Di tepi Danau Geneva, deretan toko mewah berjajar dengan etalasenya menampilkan jenama jam-jam tangan berkilau seharga mobil, bahkan bisa seharga rumah di Indonesia. Kafe-kafe penuh pekerja muda menyesap espreso dengan santai, seolah harga secangkir kopi yang mencapai Rp 150.000 itu seperti recehan.
Sepiring gado-gado di kota ini sekitar Rp 483.000. Ditambah tempe goreng jadi Rp 643.000 dan dengan segelas es cincau menjadi Rp 800.000. Dari rasa mungkin biasa saja. Bahkan, bagi lidah orang Jakarta yang terbiasa pedas, gado-gado tukang gerobak pinggir jalan mungkin lebih enak.
Namun, itulah harga yang ditawarkan salah satu dari dua restoran yang menjual menu Indonesia di kota Geneva, Swiss. Harga itu pun termasuk pasaran. Makan malam lengkap, termasuk minum dan menu penutup, di restoran biasa di kota ini rata-rata seharga CHF 50 atau Rp 1 juta lebih.
Nilai rupiah memang seperti tak berharga di kota ini mengingat nilai tukarnya yang rendah. Pada Senin (18/8/2025), 1 CHF (franc Swiss) setara dengan Rp 20.086,86.
Bahkan, buck AS juga tak berkutik di Geneva. ”Ini kota paling mahal. Sebagai New Yorker, mesti berhemat kalau ke Geneva,” kata Alexandra Golden, dari New York, Amerika Serikat, yang berada di Geneva untuk mengikuti perundingan plastik di Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut Alexandra, harga makanan di Geneva bisa 1,5 kali lebih mahal daripada di New York, yang dikenal sebagai salah satu kota paling mahal di Amerika.
Di Jakarta, uang sebesar itu bisa membeli gado-gado segerobak, tetapi udara bersih, transportasi tepat waktu, dan rasa aman tetap tak terbeli.
Itulah Geneva, kota termahal di dunia selain Zurich, juga di Swiss. Menurut Mercer Value of Dwelling Index 2025, harga sewa apartemen satu kamar di pusat kota Geneva bisa menembus CHF 2.500 atau sekitar Rp 45 juta in line with bulan.
Adapun menurut information Skyscanner, harga rata-rata in line with malam kamar di resort bintang 3 di Geneva sekitar Rp 2.999.888. Harga termurah yang ditemukan dari beberapa pencarian adalah sekitar Rp 1.297.248, itu tanpa sarapan.
Transportasi free of charge, udara bersih
Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa Geneva menjadi kota termahal. Pertama, krisis perumahan karena besarnya permintaan dibandingkan bangunan terbangun. Di Geneva, apartemen jarang kosong dan antrean sewa bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Kedua, biaya tenaga kerja tinggi. Upah minimal casual di Swiss sangat tinggi, membuat harga jasa ikut melambung. Ketiga, mata uang franc Swiss yang kuat, membuat harga-harga domestik terasa semakin tinggi bagi orang asing.
Meski begitu, mahalnya biaya hidup tak membuat Geneva sepi peminat. Justru sebaliknya. Geneva adalah rumah bagi PBB, WHO, dan sekitar 200 organisasi internasional lain. Kota ini, bersama Zurich, juga menjadi pusat finansial Eropa, dengan bank-bank raksasa yang menjadi jantung ekonomi international.
Arus ekspatriat, diplomat, dan profesional internasional terus berdatangan, menjaga roda ekonomi dua kota ini tetap berputar. Bahkan, turis pun tak kurang banyaknya. Menurut laporan Forbes pada Mei 2025, Geneva menerima lebih dari 8 juta turis in line with tahun, angka yang luar biasa mengingat luas kota hanya 15,9 kilometer persegi. Ini menempatkan Geneva di peringkat teratas sebagai destinasi kota yang paling dibanjiri turis in line with unit space, mengalahkan kota-kota seperti Paris dan Roma.
Sekalipun biaya makan dan penginapan di Geneva tergolong mahal, Pemerintah Geneva memiliki kebijakan unik untuk meringankan beban wisatawan, yaitu dengan menggratiskan transportasi umumnya.
