Kategori: parfum lokal

  • Hubungan Anemia dan Matcha, Minuman Populer yang Bisa Bikin Defisiensi Zat Besi

    Hubungan Anemia dan Matcha, Minuman Populer yang Bisa Bikin Defisiensi Zat Besi

    JAKARTA — Ketenaran minuman hijau cerah, matcha, belum menurun. Padahal, minuman yang dianggap lebih sehat ini juga punya risiko terhadap kesehatan.

    Banyak pengguna media sosial yang mengunggah foto diri mereka di rumah sakit setelah “minum terlalu banyak matcha”.

    Salah satunya, seorang perawat dari Maryland, AS, menjadi viral di TikTok setelah videonya mengklaim bahwa dua latte matcha seminggu membuatnya rambutnya rontok, dan ternyata dia mengalami kadar zat besi yang sangat rendah sehingga dirawat di rumah sakit karena kelelahan.

    Namun, para ahli menekankan bahwa dia dan orang lain seperti dirinya mungkin sudah memiliki kadar zat besi yang lebih rendah dari biasanya sebelum mereka mulai mengonsumsi matcha.

    Jadi, apa hubungan matcha dan anemia defisiensi besi?

    Bubuk matcha terbuat dari daun teh hijau yang digiling halus, yang kaya akan antioksidan. Molekul antioksidan dapat melindungi sel-sel kita dari penyebab kanker dan penyakit kronis lainnya.

    Namun, matcha juga mengandung polifenol atau ‘tremendous antioksidan’ yang disebut katekin yang memengaruhi penyerapan zat besi.

    Meskipun memiliki sifat anti-inflamasi yang bermanfaat, katekin mengikat beberapa jenis zat besi saat melewati usus, sehingga lebih sedikit yang diserap ke dalam darah.

    Kadar zat besi yang rendah mengurangi jumlah sel darah merah yang sehat, yang necessary untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh.

    Dr. Magali Chohan, dosen senior nutrisi di St Mary’s College, London, mengatakan kualitas antioksidan matcha adalah salah satu alasan mengapa matcha menjadi begitu populer.

    Namun dia menambahkan bahwa senyawa-senyawa ini juga dapat mengikat zat besi non-heme, jenis yang ditemukan dalam makanan nabati, sehingga lebih sulit diserap tubuh.

    Intinya, ini berarti orang tidak mendapatkan zat besi yang mereka kira berasal dari sayuran atau kacang-kacangan, sehingga kadarnya secara keseluruhan menjadi lebih rendah.

    Hal ini dapat mengakibatkan gejala anemia defisiensi besi, yang meliputi:

    • Kelelahan

    • Masalah pernapasan

    • Palpitasi jantung

    • Kulit lebih pucat dari biasanya

    • Sakit kepala

    • Pusing

    Siapa yang paling berisiko?

    Karena matcha berinteraksi secara spesifik dengan zat besi dalam makanan nabati, para vegan dan vegetarian paling berisiko mengalami defisiensi, kata Dr. Chohan.

    Siapa pun yang sudah kekurangan zat besi juga harus berhati-hati dalam mengonsumsinya, termasuk ibu hamil, mereka yang sedang menstruasi, bayi, dan orang-orang yang sudah mengalami defisiensi zat besi atau anemia, tambahnya.

    Sedangkan mereka yang bisa mendapatkan zat besi dari sumber non-heme, seperti daging dan ikan, akan lebih sedikit terdampak.

    Namun, Dr. Chohan, menambahkan bahwa mereka yabg rajin konsumsi marcha tetap bisa mendapatkan asupan zat besi.

    “Maka seperti tren lainnya, moderasi adalah kuncinya,” lanjutnya.

    Memberi jarak antara asupan matcha di antara waktu makan atau suplemen zat besi berarti efek antioksidannya akan berkurang saat dikonsumsi.

    Jika Anda masih khawatir, nutrition C juga membantu penyerapan zat besi non-heme, imbuh sang ahli.

    “Disarankan untuk menghindari minum matcha bersamaan dengan makanan atau suplemen kaya zat besi dan tingkatkan penyerapan zat besi dengan memadukan zat besi nabati dengan nutrition C, seperti perasan lemon pada salad. Jika ragu, konsultasikan dengan dokter umum Anda,” tambahnya.

    Parfum AXL

  • Terapi Dislipidemia untuk Deteksi Kadar Kolesterol dalam Darah

    Terapi Dislipidemia untuk Deteksi Kadar Kolesterol dalam Darah

    JAKARTA -Menurut information terbaru U.S. Nationwide Institutes of Well being (NIH) tahun ini, sekitar 40 juta orang dewasa di Indonesia mengalami kadar kolesterol LDL (LDL-C) tinggi yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

    Banyak yang belum mendapatkan terapi, sehingga menjadi faktor utama meningkatnya angka kematian akibat penyakit kardiovaskular. Peningkatan akses terapi dan edukasi kesehatan menjadi prioritas yang mendesak.

    Tantangan ini diperkuat dengan penelitian internasional. Studi INTERASPIRE (Eu Center Magazine, 2024) melaporkan bahwa di Indonesia, hanya 16,6% pasien penyakit arteri koroner yang berhasil mencapai goal LDL-C <70 mg/dL, sementara kepatuhan terhadap panduan terapi secara keseluruhan masih sangat rendah.

    Mayoritas pasien gagal mengontrol tekanan darah, memiliki prevalensi tinggi diabetes dan obesitas, serta minim partisipasi dalam program rehabilitasi jantung.

    Dr. Ade Meidian Ambari, Presiden Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), menjelaskan bahwa dahulu goal LDL-kolesterol untuk pasien kardiovaskular risiko tinggi adalah <100 mg/dL atau <70 mg/dL. Namun, pada kadar tersebut pun, banyak pasien masih berisiko tinggi mengalami kejadian kardiovaskular mayor seperti serangan jantung dan stroke.

    Dia menekankan bahwa pedoman ESC/EAS 2021 bahkan menurunkan goal untuk pasien risiko sangat tinggi menjadi <55 mg/dL, menegaskan kembali prinsip bahwa “semakin rendah, semakin baik”.

    “Dalam lanskap terapi world yang terus berkembang, monoterapi saja tidak cukup. Pendekatan dual-inhibition dengan rosuvastatin dan ezetimibe menjadi jalur optimum untuk mencapai goal LDL-C dan mempertahankan hasil jangka panjang.” ujarnya.

    Dia menjelaskan, terapi dual-inhibition mengombinasikan rosuvastatin, yang menekan sintesis kolesterol di hati, dengan ezetimibe, yang menghambat penyerapan kolesterol di usus halus. Kombinasi ini memungkinkan pasien mencapai kadar goal dengan lebih efektif dan aman dibandingkan monoterapi.

    “Bagi pasien risiko sangat tinggi, strategi dual-inhibition yang menekan sintesis sekaligus penyerapan kolesterol adalah cara paling efektif mencapai goal LDL-C. Terapi dislipidemia memberikan pendekatan ini, dengan peningkatan signifikan pada hasil terapi pasien.”

    Baik In Hyun, Direktur Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menyatakan, penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian nomor satu di Indonesia, namun banyak pasien masih gagal menurunkan LDL-kolesterolnya secara efektif.

    “Mengatasi kebutuhan medis yang belum terpenuhi adalah salah satu misi utama kami di Daewoong Indonesia, demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.” paparnya.

    Dia mengatakan salah satu terapi yang bisa digunakan orang dengan kolesterol tinggi yakni terapi dislipidemia yang bisa menurunkan LDL-C yang lebih kuat dibandingkan terapi yang ada sebelumnya.

    Terapi ini menunjukkan efikasi lebih tinggi dan risiko efek samping lebih rendah dibandingkan monoterapi statin, mampu menurunkan LDL-C lebih dari 50% bahkan pada dosis rendah 10/2,5 mg.

    Selain itu, terapi ini tersedia dalam tiga opsi dosis (10/5 mg, 10/10 mg, 10/20 mg), termasuk kombinasi dosis rendah 10/5 mg pertama di Indonesia, sehingga memungkinkan terapi yang lebih dipersonalisasi sesuai kebutuhan pasien.

    Rosuvastatin, sebagai satu-satunya statin dengan bukti klinis dapat memperlambat progresi aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah akibat penumpukan lemak/plak), semakin memperkuat potensi terapi Daewoong untuk menjadi standar baru dalam tata laksana dislipidemia.

    Prof. JeeHoon Kang dari Seoul Nationwide College Clinic mempresentasikan hasil studi RACING yang melibatkan 3.780 pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik (ASCVD) di Korea Selatan.

    Studi ini menunjukkan bahwa kombinasi dosis tetap rosuvastatin dan ezetimibe, mekanisme dual-inhibition yang sama dengan terapi Daewoong, mencapai tingkat keberhasilan goal LDL-C satu tahun yang lebih tinggi dibandingkan monoterapi statin intensitas tinggi (73% vs. 55%), dengan tingkat penghentian terapi yang lebih rendah, sehingga lebih menguntungkan untuk kepatuhan jangka panjang (The Lancet, 2022).

