solo, serta merehabilitasi sejumlah bangunan cagar budaya seperti Masjid Istiqlal Jakarta, Pasar Johar Semarang, dan Pasar Atas Bukittinggi.
Diana juga pernah terlibat dalam penataan 8 destinasi pariwisata tremendous prioritas dan menjalankan program Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) di daerah 3T, yang menunjukkan peran strategisnya dalam pembangunan infrastruktur nasional.
Kemudian, pada 2019, Diana menjabat sebagai Direktur Bina Penataan Bangunan. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Direktur Jenderal Cipta Karya (2020–2024).
Dalam posisi ini, Diana memainkan peran sentral dalam pembangunan infrastruktur nasional, termasuk mengelola anggaran proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
-

Sociolla Award 2025 Hadir dengan 100 Hotlist, Kurasi Kredibel dari 58 Logo Kecantikan Ternama
Jakarta – Memasuki satu dekade kiprahnya sebagai pionir omni-channel good looks store di Indonesia, Sociolla kembali menghadirkan Sociolla Award 2025.
Tahun ini, penghargaan tahunan tersebut dikemas lebih istimewa melalui kurasi eksklusif “100 Hotlist”, daftar 100 produk kecantikan dari 58 emblem ternama, yang dipilih secara komprehensif berdasarkan actual consumer opinions, performa penjualan, serta analisis tren dari Soco Perception Manufacturing facility.
Ghea Yantra, selaku SVP Advertising and marketing Operations Social Bella, menegaskan bahwa Sociolla sejak awal berkomitmen membangun ekosistem kecantikan yang kredibel dan transparan.
“Selama 10 tahun, kami tidak hanya hadir sebagai omni-channel store terpercaya, tapi juga menciptakan ekosistem kecantikan yang lengkap. Hingga kini, kami punya lebih dari 7,6 juta pengguna dan lebih dari 3,5 juta ulasan di Soco App, serta lebih dari 125 toko di 55 kota Indonesia. Semua produk yang kami hadirkan pasti autentik, aman, dan relevan bagi para good looks fanatic,” papar Ghea, saat Press Convention Kick-Off Sociolla Award 2025, di Jakarta, Senin (29/9/2025).
Menurutnya, kurasi 100 Hotlist menjadi tonggak baru dalam penyelenggaraan Sociolla Award.
“Produk yang masuk hotlist harus memenuhi tiga pilar, yakni punya ranking minimum 4,5 dari pengguna, memiliki catatan penjualan konsisten sepanjang Juni 2024–Juni 2025, dan relevan dengan tren yang terdeteksi oleh Soco Perception Manufacturing facility. Dari 100 hotlist inilah publik bisa menentukan pemenang melalui proses balloting terbuka di Soco App hingga 29 Oktober 2025,” jelasnya.Transparansi dan Inovasi dalam Penjurian
Sementara itu, Amanda Melissa, selaku VP Knowledge Control & Trade Intelligence Social Bella, menambahkan bahwa sistem baru ini membuat penghargaan lebih holistik dibanding award kecantikan lainnya.
“Kami ingin memastikan produk yang terpilih memang the most efficient of the most efficient. Overview actual client dengan ranking di atas 4,5 menjamin kualitas, knowledge penjualan menunjukkan konsistensi dan repurchase, sementara analisis tren memastikan produk relevan dengan kebutuhan konsumen hari ini. Tapi ujungnya, siapa pemenangnya tetap ditentukan publik lewat balloting. It’s a sport changer,” terang Amanda.
Lebih jauh, Amanda menilai kombinasi overview, gross sales, dan tren menjadikan Sociolla Award berbeda dari penghargaan lain di Indonesia.
“Kita satu-satunya yang bisa menghadirkan award yang benar-benar holistik. Nggak hanya gross sales, nggak hanya overview, tapi gabungan knowledge yang utuh. Harapannya, emblem pemenang bisa menginspirasi konsumen sekaligus memotivasi emblem lain untuk terus berinovasi,” tambahnya. -

Sociolla Dorong Pertumbuhan Emblem Lokal dan Perluas Jangkauan di Indonesia
Jakarta – Sociolla terus menunjukkan komitmennya sebagai platform kecantikan terdepan di Indonesia dengan mendukung pertumbuhan model lokal sekaligus memperluas jaringan distribusinya.
Meski sudah memiliki toko di Vietnam, Sociolla menegaskan bahwa fokus utama tahun ini masih tertuju pada ekspansi dalam negeri.
“Sebenarnya kita sudah memiliki toko di Vietnam. Jadi kita belum ada rencana untuk ekspansi lagi di luar negeri tahun ini. Kalau ekspansi di Indonesia, pasti ada terus. Sampai akhirnya ditungguin saja,” ujar Ghea Yantra, SVP Advertising Operations Social Bella, saat Press Convention Kick-Off Sociolla Award 2025, di Jakarta, Senin (29/9/2025).
Ghea menambahkan bahwa ekspansi Sociolla di Indonesia terus berjalan dinamis. Bahkan Sociolla pernah membuka tiga toko sekaligus dalam satu hari.
“Hari ini ke teman-teman media sambil get ready buka toko juga. Tapi kita sendiri juga masih sangat semangat untuk terus mendekatkan diri ke para good looks fanatic di seluruh Indonesia,” lanjutnya.
Pertumbuhan Emblem Lokal Melalui Kampanye Love Native
Ghea memaparkan, Sociolla kini menaungi lebih dari 200 model lokal yang bergabung dalam jaringan distribusi baik on-line maupun offline.
Kehadiran brand-brand tersebut memperkaya pilihan konsumen sekaligus menegaskan peran Sociolla sebagai rumah bagi pelaku industri kecantikan lokal.
“General model lokal luar biasa di Sociolla itu sendiri. Kalau sekarang sih sudah kurang lebih 200 model lebih. Kita juga memiliki marketing campaign yang bernama Love Native. Jadi kita terus jadi platform untuk teman-teman para model lokal,” jelas Ghea. -