Wisatawan yang datang ke Geneva otomatis menerima ”Geneva Delivery Card” secara free of charge selama menginap di akomodasi yang terdaftar seperti resort, hostel, bahkan kamping resmi. Kartu ini memberi akses tak terbatas ke seluruh jaringan kereta api dari dan ke bandara, serta seluruh moda transportasi umum di dalam kota, meliputi bus, trem, kereta, bahkan kapal selama masa inap.
Kartu virtual ini biasa dikirim melalui electronic mail sekitar tiga hari sebelum kedatangan atau bisa diserahkan saat check-in. Sementara jika mesti membeli kartu transportasi umum harian di Geneva, harganya sekitar CHF 10 atau sekitar Rp 200.000.
Kartu transportasi ini lahir dari kolaborasi antara Geneva Tourism & Congress dan penyedia akomodasi resmi yang terdaftar. Melalui pungutan pajak wisata, pemerintah kota mendanai sistem transportasi dan memberikan kartu ini sebagai insentif fasilitas mobilitas yang bebas hambatan kepada pengunjung sekaligus mendorong penggunaan moda transportasi yang ramah lingkungan.
Dengan memperbanyak transportasi umum berbasis listrik, selain mengurangi penggunaan pembangkit listrik fosil, kota ini memiliki kualitas udara yang lebih bersih dibandingkan banyak kota Eropa lain, meski bukan yang paling bersih.
Rata-rata konsetrasi PM 2.5 tahunan di metropolitan Geneva sekitar 13,7 µg/m³, jauh di bawah batas maksimum Uni Eropa sebesar 25 µg/m³. Bandingkan misalnya dengan kualitas udara di Jakarta yang rata-rata PM 2.5 tahunan mencapai 46,1 µg/m³.
Berbeda dengan di Jakarta yang mobil listriknya kebanyakan disetrum dengan pembangkit listrik energi batubara, di Geneva sumber listriknya mayoritas dari energi terbarukan.
Secara nasional, 75-80 persen listrik di Swiss berasal dari energi terbarukan, terutama dari pembangkit tenaga air yang mencapai 66 persen, dan energi terbarukan lain seperti sun, angin, biomassa berkisar 11-14 persen. Sisanya ditopang oleh nuklir sebesar 18-33 persen. Sementara sumber fosil sangat minim, hanya 1-2 persen. Khusus di kota Geneva, mereka menolak menggunakan energi fosil dan nuklir.
Maka, menjelajah setiap sudut kota ini pun terasa lebih nyaman dan aman. Tinggal jalan kaki dua menit dari penginapan, kita bisa mengakses halte atau stasiun. Transportasi umum siap mengantar ke hampir semua tujuan itu tepat waktu. Tak ada kemacetan, bersesakan, dan udara kotor.
Tak hanya kualitas udara, Geneva juga sangat bersih karena pengelolaan sampah yang sangat baik. Sejak 2022, Grand Council Geneva mewajibkan pemilahan sampah oleh warga, pelaku usaha, dan institusi publik. Pelanggaran bisa dikenai denda hingga CHF 200 untuk individu dan CHF 400 untuk perusahaan.
Pemerintah Kota Geneva juga menerapkan sistem p’tite poubelle verte atau ”tempat sampah hijau kecil”, yang memungkinkan warga membuang limbah organik secara terpisah, yang kemudian diolah menjadi biogas dan kompos. Ini dilakukan guna mengurangi quantity sampah yang harus dibakar dengan goal mereka 25 persen pada 2025 dan meningkatkan tingkat daur ulang hingga 80 persen.
Harga mahal di Geneva memang relatif, terutama bagi yang berduit. Fakta menunjukkan, Geneva masuk dalam lima terbaik destinasi Eropa 2024 menurut Eu Very best Locations, berdasarkan pemungutan suara lebih dari 1 juta orang dari 172 negara.
Bahkan, di mata para pekerja asing, Geneva berada di peringkat ke-3 dalam survei kualitas hidup Mercer setelah Zurich dan Vienna. Mercer mengukur berdasarkan 39 faktor, mulai dari keamanan, layanan publik, kesehatan, pendidikan, rekreasi, hingga lingkungan alami.