    Prof. JeeHoon Kang berkomentar, “Dalam praktik klinis, sebagian besar pasien masih gagal mencapai goal terapi. Terapi dislipidemia Daewoong hadir sebagai alternatif yang tepat waktu dan relevan.” Ia menambahkan, “Dengan dual-inhibition, terapi ini menurunkan beban efek samping sekaligus meningkatkan efektivitas, yang sangat mengesankan. Pedoman 2025 akan menetapkan goal LDL-C yang lebih ketat, dan terapi dislipidemia Daewoong siap menjadi tolok ukur baru.”

    Parfum AXL

  • Melancong di Usia Senja, Siapa Takut?

    Melancong di Usia Senja, Siapa Takut?

    Wisata budaya dan religius jadi pilihan lansia melancong ke mancanegara. Hanya saja, persiapan matang dibutuhkan, termasuk latihan fisik seperti banyak jalan kaki.

    Usia bukan lagi hambatan untuk beraktivitas, bahkan untuk melancong hingga ke negeri orang. Seorang diri, tanpa handai tolan, pun bukan persoalan. Itulah yang dilakukan oleh Liong Siak Tjhie (80), seorang wartawan harian berbahasa Mandarin, Huan Qiu Ri Bao, saat mengikuti Eva Air Famtrip selama lima hari ke Taiwan, beberapa waktu lalu.

    Ia menjadi orang yang paling tua di antara 13 anggota rombongan yang kebanyakan berusia di kepala tiga atau empat. Meskipun menjadi yang paling senior, Pak Liong sama sekali tidak merepotkan. Ia bisa mengikuti semua kegiatan yang mayoritas membutuhkan aktivitas jalan kaki yang lumayan jauh, berkisar 15.000-16.000 langkah tiap harinya.

    Lantas, apa resepnya?

    ”Yang pertama, jangan merasa kita sudah tua. Kalau kita merasa tua, jadi bener-bener tua. Jangan ingat umur … jangan ingat umur,” ujar Pak Liong berkali-kali.

    Keyakinan untuk tidak mengingat umur tersebut membuatnya tidak merasa kesulitan untuk beraktivitas di luar rumah. Meski tak boleh mengingat umur, tidak lantas menolak kenyataan bahwa usia memang sudah lanjut kemudian hidup sekenanya, tanpa memperhatikan kesehatan. Tetap tahu batas, dalam bahasa Pak Liong.

    ”Memang belakangan ini saya sering melangkahkan kaki, saya keliling rumah sakit. Bukan karena saya sakit. Hanya cari ada penyakit atau tidak. Ngecek saja. Ini seperti rapor anak sekolahan ya,” kata Liong.

    Keputusannya mengikuti perjalanan wisata ke Taipei, April lalu, pun sudah dipertimbangkan dengan matang. Ia juga mendapatkan izin untuk mengikuti lima hari tersebut dari anak-anaknya, meskipun tak punya kerabat di Ilha Formosa atau Pulau Formosa tersebut. Beda halnya jika berkunjung ke China, ia masih punya kerabat di beberapa kota di negeri tersebut.

    Saat ditanya apakah famtrip tersebut dirasa berat, Lion mengaku sama sekali tidak memberatkan. Ia mengikuti seluruh perjalanan, menikmati setiap atraksi yang disuguhkan. ”Ya, tetapi saya juga tahu diri. Kalau terlalu terjal, saya berjalan semampunya. Sesuai kemampuan saja,” ungkapnya.

    Rangkaian perjalanan kali ini memang agak berbeda dari tur-tur yang biasa dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Rombongan yang diundang oleh Eva Air bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata Taiwan tersebut dibawa ke destinasi-destinasi baru yang rupanya hendak diperkenalkan kepada para agensi perjalanan.

    Sebut saja, West Lake Resortopia di wilayah administratif Miaoli dan Lavender Woodland di Distrik Xinshe, kota Taichung. Pemandu wisata yang menemani perjalanan kami, Tommy Lee, mengaku baru pertama kali mengunjungi kedua tempat tersebut merupakan destinasi yang jarang masuk dalam paket tur yang ditawarkan ke wisatawan mancanegara.

    Di dua lokasi ini, pengunjung harus mengeluarkan energi ekstra untuk jalan kaki sedikit menanjak dan relatif jauh. Pada kondisi seperti ini, Pak Liong pun memilih untuk melangkahkan kaki seperlunya dan semampunya saja.

    Namun, dibandingkan saya sendiri yang umur mendekati angka 50, kondisi Pak Liong bahkan jauh lebih baik. Ia masih menganggap enteng ketika bertemu jalan menanjak, padahal napas saya sudah ngos-ngosan, serasa hampir putus. Pak Liong pun mencandai, ”Segitu mah enteng.”

    Lantas, apa latihan yang dipersiapkan oleh Liong untuk mengikuti kegiatan tur tersebut? Ia mengakui banyak jalan kaki, bahkan dirinya sering memilih menggunakan Transjakarta sebagai sarana mobilitas jika berada di Jakarta meskipun di beberapa bagian dirinya harus naik turun tangga untuk menggunakan jembatan penyeberangan menuju pemberhentian Transjakarta.

    ”Orang Indonesia itu biasanya suka melihat sesuatu yang bagus, wah, dan baru. Itu tipikal (turis) Indonesia. Dia tidak suka sesuatu yang berbau kultural, sejarah,” kata Tommy Lee.

    Ini dilakukannya meskipun sang anak memintanya untuk menggunakan jasa ojek roda empat melalui aplikasi. Ia juga tak mau jika ke mana-mana harus diantar oleh anaknya dengan kendaraan pribadi. Ia menolak kedua saran itu karena membuat kesempatannya berjalan kaki menjadi berkurang.

    Selain ke Taiwan, Liong memang relatif sering bepergian ke luar negeri. Setidaknya setahun sekali untuk mengunjungi saudaranya (paman dan bibinya, saudara kandung ayahnya) yang berada di China. Kepergiannya ke Taiwan, selain jalan-jalan, juga untuk mendapatkan satu jawaban mengapa kedua negara (Taiwan dan China) bermusuhan begitu lama, seperti saudara yang belum juga cocok.

    ”Ini bukan soal politik, melainkan ingin tahu saja ya. Lebih ke tradition sebenarnya,” kata Liong. Meski sudah lima hari berada di Taiwan, Pak Liong belum juga menemukan jawabannya.

    Motivasi seperti itu, menurut Tommy, wajar dimiliki oleh para pelancong yang datang ke Taiwan. Sebab, banyak wisatawan yang datang ke Taiwan untuk bernostalgia, melihat tempat-tempat yang merekam peristiwa bersejarah baik bagi masyarakat pada umumnya maupun orang itu sendiri.

    Berdasarkan pengamatannya, turis dari beberapa negara memiliki tipe yang berbeda-beda. Misalnya, turis asal Indonesia lebih suka hal-hal baru yang sedang viral atau tren, wah, dan bagus. Tipikalnya sama hal dengan turis-turis asal Malaysia. Sementara turis lokal Taiwan, Jepang, ataupun Singapura lebih menyukai hal-hal yang mengandung unsur kebudayaan, memiliki nilai seni, dan sejarah.

    ”Orang Indonesia itu biasanya suka melihat sesuatu yang bagus, wah, dan baru. Itu tipikal (turis) Indonesia. Dia tidak suka sesuatu yang berbau kultural, sejarah,” kata Tommy. Satu hal lagi yang diingat Tommy, wisatawan asal negeri plus 62 sering sekali mencari kamar kecil.

    Taiwan sendiri, menurut Tommy, banyak menawarkan hal-hal berbau budaya. Dibandingkan China yang memiliki wilayah yang luas sehingga memiliki destinasi beragam untuk ditawarkan, Taiwan merupakan negara kecil yang luasnya setara dengan Provinsi Jawa Barat. Ia mengungkapkan, negeri ini bisa dikelilingi dengan perjalanan darat dalam waktu lebih kurang 72 jam.

    Efek positif

    Berdasarkan information Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penduduk di dunia yang berusia 60 tahun ke atas adalah 1,1 miliar jiwa pada tahun 2023. WHO memprediksi jumlah tersebut naik menjadi 1,4 miliar jiwa pada tahun 2030. Pertambahan jumlah lansia tentu berimplikasi pada persoalan kesehatan publik. Memelihara kesehatan menjadi hal krusial bagi lansia, tak hanya kesehatan fisik tetapi juga psikis dan kejiwaan. Dengan kesehatan yang baik, para lansia bisa tetap mandiri serta dapat berpartisipasi aktif di keluarga dan komunitas.

    Dari berbagai hasil penelitian, kesejahteraan (well-being), kebahagiaan, dan kepuasan hidup para lansia akan meningkat ketika mereka menjadi pelancong. Kegiatan melancong memungkinkan para turis lansia melampaui pengalaman dan zona nyamannya.

    Dalam artikel berjudul ”Tourism Choice of Seniors and Their Have an effect on on Wholesome Growing old” yang ditulis oleh Ian Patterson, Adela Balderas-Cejudo, dan Shane Pegg, terungkap bahwa wisata bagi kaum manula memiliki pengaruh positif terhadap kehidupan mereka dan berkontribusi pada gaya hidup yang lebih sehat. Artikel tersebut disusun setelah melakukan wawancara kualitatif terhadap 20 orang yang berusia 55 tahun hingga 80 tahun.

