Membeli sebuah mobil, pada hakikatnya, adalah membeli kebebasan. Kebebasan untuk bepergian ke mana pun dan kapan pun kita mau. Beberapa mobil kemudian memberikan bonus berupa kemampuan untuk pergi lebih jauh menerabas rintangan yang tak bisa dilalui mobil kebanyakan.
Salah satu merek yang memberikan ”bonus” itu adalah Subaru. Dengan pengalaman panjangnya memproduksi mobil berpenggerak empat roda (all wheel drive/AWD), Subaru membuka kemungkinan penjelajahan yang lebih luas bagi para penggunanya.
Apalagi di era SUV (sport utility vehicle) saat ini, pabrikan asal Jepang itu ingin menegaskan tekadnya sebagai produsen SUV terkemuka. Citranya di masa lalu yang identik dengan motorsport dan mobil reli hendak digeser dengan citra produk-produk SUV-nya.
Dari sembilan model yang saat ini dipasarkan Subaru di pasar global, lima model adalah SUV atau crossover SUV. Bahkan model Subaru Outback, yang dulu berbentuk mobil station wagon atau estate berkolong rendah, kini pun berubah menjadi sebuah crossover SUV berkolong tinggi.
Di Tanah Air, produk terbaru Subaru adalah Subaru Forester generasi keenam yang diluncurkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, akhir Juli silam. Walau masih mengandalkan dua keunggulan utama Subaru, yakni mesin berkonfigurasi Boxer dan sistem Symmetrical AWD, Forester baru ini membawa kesegaran dengan desain yang lebih gagah dan mesin baru.
Dengan dimensi panjang 4,655 meter (m), lebar 1,830 m, dan tinggi 1,730 m, Forester menempati posisi sebagai SUV berukuran menengah di jajaran lini produk Subaru. Dia berada di atas Subaru Crosstrek dan di bawah Subaru Ascent (tidak dipasarkan resmi di Indonesia). Dibandingkan kompetitornya yang memiliki spesifikasi hampir sama, Forester terbaru ini lebih pendek 8,5 sentimeter (cm) dibandingkan Mazda CX-60.
AXL mendapat giliran menjajal langsung Forester generasi keenam ini pada pekan terakhir September lalu. Kesan pertama saat melihat SUV berkapasitas lima tempat duduk ini adalah garis-garis desainnya yang lebih tegas dan solid dibandingkan generasi sebelumnya sehingga mengesankan tampilan lebih gagah.
Perubahan terbesar terletak pada garis bodi sampingnya yang tadinya cenderung merunduk landai ke depan menjadi lebih mendatar dari belakang ke depan. Alhasil, moncongnya menjadi lebih mendongak dan dihiasi gril yang lebih besar.
Tidak mencolok
Walaupun membawa kesegaran, desain mobil ini tetap mempertahankan DNA Forester yang memilih siluet sederhana dan tidak mencolok. Tidak ada kecenderungan untuk membuat mobil tampil futuristik secara berlebihan. Strategi desain ini membuat tampilan Forester cenderung ”awet” dan ”dewasa”.
Kebersahajaan ini berlanjut ke interior. Desain roda kemudi dan dasbor secara keseluruhan terkesan semenjana, tidak neko-neko. Roda kemudinya berbentuk bundar sempurna, sementara penataan kluster instrumen dan garis-garis dasbornya masih ”lazim”-nya mobil biasa. Bahkan, pada varian Forester 2.5i-S EyeSight yang masuk ke Indonesia ini, kluster instrumen masih mengandalkan jarum-jarum analog. Sebuah fitur yang semakin langka pada mobil baru dewasa ini yang berlomba-lomba memaksimalkan layar digital.
Bahan pelapis dasbor, pelapis pintu bagian dalam (door trim), dan jok kursi juga tidak menggunakan material atau warna yang aneh-aneh. Warna abu-abu gelap mendominasi interior. Di beberapa bagian dasbor bahkan masih ada material plastik keras tanpa pelapis empuk (soft touch).
Hanya dalam brosur resmi mobil ini disebutkan adanya pilihan warna coklat untuk pelapis jok, door trim, dan konsol tengah. Pilihan warna interior ini hanya tersedia di Forester dengan warna eksterior Crystal Black Silica dan Brilliant Bronze Metallic.
Meski tampil sederhana, bukan berarti mobil ini ketinggalan dalam soal teknologi. Dimulai dari desain kursi depannya yang menggunakan teknologi medical ergonomic seat. Rancangan jok ini dikembangkan bersama institusi medis di Jepang dengan meriset pola pergerakan tubuh manusia saat berkendara.
