Kategori: tren bisnis parfum

  • Gado-gado Rp 483.000 di Geneva, Hidup yang Tak Terbeli di Jakarta

    Gado-gado Rp 483.000 di Geneva, Hidup yang Tak Terbeli di Jakarta

    Di Geneva, sepiring gado-gado Rp 483.000. Tapi, biaya hidup selangit di kota termahal di dunia ini terbayar dengan kualitas hidup baik. Bagaimana dengan di Jakarta?

    Di tepi Danau Geneva, deretan toko mewah berjajar dengan etalasenya menampilkan jenama jam-jam tangan berkilau seharga mobil, bahkan bisa seharga rumah di Indonesia. Kafe-kafe penuh pekerja muda menyesap espreso dengan santai, seolah harga secangkir kopi yang mencapai Rp 150.000 itu seperti recehan.

    Sepiring gado-gado di kota ini sekitar Rp 483.000. Ditambah tempe goreng jadi Rp 643.000 dan dengan segelas es cincau menjadi Rp 800.000. Dari rasa mungkin biasa saja. Bahkan, bagi lidah orang Jakarta yang terbiasa pedas, gado-gado tukang gerobak pinggir jalan mungkin lebih enak.

    Namun, itulah harga yang ditawarkan salah satu dari dua restoran yang menjual menu Indonesia di kota Geneva, Swiss. Harga itu pun termasuk pasaran. Makan malam lengkap, termasuk minum dan menu penutup, di restoran biasa di kota ini rata-rata seharga CHF 50 atau Rp 1 juta lebih.

    Nilai rupiah memang seperti tak berharga di kota ini mengingat nilai tukarnya yang rendah. Pada Senin (18/8/2025), 1 CHF (franc Swiss) setara dengan Rp 20.086,86.

    Bahkan, buck AS juga tak berkutik di Geneva. ”Ini kota paling mahal. Sebagai New Yorker, mesti berhemat kalau ke Geneva,” kata Alexandra Golden, dari New York, Amerika Serikat, yang berada di Geneva untuk mengikuti perundingan plastik di Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

    Menurut Alexandra, harga makanan di Geneva bisa 1,5 kali lebih mahal daripada di New York, yang dikenal sebagai salah satu kota paling mahal di Amerika.

    Di Jakarta, uang sebesar itu bisa membeli gado-gado segerobak, tetapi udara bersih, transportasi tepat waktu, dan rasa aman tetap tak terbeli.

    Itulah Geneva, kota termahal di dunia selain Zurich, juga di Swiss. Menurut Mercer Value of Dwelling Index 2025, harga sewa apartemen satu kamar di pusat kota Geneva bisa menembus CHF 2.500 atau sekitar Rp 45 juta in line with bulan.

    Adapun menurut information Skyscanner, harga rata-rata in line with malam kamar di resort bintang 3 di Geneva sekitar Rp 2.999.888. Harga termurah yang ditemukan dari beberapa pencarian adalah sekitar Rp 1.297.248, itu tanpa sarapan.

    Transportasi free of charge, udara bersih

    Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa Geneva menjadi kota termahal. Pertama, krisis perumahan karena besarnya permintaan dibandingkan bangunan terbangun. Di Geneva, apartemen jarang kosong dan antrean sewa bisa memakan waktu berbulan-bulan.

    Kedua, biaya tenaga kerja tinggi. Upah minimal casual di Swiss sangat tinggi, membuat harga jasa ikut melambung. Ketiga, mata uang franc Swiss yang kuat, membuat harga-harga domestik terasa semakin tinggi bagi orang asing.

    Meski begitu, mahalnya biaya hidup tak membuat Geneva sepi peminat. Justru sebaliknya. Geneva adalah rumah bagi PBB, WHO, dan sekitar 200 organisasi internasional lain. Kota ini, bersama Zurich, juga menjadi pusat finansial Eropa, dengan bank-bank raksasa yang menjadi jantung ekonomi international.

    Arus ekspatriat, diplomat, dan profesional internasional terus berdatangan, menjaga roda ekonomi dua kota ini tetap berputar. Bahkan, turis pun tak kurang banyaknya. Menurut laporan Forbes pada Mei 2025, Geneva menerima lebih dari 8 juta turis in line with tahun, angka yang luar biasa mengingat luas kota hanya 15,9 kilometer persegi. Ini menempatkan Geneva di peringkat teratas sebagai destinasi kota yang paling dibanjiri turis in line with unit space, mengalahkan kota-kota seperti Paris dan Roma.

    Sekalipun biaya makan dan penginapan di Geneva tergolong mahal, Pemerintah Geneva memiliki kebijakan unik untuk meringankan beban wisatawan, yaitu dengan menggratiskan transportasi umumnya.

    Wisatawan yang datang ke Geneva otomatis menerima ”Geneva Delivery Card” secara free of charge selama menginap di akomodasi yang terdaftar seperti resort, hostel, bahkan kamping resmi. Kartu ini memberi akses tak terbatas ke seluruh jaringan kereta api dari dan ke bandara, serta seluruh moda transportasi umum di dalam kota, meliputi bus, trem, kereta, bahkan kapal selama masa inap.

    Kartu virtual ini biasa dikirim melalui electronic mail sekitar tiga hari sebelum kedatangan atau bisa diserahkan saat check-in. Sementara jika mesti membeli kartu transportasi umum harian di Geneva, harganya sekitar CHF 10 atau sekitar Rp 200.000.

    Kartu transportasi ini lahir dari kolaborasi antara Geneva Tourism & Congress dan penyedia akomodasi resmi yang terdaftar. Melalui pungutan pajak wisata, pemerintah kota mendanai sistem transportasi dan memberikan kartu ini sebagai insentif fasilitas mobilitas yang bebas hambatan kepada pengunjung sekaligus mendorong penggunaan moda transportasi yang ramah lingkungan.

    Dengan memperbanyak transportasi umum berbasis listrik, selain mengurangi penggunaan pembangkit listrik fosil, kota ini memiliki kualitas udara yang lebih bersih dibandingkan banyak kota Eropa lain, meski bukan yang paling bersih.

    Rata-rata konsetrasi PM 2.5 tahunan di metropolitan Geneva sekitar 13,7 µg/m³, jauh di bawah batas maksimum Uni Eropa sebesar 25 µg/m³. Bandingkan misalnya dengan kualitas udara di Jakarta yang rata-rata PM 2.5 tahunan mencapai 46,1 µg/m³.

    Berbeda dengan di Jakarta yang mobil listriknya kebanyakan disetrum dengan pembangkit listrik energi batubara, di Geneva sumber listriknya mayoritas dari energi terbarukan.

    Secara nasional, 75-80 persen listrik di Swiss berasal dari energi terbarukan, terutama dari pembangkit tenaga air yang mencapai 66 persen, dan energi terbarukan lain seperti sun, angin, biomassa berkisar 11-14 persen. Sisanya ditopang oleh nuklir sebesar 18-33 persen. Sementara sumber fosil sangat minim, hanya 1-2 persen. Khusus di kota Geneva, mereka menolak menggunakan energi fosil dan nuklir.

    Maka, menjelajah setiap sudut kota ini pun terasa lebih nyaman dan aman. Tinggal jalan kaki dua menit dari penginapan, kita bisa mengakses halte atau stasiun. Transportasi umum siap mengantar ke hampir semua tujuan itu tepat waktu. Tak ada kemacetan, bersesakan, dan udara kotor.

    Tak hanya kualitas udara, Geneva juga sangat bersih karena pengelolaan sampah yang sangat baik. Sejak 2022, Grand Council Geneva mewajibkan pemilahan sampah oleh warga, pelaku usaha, dan institusi publik. Pelanggaran bisa dikenai denda hingga CHF 200 untuk individu dan CHF 400 untuk perusahaan.

    Pemerintah Kota Geneva juga menerapkan sistem p’tite poubelle verte atau ”tempat sampah hijau kecil”, yang memungkinkan warga membuang limbah organik secara terpisah, yang kemudian diolah menjadi biogas dan kompos. Ini dilakukan guna mengurangi quantity sampah yang harus dibakar dengan goal mereka 25 persen pada 2025 dan meningkatkan tingkat daur ulang hingga 80 persen.