    Hasil penelitian itu dikelompokkan ke dalam dua tema, yaitu preferensi wisata terkait dengan waktu, jenis-jenis wisata, dan dengan siapa akan melakukan kegiatan tersebut. Tema kedua, terkait dengan tujuan wisata untuk tujuan kesehatan.

    Terkait dengan waktu, mayoritas lansia mengambil off top season (65 persen) atau bukan pada musim liburan (top season). Kebanyakan menghindari masa-masa liburan sekolah meskipun sebagian lansia menyatakan tidak masalah bepergian ke lokasi wisata pada musim liburan. Selain itu, berwisata bukan di musim liburan juga menghemat biaya akomodasi dan transportasi. Bahkan, keberadaan turis-turis lansia merupakan hal yang berharga dalam pasar pariwisata karena mereka mampu mengisi masa-masa off top season (bukan musim liburan).

    Sebagian lansia lebih suka wisata mandiri (tanpa agen wisata/go back and forth agent), sementara sepertiga lainnya memilih menggunakan jasa agen go back and forth. Motivasi utama untuk berwisata adalah untuk mengunjungi kerabat atau kenalan yang berada di tempat-tempat populer dan ingin didatangi.

    Mengenai tema kedua terkait liburan dan kesehatan, hampir semua responden memiliki kesadaran mengenai kesehatan dan sering mengekspresikan keyakinan mengenai pentingnya touring dan tetap aktif. Beberapa responden yakin touring berpengaruh pada kesehatan mereka, misalnya dengan melakukan aktivitas yang aktif selama touring akan meningkatkan peluang untuk terhindar dari demensia. Karena itu, sebagian responden menjadi heran ketika para manula tidak melakukan aktivitas, kecuali menonton televisi.

    Studi lain menemukan bahwa menua dengan aktif memiliki manfaat signifikan bagi interaksi sosial serta kesehatan fisik dan psikologis lansia. Pariwisata merupakan bagian penting dari kehidupan pascapensiun manusia-manusia senior ini dan sering berfungsi sebagai strategi adaptif untuk membantu orang yang sudah pensiun menghadapi proses penuaan secara commonplace.

    Lansia bertualang? Siapa takut….

    Parfum AXL

  • Gado-gado Rp 483.000 di Geneva, Hidup yang Tak Terbeli di Jakarta

    Gado-gado Rp 483.000 di Geneva, Hidup yang Tak Terbeli di Jakarta

    Di Geneva, sepiring gado-gado Rp 483.000. Tapi, biaya hidup selangit di kota termahal di dunia ini terbayar dengan kualitas hidup baik. Bagaimana dengan di Jakarta?

    Di tepi Danau Geneva, deretan toko mewah berjajar dengan etalasenya menampilkan jenama jam-jam tangan berkilau seharga mobil, bahkan bisa seharga rumah di Indonesia. Kafe-kafe penuh pekerja muda menyesap espreso dengan santai, seolah harga secangkir kopi yang mencapai Rp 150.000 itu seperti recehan.

    Sepiring gado-gado di kota ini sekitar Rp 483.000. Ditambah tempe goreng jadi Rp 643.000 dan dengan segelas es cincau menjadi Rp 800.000. Dari rasa mungkin biasa saja. Bahkan, bagi lidah orang Jakarta yang terbiasa pedas, gado-gado tukang gerobak pinggir jalan mungkin lebih enak.

    Namun, itulah harga yang ditawarkan salah satu dari dua restoran yang menjual menu Indonesia di kota Geneva, Swiss. Harga itu pun termasuk pasaran. Makan malam lengkap, termasuk minum dan menu penutup, di restoran biasa di kota ini rata-rata seharga CHF 50 atau Rp 1 juta lebih.

    Nilai rupiah memang seperti tak berharga di kota ini mengingat nilai tukarnya yang rendah. Pada Senin (18/8/2025), 1 CHF (franc Swiss) setara dengan Rp 20.086,86.

    Bahkan, buck AS juga tak berkutik di Geneva. ”Ini kota paling mahal. Sebagai New Yorker, mesti berhemat kalau ke Geneva,” kata Alexandra Golden, dari New York, Amerika Serikat, yang berada di Geneva untuk mengikuti perundingan plastik di Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

    Menurut Alexandra, harga makanan di Geneva bisa 1,5 kali lebih mahal daripada di New York, yang dikenal sebagai salah satu kota paling mahal di Amerika.

    Di Jakarta, uang sebesar itu bisa membeli gado-gado segerobak, tetapi udara bersih, transportasi tepat waktu, dan rasa aman tetap tak terbeli.

    Itulah Geneva, kota termahal di dunia selain Zurich, juga di Swiss. Menurut Mercer Value of Dwelling Index 2025, harga sewa apartemen satu kamar di pusat kota Geneva bisa menembus CHF 2.500 atau sekitar Rp 45 juta in line with bulan.

    Adapun menurut information Skyscanner, harga rata-rata in line with malam kamar di resort bintang 3 di Geneva sekitar Rp 2.999.888. Harga termurah yang ditemukan dari beberapa pencarian adalah sekitar Rp 1.297.248, itu tanpa sarapan.

    Transportasi free of charge, udara bersih

    Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa Geneva menjadi kota termahal. Pertama, krisis perumahan karena besarnya permintaan dibandingkan bangunan terbangun. Di Geneva, apartemen jarang kosong dan antrean sewa bisa memakan waktu berbulan-bulan.

    Kedua, biaya tenaga kerja tinggi. Upah minimal casual di Swiss sangat tinggi, membuat harga jasa ikut melambung. Ketiga, mata uang franc Swiss yang kuat, membuat harga-harga domestik terasa semakin tinggi bagi orang asing.

    Meski begitu, mahalnya biaya hidup tak membuat Geneva sepi peminat. Justru sebaliknya. Geneva adalah rumah bagi PBB, WHO, dan sekitar 200 organisasi internasional lain. Kota ini, bersama Zurich, juga menjadi pusat finansial Eropa, dengan bank-bank raksasa yang menjadi jantung ekonomi international.

    Arus ekspatriat, diplomat, dan profesional internasional terus berdatangan, menjaga roda ekonomi dua kota ini tetap berputar. Bahkan, turis pun tak kurang banyaknya. Menurut laporan Forbes pada Mei 2025, Geneva menerima lebih dari 8 juta turis in line with tahun, angka yang luar biasa mengingat luas kota hanya 15,9 kilometer persegi. Ini menempatkan Geneva di peringkat teratas sebagai destinasi kota yang paling dibanjiri turis in line with unit space, mengalahkan kota-kota seperti Paris dan Roma.

    Sekalipun biaya makan dan penginapan di Geneva tergolong mahal, Pemerintah Geneva memiliki kebijakan unik untuk meringankan beban wisatawan, yaitu dengan menggratiskan transportasi umumnya.

    Wisatawan yang datang ke Geneva otomatis menerima ”Geneva Delivery Card” secara free of charge selama menginap di akomodasi yang terdaftar seperti resort, hostel, bahkan kamping resmi. Kartu ini memberi akses tak terbatas ke seluruh jaringan kereta api dari dan ke bandara, serta seluruh moda transportasi umum di dalam kota, meliputi bus, trem, kereta, bahkan kapal selama masa inap.

    Kartu virtual ini biasa dikirim melalui electronic mail sekitar tiga hari sebelum kedatangan atau bisa diserahkan saat check-in. Sementara jika mesti membeli kartu transportasi umum harian di Geneva, harganya sekitar CHF 10 atau sekitar Rp 200.000.

    Kartu transportasi ini lahir dari kolaborasi antara Geneva Tourism & Congress dan penyedia akomodasi resmi yang terdaftar. Melalui pungutan pajak wisata, pemerintah kota mendanai sistem transportasi dan memberikan kartu ini sebagai insentif fasilitas mobilitas yang bebas hambatan kepada pengunjung sekaligus mendorong penggunaan moda transportasi yang ramah lingkungan.

    Dengan memperbanyak transportasi umum berbasis listrik, selain mengurangi penggunaan pembangkit listrik fosil, kota ini memiliki kualitas udara yang lebih bersih dibandingkan banyak kota Eropa lain, meski bukan yang paling bersih.

    Rata-rata konsetrasi PM 2.5 tahunan di metropolitan Geneva sekitar 13,7 µg/m³, jauh di bawah batas maksimum Uni Eropa sebesar 25 µg/m³. Bandingkan misalnya dengan kualitas udara di Jakarta yang rata-rata PM 2.5 tahunan mencapai 46,1 µg/m³.

    Berbeda dengan di Jakarta yang mobil listriknya kebanyakan disetrum dengan pembangkit listrik energi batubara, di Geneva sumber listriknya mayoritas dari energi terbarukan.

    Secara nasional, 75-80 persen listrik di Swiss berasal dari energi terbarukan, terutama dari pembangkit tenaga air yang mencapai 66 persen, dan energi terbarukan lain seperti sun, angin, biomassa berkisar 11-14 persen. Sisanya ditopang oleh nuklir sebesar 18-33 persen. Sementara sumber fosil sangat minim, hanya 1-2 persen. Khusus di kota Geneva, mereka menolak menggunakan energi fosil dan nuklir.