Harga tinggi, daya beli tinggi
Tak hanya menarik di mata turis dan pendatang, warga kota Geneva pun puas dengan kualitas kehidupan mereka. Sekalipun menjadi kota termahal, tapi juga dianggap paling layak dihuni. Survei World Liveability Index 2025 (The Economist Intelligence Unit/EIU) menunjukkan, Geneva berada di peringkat ke-5 dalam indeks yang mencakup 173 kota dunia.
Kota ini mencapai skor tinggi dalam kategori kesehatan, infrastruktur, pendidikan, lingkungan, dan stabilitas, dengan skor keseluruhan mencapai 96,8/100, hampir sempurna. Pendidikan dasar dan menengah di Geneva dimulai sejak usia 4 tahun hingga 15 atau 16 tahun, free of charge.
Adapun kuliah di universitas publik, yang kualitasnya sangat baik, relatif murah dibandingkan Eropa lain. Biaya kuliah untuk warga Swiss dan penduduk tetap sebesar CHF 500-650 in line with semester, berkisar Rp 9 juta-Rp 12 juta. Beasiswa juga banyak tersedia.
Di balik biaya hidup yang membuat jeri para pendatang dari negara lain, penduduk Geneva punya modal kuat untuk bertahan. Upah di negara ini juga termasuk yang tertinggi di dunia. Median gaji bulanan berada di kisaran CHF 6.500 atau lebih dari Rp 115 juta.
Upah terendah yang berlaku di Geneva sejak 1 Januari 2025 mencapai CHF 24,48 in line with jam atau sekitar Rp 495.000 in line with jam. Jika dirata-rata, UMR di kota ini sebesar CHF 4.455 in line with bulan atau sekitar Rp 90 juta in line with bulan dengan beban kerja 42 jam in line with minggu.
Seiring dengan besarnya penghasilan, pajak di Geneva juga tinggi, termasuk tertinggi di seluruh Swiss. Di luar pajak penghasilan federal yang berlaku di seluruh Swiss sebesar 11,5 persen dari pendapatan kena pajak, juga ada pajak lainnya.
Dengan itu, sebagian besar warga mampu menutup biaya hidup sehari-hari. Sistem publik juga menopang: sekolah negeri free of charge dan berkualitas, transportasi umum andal, serta layanan kesehatan terjamin meski premi asuransinya tinggi.
Kehidupan di kota mahal ini juga melahirkan strategi sehari-hari. Banyak keluarga memilih belanja ke grocery store diskon seperti Aldi atau Lidl, alih-alih toko top rate. Sebagian bahkan rutin menyeberang ke Perancis atau Jerman untuk membeli bahan makanan lebih murah. Makan di restoran setiap hari jelas bukan kebiasaan warga Swiss kebanyakan. Memasak di rumah jauh lebih masuk akal.
”Kota ini memang mahal, tetapi sebanding dengan kualitas hidup dan infrastuktur publiknya,” kata Rahyang Nusantara, Deputi Direktur Dietplastik Indonesia, yang berada di Geneva. ”Di sini aman, transportasi tepat waktu, melayani 24 jam. Air minum dari keran juga tinggal minum.”
Geneva menunjukkan paradoks kota international: menjadi termahal sekaligus menawarkan standar hidup yang baik. Bagi penduduk lokal yang dibayar dengan standar gaji di sana, mahal pun terasa relatif. Kerja di sektor casual di sana sejam saja sudah cukup untuk membeli sepiring gado-gado itu.
Pada akhirnya, gado-gado Rp 483.000 di Geneva bukan hanya cerita tentang makanan yang terasa mahal, melainkan juga simbol tentang bagaimana sebuah kota menata prioritasnya. Di Jakarta, uang sebesar itu bisa membeli gado-gado segerobak, tetapi udara bersih, transportasi tepat waktu, dan rasa aman tetap tak terbeli.
Geneva memang mahal, tapi setiap franc kembali ke rakyatnya. Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia lebih murah, tetapi setiap hari kita membayar dengan kualitas hidup dan kesehatan yang memburuk. Yang jelas, kalau ke Geneva, jangan sekali-kali mencoba menghitung harga sepiring gado-gado dengan uang rupiah kita. Bakal enggak tega mengunyahnya.