    Harga mahal di Geneva memang relatif, terutama bagi yang berduit. Fakta menunjukkan, Geneva masuk dalam lima terbaik destinasi Eropa 2024 menurut Eu Very best Locations, berdasarkan pemungutan suara lebih dari 1 juta orang dari 172 negara.

    Bahkan, di mata para pekerja asing, Geneva berada di peringkat ke-3 dalam survei kualitas hidup Mercer setelah Zurich dan Vienna. Mercer mengukur berdasarkan 39 faktor, mulai dari keamanan, layanan publik, kesehatan, pendidikan, rekreasi, hingga lingkungan alami.

    Harga tinggi, daya beli tinggi

    Tak hanya menarik di mata turis dan pendatang, warga kota Geneva pun puas dengan kualitas kehidupan mereka. Sekalipun menjadi kota termahal, tapi juga dianggap paling layak dihuni. Survei World Liveability Index 2025 (The Economist Intelligence Unit/EIU) menunjukkan, Geneva berada di peringkat ke-5 dalam indeks yang mencakup 173 kota dunia.

    Kota ini mencapai skor tinggi dalam kategori kesehatan, infrastruktur, pendidikan, lingkungan, dan stabilitas, dengan skor keseluruhan mencapai 96,8/100, hampir sempurna. Pendidikan dasar dan menengah di Geneva dimulai sejak usia 4 tahun hingga 15 atau 16 tahun, free of charge.

    Adapun kuliah di universitas publik, yang kualitasnya sangat baik, relatif murah dibandingkan Eropa lain. Biaya kuliah untuk warga Swiss dan penduduk tetap sebesar CHF 500-650 in line with semester, berkisar Rp 9 juta-Rp 12 juta. Beasiswa juga banyak tersedia.

    Di balik biaya hidup yang membuat jeri para pendatang dari negara lain, penduduk Geneva punya modal kuat untuk bertahan. Upah di negara ini juga termasuk yang tertinggi di dunia. Median gaji bulanan berada di kisaran CHF 6.500 atau lebih dari Rp 115 juta.

    Upah terendah yang berlaku di Geneva sejak 1 Januari 2025 mencapai CHF 24,48 in line with jam atau sekitar Rp 495.000 in line with jam. Jika dirata-rata, UMR di kota ini sebesar CHF 4.455 in line with bulan atau sekitar Rp 90 juta in line with bulan dengan beban kerja 42 jam in line with minggu.

    Seiring dengan besarnya penghasilan, pajak di Geneva juga tinggi, termasuk tertinggi di seluruh Swiss. Di luar pajak penghasilan federal yang berlaku di seluruh Swiss sebesar 11,5 persen dari pendapatan kena pajak, juga ada pajak lainnya.

    Dengan itu, sebagian besar warga mampu menutup biaya hidup sehari-hari. Sistem publik juga menopang: sekolah negeri free of charge dan berkualitas, transportasi umum andal, serta layanan kesehatan terjamin meski premi asuransinya tinggi.

    Kehidupan di kota mahal ini juga melahirkan strategi sehari-hari. Banyak keluarga memilih belanja ke grocery store diskon seperti Aldi atau Lidl, alih-alih toko top rate. Sebagian bahkan rutin menyeberang ke Perancis atau Jerman untuk membeli bahan makanan lebih murah. Makan di restoran setiap hari jelas bukan kebiasaan warga Swiss kebanyakan. Memasak di rumah jauh lebih masuk akal.

    ”Kota ini memang mahal, tetapi sebanding dengan kualitas hidup dan infrastuktur publiknya,” kata Rahyang Nusantara, Deputi Direktur Dietplastik Indonesia, yang berada di Geneva. ”Di sini aman, transportasi tepat waktu, melayani 24 jam. Air minum dari keran juga tinggal minum.”

    Geneva menunjukkan paradoks kota international: menjadi termahal sekaligus menawarkan standar hidup yang baik. Bagi penduduk lokal yang dibayar dengan standar gaji di sana, mahal pun terasa relatif. Kerja di sektor casual di sana sejam saja sudah cukup untuk membeli sepiring gado-gado itu.

    Pada akhirnya, gado-gado Rp 483.000 di Geneva bukan hanya cerita tentang makanan yang terasa mahal, melainkan juga simbol tentang bagaimana sebuah kota menata prioritasnya. Di Jakarta, uang sebesar itu bisa membeli gado-gado segerobak, tetapi udara bersih, transportasi tepat waktu, dan rasa aman tetap tak terbeli.

    Geneva memang mahal, tapi setiap franc kembali ke rakyatnya. Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia lebih murah, tetapi setiap hari kita membayar dengan kualitas hidup dan kesehatan yang memburuk. Yang jelas, kalau ke Geneva, jangan sekali-kali mencoba menghitung harga sepiring gado-gado dengan uang rupiah kita. Bakal enggak tega mengunyahnya.

    Parfum AXL

  • Singgah Sejenak di Kampung Stamplat Girang, Kabupaten Bandung

    Singgah Sejenak di Kampung Stamplat Girang, Kabupaten Bandung

    Selain bergantung pada hasil perkebunan seperti teh dan kopi, warga secara swadaya lantas mengembangkan kampung tempat tinggal mereka menjadi kampung wisata.

    Tanah masih terlihat basah oleh hujan saat mobil yang kami tumpangi berhenti di depan pintu masuk Kampung Stamplat Girang, Senin (11/8/2025). Gerimis sesekali masih turun saat kami mulai berjalan kaki menuju ke tengah-tengah perkampungan.

    Suasana kampung tampak meriah dengan beragam dekorasi untuk menyambut HUT Ke-80 Kemerdekaan RI. Umbul-umbul, bendera, bola-bola dan bentuk lampion dari plastik bernuansa merah putih menghiasi rumah-rumah warga.

    Di tengah kampung sejumlah warga tampak sibuk membuat dekorasi yang akan digunakan untuk pawai budaya merayakan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI. Mereka menggunakan bambu untuk membuat tandu. Di sebelahnya sebuah mobil bak terbuka yang sudah terpasang kerangka kayu berbentuk rumah.

    Kepala Dusun Kampung Stamplat Girang Dede Komarudin mengatakan, setiap tahun warganya sangat antusias untuk mengikuti pawai dan gelar budaya dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI. ”Selain pawai berkeliling desa bersama komunitas dari desa-desa lainnya, acara budaya juga digelar di tengah kampung,” ujar Dede.

    Kampung Stamplat Girang terletak di Desa Indragiri, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dari Kawah Putih Ciwidey masih berjarak sekitar 14 kilometer. Sementara dari kota Bandung menuju ke Stamplat Girang ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam menggunakan mobil.

    Lokasi kampung berjauhan dengan kampung lainnya dan berada di antara lembah serta di tengah-tengah perkebunan teh. Hal itu membuat kendaraan harus berjalan pelan saat menyusuri jalan tanah yang sempit dan berkelok-kelok.

    Dengan lebar jalan yang sebagian besar hanya seukuran satu mobil, membuat pengemudi mesti ekstra hati-hati terutama saat berpapasan dengan kendaraan lain.

    Pada awalnya kampung tersebut dikenal sebagai tempat pemberhentian truk atau mobil yang akan mengangkut kayu hutan. Banyak warga kampung yang bekerja membantu menebang kayu dan memindahkan ke truk sebelum dibawa ke kota.

    Namun, lambat laun pemanfaatan kayu hutan itu tidak diperbolehkan dan aktivitas pengangkutan kayu hutan pun berhenti.

    Dikelilingi hutan yang banyak ditumbuhi pohon jamuju dan perkebunan teh, Kampung Stamplat Girang terlihat mungil. Saat ini, terdapat 26 rumah dengan 33 kepala keluarga yang tinggal di Kampung Stamplat Girang.

    Selain bergantung pada hasil perkebunan seperti teh dan kopi, warga secara swadaya dan bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk Perhutani, lantas mengembangkan kampung tempat tinggal mereka menjadi kampung wisata.

    Diawali dengan menata kampung menjadi lebih rapi dan bersih, kemudian menyediakan lokasi untuk kemping, hingga menyediakan rumah tinggal warga yang dapat disewa atau beralih fungsi menjadi house keep jika ada pengunjung yang ingin menginap. Bermalam di kamar-kamar rumah warga dan berbaur dengan warga desa menjadi salah satu pengalaman yang ditawarkan di tempat ini.