    Maka, menjelajah setiap sudut kota ini pun terasa lebih nyaman dan aman. Tinggal jalan kaki dua menit dari penginapan, kita bisa mengakses halte atau stasiun. Transportasi umum siap mengantar ke hampir semua tujuan itu tepat waktu. Tak ada kemacetan, bersesakan, dan udara kotor.

    Tak hanya kualitas udara, Geneva juga sangat bersih karena pengelolaan sampah yang sangat baik. Sejak 2022, Grand Council Geneva mewajibkan pemilahan sampah oleh warga, pelaku usaha, dan institusi publik. Pelanggaran bisa dikenai denda hingga CHF 200 untuk individu dan CHF 400 untuk perusahaan.

    Pemerintah Kota Geneva juga menerapkan sistem p’tite poubelle verte atau ”tempat sampah hijau kecil”, yang memungkinkan warga membuang limbah organik secara terpisah, yang kemudian diolah menjadi biogas dan kompos. Ini dilakukan guna mengurangi quantity sampah yang harus dibakar dengan goal mereka 25 persen pada 2025 dan meningkatkan tingkat daur ulang hingga 80 persen.

    Harga mahal di Geneva memang relatif, terutama bagi yang berduit. Fakta menunjukkan, Geneva masuk dalam lima terbaik destinasi Eropa 2024 menurut Eu Very best Locations, berdasarkan pemungutan suara lebih dari 1 juta orang dari 172 negara.

    Bahkan, di mata para pekerja asing, Geneva berada di peringkat ke-3 dalam survei kualitas hidup Mercer setelah Zurich dan Vienna. Mercer mengukur berdasarkan 39 faktor, mulai dari keamanan, layanan publik, kesehatan, pendidikan, rekreasi, hingga lingkungan alami.

    Harga tinggi, daya beli tinggi

    Tak hanya menarik di mata turis dan pendatang, warga kota Geneva pun puas dengan kualitas kehidupan mereka. Sekalipun menjadi kota termahal, tapi juga dianggap paling layak dihuni. Survei World Liveability Index 2025 (The Economist Intelligence Unit/EIU) menunjukkan, Geneva berada di peringkat ke-5 dalam indeks yang mencakup 173 kota dunia.

    Kota ini mencapai skor tinggi dalam kategori kesehatan, infrastruktur, pendidikan, lingkungan, dan stabilitas, dengan skor keseluruhan mencapai 96,8/100, hampir sempurna. Pendidikan dasar dan menengah di Geneva dimulai sejak usia 4 tahun hingga 15 atau 16 tahun, free of charge.

    Adapun kuliah di universitas publik, yang kualitasnya sangat baik, relatif murah dibandingkan Eropa lain. Biaya kuliah untuk warga Swiss dan penduduk tetap sebesar CHF 500-650 in line with semester, berkisar Rp 9 juta-Rp 12 juta. Beasiswa juga banyak tersedia.

    Di balik biaya hidup yang membuat jeri para pendatang dari negara lain, penduduk Geneva punya modal kuat untuk bertahan. Upah di negara ini juga termasuk yang tertinggi di dunia. Median gaji bulanan berada di kisaran CHF 6.500 atau lebih dari Rp 115 juta.

    Upah terendah yang berlaku di Geneva sejak 1 Januari 2025 mencapai CHF 24,48 in line with jam atau sekitar Rp 495.000 in line with jam. Jika dirata-rata, UMR di kota ini sebesar CHF 4.455 in line with bulan atau sekitar Rp 90 juta in line with bulan dengan beban kerja 42 jam in line with minggu.

    Seiring dengan besarnya penghasilan, pajak di Geneva juga tinggi, termasuk tertinggi di seluruh Swiss. Di luar pajak penghasilan federal yang berlaku di seluruh Swiss sebesar 11,5 persen dari pendapatan kena pajak, juga ada pajak lainnya.

    Dengan itu, sebagian besar warga mampu menutup biaya hidup sehari-hari. Sistem publik juga menopang: sekolah negeri free of charge dan berkualitas, transportasi umum andal, serta layanan kesehatan terjamin meski premi asuransinya tinggi.

    Kehidupan di kota mahal ini juga melahirkan strategi sehari-hari. Banyak keluarga memilih belanja ke grocery store diskon seperti Aldi atau Lidl, alih-alih toko top rate. Sebagian bahkan rutin menyeberang ke Perancis atau Jerman untuk membeli bahan makanan lebih murah. Makan di restoran setiap hari jelas bukan kebiasaan warga Swiss kebanyakan. Memasak di rumah jauh lebih masuk akal.

    ”Kota ini memang mahal, tetapi sebanding dengan kualitas hidup dan infrastuktur publiknya,” kata Rahyang Nusantara, Deputi Direktur Dietplastik Indonesia, yang berada di Geneva. ”Di sini aman, transportasi tepat waktu, melayani 24 jam. Air minum dari keran juga tinggal minum.”

    Geneva menunjukkan paradoks kota international: menjadi termahal sekaligus menawarkan standar hidup yang baik. Bagi penduduk lokal yang dibayar dengan standar gaji di sana, mahal pun terasa relatif. Kerja di sektor casual di sana sejam saja sudah cukup untuk membeli sepiring gado-gado itu.

    Pada akhirnya, gado-gado Rp 483.000 di Geneva bukan hanya cerita tentang makanan yang terasa mahal, melainkan juga simbol tentang bagaimana sebuah kota menata prioritasnya. Di Jakarta, uang sebesar itu bisa membeli gado-gado segerobak, tetapi udara bersih, transportasi tepat waktu, dan rasa aman tetap tak terbeli.

    Geneva memang mahal, tapi setiap franc kembali ke rakyatnya. Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia lebih murah, tetapi setiap hari kita membayar dengan kualitas hidup dan kesehatan yang memburuk. Yang jelas, kalau ke Geneva, jangan sekali-kali mencoba menghitung harga sepiring gado-gado dengan uang rupiah kita. Bakal enggak tega mengunyahnya.

    Parfum AXL

  • Senandung Kebebasan dari Dublin

    Senandung Kebebasan dari Dublin

    Berada di Dublin, Irlandia, pada musim panas menawarkan kehangatan dan keleluasaan untuk menjelajahi warisan budaya yang hidup di kota itu.

    Berada di jantung kota Dublin tidak hanya dapat menikmati keindahan pemandangan alam dan deretan bangunan tua bersejarah. Ibu kota Irlandia tersebut juga membawa semangat kebebasan berekspresi hingga melahirkan sejumlah musisi kelas dunia.

    Langit di Kota Dublin, Irlandia, Minggu (22/6/2025), tertutup mendung. Saat membuka jendela kamar lodge, matahari masih bersembunyi di balik awan abu-abu. Melihat padatnya time table Konferensi Internasional Pengendalian Tembakau 2025, waktu senggang sepanjang pagi ini merupakan saat tepat untuk menelusuri pusat kota itu.

    Rintik hujan disertai angin kencang menyambut begitu keluar dari penginapan. Meski demikian, cuaca yang kurang bersahabat itu tidak menyurutkan hasrat untuk menjelajahi kawasan wisata budaya di sepanjang Sungai Liffey yang jernih airnya saat musim panas.

    Sungai Liffey membelah kota menjadi sisi utara dan selatan, dengan pusat kota berada di antara keduanya. Dublin mempertahankan nuansa masa lalu dengan elemen kota dari zaman Viking, dari kastil Dublin hingga monumen penghormatan para penulis Irlandia.

    Salah satu keuntungan berada di Dublin adalah banyak hal bisa dilakukan dengan berjalan ataupun transportasi publik. Dengan wilayah tak terlalu luas, sekitar 115 kilometer persegi atau seperenam dari Ibukota Jakarta, disertai kekayaan sejarah dan bangunan-bangunan bersejarah nan indah, ada banyak hal untuk dilihat di tiap sudut kota.

    Untuk menjangkau berbagai sudut kota, tersedia bus dan tram dengan tarif harian ataupun berlangganan. Ada juga bus wisata yang siap mengantarkan kita menuju tempat-tempat wisata dan ikonik di Dublin selama 24 jam dengan tarif berkisar 25 euro. Jika ingin lebih leluasa sekaligus berolahraga, bisa juga berkeliling kota menggunakan sepeda yang disewakan di jalur khusus sepeda.

    Setelah melangkah beberapa meter dari lodge, pandangan mata pun tertuju ke seberang jalan, tepatnya jembatan Ha’penny, yang menghubungkan dua sisi Sungai Liffey. Setelah melintasi sungai melalui jembatan, tampak deretan toko suvenir, butik, kafe, bar, dan galeri budaya. Mural menghiasi dinding bangunan di jalan berbatu.

    Di sudut jalan, banyak turis berfoto di depan salah satu pub tertua di Dublin, yakni Temple Bar, yang beroperasi sejak tahun 1840. Bagian luar bangunan itu berbahan kayu warna merah, dihiasi lampu-lampu antik dan keranjang gantung dengan bunga warna-warni.

    Distrik Temple Bar yang ramai tak hanya menjadi surga belanja suvenir dan minum. Di sekitar Sungai Liffey itu, kita bisa mengunjungi beberapa museum dan bangunan bersejarah, antara lain Museum Whiskey Irlandia, Gudang Guiness, dan bangunan Kastil Dublin.

