La Vie en Rose mengalun pelan dari pengeras suara di halaman depan Institut Français d’Indonésie, Jakarta, Selasa (1/10/2025) sore itu. Sesekali berganti dengan ”Le Festin” dari film Ratatouille dan musik-musik musette khas Perancis lainnya, seakan menegaskan nuansa keanggunan Perancis yang kini berbaur di jantung Jakarta. Sementara itu, aroma lelehan mentega, kesegaran anggur, dan adonan roti, berbaur mengiringi langkah para tamu yang mulai memenuhi ruangan.
Sore itu, pekan Gastronomi Perancis yang digelar oleh Institut Français d’Indonésie edisi ketiga resmi dibuka. Rangkaian acara bertajuk ”Le Goût de France-Cita Rasa Perancis, J’adore!” itu menggaet lebih dari 150 restoran di 40 kota dan 10 pulau di Indonesia, serta akan menyelenggarakan lebih dari 200 acara publik selama dua pekan, sepanjang 1–13 Oktober 2025.
Indonesia dan Perancis sama-sama ”foodie”, bangsa pencinta kuliner. Makanan adalah jembatan untuk berbagi nilai dan belajar satu sama lain.
Agenda yang disiapkan berlapis, mulai dari pertunjukan memasak langsung bersama chef tamu, jamuan kolaboratif di hotel-hotel ternama, pelatihan dan lokakarya untuk pengajar dan pelajar sekolah vokasi, hingga pameran ilustrasi makanan. Tidak hanya itu, ada pula kompetisi resep di media sosial yang mengajak publik luas ikut merasakan semangatnya, serta forum bisnis yang mempertemukan produsen anggur dan pengusaha lokal.
”Indonesia dan Perancis sama-sama foodie, bangsa pencinta kuliner. Makanan adalah jembatan untuk berbagi nilai dan belajar satu sama lain,” ujar Duta Besar Perancis untuk Indonesia Fabian Penone, dalam sambutannya. Ia menyebut bahwa tahun ini istimewa, bukan hanya karena jumlah kegiatan yang melonjak, melainkan juga karena bertepatan dengan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
”Chef” Rosier membumbui Jakarta
Sorotan acara jatuh pada kehadiran Chef Andrée Rosier. Perempuan asal Biarritz itu bukan hanya seorang koki yang berhasil meraih bintang Michelin, tetapi juga perempuan pertama yang meraih gelar Meilleur Ouvrier de France (MOF) pada 2007, sebuah gelar bergengsi yang hanya dianugerahkan lewat ujian dapur paling ketat di Perancis.
Selain itu, Ia juga pernah menerima penghargaan Ksatria Legion of Honour dari pemerintah Perancis. ”Saya mulai memasak sejak kecil, dari ibu saya yang pandai di dapur,” ujarnya sambil tersenyum.
”Masakan adalah cerita dan saya ingin berbagi cerita saya di sini,” imbuhnya.
”Chef” Jean Yves Leuranguer, sesama penerima gelar MOF dan menjadi mentor bagi Rossier, menjelaskan betapa ketatnya ujian dapur yang mereka jalani. ”Setiap empat tahun sekali, seperti Olimpiade. Dari 900 koki, hanya belasan yang lolos. Ada ujian teori, lalu 15 hari persiapan, dan di final kami harus memasak hidangan lengkap sesuai instruksi juri,” katanya.
”Saat mengenakan jaket MOF, beban itu berat. Tapi, tanggung jawab untuk berbagi lebih besar,” tambahnya.
Dalam agenda di hari itu, Chef Rosier memimpin kegiatan demo memasak hidangan yang dinamai Crevette Sauvages. Bahan baku utamanya di antaranya adalah udang, avokad, brokoli, minyak biji anggur, dan bumbu-bumbu lainnya.
Dengan cekatan, Rosier menyiapkan udang dan brokoli yang akan dimasak. Uniknya, ketika membaluri udang, kecap manis khas Indonesia turut digunakan sebagai penambah rasa, bersamaan dengan kecap asin dan taburan bubuk cabai Espelette khas Biarritz, kota kelahiran sang koki.
Setelah dibumbui, udang dibakar dengan cepat menggunakan torch, brokoli ditumis dengan minyak biji anggur ditambah parutan jahe segar. Setelah semua selesai dimasak, hidangan itu disajikan bersama puree avokad dan dihias dengan beberapa bunga segar. Perpaduan sederhana, tetapi meninggalkan kesan rasa yang menyeberangi batas geografis.
Para tamu mencicipi bergiliran, beberapa mengambil ponsel untuk mengabadikan hidangan. Yang lain sibuk bertanya resep.
Jakarta beraroma Paris
Selain meja demo masak, stan-stan kuliner berderet menawarkan cita rasa lain yang menggugah perut para pengunjung. Stan Boulangerie La Parisien contohnya. Aroma roti hangat hasil panggangan menyeruak membuat beberapa tamu rela mengantre untuk mencicipi roti sourdough renyah berbagai rasa yang tersuguh di atas papan kayu.
Beberapa langkah dari sana, Amuz Restaurant menawarkan jambon beurre, baguette berisi pork ham dan keju, dan disajikan pula variasi dengan daging sapi. Tekstur roti yang empuk dan renyah berpadu dengan gurihnya ham dan keju emmental, sederhana tetapi mengingatkan pada kafe-kafe kecil di Paris.
Masakan adalah cerita, dan saya ingin berbagi cerita saya di sini.
Fairmont Jakarta juga menyediakan kudapan yang tak kalah menarik. Foie Gras Mousse dengan truffle oil dijejerkan di atas meja, beserta hidangan pencuci mulut berupa Hazelnut & Almond Paris Breast berhasil menarik minat pengunjung yang sekadar menginginkan gigitan kecil.
Di meja lain, The Sari Delicatessen mencuri perhatian hampir setiap pengunjung karena menghadirkan boeuf bourguignon, daging sapi yang dimasak perlahan dalam anggur merah. Kuahnya pekat, dagingnya lembut, membuat siapa pun yang mencicipinya tak perlu banyak bicara, cukup mengangguk pelan karena cita rasanya yang tak terkatakan.
Tak ketinggalan chicken ballotine dengan kulit ayam garing, disajikan bersama bayam tumis dan kentang tumbuk halus. Kulit renyahnya pecah di mulut, lalu berganti kelembutan daging dan saus yang pekat.
Tak hanya chef tamu dari Perancis, ada pula chef Indonesia yang hadir. Salah satunya Kadek Sumiarta, juru masak muda dari Bali yang baru saja menempati posisi keempat dalam kompetisi kuliner Escoffier World di Paris tahun lalu.
Di Jakarta ia tampil sebagai bukti bahwa talenta Indonesia kian diperhitungkan. Dari jalur populer, beberapa alumni MasterChef Indonesia juga terlihat hadir, menambah semarak acara.
Bagi publik, Pekan Gastronomi Perancis menghadirkan lebih dari sekadar perjamuan. Ada lokakarya memasak di sekolah-sekolah vokasi, program magang bagi mahasiswa kuliner, juga pameran ilustrasi makanan karya Guillaume Long yang dikenal lewat komik À boire et à manger.
Long turut memeriahkan acara di sore hari itu dengan membuat ilustrasi hasil masakan dari Chef Rosier. Semuanya menjadi satu kesatuan dalam upaya mentransmisikan kekayaan budaya kedua negara.
Pekan Gastronomi Prancis baru saja dimulai, tetapi jejak rasa yang ditinggalkannya sudah lebih dulu tertanam. Makanan bisa menjadi jembatan, dan tradisi bisa hidup kembali di setiap gigitan.