    Untuk tetap menjaga kebersihan dan kenyamanan kampung, warga antara lain secara rutin bergantian membersihkan jalan kampung dan selokan yang mengalir di depan tiap-tiap rumah warga.

    Uniknya selokan-selokan di kampung ini selain mengalir air yang jernih juga dipenuhi dengan ikan koi.

    Dengan inisiatif yang kuat dan komitmen warga, Kampung Stamplat Girang dapat tumbuh dan menjadi inspiratif desa yang mengembangkan ekonomi lokal warganya berbasis pariwisata dan agro.

    Perkembangan desa wisata di Indonesia dalam satu dekade terakhir sangat menggembirakan. Setiap tahun kuantitas desa wisata di Indonesia juga meningkat secara signifikan.

    Tahun 2024 tercatat ada 6.016 desa wisata berkategori rintisan, berkembang, dan maju yang berpartisipasi aktif dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Jumlah desa wisata yang pada awal 2019 berjumlah 7.500 menjadi 27.000 desa wisata pada medio November 2024.

    Lingkungan desa wisata yang masih asri, didukung dengan ritme kehidupan yang alami serta budaya dan tradisi yang terjaga menjadi modal utama dalam menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna.

    Parfum AXL

  • Senandung Kebebasan dari Dublin

    Senandung Kebebasan dari Dublin

    Berada di Dublin, Irlandia, pada musim panas menawarkan kehangatan dan keleluasaan untuk menjelajahi warisan budaya yang hidup di kota itu.

    Berada di jantung kota Dublin tidak hanya dapat menikmati keindahan pemandangan alam dan deretan bangunan tua bersejarah. Ibu kota Irlandia tersebut juga membawa semangat kebebasan berekspresi hingga melahirkan sejumlah musisi kelas dunia.

    Langit di Kota Dublin, Irlandia, Minggu (22/6/2025), tertutup mendung. Saat membuka jendela kamar lodge, matahari masih bersembunyi di balik awan abu-abu. Melihat padatnya time table Konferensi Internasional Pengendalian Tembakau 2025, waktu senggang sepanjang pagi ini merupakan saat tepat untuk menelusuri pusat kota itu.

    Rintik hujan disertai angin kencang menyambut begitu keluar dari penginapan. Meski demikian, cuaca yang kurang bersahabat itu tidak menyurutkan hasrat untuk menjelajahi kawasan wisata budaya di sepanjang Sungai Liffey yang jernih airnya saat musim panas.

    Sungai Liffey membelah kota menjadi sisi utara dan selatan, dengan pusat kota berada di antara keduanya. Dublin mempertahankan nuansa masa lalu dengan elemen kota dari zaman Viking, dari kastil Dublin hingga monumen penghormatan para penulis Irlandia.

    Salah satu keuntungan berada di Dublin adalah banyak hal bisa dilakukan dengan berjalan ataupun transportasi publik. Dengan wilayah tak terlalu luas, sekitar 115 kilometer persegi atau seperenam dari Ibukota Jakarta, disertai kekayaan sejarah dan bangunan-bangunan bersejarah nan indah, ada banyak hal untuk dilihat di tiap sudut kota.

    Untuk menjangkau berbagai sudut kota, tersedia bus dan tram dengan tarif harian ataupun berlangganan. Ada juga bus wisata yang siap mengantarkan kita menuju tempat-tempat wisata dan ikonik di Dublin selama 24 jam dengan tarif berkisar 25 euro. Jika ingin lebih leluasa sekaligus berolahraga, bisa juga berkeliling kota menggunakan sepeda yang disewakan di jalur khusus sepeda.

    Setelah melangkah beberapa meter dari lodge, pandangan mata pun tertuju ke seberang jalan, tepatnya jembatan Ha’penny, yang menghubungkan dua sisi Sungai Liffey. Setelah melintasi sungai melalui jembatan, tampak deretan toko suvenir, butik, kafe, bar, dan galeri budaya. Mural menghiasi dinding bangunan di jalan berbatu.

    Di sudut jalan, banyak turis berfoto di depan salah satu pub tertua di Dublin, yakni Temple Bar, yang beroperasi sejak tahun 1840. Bagian luar bangunan itu berbahan kayu warna merah, dihiasi lampu-lampu antik dan keranjang gantung dengan bunga warna-warni.

    Distrik Temple Bar yang ramai tak hanya menjadi surga belanja suvenir dan minum. Di sekitar Sungai Liffey itu, kita bisa mengunjungi beberapa museum dan bangunan bersejarah, antara lain Museum Whiskey Irlandia, Gudang Guiness, dan bangunan Kastil Dublin.

    Selama berabad-abad, Kastil Dublin yang dibangun pada awal abad ke-13 di lokasi permukiman Viking, berfungsi sebagai pusat pemerintahan Inggris, lalu Britania Raya di Irlandia. Pada 1922, setelah kemerdekaan Irlandia, kastil itu jadi kompleks pemerintahan dan obyek wisata utama.

    Saat hari beranjak siang, kawasan wisata itu makin ramai. Para turis dan warga setempat memadati restoran, kafe, dan bar untuk menyantap hidangan ataupun minum untuk melepas dahaga sambil berbincang dan menikmati alunan musik. Di sudut jalan, musisi jalanan menyanyikan lagu sambil memainkan gitar ataupun alat musik tradisional Irlandia.

    Warisan musik Dublin sama legendarisnya dengan warisan sastranya, membuat kota ini jauh melampaui ekspektasi di kancah internasional. Bagi pencinta musik, salah satu tempat yang patut dikunjungi adalah Museum Rock and Roll Irlandia.

    Di tempat itu, kita bisa menelusuri semua hal terkait industri musik Irlandia lebih dari setengah abad terakhir. Sebelum memasuki museum, sungguh sayang jika melewatkan kesempatan untuk berfoto di dinding luar museum yang bertuliskan Wall of Popularity Dublin.

    Dinding bagian luar museum tersebut bercat merah dan hitam dengan jendela-jendela kaca berbentuk segi empat yang lebar. Di jendela-jendela kaca itu, terpampang foto-foto diri dan sampul album beberapa penyanyi dan musisi Irlandia antara lain Sinead O’Connor, Eric Bell, pendiri grup musik Skinny Lizzy, dan grup rock Indie Pillow Queens.

    Untuk mengikuti tur berpemandu di museum itu, pengunjung mesti membayar tiket masuk 26 euro. Setelah antre masuk museum selama 30 menit, Anto, perempuan asal Chile, pun menghampiri dan memandu berkeliling museum tersebut.

    Eksplorasi sejarah musik

    Ini tak sekadar kunjungan museum biasa, tetapi perjalanan interaktif ke jantung budaya musik Dublin yang berkembang pesat. Tempat yang berdiri sejak tahun 2015 ini penuh dengan memorabilia dan foto-foto autentik yang menghidupkan kembali legenda musik Irlandia.

    Saat menelusuri lorong-lorong kompleks musik yang berperan dalam karier para seniman Irlandia, seolah terhubung dengan sejarah musik rock Irlandia sejak 1970-an hingga kini. Apalagi saat berada di ruangan sama yang dulu kerap dikunjungi para musisi pencetak sejarah musik.

    Perjalanan diawali dengan menuruni tangga menuju ruang bawah tanah yang gelap. Di salah satu ruangan, terpajang pelat-pelat piringan hitam karya musisi terkemuka Irlandia mulai dari Gary Moore hingga Enya, dan memorabilia legenda musik seperti keyboard dan gitar.

    Ada sudut khusus untuk mengenang Rorry Gallagher, musisi, penyanyi, dan penulis lagu rock asal Irlandia yang dijuluki sebagai dewa gitar. Sejumlah gitar miliknya dipajang di kotak kaca dilengkapi lukisannya dan video yang memutar pementasan musiknya.

    Tak hanya pelat-pelat piringan hitam dan alat musik, di ruangan itu juga terdapat foto-foto autentik Rorry Gallagher. Foto-foto berwarna hitam-putih disertai dengan video yang merekam aksi panggung musisi legendaris tersebut.

    Evy Rachmawati
    Anto, pemandu, sedang menjelaskan mengenai koleksi Museum Rock and Roll Irlandia, kepada rombongan wisatawan, di Kota Dublin, Irlandia, Minggu (22/6/2025).