    Selama berabad-abad, Kastil Dublin yang dibangun pada awal abad ke-13 di lokasi permukiman Viking, berfungsi sebagai pusat pemerintahan Inggris, lalu Britania Raya di Irlandia. Pada 1922, setelah kemerdekaan Irlandia, kastil itu jadi kompleks pemerintahan dan obyek wisata utama.

    Saat hari beranjak siang, kawasan wisata itu makin ramai. Para turis dan warga setempat memadati restoran, kafe, dan bar untuk menyantap hidangan ataupun minum untuk melepas dahaga sambil berbincang dan menikmati alunan musik. Di sudut jalan, musisi jalanan menyanyikan lagu sambil memainkan gitar ataupun alat musik tradisional Irlandia.

    Warisan musik Dublin sama legendarisnya dengan warisan sastranya, membuat kota ini jauh melampaui ekspektasi di kancah internasional. Bagi pencinta musik, salah satu tempat yang patut dikunjungi adalah Museum Rock and Roll Irlandia.

    Di tempat itu, kita bisa menelusuri semua hal terkait industri musik Irlandia lebih dari setengah abad terakhir. Sebelum memasuki museum, sungguh sayang jika melewatkan kesempatan untuk berfoto di dinding luar museum yang bertuliskan Wall of Popularity Dublin.

    Dinding bagian luar museum tersebut bercat merah dan hitam dengan jendela-jendela kaca berbentuk segi empat yang lebar. Di jendela-jendela kaca itu, terpampang foto-foto diri dan sampul album beberapa penyanyi dan musisi Irlandia antara lain Sinead O’Connor, Eric Bell, pendiri grup musik Skinny Lizzy, dan grup rock Indie Pillow Queens.

    Untuk mengikuti tur berpemandu di museum itu, pengunjung mesti membayar tiket masuk 26 euro. Setelah antre masuk museum selama 30 menit, Anto, perempuan asal Chile, pun menghampiri dan memandu berkeliling museum tersebut.

    Eksplorasi sejarah musik

    Ini tak sekadar kunjungan museum biasa, tetapi perjalanan interaktif ke jantung budaya musik Dublin yang berkembang pesat. Tempat yang berdiri sejak tahun 2015 ini penuh dengan memorabilia dan foto-foto autentik yang menghidupkan kembali legenda musik Irlandia.

    Saat menelusuri lorong-lorong kompleks musik yang berperan dalam karier para seniman Irlandia, seolah terhubung dengan sejarah musik rock Irlandia sejak 1970-an hingga kini. Apalagi saat berada di ruangan sama yang dulu kerap dikunjungi para musisi pencetak sejarah musik.

    Perjalanan diawali dengan menuruni tangga menuju ruang bawah tanah yang gelap. Di salah satu ruangan, terpajang pelat-pelat piringan hitam karya musisi terkemuka Irlandia mulai dari Gary Moore hingga Enya, dan memorabilia legenda musik seperti keyboard dan gitar.

    Ada sudut khusus untuk mengenang Rorry Gallagher, musisi, penyanyi, dan penulis lagu rock asal Irlandia yang dijuluki sebagai dewa gitar. Sejumlah gitar miliknya dipajang di kotak kaca dilengkapi lukisannya dan video yang memutar pementasan musiknya.

    Tak hanya pelat-pelat piringan hitam dan alat musik, di ruangan itu juga terdapat foto-foto autentik Rorry Gallagher. Foto-foto berwarna hitam-putih disertai dengan video yang merekam aksi panggung musisi legendaris tersebut.

    Evy Rachmawati
    Anto, pemandu, sedang menjelaskan mengenai koleksi Museum Rock and Roll Irlandia, kepada rombongan wisatawan, di Kota Dublin, Irlandia, Minggu (22/6/2025).

    Selanjutnya, pengunjung diajak memasuki ruang pameran band U2. Ada settee, foto-foto lama, piringan hitam, tiket dari masa awal U2 dikenal, jaket coklat besar generation ’80-an, seperangkat alat musik band, dan memorabilia lain yang menggambarkan perjalanan grup tersebut.

    Di ruang bercermin yang dirancang untuk bermain musik bersama itu, Anto mengajak pengunjung memainkan alat musik demi merasakan sensasi pengalaman rock and roll. Beberapa pria pun mencoba memainkan drum. ”Saya berkunjung ke sini karena suka musik,” tutur Mai, pengunjung dari Jerman.

    Saya berkunjung ke sini karena suka musik.

    Sejenak merasakan sensasi bermain musik rock and roll, berada di ruangan yang sama di mana para musisi terkemuka pernah singgah. Tak perlu malu karena tak bisa memainkan alat musik. Sekadar menabuh drum ala kadarnya pun sudah menimbulkan rasa senang.

    Kemudian, tur berlanjut dengan menyaksikan pemutaran movie pendek dokumenter tentang evolusi musik rock di Irlandia dan musik sebagai jalinan kehidupan Irlandia di ruangan lain. Dalam 10 menit lebih, movie ini merekam jejak perkembangan karier beberapa musisi kenamaan Irlandia, termasuk Dubliners.

    Piringan hitam dan memorabilia para penyanyi dan musisi legendaris Irlandia terpajang di Museum Rock and Roll Irlandia, di Kota Dublin, Irlandia, pada Minggu (22/6/2025).

    Anto lalu membawa kami menaiki tangga menuju ruangan besar nan gelap di mana terdapat panggung musik, The Button Manufacturing unit. Menurut laman Dublin.ie, dulu tempat itu adalah pabrik pakaian dalam. Musisi Nile Rodgers dan Van Morrison pernah duduk di belakang panggung itu. ”Di sini biasa ada pentas musik,” ujarnya.

    Perjalanan menelusuri jejak industri musik di Irlandia berlanjut ke gedung di seberang museum, lokasi Temple Lane Recording Studios, studio musik di mana para musisi ternama merekam lagu. Di lantai atas, terdapat studio rekaman dan memorabilia beberapa artis kenamaan, seperti piyama dan jaket penyanyi Michael Jackson dan kostum panggung Sinead O’Connor.

    Semangat antikekerasan

    Dari tur ini tergambar semangat kesetaraan dan kebebasan dari segala bentuk kekerasan, ketidakadilan, serta penindasan, dalam berbagai karya musik yang dihasilkan para musisi Irlandia. Salah satunya adalah lagu U2 berjudul ”The place the Streets Have No Title”.

    I need to run, I need to cover/I wanna tear down the partitions that hang me inside of/I wanna succeed in out and contact the flame/The place the streets don’t have any title (Aku ingin lari, aku ingin bersembunyi/Aku ingin meruntuhkan tembok yang menahanku di dalam/Aku ingin meraih dan menyentuh api/Di mana jalanan tak bernama)

    Sepenggal lirik lagu ”The place the Streets Have No Title” dari band rock Irlandia, U2, ini menjadi lagu pembuka album mereka tahun 1987. Lagu ini menyuarakan kesetaraan melalui gagasan mengenai suatu tempat di mana standing sosial tak ditentukan alamat seseorang.

    Irlandia tak hanya dikenal sebagai tempat asal grup U2. Di museum itu juga terdapat memorabilia sejumlah penyanyi dan grup musik lainnya dari negeri itu yang mendunia antara lain musisi dan penyanyi blues Gary Moore, penyanyi Enya, Sinead O’Connor, band rock Cranberries, dan band beraliran people rock The Corrs.

    Band-band seperti The Chieftans dan Clannad pun meraih kesuksesan yang mendunia, membawa musik tradisional Irlandia. Musik Irlandia juga berpengaruh besar pada band seperti Skinny Lizzy dengan lagu hitsnya ”Whiskey in The Jar” dan jadi ikon rock and roll.

    Sementara lagu Cranberries, ”Zombie”, terinspirasi dari pengeboman di Warrington, Inggris, pada 1993 oleh Irish Republican Military, yang menewaskan dua anak. Lagu itu memprotes perang dan pelaku kekerasan diibaratkan zombie yang mengabaikan nyawa manusia.

    Plat piringan hitam karya Gary Moore dengan lagu ”After The Warfare” pun dipajang di dinding salah satu ruang museum. Lagu itu menyampaikan pesan rekonsiliasi, dengan menyoroti bagaimana perang meninggalkan luka pada individu, secara fisik dan emosional.

    …When the battles were gained?/inside of your lonely castle/the fight’s simply begun/after the battle/who will you preventing for (kapan perang dimenangkan?/dalam benteng kesepianmu/pertempuran baru dimulai/setelah perang/siapa yang akan kamu perjuangkan).

    Atmosfer musik yang kuat dan suasana kota yang hangat membuat Dublin menjadi salah satu tempat tujuan anak muda untuk melancong maupun bekerja. Dari Dublin, suara kebebasan dan kesetaraan pun menggaung hingga ke seluruh penjuru dunia.

    Parfum AXL

  • Bibit Unggul dan Keterlibatan Perempuan, Rahasia Harumnya Kopi Parahyangan

    Bibit Unggul dan Keterlibatan Perempuan, Rahasia Harumnya Kopi Parahyangan

    Di Tanah Parahyangan, hamparan hijau yang indah dan pegunungan nan megah seolah menjadi penjaga abadi sebuah rahasia. Di balik selimut kabut ini tersimpan semangat para petani yang merawat perkebunan kopi unggulan Jawa Barat.