Menelaah Pergeseran Tren Kecantikan di Indonesia dan Peran Sociolla dalam Mendorong Inovasi Industri
Jakarta – Industri kecantikan di Indonesia tengah mengalami dinamika yang begitu cepat. Pergeseran tren make-up dan skin care tidak hanya dipengaruhi faktor estetika, tetapi juga perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, hingga pemanfaatan information.
Hal ini diungkapkan oleh Amanda Melissa, VP Knowledge Control & Industry Intelligence Social Bella, yang menilai pasar kecantikan di Indonesia semakin cerdas, variatif, dan menantang.
Amanda menyebut, faktor utama yang mendorong perubahan tren kecantikan adalah meningkatnya literasi konsumen. Jika dulu label ‘brightening’ saja sudah cukup menarik minat, kini konsumen datang dengan pertanyaan yang lebih spesifik.
“Konsumen itu semakin lebih pintar ketika mencari produk kecantikannya. Dulu cukup dengan label brightening. Sekarang mereka bisa tanya, ‘Mbak, moisturizer yang ada centella mana? Atau serum dengan niacinamide yang mana?’ Pintar banget tuh. Dan itu impact-nya post-COVID, ketika logo ramai beriklan dan sosmed makin aktif,” ungkap Amanda, saat Press Convention Kick-Off Sociolla Award 2025, di Jakarta, Senin (29/9/2025).
Perempuan yang akrab disapa Mandy ini lantas menuturkan, dalam kurun 2–3 tahun, konsumen Indonesia berubah drastis. Mereka tidak hanya menuntut produk skin care, tapi juga frame care, hair care, hingga make-up dengan fungsi tambahan.“Sekarang cushion misalnya, bukan hanya untuk menutupi jerawat, tapi juga dituntut bisa menyembuhkan tanpa menimbulkan jerawat baru,” tukasnya.
Selain literasi, sambung Amanda, perubahan demografi juga memberi warna pada industri kecantikan. Generasi muda seperti Gen Z membawa kebutuhan berbeda dengan Gen Y, Gen X, atau bahkan konsumen usia 30 tahun ke atas yang lebih mapan secara finansial.
“Indonesia memang negara dengan demografi muda. Tapi generasi yang 30 tahun ke atas, yang punya daya beli kuat, juga makin besar. Sementara Gen Z baru masuk pasar dengan preferensi berbeda. Jadi marketplace makin ramai, makin seru,” jelas Amanda.
Amanda melanjutkan, perubahan ekonomi pun semakin terlihat. Segmen harga produk tidak lagi hanya terbagi dua, yakni murah dan top class, melainkan melebar ke banyak lapisan. Amanda bilang, dari masker Rp100 ribu, cushion Rp300 ribu–Rp500 ribu, hingga produk dengan harga jutaan, semua punya pasarnya masing-masing.
“Sekarang ke toko Sociolla bisa pusing, karena banyak banget pilihannya. Itu menandakan marketplace kita berkembang cepat,” katanya. -

From This Island Luncurkan Serum Baru & Dukung Literasi Anak Papua
Jakarta – Setelah sukses menarik perhatian lewat Papua Crimson Fruit Plumping Cream, emblem skin care lokal From This Island besutan Maudy Ayunda kini menghadirkan inovasi terbarunya, Papua Crimson Fruit Potent Plumping Serum.
Kehadiran serum ini semakin menegaskan peran Papua Crimson Fruit sebagai hero factor andalan emblem tersebut, dengan method yang lebih kuat serta tekstur ringan sehingga tetap nyaman digunakan setiap hari.
From This Island menghadirkan inovasi baru lewat teknologi paten Lumera™, yang memaksimalkan potensi antioksidan Papua Crimson Fruit. Diperkaya Bakuchiol, Acetyl-Hexapeptide-8, dan Adenosine, serum ini membantu kulit lebih kencang, halus, kenyal, dan bercahaya alami.
Peluncurannya dikemas dalam kampanye “Tremendous Elevate, Tremendous You”, mempertemukan Maudy Ayunda dan Ade Raisebagai simbol kecantikan, kecerdasan, kebugaran, dan kekuatan, mewakili manfaat serum yang menghidrasi sekaligus menjaga vitalitas kulit.Dari kulit terawat hingga masa depan anak Papua. Lebih dari sekadar menghadirkan skin care inovatif, peluncuran serum ini juga menegaskan komitmen From This Island untuk memberi dampak sosial yang nyata.
“Sejak awal launching kita punya program affect product yang mana sebagian dari hasil penjualan akan kami salurkan kembali ke pulau dimana hero ingredientsnya berasal. Untuk product papua purple fruit kami bekerjasama dengan Wahana Visi Indonesia dengan menyediakan buku untuk 10 rumah baca di Biak dan Sentani untuk mendukung program literasi anak anak di Papua,” kata Maudy Ayunda, Founder From This Island.
Sabtarina Febriyanti, Zonal Program Supervisor Indonesia Timur WVI, menegaskan bahwa akses terhadap buku dan literasi masih menjadi tantangan besar bagi anak-anak Papua.