    Selanjutnya, pengunjung diajak memasuki ruang pameran band U2. Ada settee, foto-foto lama, piringan hitam, tiket dari masa awal U2 dikenal, jaket coklat besar generation ’80-an, seperangkat alat musik band, dan memorabilia lain yang menggambarkan perjalanan grup tersebut.

    Di ruang bercermin yang dirancang untuk bermain musik bersama itu, Anto mengajak pengunjung memainkan alat musik demi merasakan sensasi pengalaman rock and roll. Beberapa pria pun mencoba memainkan drum. ”Saya berkunjung ke sini karena suka musik,” tutur Mai, pengunjung dari Jerman.

    Saya berkunjung ke sini karena suka musik.

    Sejenak merasakan sensasi bermain musik rock and roll, berada di ruangan yang sama di mana para musisi terkemuka pernah singgah. Tak perlu malu karena tak bisa memainkan alat musik. Sekadar menabuh drum ala kadarnya pun sudah menimbulkan rasa senang.

    Kemudian, tur berlanjut dengan menyaksikan pemutaran movie pendek dokumenter tentang evolusi musik rock di Irlandia dan musik sebagai jalinan kehidupan Irlandia di ruangan lain. Dalam 10 menit lebih, movie ini merekam jejak perkembangan karier beberapa musisi kenamaan Irlandia, termasuk Dubliners.

    Piringan hitam dan memorabilia para penyanyi dan musisi legendaris Irlandia terpajang di Museum Rock and Roll Irlandia, di Kota Dublin, Irlandia, pada Minggu (22/6/2025).

    Anto lalu membawa kami menaiki tangga menuju ruangan besar nan gelap di mana terdapat panggung musik, The Button Manufacturing unit. Menurut laman Dublin.ie, dulu tempat itu adalah pabrik pakaian dalam. Musisi Nile Rodgers dan Van Morrison pernah duduk di belakang panggung itu. ”Di sini biasa ada pentas musik,” ujarnya.

    Perjalanan menelusuri jejak industri musik di Irlandia berlanjut ke gedung di seberang museum, lokasi Temple Lane Recording Studios, studio musik di mana para musisi ternama merekam lagu. Di lantai atas, terdapat studio rekaman dan memorabilia beberapa artis kenamaan, seperti piyama dan jaket penyanyi Michael Jackson dan kostum panggung Sinead O’Connor.

    Semangat antikekerasan

    Dari tur ini tergambar semangat kesetaraan dan kebebasan dari segala bentuk kekerasan, ketidakadilan, serta penindasan, dalam berbagai karya musik yang dihasilkan para musisi Irlandia. Salah satunya adalah lagu U2 berjudul ”The place the Streets Have No Title”.

    I need to run, I need to cover/I wanna tear down the partitions that hang me inside of/I wanna succeed in out and contact the flame/The place the streets don’t have any title (Aku ingin lari, aku ingin bersembunyi/Aku ingin meruntuhkan tembok yang menahanku di dalam/Aku ingin meraih dan menyentuh api/Di mana jalanan tak bernama)

    Sepenggal lirik lagu ”The place the Streets Have No Title” dari band rock Irlandia, U2, ini menjadi lagu pembuka album mereka tahun 1987. Lagu ini menyuarakan kesetaraan melalui gagasan mengenai suatu tempat di mana standing sosial tak ditentukan alamat seseorang.

    Irlandia tak hanya dikenal sebagai tempat asal grup U2. Di museum itu juga terdapat memorabilia sejumlah penyanyi dan grup musik lainnya dari negeri itu yang mendunia antara lain musisi dan penyanyi blues Gary Moore, penyanyi Enya, Sinead O’Connor, band rock Cranberries, dan band beraliran people rock The Corrs.

    Band-band seperti The Chieftans dan Clannad pun meraih kesuksesan yang mendunia, membawa musik tradisional Irlandia. Musik Irlandia juga berpengaruh besar pada band seperti Skinny Lizzy dengan lagu hitsnya ”Whiskey in The Jar” dan jadi ikon rock and roll.

    Sementara lagu Cranberries, ”Zombie”, terinspirasi dari pengeboman di Warrington, Inggris, pada 1993 oleh Irish Republican Military, yang menewaskan dua anak. Lagu itu memprotes perang dan pelaku kekerasan diibaratkan zombie yang mengabaikan nyawa manusia.

    Plat piringan hitam karya Gary Moore dengan lagu ”After The Warfare” pun dipajang di dinding salah satu ruang museum. Lagu itu menyampaikan pesan rekonsiliasi, dengan menyoroti bagaimana perang meninggalkan luka pada individu, secara fisik dan emosional.

    …When the battles were gained?/inside of your lonely castle/the fight’s simply begun/after the battle/who will you preventing for (kapan perang dimenangkan?/dalam benteng kesepianmu/pertempuran baru dimulai/setelah perang/siapa yang akan kamu perjuangkan).

    Atmosfer musik yang kuat dan suasana kota yang hangat membuat Dublin menjadi salah satu tempat tujuan anak muda untuk melancong maupun bekerja. Dari Dublin, suara kebebasan dan kesetaraan pun menggaung hingga ke seluruh penjuru dunia.

    Parfum AXL

  • Bali yang Disimpan, Diperam, dan Dilepaskan Auguste

    Bali yang Disimpan, Diperam, dan Dilepaskan Auguste

    Auguste Soesastro seperti melakukan ”fermentasi” selama bertahun-tahun untuk merespons ”rasa” dari Bali versi terkini. Penggunaan bahan klasik yang dipadukan dengan rancangan bersiluet modern seolah mencerminkan dualitas budaya yang berdampingan di Bali. Begitu dinamis dan universal seiring waktu.

    Penafsiran yang matang tentang Bali itu tak lahir dalam sekejap. Sebelumnya, Auguste pernah memperkenalkan koleksi yang terinspirasi dari tarian Bali di New York, Amerika Serikat, pada tahun 2010. Sejak saat itu, dia terus mengamati, meriset, dan mengeksplorasi banyak hal.

    Benar saja, semakin lama diperam, koleksi 27 tampilan busana karya Auguste bertajuk ”Archipelago Cruise” yang tampil dalam Plaza Indonesia Fashion Week, Jakarta, Minggu (28/9/2025), terlihat segar dan berani tanpa meninggalkan ciri khas detail garis, konstruksi potongan, dan minim ornamentasi.

    ‘”Sebenarnya karena research yang ’tidak selesai’ (berkesinambungan). Nanti beberapa tahun lagi kalau dapat ide atau gagasan baru, mungkin bisa keluar lagi (koleksi lainnya), tapi untuk sekarang saya rest dulu (dari tema ini),” ucap pendiri label Kraton ini, ditemui seusai acara.

    Pada pembuka, penonton disuguhi lanskap matahari saat siang di atas lautan luas pada layar di latar belakang. Kemudian, satu per satu model melintasi landas peraga. Salah satu model pria mengenakan setelan jas dan celana pendek selutut berwarna putih, menampilkan kesan santai nan elegan.

    Biasanya jas yang memiliki kerah shawl identik dengan kesan formal dan serius. Auguste melembutkan kesan itu dengan membuat kerah atas yang tegak, sedikit mengingatkan pada Napoleon collar, kerah pada jas yang dikenakan kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte. Bagian depan kerah berkancing yang dibuat melebar memberi efek dada terlihat bidang.

    Setelah mata dimanja dengan warna putih, muncul busana bernuansa hitam. Setelan rok panjang hitam bermotif garis dan atasan blus hitam semi-dress berlengan panjang yang terlihat nyaman dikenakan model. Ini dipertegas dengan keberadaan dua saku pada kanan dan kiri rok, yang menjadi andalan untuk menyelipkan tangan saat teriknya matahari ataupun cuaca yang dingin.

    Pakaian keseharian di Bali tak melulu dikaitkan dengan yang berbahan minim, Auguste menyajikan pilihan lain yang panjang dan nyaman dipakai harian. Rancangan ini dilengkapi aksen kain ikat pinggang berwarna senada yang dililitkan pada pinggang sehingga menampilkan batas pinggang ke atas dan bawah tanpa membuat lekuk tubuh terlihat ketat.