    Parfum AXL

  • Kebebasan di Balik Kesederhanaan All New Subaru Forester

    Kebebasan di Balik Kesederhanaan All New Subaru Forester

    Membeli sebuah mobil, pada hakikatnya, adalah membeli kebebasan. Kebebasan untuk bepergian ke mana pun dan kapan pun kita mau. Beberapa mobil kemudian memberikan bonus berupa kemampuan untuk pergi lebih jauh menerabas rintangan yang tak bisa dilalui mobil kebanyakan.

    Salah satu merek yang memberikan ”bonus” itu adalah Subaru. Dengan pengalaman panjangnya memproduksi mobil berpenggerak empat roda (all wheel drive/AWD), Subaru membuka kemungkinan penjelajahan yang lebih luas bagi para penggunanya.

    Apalagi di era SUV (sport utility vehicle) saat ini, pabrikan asal Jepang itu ingin menegaskan tekadnya sebagai produsen SUV terkemuka. Citranya di masa lalu yang identik dengan motorsport dan mobil reli hendak digeser dengan citra produk-produk SUV-nya.

    Dari sembilan model yang saat ini dipasarkan Subaru di pasar global, lima model adalah SUV atau crossover SUV. Bahkan model Subaru Outback, yang dulu berbentuk mobil station wagon atau estate berkolong rendah, kini pun berubah menjadi sebuah crossover SUV berkolong tinggi.

    Di Tanah Air, produk terbaru Subaru adalah Subaru Forester generasi keenam yang diluncurkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, akhir Juli silam. Walau masih mengandalkan dua keunggulan utama Subaru, yakni mesin berkonfigurasi Boxer dan sistem Symmetrical AWD, Forester baru ini membawa kesegaran dengan desain yang lebih gagah dan mesin baru.

    Dengan dimensi panjang 4,655 meter (m), lebar 1,830 m, dan tinggi 1,730 m, Forester menempati posisi sebagai SUV berukuran menengah di jajaran lini produk Subaru. Dia berada di atas Subaru Crosstrek dan di bawah Subaru Ascent (tidak dipasarkan resmi di Indonesia). Dibandingkan kompetitornya yang memiliki spesifikasi hampir sama, Forester terbaru ini lebih pendek 8,5 sentimeter (cm) dibandingkan Mazda CX-60.

    AXL mendapat giliran menjajal langsung Forester generasi keenam ini pada pekan terakhir September lalu. Kesan pertama saat melihat SUV berkapasitas lima tempat duduk ini adalah garis-garis desainnya yang lebih tegas dan solid dibandingkan generasi sebelumnya sehingga mengesankan tampilan lebih gagah.

    Perubahan terbesar terletak pada garis bodi sampingnya yang tadinya cenderung merunduk landai ke depan menjadi lebih mendatar dari belakang ke depan. Alhasil, moncongnya menjadi lebih mendongak dan dihiasi gril yang lebih besar.

    Tidak mencolok

    Walaupun membawa kesegaran, desain mobil ini tetap mempertahankan DNA Forester yang memilih siluet sederhana dan tidak mencolok. Tidak ada kecenderungan untuk membuat mobil tampil futuristik secara berlebihan. Strategi desain ini membuat tampilan Forester cenderung ”awet” dan ”dewasa”.

    Kebersahajaan ini berlanjut ke interior. Desain roda kemudi dan dasbor secara keseluruhan terkesan semenjana, tidak neko-neko. Roda kemudinya berbentuk bundar sempurna, sementara penataan kluster instrumen dan garis-garis dasbornya masih ”lazim”-nya mobil biasa. Bahkan, pada varian Forester 2.5i-S EyeSight yang masuk ke Indonesia ini, kluster instrumen masih mengandalkan jarum-jarum analog. Sebuah fitur yang semakin langka pada mobil baru dewasa ini yang berlomba-lomba memaksimalkan layar digital.

    Bahan pelapis dasbor, pelapis pintu bagian dalam (door trim), dan jok kursi juga tidak menggunakan material atau warna yang aneh-aneh. Warna abu-abu gelap mendominasi interior. Di beberapa bagian dasbor bahkan masih ada material plastik keras tanpa pelapis empuk (soft touch).

    Hanya dalam brosur resmi mobil ini disebutkan adanya pilihan warna coklat untuk pelapis jok, door trim, dan konsol tengah. Pilihan warna interior ini hanya tersedia di Forester dengan warna eksterior Crystal Black Silica dan Brilliant Bronze Metallic.

    Meski tampil sederhana, bukan berarti mobil ini ketinggalan dalam soal teknologi. Dimulai dari desain kursi depannya yang menggunakan teknologi medical ergonomic seat. Rancangan jok ini dikembangkan bersama institusi medis di Jepang dengan meriset pola pergerakan tubuh manusia saat berkendara.

    Hasilnya adalah kursi yang dirancang lebih menopang tulang panggul dan punggung bawah, mengurangi tekanan di bagian leher dan pinggang, menjaga postur tubuh tetap ideal sepanjang perjalanan, dan alhasil mengurangi rasa pegal saat duduk dalam waktu lama. Oleh Subaru Indonesia, kursi ini dinamai ”jok antipegal”.

    Saat menjajal mengendarai Forester ini selama lebih dari dua jam nonstop, terbukti kursi tersebut bisa menopang tubuh dengan baik. Dipadukan dengan putaran roda kemudi yang ringan dan ergonomi posisi memegang roda kemudi, mengendarai mobil ini dalam waktu lama menjadi tidak melelahkan.

    Teknologi modern

    Teknologi canggih lainnya adalah driver monitoring system (DMS) yang berbasis teknologi pengenalan wajah pengemudi. Berdasarkan sejumlah parameter yang sudah diset saat membuat profil pengemudi, mobil bisa mengembalikan berbagai setelan, seperti pengaturan kaca spion luar, setelan audio, hingga AC sesuai dengan profil pengemudi. DMS ini juga disiplin mengingatkan pengemudi untuk selalu menjaga pandangan ke arah depan untuk menghindari distraksi.

    Sebagai mobil yang lahir pada abad ke-21, Subaru Forester terbaru ini juga dilengkapi layar infotainment digital berukuran 11,6 inci yang dipasang vertikal (posisi portrait). Berbagai kontrol fungsi mobil bisa diakses melalui layar ini, seperti AC, audio, dan peranti keselamatan aktif dan bantuan pengemudi EyeSight.

    Bedanya dengan layar kontrol di mobil-mobil modern lainnya, menu di layar Forester ini dibuat simpel. Hanya ada tiga submenu pada layar ini, yakni Vehicle Control, Driving Assistance, dan More Setting, dengan masing-masing submenu hanya berisi 2-6 perintah. Selain itu, ukuran huruf pada menu-menu tersebut juga dibuat besar sehingga mudah dikenali saat mata beralih sesaat melihat ke layar kontrol itu.

    Dua menu lainnya, yakni pilihan mode X-Mode untuk mengatur kemampuan offroad mobil dan pengaturan AC, dibikin tampil permanen di bagian atas dan bawah layar sehingga mudah diakses dan diatur secara intuitif.

    Namun, kesenangan berkendara Subaru Forester ini tetap berpusat pada sistem penggeraknya. Mesinnya kini menggunakan mesin berkode FB25 dengan empat silinder dalam konfigurasi Boxer (horizontally opposed). Kapasitasnya 2,5 liter (2.498 cc) yang mengeluarkan tenaga maksimum 185 PS pada putaran mesin 5.800 rpm dan torsi puncak 247 Nm pada 3.700 rpm.

    Tenaga mesin disalurkan ke empat roda melalui transmisi CVT Lineartronic yang bisa menyimulasikan pergantian ”gigi” manual 8 tingkat percepatan. Walau karakter CVT masih agak terasa saat akselerasi awal, secara keseluruhan akselerasi Forester baru ini terasa ringan dan linier. Meraih kecepatan tinggi di jalan tol juga tak butuh waktu terlalu lama.

    Selama pengujian, mobil diisi bensin beroktan 95 sesuai rekomendasi pabrik. Konsumsi bahan bakar dengan rute kombinasi berdasarkan perhitungan komputer mobil adalah 12 liter per 100 km, atau sekitar 8,3 km per liter. Namun dengan metode penuh ke penuh, konsumsi BBM-nya mencapai 9,4 km per liter. Angka yang wajar untuk mesin 2.500 cc.

    Saat jalanan aspal di depan habis dan hanya tersisa jalan tanah berbatu atau berlumpur, mobil ini masih bisa membawa penggunanya terus maju. Fitur X-Mode memberikan tiga pilihan mode berkendara, yakni Normal untuk jalanan beraspal normal, lalu mode Snow/Dirt untuk jalanan berlapis salju ringan dan jalan tanah berpasir, dan terakhir mode Deep Snow/Mud untuk jalanan berlapis salju tebal atau lumpur.

    Semua mode berkendara ini bisa diterapkan sembari kita menikmati suara sistem audio premium besutan Harman/Kardon dengan 11 pelantang suara (speaker) dan merasakan kelapangan dengan atap kaca panoramic sunroof yang bisa dibuka.