Di tepi Danau Geneva, deretan toko mewah berjajar dengan etalasenya menampilkan jenama jam-jam tangan berkilau seharga mobil, bahkan bisa seharga rumah di Indonesia. Kafe-kafe penuh pekerja muda menyesap espreso dengan santai, seolah harga secangkir kopi yang mencapai Rp 150.000 itu seperti recehan.
Sepiring gado-gado di kota ini sekitar Rp 483.000. Ditambah tempe goreng jadi Rp 643.000 dan dengan segelas es cincau menjadi Rp 800.000. Dari rasa mungkin biasa saja. Bahkan, bagi lidah orang Jakarta yang terbiasa pedas, gado-gado tukang gerobak pinggir jalan mungkin lebih enak.
Namun, itulah harga yang ditawarkan salah satu dari dua restoran yang menjual menu Indonesia di kota Geneva, Swiss. Harga itu pun termasuk pasaran. Makan malam lengkap, termasuk minum dan menu penutup, di restoran biasa di kota ini rata-rata seharga CHF 50 atau Rp 1 juta lebih.
Nilai rupiah memang seperti tak berharga di kota ini mengingat nilai tukarnya yang rendah. Pada Senin (18/8/2025), 1 CHF (franc Swiss) setara dengan Rp 20.086,86.
Bahkan, buck AS juga tak berkutik di Geneva. ”Ini kota paling mahal. Sebagai New Yorker, mesti berhemat kalau ke Geneva,” kata Alexandra Golden, dari New York, Amerika Serikat, yang berada di Geneva untuk mengikuti perundingan plastik di Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut Alexandra, harga makanan di Geneva bisa 1,5 kali lebih mahal daripada di New York, yang dikenal sebagai salah satu kota paling mahal di Amerika.
Di Jakarta, uang sebesar itu bisa membeli gado-gado segerobak, tetapi udara bersih, transportasi tepat waktu, dan rasa aman tetap tak terbeli.
Itulah Geneva, kota termahal di dunia selain Zurich, juga di Swiss. Menurut Mercer Value of Dwelling Index 2025, harga sewa apartemen satu kamar di pusat kota Geneva bisa menembus CHF 2.500 atau sekitar Rp 45 juta in line with bulan.
Adapun menurut information Skyscanner, harga rata-rata in line with malam kamar di resort bintang 3 di Geneva sekitar Rp 2.999.888. Harga termurah yang ditemukan dari beberapa pencarian adalah sekitar Rp 1.297.248, itu tanpa sarapan.
Transportasi free of charge, udara bersih
Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa Geneva menjadi kota termahal. Pertama, krisis perumahan karena besarnya permintaan dibandingkan bangunan terbangun. Di Geneva, apartemen jarang kosong dan antrean sewa bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Kedua, biaya tenaga kerja tinggi. Upah minimal casual di Swiss sangat tinggi, membuat harga jasa ikut melambung. Ketiga, mata uang franc Swiss yang kuat, membuat harga-harga domestik terasa semakin tinggi bagi orang asing.
Baca JugaNilai Tukar Rupiah Dekati Degree Terendah sejak Krisis 1998
Meski begitu, mahalnya biaya hidup tak membuat Geneva sepi peminat. Justru sebaliknya. Geneva adalah rumah bagi PBB, WHO, dan sekitar 200 organisasi internasional lain. Kota ini, bersama Zurich, juga menjadi pusat finansial Eropa, dengan bank-bank raksasa yang menjadi jantung ekonomi international.
Arus ekspatriat, diplomat, dan profesional internasional terus berdatangan, menjaga roda ekonomi dua kota ini tetap berputar. Bahkan, turis pun tak kurang banyaknya. Menurut laporan Forbes pada Mei 2025, Geneva menerima lebih dari 8 juta turis in line with tahun, angka yang luar biasa mengingat luas kota hanya 15,9 kilometer persegi. Ini menempatkan Geneva di peringkat teratas sebagai destinasi kota yang paling dibanjiri turis in line with unit space, mengalahkan kota-kota seperti Paris dan Roma.
Sekalipun biaya makan dan penginapan di Geneva tergolong mahal, Pemerintah Geneva memiliki kebijakan unik untuk meringankan beban wisatawan, yaitu dengan menggratiskan transportasi umumnya.