    Menurut saya, Bali zaman sekarang sebagian besar sudah ”westernized” sekali. Saya ingin menunjukkan baju-baju yang bisa dipakai di Bali masih punya jejak tradisional Indonesia, tapi tampilannya tetap internasional.

    Eksplorasi

    Fragmen selanjutnya yang ditampilkan pada latar belakang layar adalah video masyarakat Bali yang menjalankan tradisi atau upacara adat pada sore hari. Ada lima rancangan pakaian khas Bali yang elemen tradisionalnya ditunjukkan lewat bawahan kain songket Bali.

    Auguste tidak terlalu banyak memainkan warna terang pada koleksi atasan di segmen ini. Ia coba memadukan elemen itu dengan warna cerah pada corak tenunan songket Bali yang lebih geometrik.

    ”Menurut saya, Bali zaman sekarang sebagian besar sudah westernized sekali. Saya ingin menunjukkan baju-baju yang bisa dipakai di Bali masih punya jejak tradisional Indonesia, tapi tampilannya tetap internasional. Jadi, bukan baju barat dan bukan juga baju tradisional panggung (setengah kostum), saya mencari jalan tengah,” ucapnya.

    Kali ini eksplorasinya dengan memadukan songket Bali menghasilkan pendekatan yang menyenangkan dan segar. Bisa dikatakan bahwa penggunaan kain tradisional tidak membuat fokus orang akan langsung tertuju pada kainnya, tetapi justru ke desain baju atasan yang anggun nan elegan.

    Salah satu contohnya terlihat pada rancangan blus atasan berbahan viscose yang dipadukan songket Bali berwarna dasar kemerahan. Blus itu menciptakan efek melayang dan jatuh mengikuti garis potongan. Siluet pakaiannya terlihat longgar sehingga menghadirkan ruang gerak yang cukup nyaman bagi yang mengenakan. Sementara kain songket yang dibuat tegak lurus membuat anggun secara tampilan keseluruhan.

    Tampilan wastra tak tampak mendominasi. Sebaliknya, perpaduan bahan tradisional dan rancangan yang modern justru saling menguatkan. Koleksi atasan pada segmen ini terlihat akan mudah dipadu padan dengan berbagai macam bawahan selain kain. Ruang keleluasaan ini membuat koleksi ini bisa berdaya pakai panjang.

    ”Ini kan koleksinya Bali, tapi Bali zaman sekarang itu masih ada semua pengaruh, ya. Saya mau kasih lihat bahwa masih ada tradisionalnya sedikit dan tradisional itu sebenarnya bisa berkembang,” tuturnya.

    Nyaman

    Kenyamanan yang diutamakan ini terlihat dari pemilihan jenis kain yang digunakan. Sebagian besar desain rancangan yang hadir dalam koleksi ini menggunakan linen premium, salah satunya desain jaket parka linen. Daya serap tinggi yang dimiliki kain linen membuat parka ini cocok dipakai dalam cuaca panas sekalipun, seperti di Bali.

    Menjelang pengujung pergelaran, tampil gaun panjang berbahan laminated lurex crepe yang cukup mencuri perhatian. Di bawah cahaya lampu, gaun ini memantulkan kilau lembut yang memberi aura glamor elegan yang pas. Keglamoran dalam garapan Auguste senantiasa terasa senyap, tak berteriak.

    Potongan gaunnya membentuk kesan anggun saat sang model melangkah. Tambahan aksen ikat pinggang membuat tubuh terlihat ramping dan kaki lebih jenjang.

    Di balik setiap rancangan minimalis Auguste selalu tersimpan pesan yang tak terucap, tapi bisa dirasakan. Dalam proses kreatifnya, dia selalu mempertanyakan sesuatu. Satu hal yang diyakininya, sebuah desain itu bisa berevolusi ketika perancangnya mempertanyakan sesuatu.

    ”Saya tahu ada batasan-batasannya, tetapi batasan itu tetap punya ujungnya sampai di mana. Nah, bagian itu yang selalu saya coba mainkan dan dorong terus,” ujar perancang yang sejak kecil menjadi kosmopolit itu.

    Bagi dia, tahap penelitian atau melakukan riset itu amat penting. Tidak hanya terlihat bagus secara estetika, tapi harus juga diikuti dengan penelitian. Sekali lagi, Auguste selalu memperhatikan detail kenyamanan, bukan demi estetika saja.

    Koleksi Bali milik Auguste menjadi contoh bahwa setiap ide yang datang harus diendapkan untuk kemudian diwujudkan. Setelah menyelami masa lalu dan merespons masa kini, api semangat bereksplorasinya dibiarkan terus menghangat.

    Parfum AXL

  • Bibit Unggul dan Keterlibatan Perempuan, Rahasia Harumnya Kopi Parahyangan

    Bibit Unggul dan Keterlibatan Perempuan, Rahasia Harumnya Kopi Parahyangan

    Di Tanah Parahyangan, hamparan hijau yang indah dan pegunungan nan megah seolah menjadi penjaga abadi sebuah rahasia. Di balik selimut kabut ini tersimpan semangat para petani yang merawat perkebunan kopi unggulan Jawa Barat.

    Parfum AXL

  • Ketika Kecap Manis Bersanding dengan Bumbu Perancis

    Ketika Kecap Manis Bersanding dengan Bumbu Perancis

    La Vie en Rose mengalun pelan dari pengeras suara di halaman depan Institut Français d’Indonésie, Jakarta, Selasa (1/10/2025) sore itu. Sesekali berganti dengan ”Le Festin” dari film Ratatouille dan musik-musik musette khas Perancis lainnya, seakan menegaskan nuansa keanggunan Perancis yang kini berbaur di jantung Jakarta. Sementara itu, aroma lelehan mentega, kesegaran anggur, dan adonan roti, berbaur mengiringi langkah para tamu yang mulai memenuhi ruangan.

    Sore itu, pekan Gastronomi Perancis yang digelar oleh Institut Français d’Indonésie edisi ketiga resmi dibuka. Rangkaian acara bertajuk ”Le Goût de France-Cita Rasa Perancis, J’adore!” itu menggaet lebih dari 150 restoran di 40 kota dan 10 pulau di Indonesia, serta akan menyelenggarakan lebih dari 200 acara publik selama dua pekan, sepanjang 1–13 Oktober 2025.

    Indonesia dan Perancis sama-sama ”foodie”, bangsa pencinta kuliner. Makanan adalah jembatan untuk berbagi nilai dan belajar satu sama lain.

    Agenda yang disiapkan berlapis, mulai dari pertunjukan memasak langsung bersama chef tamu, jamuan kolaboratif di hotel-hotel ternama, pelatihan dan lokakarya untuk pengajar dan pelajar sekolah vokasi, hingga pameran ilustrasi makanan. Tidak hanya itu, ada pula kompetisi resep di media sosial yang mengajak publik luas ikut merasakan semangatnya, serta forum bisnis yang mempertemukan produsen anggur dan pengusaha lokal.

    ”Indonesia dan Perancis sama-sama foodie, bangsa pencinta kuliner. Makanan adalah jembatan untuk berbagi nilai dan belajar satu sama lain,” ujar Duta Besar Perancis untuk Indonesia Fabian Penone, dalam sambutannya. Ia menyebut bahwa tahun ini istimewa, bukan hanya karena jumlah kegiatan yang melonjak, melainkan juga karena bertepatan dengan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

    ”Chef” Rosier membumbui Jakarta

    Sorotan acara jatuh pada kehadiran Chef Andrée Rosier. Perempuan asal Biarritz itu bukan hanya seorang koki yang berhasil meraih bintang Michelin, tetapi juga perempuan pertama yang meraih gelar Meilleur Ouvrier de France (MOF) pada 2007, sebuah gelar bergengsi yang hanya dianugerahkan lewat ujian dapur paling ketat di Perancis.

    Selain itu, Ia juga pernah menerima penghargaan Ksatria Legion of Honour dari pemerintah Perancis. ”Saya mulai memasak sejak kecil, dari ibu saya yang pandai di dapur,” ujarnya sambil tersenyum.

    ”Masakan adalah cerita dan saya ingin berbagi cerita saya di sini,” imbuhnya.