    Secara umum, mobil seharga Rp 735.500.000 (on the road, Jabodetabek) ini memiliki kemampuan yang mumpuni di balik tampilannya yang simpel. Jika Anda orang yang tak mau tampil mencolok, tidak neko-neko, dan mementingkan kebebasan bergerak, baik dalam keseharian maupun dalam petualangan di saat liburan, mobil ini bisa jadi pilihan yang tepat.

    Parfum AXL

  • Hidup Sedang Pahit, Carilah yang Manis

    Hidup Sedang Pahit, Carilah yang Manis

    Laburan tipis kecoklatan yang melapisi permukaan keik kuning keemasan itu terlihat menggiurkan. Ketika disuap, ia lumer tak berdaya di dalam mulut. Samar-samar, rasa manisnya terjejak gurih. Inilah nasi-uduk cheesecake. Begitulah, kini kudapan manis atau dessert yang digagas dengan pendekatan kontemporer menjadi kemewahan terjangkau kaum urban.

    Nasi-uduk cheesecake tersebut merupakan salah satu menu dessert yang hadir dalam Jakarta Dessert Week ke-6 yang digelar akhir Agustus hingga September lalu. Nyeleneh memang. Tapi, dessert eksperimental itu berhasil menerjemahkan makanan tradisional secara kontemporer. Nasi uduk dibaca sebagai konsep, ditafsir ulang, dan diwujudkan menjadi menu dessert.

    Mari lanjutkan pencicipan ini dengan elemen lain di sekitar keik tadi. Saus coklat kemerahan rupanya berperan seperti sambal, yang memberi sentilan pedas, asam, manis. Puncak kejutan apa lagi kalau bukan krim pastri bercita rasa nasi uduk. Istimewa, menilik racikan likat yang menyusupkan kegurihan semur itu ditingkahi sekelebat aroma jeruk nipis. Butiran crumble yang diracik dari bawang merah menyatu dengan sejumput kering kentang dan kacang tanah.

    Unik betul memang, peleburan kuliner yang sungguh kaya, seakan sepiring nasi uduk lengkap dengan lauk-pauk luruh di dalamnya. Sedikit bergeser dari ”khitah” kue keju, namun ajaibnya tercecap pas. Kelezatan ala Barat dan Timur itu yang disajikan estetik beralaskan daun pisang.

    Kudapan nasi-uduk cheesecake ini hasil kreasi Ryan Kim. Ia sebetulnya pusing tujuh keliling untuk memastikan komposisi paling klop. ”Susah banget, soalnya spesial. Belum pernah lihat nasi uduk jadi dessert (pencuci mulut). Kalau orang Indonesia sudah biasa makan nasi uduk,” ujar chef asal Korea Selatan ini.

    Jakarta Dessert Week (JDW) merupakan perhelatan tahunan yang sudah digelar sejak tahun 2019. Salah satu pendiri JDW, Tria Nuragustina, mengatakan, acara itu digagas berawal dari sekadar obrolan saat kumpul-kumpul kalangan pelaku bisnis kuliner atau food and beverage.

    ”Kita lihat kalau di luar negeri, dessert itu selalu jadi bagian dari makan lengkap—ada appetizer, main course, lalu dessert. Tapi, di Indonesia, orang kebanyakan makan nasi goreng, lalu pulang, nggak makan dessert. Padahal, dessert itu punya nilai seni yang luar biasa. Dari situ kita ingin bikin festival yang benar-benar memberi panggung untuk dessert,” kata Tria.

    Tria menjelaskan, JDW sejak awal bukan sekadar bazar kuliner, melainkan restaurant week selama tiga minggu penuh. Puluhan restoran, toko kue, hingga kedai gelato yang terpilih diajak membuat menu limited edition yang hanya tersedia selama festival.

    Tim dari JDW mengurasi semua dessert yang diikutsertakan. Dengan demikian, peserta JDW ini berbasis kurasi, bukan keikutsertaan yang hanya sekadar berbayar. Total ada 44 peserta terkurasi dari jenama dessert, restoran, toko kue, dan toko es krim.

    Tria mengungkapkan, dibandingkan JDW tahun 2024 lalu, pendapatan (revenue) selama JDW 2025 kali ini meningkat 27 persen. Angka ini, menurut dia, cukup menjanjikan di tengah situasi ekonomi yang cenderung dingin stagnan.

    Bagi Tria, kekuatan JDW juga terletak pada posisinya sebagai affordable luxury, kemewahan yang terjangkau. ”Di tengah ekonomi yang turun, dessert bisa jadi affordable luxury. Di resto, harga dessert lebih terjangkau dibanding main course (makanan utama), tapi tetap kasih rasa spesial. Jadi, orang tetap bisa menikmati pengalaman kuliner yang menyenangkan tanpa keluar biaya besar,” imbuh Tria.

    Fenomena dessert di kota seperti Jakarta beberapa tahun terakhir ini rupanya juga memengaruhi minat anak muda untuk bersekolah mengambil jurusan pastri. Hal itu diungkapkan oleh Anton Hamdali dari marketing communication perwakilan Le Cordon Bleu (LCB) di Indonesia. Menurut dia, gejala minat itu sudah tampak sebelum pandemi. Setelah pandemi, minat anak-anak muda lulusan SMA untuk sekolah pastri di LCB di sejumlah negara meningkat nyata.

    ”Setelah Covid, definitely lebih banyak lagi, baik laki-laki maupun perempuan. Dari Indonesia kebanyakan masih ke LCB di Australia,” kata Anton.

    Meski sudah memperluas festival hingga terselenggara di Bandung dan Medan, visi JDW tetap jelas, membawa Jakarta ke peta kuliner global. ”Kami ingin Jakarta ada di peta kuliner global, seperti Bangkok atau Kuala Lumpur. Tapi, pendekatannya tetap rooted in local. Misalnya, ada menu unik kayak nasi-uduk cheesecake. Orang mungkin mikir aneh, tapi ternyata enak banget. Jadi, ada kebanggaan lokal yang kita angkat,” papar Tria.

    Konsep kelokalan itulah yang kemudian mewujud menjadi aneka dessert kontemporer hasil penafsiran dari kuliner lokal atau tradisional. Selain nasi-uduk cheesecake tadi, ada pula dessert unik, yakni ginger and mung beans alias angsle karya Vivianatalia Simangunsong, sous chef dari ESA Restaurant di kawasan SCBD, Jakarta.

    Angsle tersebut dalam JDW 2025 memenangi Golden Swirl Awards untuk kategori Plated Dessert of the Year. Konsep segar yang ditonjolkan adalah menggabungkan hot and cold dan semprotan ekstrak jahe. Dinginnya didapatkan dari gelato ketan putih dan sensasi hangat dimunculkan dari busa (foam) jahe yang dituang di atas gelato.

    Sebelum dituangi busa jahe, bagian atas gelato disemprot ekstrak jahe. Ekstrak jahe ini memperkuat busa jahe dari segi aroma. Sementara busa jahe tampil ”hangat” saat sampai di kerongkongan. Baik angsle tradisional maupun dessert modern ini sama-sama memiliki aroma khas jahe. Eksplorasi teknik dalam kreasi ini membutuhkan keunggulan keterampilan tersendiri.

    Tema lokal

    Selama tiga tahun terakhir, JDW memang konsisten mengangkat tema lokal untuk dieksplorasi dengan pendekatan kontemporer. Cara ini mengangkat khazanah kuliner tradisional menjadi lebih modern dan selaras dengan lanskap internasional. Kuncinya di inovasi yang juga napas penting dalam JDW.

    ”Tiga tahun belakangan, kami selalu mendorong tema-tema yang punya nilai lokal. Tiga tahun lalu temanya cerita rakyat atau folklore, setahun lalu wildlife atau flora dan fauna Indonesia. Tahun ini kami memilih tribute to Jakarta, karena ingin produk pastri dan dessert di Jakarta punya pembeda berupa infusi unsur lokal,” tutur Tria.

    Bagi Tria, identitas lokal inilah yang akan membedakan Jakarta dengan kota lain. ”Kalau croissant di Jakarta sama saja dengan yang ada di Singapura, Bangkok, atau Kuala Lumpur, untuk apa orang jauh-jauh datang ke sini? Mereka pasti mencari sesuatu yang berbeda. Pariwisata tujuannya, kan, mengajak orang datang dan spending money. Jadi, kita harus punya sesuatu yang berbeda,” lanjutnya.

    ”Dessert hopping”

    Selain adanya penghargaan Golden Swirl Awards dalam 13 kategori, JDW 2025 lalu juga diwarnai dengan dessert hopping, jalan-jalan kuliner mencicipi dessert dari beberapa restoran terpilih. Grup-tur icip-icip ini memulai perjalanannya di Monas, akhir Agustus lalu.

    Dengan mengunjungi beberapa restoran dan kafe pilihan, pengunjung diajak mengenal Ibu Kota bukan hanya lewat cerita, melainkan juga lewat rasa. Oleh karena itu, JDW juga didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Jakarta.