Hasilnya adalah kursi yang dirancang lebih menopang tulang panggul dan punggung bawah, mengurangi tekanan di bagian leher dan pinggang, menjaga postur tubuh tetap ideal sepanjang perjalanan, dan alhasil mengurangi rasa pegal saat duduk dalam waktu lama. Oleh Subaru Indonesia, kursi ini dinamai ”jok antipegal”.
Saat menjajal mengendarai Forester ini selama lebih dari dua jam nonstop, terbukti kursi tersebut bisa menopang tubuh dengan baik. Dipadukan dengan putaran roda kemudi yang ringan dan ergonomi posisi memegang roda kemudi, mengendarai mobil ini dalam waktu lama menjadi tidak melelahkan.
Teknologi modern
Teknologi canggih lainnya adalah driver monitoring system (DMS) yang berbasis teknologi pengenalan wajah pengemudi. Berdasarkan sejumlah parameter yang sudah diset saat membuat profil pengemudi, mobil bisa mengembalikan berbagai setelan, seperti pengaturan kaca spion luar, setelan audio, hingga AC sesuai dengan profil pengemudi. DMS ini juga disiplin mengingatkan pengemudi untuk selalu menjaga pandangan ke arah depan untuk menghindari distraksi.
Sebagai mobil yang lahir pada abad ke-21, Subaru Forester terbaru ini juga dilengkapi layar infotainment digital berukuran 11,6 inci yang dipasang vertikal (posisi portrait). Berbagai kontrol fungsi mobil bisa diakses melalui layar ini, seperti AC, audio, dan peranti keselamatan aktif dan bantuan pengemudi EyeSight.
Bedanya dengan layar kontrol di mobil-mobil modern lainnya, menu di layar Forester ini dibuat simpel. Hanya ada tiga submenu pada layar ini, yakni Vehicle Control, Driving Assistance, dan More Setting, dengan masing-masing submenu hanya berisi 2-6 perintah. Selain itu, ukuran huruf pada menu-menu tersebut juga dibuat besar sehingga mudah dikenali saat mata beralih sesaat melihat ke layar kontrol itu.
Dua menu lainnya, yakni pilihan mode X-Mode untuk mengatur kemampuan offroad mobil dan pengaturan AC, dibikin tampil permanen di bagian atas dan bawah layar sehingga mudah diakses dan diatur secara intuitif.
Namun, kesenangan berkendara Subaru Forester ini tetap berpusat pada sistem penggeraknya. Mesinnya kini menggunakan mesin berkode FB25 dengan empat silinder dalam konfigurasi Boxer (horizontally opposed). Kapasitasnya 2,5 liter (2.498 cc) yang mengeluarkan tenaga maksimum 185 PS pada putaran mesin 5.800 rpm dan torsi puncak 247 Nm pada 3.700 rpm.
Tenaga mesin disalurkan ke empat roda melalui transmisi CVT Lineartronic yang bisa menyimulasikan pergantian ”gigi” manual 8 tingkat percepatan. Walau karakter CVT masih agak terasa saat akselerasi awal, secara keseluruhan akselerasi Forester baru ini terasa ringan dan linier. Meraih kecepatan tinggi di jalan tol juga tak butuh waktu terlalu lama.
Selama pengujian, mobil diisi bensin beroktan 95 sesuai rekomendasi pabrik. Konsumsi bahan bakar dengan rute kombinasi berdasarkan perhitungan komputer mobil adalah 12 liter per 100 km, atau sekitar 8,3 km per liter. Namun dengan metode penuh ke penuh, konsumsi BBM-nya mencapai 9,4 km per liter. Angka yang wajar untuk mesin 2.500 cc.
Saat jalanan aspal di depan habis dan hanya tersisa jalan tanah berbatu atau berlumpur, mobil ini masih bisa membawa penggunanya terus maju. Fitur X-Mode memberikan tiga pilihan mode berkendara, yakni Normal untuk jalanan beraspal normal, lalu mode Snow/Dirt untuk jalanan berlapis salju ringan dan jalan tanah berpasir, dan terakhir mode Deep Snow/Mud untuk jalanan berlapis salju tebal atau lumpur.
Semua mode berkendara ini bisa diterapkan sembari kita menikmati suara sistem audio premium besutan Harman/Kardon dengan 11 pelantang suara (speaker) dan merasakan kelapangan dengan atap kaca panoramic sunroof yang bisa dibuka.
Secara umum, mobil seharga Rp 735.500.000 (on the road, Jabodetabek) ini memiliki kemampuan yang mumpuni di balik tampilannya yang simpel. Jika Anda orang yang tak mau tampil mencolok, tidak neko-neko, dan mementingkan kebebasan bergerak, baik dalam keseharian maupun dalam petualangan di saat liburan, mobil ini bisa jadi pilihan yang tepat.