    ”Chef” Jean Yves Leuranguer, sesama penerima gelar MOF dan menjadi mentor bagi Rossier, menjelaskan betapa ketatnya ujian dapur yang mereka jalani. ”Setiap empat tahun sekali, seperti Olimpiade. Dari 900 koki, hanya belasan yang lolos. Ada ujian teori, lalu 15 hari persiapan, dan di final kami harus memasak hidangan lengkap sesuai instruksi juri,” katanya.

    ”Saat mengenakan jaket MOF, beban itu berat. Tapi, tanggung jawab untuk berbagi lebih besar,” tambahnya.

    Dalam agenda di hari itu, Chef Rosier memimpin kegiatan demo memasak hidangan yang dinamai Crevette Sauvages. Bahan baku utamanya di antaranya adalah udang, avokad, brokoli, minyak biji anggur, dan bumbu-bumbu lainnya.

    Chef Rosier memanggang udang dengan torch

    Dengan cekatan, Rosier menyiapkan udang dan brokoli yang akan dimasak. Uniknya, ketika membaluri udang, kecap manis khas Indonesia turut digunakan sebagai penambah rasa, bersamaan dengan kecap asin dan taburan bubuk cabai Espelette khas Biarritz, kota kelahiran sang koki.

    Setelah dibumbui, udang dibakar dengan cepat menggunakan torch, brokoli ditumis dengan minyak biji anggur ditambah parutan jahe segar. Setelah semua selesai dimasak, hidangan itu disajikan bersama puree avokad dan dihias dengan beberapa bunga segar. Perpaduan sederhana, tetapi meninggalkan kesan rasa yang menyeberangi batas geografis.

    Para tamu mencicipi bergiliran, beberapa mengambil ponsel untuk mengabadikan hidangan. Yang lain sibuk bertanya resep.

    Jakarta beraroma Paris

    Selain meja demo masak, stan-stan kuliner berderet menawarkan cita rasa lain yang menggugah perut para pengunjung. Stan Boulangerie La Parisien contohnya. Aroma roti hangat hasil panggangan menyeruak membuat beberapa tamu rela mengantre untuk mencicipi roti sourdough renyah berbagai rasa yang tersuguh di atas papan kayu.

    Beberapa langkah dari sana, Amuz Restaurant menawarkan jambon beurre, baguette berisi pork ham dan keju, dan disajikan pula variasi dengan daging sapi. Tekstur roti yang empuk dan renyah berpadu dengan gurihnya ham dan keju emmental, sederhana tetapi mengingatkan pada kafe-kafe kecil di Paris.

    Masakan adalah cerita, dan saya ingin berbagi cerita saya di sini.

    Fairmont Jakarta juga menyediakan kudapan yang tak kalah menarik. Foie Gras Mousse dengan truffle oil dijejerkan di atas meja, beserta hidangan pencuci mulut berupa Hazelnut & Almond Paris Breast berhasil menarik minat pengunjung yang sekadar menginginkan gigitan kecil.

    Stan Boulangerie La Parisien menyediakan berbagai jenis sourdough.

    Di meja lain, The Sari Delicatessen mencuri perhatian hampir setiap pengunjung karena menghadirkan boeuf bourguignon, daging sapi yang dimasak perlahan dalam anggur merah. Kuahnya pekat, dagingnya lembut, membuat siapa pun yang mencicipinya tak perlu banyak bicara, cukup mengangguk pelan karena cita rasanya yang tak terkatakan.

    Tak ketinggalan chicken ballotine dengan kulit ayam garing, disajikan bersama bayam tumis dan kentang tumbuk halus. Kulit renyahnya pecah di mulut, lalu berganti kelembutan daging dan saus yang pekat.

    Tak hanya chef tamu dari Perancis, ada pula chef Indonesia yang hadir. Salah satunya Kadek Sumiarta, juru masak muda dari Bali yang baru saja menempati posisi keempat dalam kompetisi kuliner Escoffier World di Paris tahun lalu.

    Di Jakarta ia tampil sebagai bukti bahwa talenta Indonesia kian diperhitungkan. Dari jalur populer, beberapa alumni MasterChef Indonesia juga terlihat hadir, menambah semarak acara.

    Beef bourguignon khas Perancis yang sangat sedap dan menarik perhatian pengunjung.

    Bagi publik, Pekan Gastronomi Perancis menghadirkan lebih dari sekadar perjamuan. Ada lokakarya memasak di sekolah-sekolah vokasi, program magang bagi mahasiswa kuliner, juga pameran ilustrasi makanan karya Guillaume Long yang dikenal lewat komik À boire et à manger.

    Long turut memeriahkan acara di sore hari itu dengan membuat ilustrasi hasil masakan dari Chef Rosier. Semuanya menjadi satu kesatuan dalam upaya mentransmisikan kekayaan budaya kedua negara.

    Pekan Gastronomi Prancis baru saja dimulai, tetapi jejak rasa yang ditinggalkannya sudah lebih dulu tertanam. Makanan bisa menjadi jembatan, dan tradisi bisa hidup kembali di setiap gigitan.

    Gambar ilustrasi karya Guillaume Long, illustrator yang mengalihmediakan karya makanan ke dalam karya seni.

    Parfum AXL

  • Tak Kenal Maka Tak Matcha

    Tak Kenal Maka Tak Matcha

    Matcha tengah digandrungi kaum urban kelas menengah perkotaan, khususnya generasi Z. Segala yang serba matcha kini mudah ditemui di berbagai kafe, restoran, juga kedai patiseri. Kelas-kelas kursus penyeduhan matcha juga bertebaran. Di balik segala inovasinya, tak ada salahnya mengingat kembali pada esensi matcha dalam wujud sejatinya.

    Setelah pandemi, matcha makin menjadi tren rasa yang hadir di mana-mana. Berbagai kudapan manis yang viral menyertakan elemen matcha. Matcha sebagai minuman populer jarang ditawarkan secara tunggal. Umumnya dipadukan dengan bahan lainnya, seperti susu dan buah-buahan.

    Kreasi beragam matcha bisa ditemukan di toko roti dan kue, seperti kafe Fragments di Ashta District 8, Jakarta. Setiap gelas matcha latte, misalnya, dibanderol Rp 60.000. Matcha paling ekonomis, usucha, bisa dicicipi dengan harga Rp 55.000. Sementara, matcha jeju tangerine yang menyuguhkan kekhasan ”Negeri Ginseng” dijual seharga Rp 70.000.

    Ryan Kim, pemilik Fragments yang berasal dari Korea Selatan, memadukan matcha dengan cheong atau sirup dari fermentasi buah dan gula khas Korea. ”Sejak masih tinggal di Korsel, aku cinta banget sama matcha. Semula, aku melihat orang Indonesia tidak begitu menyukainya. Di Jepang dan Korsel, sejak dulu selalu populer,” ujar chef Ryan.

    Dia amat gembira mendapati animo masyarakat Indonesia sangat tinggi untuk menikmati matcha selama beberapa tahun ini. Sejak dua bulan lalu, akhirnya Kim turut mencantumkan menu minuman matcha di Fragments. Menurut dia, tren dari luar negeri kerap menyebar dengan cepat di Indonesia, sehingga tak heran menu matcha di Fragments selalu ludes diburu konsumen. Tingginya minat itu belum sebanding dengan ketersediaan stok.

    Membuat matcha itu butuh ketenangan. Harus ”mindful” dan hadir-penuh dalam setiap langkah. Saya ajarkan ”step by step”, supaya peserta benar-benar fokus dan tidak terburu-buru. Matcha itu bukan hanya minuman tren, melainkan sebuah ritual dengan sejarah panjang di Jepang.

    ”Kebetulan, sedang langka karena cuaca di negara asalnya kurang baik. Sekarang, sudah sedikit mendingan,” ucapnya.

    Di Korsel, Pulau Jeju dikenal dengan teh hijaunya yang berkualitas. Banyak wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korsel sehingga memicu maraknya konsumsi matcha. Setelah kembali ke Tanah Air, minuman yang mereka nikmati di kafe saat melancong kemudian dicari lagi. ”Mungkin juga drakor dan K-pop bikin matcha semakin dikenal meski komoditas Jepang masih lebih populer daripada Korsel,” ucapnya.