    Dalam dessert hopping itu, peserta diajak singgah ke kafe Chicory di Menteng, Jakarta Pusat. Dari luar, bangunan kafe bergaya klasik Eropa itu langsung memancarkan nuansa hangat. Di dalam, aroma kopi berpadu dengan wangi butter dan gula panggang. Chef Priscilla Wignjopranoto memperkenalkan kreasi berjudul Tonkoko. Inspirasi menu ini datang dari kenangan masa kecilnya.

    ”Namanya Tonkoko, itu inspirasi dari jajanan tradisional yang saya suka makan waktu kecil, kue rangi atau kue pancong yang mirip-mirip itu. Tapi, ini kami kasih modern touch dengan memperkenalkan cream cheese dan tongkabiun,” ujar Priscilla.

    Tujuannya sederhana, memodernisasi camilan masa kecil tanpa mengubah rasa dasarnya. Hanya sedikit sentuhan tambahan agar jajanan yang akrab bisa tampil baru dan segar.

    Perjalanan kemudian berlanjut ke Kemang, Jakarta Selatan, yakni ke restoran Knots. Ruangannya lebih kontemporer, dengan meja kayu panjang, lampu temaram, dan musik yang mengalun pelan. Di sini, Chef Letare Ulima dan Chef Riesky Vernandes menafsirkan ulang dua kudapan, bolen dan kue rangi.

    ”Sebenarnya untuk Jakarta, kami memilih dua ikon, kue rangi dan bolen. Alasannya sederhana, karena kami dan partner sama-sama suka. Bedanya, kami ingin membuat ala Knots, yaitu patiseri,” kata Letare.

    Bolen mereka dimodifikasi. Pisangnya ditumis dulu dengan mentega (butter) lokal, menghasilkan aroma gurih yang lebih kaya. Sementara kue rangi diberi sentuhan teknik masak Perancis dan Italia. Ada cokelat, ada es krim, hingga lapisan saus dan kuah.

    Perjalanan icip-icip ini lalu berlabuh di di Natsuka Cafe, Cilandak, Jakarta Selatan. Di sini, Chef Keshia menamai kreasinya Miso no Shiro. Menu ini tidak sekadar manis, tetapi juga merupakan sebuah representasi visual. ”Miso no Shiro diciptakan untuk menangkap banyak layer. Karena kami ingin mempresentasikan banyaknya layer di Jakarta yang modern dan minimalis,” ucap Keshia.

    Dalam satu piring terdapat kombinasi tekstur: lapisan silky mousse, renyah dari crunchy crunch, manis legit dari sirup cokelat-putih, hingga sensasi dingin dari mousse beku. Menurut Keshia, Jakarta bukan hanya kota tradisi, melainkan juga pusat modernitas. ”Aku rasa sisi itu juga bisa ditangkap lewat dessert,” ujarnya.

    Begitulah kaum muda menafsir Jakarta dan mewujudkannya dalam kudapan manis. Melalui JDW, penyelenggara tengah berikhtiar membangun ekosistem dessert yang khas dalam industri kuliner di Jakarta.

    Meski ekonomi tengah kurang bergairah, kudapan manis setidaknya bisa menjadi penghiburan sejenak bagi lidah yang mungkin sudah lelah untuk mengeluh.

    Parfum AXL

  • 5 Retouch Hack yang Wajib Dicoba Pemula, Make-up Makin On Level!

    5 Retouch Hack yang Wajib Dicoba Pemula, Make-up Makin On Level!

    Jakarta – Make-up yang flawless di pagi hari sering kali jadi tantangan besar untuk tetap bertahan hingga sore. Aktivitas seharian, mulai dari kerja, assembly, hingga nongkrong bareng teman, bisa bikin wajah jadi cepat berminyak atau make-up perlahan luntur. Akhirnya, penampilan jadi kurang maksimal dan bikin rasa percaya diri ikut berkurang.
    Nah, di sinilah pentingnya retouch make-up. Bukan berarti harus complete make-up ulang, tapi cukup dengan beberapa trik sederhana untuk menyegarkan tampilan. Dengan cara yang tepat, make-up bisa kembali segar, rapi, dan terlihat herbal seakan baru dipoles. Retouch yang benar juga bisa mencegah hasil make-up terlihat cakey atau terlalu tebal.

    Buat kamu yang masih pemula, retouch make-up sebenarnya gampang banget dilakukan. Kuncinya ada di pemilihan produk yang tepat dan langkah-langkah simpel agar hasilnya tetap awet. Yuk, simak pointers berikut untuk bikin make-up kamu tetap on level sepanjang hari tanpa drama luntur.
    Bersihkan Minyak Berlebih
    Kilap di space T-zone atau pipi bisa bikin make-up terlihat berat atau cakey. Sebelum retouch, tekan perlahan dengan tisu atau blotting paper untuk menyerap minyak berlebih. Wajah yang bebas kilap membuat langkah selanjutnya lebih maksimal.
    Perbaiki Noda dengan Concealer
    Noda baru atau space kusam bisa muncul seiring aktivitas sehari-hari. Gunakan concealer tipis-tipis dengan sponge atau brush untuk menutupnya. Hasilnya tetap herbal dan riasan tidak terlihat tebal.
    Set Make-up dengan Bedak Tipis
    Setelah concealer, tepuk bedak tipis di space yang sudah dibersihkan minyaknya. Gunakan puff atau brush, jangan digesek, agar make-up tetap di tempatnya dan terlihat halus.

    Segarkan Warna Bibir
    Bibir kehilangan warna setelah makan atau minum? Tambahkan lip balm atau lip tint ringan agar bibir tetap lembap dan warnanya kembali segar.
    Trik Tambahan untuk Wajah Matte Sepanjang Hari
    Menurut Dr. Dray, seorang dermatologis asal Amerika, penggunaan oil keep an eye on paper tidak merangsang kulit memproduksi lebih banyak minyak. Produk ini efektif menyerap kelebihan sebum tanpa mengganggu keseimbangan alami kulit.
    Maka dari itu, bawa selalu oil keep an eye on paper di tas untuk menyerap minyak berlebih kapan saja, menjaga wajah tetap segar tanpa merusak riasan. Cocok untuk pemula maupun mereka yang aktif seharian.

    Parfum AXL

  • Dari Evaluation Konsumen hingga Knowledge Tren, Sociolla Award 2025 Jadi Tolok Ukur Industri Kecantikan

    Dari Evaluation Konsumen hingga Knowledge Tren, Sociolla Award 2025 Jadi Tolok Ukur Industri Kecantikan

    Jakarta – Growthmates, Sociolla resmi meluncurkan Sociolla Award 2025, ajang penghargaan kecantikan tahunan yang sejak 2019 telah menjadi tolok ukur industri sekaligus panduan utama bagi attractiveness fanatic di Indonesia.
    Tahun ini, penghargaan bergengsi tersebut hadir dengan structure baru yang diawali dengan pengumuman 100 Hotlist, yakni daftar kurasi produk kecantikan dan perawatan diri terfavorit yang dipilih melalui proses seleksi ketat berbasis Actual Person Evaluations, Robust Logo Efficiency, serta analisis tren dari SOCO Perception Manufacturing unit.
    Ghea Yantra, SVP Advertising and marketing Operations Social Bella, menuturkan bahwa perjalanan satu dekade Sociolla telah membentuk fondasi kuat bagi inovasi di industri kecantikan.
    Ia menambahkan, konsistensi Sociolla dalam menghadirkan ekosistem yang relevan bagi konsumen sekaligus model spouse menjadi kunci keberhasilan perusahaan hingga kini.
    “Sepuluh tahun perjalanan Sociolla mengajarkan kami pentingnya menghadirkan pengalaman yang relevan dan inovatif, bagi konsumen juga model spouse. Sejak 2019, Sociolla Award menjadi bentuk apresiasi atas pertumbuhan industri kecantikan, merayakan inovasi, kampanye, serta kualitas brand-brand terbaik,” terang Ghea, saat Press Convention Kick-Off Sociolla Award 2025 yang digelar di Jakarta, Senin (29/9/2025).
    “Tahun ini, kami kembali mengajak seluruh attractiveness fanatic Indonesia untuk berpartisipasi agar Sociolla Award terus menjadi tolok ukur yang relevan, kredibel, sekaligus panduan tepercaya bagi attractiveness fans dalam menemukan produk terbaik sesuai tren dan kebutuhan mereka,” sambung Ghea.

    Kurasi Ketat 100 Hotlist
    Menurut Ghea, kehadiran 100 Hotlist menjadi pembeda utama Sociolla Award 2025. Produk yang masuk daftar eksklusif ini dipilih melalui tiga pilar utama.
    “Pertama, produk harus memiliki ranking minimum 4,5 dari assessment pengguna aktif SOCO App yang berasal dari transaksi riil di ekosistem omnichannel Sociolla. Kedua, performa model sepanjang Juli 2024–Juni 2025, tidak hanya dari sisi penjualan tapi juga popularitas dan konsistensi model. Ketiga, pemilihan produk divalidasi oleh knowledge dan analisis tren dari SOCO Perception Manufacturing unit, pusat riset konsumen milik Social Bella,” jelasnya.
    Hanya produk dalam 100 Hotlist yang berhak mengikuti vote casting untuk memenangkan Sociolla Award 2025.

    Parfum AXL