    Belajar menyeduh

    Menikmati matcha kini tidak sebatas mendatangi kafe atau restoran berbasis matcha. Banyak penggemar matcha berupaya lebih jauh untuk bisa meraciknya sendiri di rumah. Perlengkapan untuk menyeduh matcha juga banyak dijual lewat lokapasar. Namun, untuk menyeduh dengan benar, kursus singkat penyeduhan matcha menjadi magnet berikutnya.

    Salah satunya kursus singkat yang diadakan Obi Matcha dan restoran La Balena di Jakarta, Sabtu (13/9/2025). Di sana, peserta tak hanya belajar teknik menyeduh matcha yang tepat, tetapi juga memahami filosofi di balik tradisi minum teh di Jepang.

    Pendiri Obi Matcha, Olivia Budiono, menggunakan matcha impor dari Yame, di Prefektur Fukuoka, Jepang, dengan tingkatan ceremonial atau kualitas tinggi yang digunakan dalam upacara minum teh Jepang (chanoyu). Dia dan rekannya pernah menimba ilmu tentang matcha selama 6 bulan dengan seorang sensei profesor teh di Jepang.

    Ia berharap peserta tak hanya menikmati rasa matcha, tetapi juga memahami esensi di baliknya. ”Harapan saya, setelah ikut workshop ini, peserta bisa bikin matcha dengan cara tradisional di rumah. Setiap kali mereka bikin, hasilnya tetap konsisten dan sesuai, bukan asal-asalan,” ujarnya.

    Olivia Djajadi, seorang instruktur, mengajarkan tahap demi tahap penyeduhan matcha. Semua dilakukannya dengan sangat hati-hati, dari menuang dan menyaring 1-2 sendok teh bubuk matcha (3-4 gram), menuangkan air panas 60 mililiter dengan suhu 80 derajat celsius secara perlahan, lalu mengaduknya dengan chasen (whisk dari bambu) dengan gerakan M atau W sampai berbusa dan larut sempurna. Selanjutnya, jika ingin dijadikan matcha latte bisa ditambahkan pemanis atau susu.

    ”Membuat matcha itu butuh ketenangan. Harus mindful dan hadir-penuh dalam setiap langkah. Saya ajarkan step by step, supaya peserta benar-benar fokus dan tidak terburu-buru. Matcha itu bukan hanya minuman tren, melainkan sebuah ritual dengan sejarah panjang di Jepang,” kata Olivia.

    Lokakarya matcha seperti ini memperkaya pengetahuan para penikmatnya. Dari yang awalnya membeli minuman di kafe, kini mendalami teknik penyeduhannya. Seperti Alisha Oceani, peserta lokakarya, terlihat amat antusias memperhatikan tahapan penyeduhan. Sudah lama dia menyukai matcha, tetapi baru kali ini mengikuti kelas penyeduhan teh.

    ”Seru banget, peralatannya lengkap dan penjelasannya detail. Aku sudah pernah bikin matcha di rumah, tapi setelah ikut ini, aku jadi lebih paham prosesnya. Sekarang aku jadi pengen level up peralatan yang kupakai, nggak cuma yang dibeli di marketplace biasa,” ungkap Alisha.

    Mengutip sebuah artikel di Forbes, di kalangan gen Z matcha tidak lagi dibingkai sebagai makanan sehat, melainkan juga menjadi semacam performance sosial. Dengan membuatnya sendiri di rumah atau membawanya ke ruang publik menjadi ritual pribadi yang sekaligus berfungsi sebagai penanda sosial. Momen tersebut ketika dibagikan di media sosial lantas seolah menjadi simbol tersendiri.

    Matcha sejati

    Kehadiran kafe-kafe berbasis matcha turut memperkenalkan minuman ini secara luas. Namun, jangan pernah samakan teh hijau matcha dengan teh hijau biasa. Keduanya berbeda dari bagian yang dikonsumsi. Belum tentu matcha yang digunakan memiliki kualitas baik dan murni.

    Konsumsi matcha yang murni berarti kamu mengonsumsi seluruh bagian daun tehnya, bukan hanya ekstraknya. Jadi, kalau kualitas daun tehnya bagus dan asli, tubuhmu sudah cukup mendapatkan manfaat hanya dari konsumsi satu hingga dua kali seminggu.

    Sensei of Chado dari Urasenke Tankokai Indonesia Suwarni Widjaja mengatakan, tidak mudah untuk membedakan matcha yang asli dan sudah campuran dari fisik dan rasa. Menurutnya penting untuk dipahami agar tren gaya hidup yang berkembang selaras dengan pemahaman terhadap kualitas dan manfaat dari matcha itu sendiri.

    Urasenke merupakan salah satu dari tiga aliran utama upacara minum teh di Jepang. Urasenke Tankokai Indonesia adalah cabang organisasi urasenke di Jepang yang melestarikan dan mempromosikan chado. Di balik chado yang berarti ”jalan teh”, sebenarnya berakar pada filosofi Buddhisme Zen yang menekankan pada kesadaran melalui meditasi. Upacara minum teh adalah medium disiplin spiritual dan estetika dalam perjalanan penyempurnaan diri.

    Konsumsi matcha secara murni, ditekankan Suwarni, tidak perlu dilakukan setiap hari. Untuk mendapatkan manfaatnya cukup menggunakan sekitar satu hingga dua gram per takaran. Murni yang dimaksud adalah tidak menambahkan bahan pemanis atau lainnya ke dalamnya. Hanya air panas dan bubuk teh hijau matcha.

    ”Konsumsi matcha yang murni berarti kamu mengonsumsi seluruh bagian daun tehnya, bukan hanya ekstraknya. Jadi, kalau kualitas daun tehnya bagus dan asli, tubuhmu sudah cukup mendapatkan manfaat hanya dari konsumsi satu hingga dua kali seminggu,” ucapnya.

    Dalam wujud sejatinya, matcha mengandung antioksidan yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas dan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh. Sejumlah studi dan artikel ilmiah menunjukkan manfaat matcha bisa didapatkan saat seseorang mengonsumsi bubuk matcha yang berkualitas.

    Konsumsi teh hijau, telah lama menjadi bagian tradisi China. Kemudian berkembang ke Jepang. Di sana, penyeduhan matcha merupakan simbol kesederhanaan dan penghormatan terhadap tradisi kehidupan. Dalam chanoyu, pemilihan jenis matcha yang digunakan tidak boleh menggunakan tingkatan biasa, harus menggunakan yang kualitas tinggi dan asli.

    Menurut Suwarni, matcha yang asli memiliki warna hijau yang khas dan rasa otentik, berbeda dengan grade biasa. Ada beberapa merek yang digunakan untuk sekolah teh Urasenke, yakni Marukyu Koyamaen, Kambayashi, dan Ippodo. Ketiga merek itu memiliki sejarah panjang produksi teh, yang di antaranya dikenal sebagai pemasok teh hijau resmi untuk keluarga kaisar Jepang.

    Ketika mengetahui tradisi dan budaya asalnya, matcha mengajarkan kita untuk kembali pada yang alami bukan sekadar ramai dibicarakan. Saat ini, minat untuk belajar matcha meningkat pesat di Urasenke Indonesia. Materi yang diajarkan mulai dari penghormatan hingga latihan terstruktur.

    Kelas ini bersifat seumur hidup karena belajar matcha dianggap sebagai bagian proses tanpa akhir. Bahkan, seorang sensei teh seperti Suwarni pun masih terus belajar agar pengetahuannya tidak stagnan.

    ”Murid baru terus bertambah setiap bulan, termasuk dari Jepang. Jumlahnya meningkat sampai 3 kali lebih banyak dibanding tahun 2023,” ujar Suwarni.

    Tren global

    Tren matcha tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga dunia. Mengutip data Grand View Research, perusahaan konsultan dan riset pasar berbasis di Amerika Serikat, pasar matcha global diperkirakan mencapai 4,3 miliar dollar AS pada tahun 2023 dan diproyeksikan mencapai 7,43 miliar dollar AS pada tahun 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 7,9 persen dari tahun 2024 hingga 2030.

    Tingginya minat terhadap matcha itu tak sebanding dengan pasokannya yang cenderung stagnan. Tak heran, seperti diulas di salah satu artikel di BBC, di Jepang saja misalnya, pembeli matcha di berbagai toko kerap dibatasi hanya satu atau dua kemasan saja per orang.

    Popularitas matcha di panggung global diduga terkait dengan meledaknya turisme di Jepang pascapandemi. Seiring melemahnya mata uang yen, Jepang menjadi destinasi turis mancanegara yang menarik. Dampak ikutannya, segala terkait komoditas Jepang seperti matcha pun diminati. Apalagi selebritas Hollywood seperti Gwyneth Paltrow, Kylie Jenner, Rihanna, hingga Brad Pitt pun menggemari matcha.

    Pada tahun 2023, negara-negara di Asia Pasifik mendominasi pasar global matcha sebesar 57,76 persen. Grand View Research menyebutkan, pasar matcha di Amerika Serikat dan Eropa menjadi pangsa pasar yang substansial pada tahun 2023. Hal ini salah satunya disebabkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat kesehatan dari matcha. Dunia tengah menghijau, bukan oleh hutan, tapi matcha.

    Parfum AXL

  • 5 Retouch Hack yang Wajib Dicoba Pemula, Make-up Makin On Level!

    5 Retouch Hack yang Wajib Dicoba Pemula, Make-up Makin On Level!

    Jakarta – Make-up yang flawless di pagi hari sering kali jadi tantangan besar untuk tetap bertahan hingga sore. Aktivitas seharian, mulai dari kerja, assembly, hingga nongkrong bareng teman, bisa bikin wajah jadi cepat berminyak atau make-up perlahan luntur. Akhirnya, penampilan jadi kurang maksimal dan bikin rasa percaya diri ikut berkurang.
    Nah, di sinilah pentingnya retouch make-up. Bukan berarti harus complete make-up ulang, tapi cukup dengan beberapa trik sederhana untuk menyegarkan tampilan. Dengan cara yang tepat, make-up bisa kembali segar, rapi, dan terlihat herbal seakan baru dipoles. Retouch yang benar juga bisa mencegah hasil make-up terlihat cakey atau terlalu tebal.

    Buat kamu yang masih pemula, retouch make-up sebenarnya gampang banget dilakukan. Kuncinya ada di pemilihan produk yang tepat dan langkah-langkah simpel agar hasilnya tetap awet. Yuk, simak pointers berikut untuk bikin make-up kamu tetap on level sepanjang hari tanpa drama luntur.
    Bersihkan Minyak Berlebih
    Kilap di space T-zone atau pipi bisa bikin make-up terlihat berat atau cakey. Sebelum retouch, tekan perlahan dengan tisu atau blotting paper untuk menyerap minyak berlebih. Wajah yang bebas kilap membuat langkah selanjutnya lebih maksimal.
    Perbaiki Noda dengan Concealer
    Noda baru atau space kusam bisa muncul seiring aktivitas sehari-hari. Gunakan concealer tipis-tipis dengan sponge atau brush untuk menutupnya. Hasilnya tetap herbal dan riasan tidak terlihat tebal.
    Set Make-up dengan Bedak Tipis
    Setelah concealer, tepuk bedak tipis di space yang sudah dibersihkan minyaknya. Gunakan puff atau brush, jangan digesek, agar make-up tetap di tempatnya dan terlihat halus.

    Segarkan Warna Bibir
    Bibir kehilangan warna setelah makan atau minum? Tambahkan lip balm atau lip tint ringan agar bibir tetap lembap dan warnanya kembali segar.
    Trik Tambahan untuk Wajah Matte Sepanjang Hari
    Menurut Dr. Dray, seorang dermatologis asal Amerika, penggunaan oil keep an eye on paper tidak merangsang kulit memproduksi lebih banyak minyak. Produk ini efektif menyerap kelebihan sebum tanpa mengganggu keseimbangan alami kulit.
    Maka dari itu, bawa selalu oil keep an eye on paper di tas untuk menyerap minyak berlebih kapan saja, menjaga wajah tetap segar tanpa merusak riasan. Cocok untuk pemula maupun mereka yang aktif seharian.

    Parfum AXL

  • Sociolla Dorong Pertumbuhan Emblem Lokal dan Perluas Jangkauan di Indonesia

    Sociolla Dorong Pertumbuhan Emblem Lokal dan Perluas Jangkauan di Indonesia

    Jakarta – Sociolla terus menunjukkan komitmennya sebagai platform kecantikan terdepan di Indonesia dengan mendukung pertumbuhan model lokal sekaligus memperluas jaringan distribusinya.
    Meski sudah memiliki toko di Vietnam, Sociolla menegaskan bahwa fokus utama tahun ini masih tertuju pada ekspansi dalam negeri.
    “Sebenarnya kita sudah memiliki toko di Vietnam. Jadi kita belum ada rencana untuk ekspansi lagi di luar negeri tahun ini. Kalau ekspansi di Indonesia, pasti ada terus. Sampai akhirnya ditungguin saja,” ujar Ghea Yantra, SVP Advertising Operations Social Bella, saat Press Convention Kick-Off Sociolla Award 2025, di Jakarta, Senin (29/9/2025).
    Ghea menambahkan bahwa ekspansi Sociolla di Indonesia terus berjalan dinamis. Bahkan Sociolla pernah membuka tiga toko sekaligus dalam satu hari.
    “Hari ini ke teman-teman media sambil get ready buka toko juga. Tapi kita sendiri juga masih sangat semangat untuk terus mendekatkan diri ke para good looks fanatic di seluruh Indonesia,” lanjutnya.
    Pertumbuhan Emblem Lokal Melalui Kampanye Love Native
    Ghea memaparkan, Sociolla kini menaungi lebih dari 200 model lokal yang bergabung dalam jaringan distribusi baik on-line maupun offline.
    Kehadiran brand-brand tersebut memperkaya pilihan konsumen sekaligus menegaskan peran Sociolla sebagai rumah bagi pelaku industri kecantikan lokal.
    “General model lokal luar biasa di Sociolla itu sendiri. Kalau sekarang sih sudah kurang lebih 200 model lebih. Kita juga memiliki marketing campaign yang bernama Love Native. Jadi kita terus jadi platform untuk teman-teman para model lokal,” jelas Ghea.

    Parfum AXL

  • From This Island Luncurkan Serum Baru & Dukung Literasi Anak Papua

    From This Island Luncurkan Serum Baru & Dukung Literasi Anak Papua

    Jakarta – Setelah sukses menarik perhatian lewat Papua Crimson Fruit Plumping Cream, emblem skin care lokal From This Island besutan Maudy Ayunda kini menghadirkan inovasi terbarunya, Papua Crimson Fruit Potent Plumping Serum.
    Kehadiran serum ini semakin menegaskan peran Papua Crimson Fruit sebagai hero factor andalan emblem tersebut, dengan method yang lebih kuat serta tekstur ringan sehingga tetap nyaman digunakan setiap hari.
    From This Island menghadirkan inovasi baru lewat teknologi paten Lumera™, yang memaksimalkan potensi antioksidan Papua Crimson Fruit. Diperkaya Bakuchiol, Acetyl-Hexapeptide-8, dan Adenosine, serum ini membantu kulit lebih kencang, halus, kenyal, dan bercahaya alami.
    Peluncurannya dikemas dalam kampanye “Tremendous Elevate, Tremendous You”, mempertemukan Maudy Ayunda dan Ade Raisebagai simbol kecantikan, kecerdasan, kebugaran, dan kekuatan, mewakili manfaat serum yang menghidrasi sekaligus menjaga vitalitas kulit.

    Dari kulit terawat hingga masa depan anak Papua. Lebih dari sekadar menghadirkan skin care inovatif, peluncuran serum ini juga menegaskan komitmen From This Island untuk memberi dampak sosial yang nyata.
    “Sejak awal launching kita punya program affect product yang mana sebagian dari hasil penjualan akan kami salurkan kembali ke pulau dimana hero ingredientsnya berasal. Untuk product papua purple fruit kami bekerjasama dengan Wahana Visi Indonesia dengan menyediakan buku untuk 10 rumah baca di Biak dan Sentani untuk mendukung program literasi anak anak di Papua,” kata Maudy Ayunda, Founder From This Island.
    Sabtarina Febriyanti, Zonal Program Supervisor Indonesia Timur WVI, menegaskan bahwa akses terhadap buku dan literasi masih menjadi tantangan besar bagi anak-anak Papua.

    Parfum AXL