Wisatawan yang datang ke Geneva otomatis menerima ”Geneva Delivery Card” secara free of charge selama menginap di akomodasi yang terdaftar seperti resort, hostel, bahkan kamping resmi. Kartu ini memberi akses tak terbatas ke seluruh jaringan kereta api dari dan ke bandara, serta seluruh moda transportasi umum di dalam kota, meliputi bus, trem, kereta, bahkan kapal selama masa inap.
Baca JugaTransportasi Terintegrasi Kunci Hidup Nyaman, Aman, dan Murah
Kartu virtual ini biasa dikirim melalui electronic mail sekitar tiga hari sebelum kedatangan atau bisa diserahkan saat check-in. Sementara jika mesti membeli kartu transportasi umum harian di Geneva, harganya sekitar CHF 10 atau sekitar Rp 200.000.
Kartu transportasi ini lahir dari kolaborasi antara Geneva Tourism & Congress dan penyedia akomodasi resmi yang terdaftar. Melalui pungutan pajak wisata, pemerintah kota mendanai sistem transportasi dan memberikan kartu ini sebagai insentif fasilitas mobilitas yang bebas hambatan kepada pengunjung sekaligus mendorong penggunaan moda transportasi yang ramah lingkungan.
Dengan memperbanyak transportasi umum berbasis listrik, selain mengurangi penggunaan pembangkit listrik fosil, kota ini memiliki kualitas udara yang lebih bersih dibandingkan banyak kota Eropa lain, meski bukan yang paling bersih.
Rata-rata konsetrasi PM 2.5 tahunan di metropolitan Geneva sekitar 13,7 µg/m³, jauh di bawah batas maksimum Uni Eropa sebesar 25 µg/m³. Bandingkan misalnya dengan kualitas udara di Jakarta yang rata-rata PM 2.5 tahunan mencapai 46,1 µg/m³.
Berbeda dengan di Jakarta yang mobil listriknya kebanyakan disetrum dengan pembangkit listrik energi batubara, di Geneva sumber listriknya mayoritas dari energi terbarukan.
Baca JugaEnergi Terbarukan yang ”Dekat tapi Jauh”
Secara nasional, 75-80 persen listrik di Swiss berasal dari energi terbarukan, terutama dari pembangkit tenaga air yang mencapai 66 persen, dan energi terbarukan lain seperti sun, angin, biomassa berkisar 11-14 persen. Sisanya ditopang oleh nuklir sebesar 18-33 persen. Sementara sumber fosil sangat minim, hanya 1-2 persen. Khusus di kota Geneva, mereka menolak menggunakan energi fosil dan nuklir.
Maka, menjelajah setiap sudut kota ini pun terasa lebih nyaman dan aman. Tinggal jalan kaki dua menit dari penginapan, kita bisa mengakses halte atau stasiun. Transportasi umum siap mengantar ke hampir semua tujuan itu tepat waktu. Tak ada kemacetan, bersesakan, dan udara kotor.
Tak hanya kualitas udara, Geneva juga sangat bersih karena pengelolaan sampah yang sangat baik. Sejak 2022, Grand Council Geneva mewajibkan pemilahan sampah oleh warga, pelaku usaha, dan institusi publik. Pelanggaran bisa dikenai denda hingga CHF 200 untuk individu dan CHF 400 untuk perusahaan.
Pemerintah Kota Geneva juga menerapkan sistem p’tite poubelle verte atau ”tempat sampah hijau kecil”, yang memungkinkan warga membuang limbah organik secara terpisah, yang kemudian diolah menjadi biogas dan kompos. Ini dilakukan guna mengurangi quantity sampah yang harus dibakar dengan goal mereka 25 persen pada 2025 dan meningkatkan tingkat daur ulang hingga 80 persen.
Harga mahal di Geneva memang relatif, terutama bagi yang berduit. Fakta menunjukkan, Geneva masuk dalam lima terbaik destinasi Eropa 2024 menurut Eu Very best Locations, berdasarkan pemungutan suara lebih dari 1 juta orang dari 172 negara.
Bahkan, di mata para pekerja asing, Geneva berada di peringkat ke-3 dalam survei kualitas hidup Mercer setelah Zurich dan Vienna. Mercer mengukur berdasarkan 39 faktor, mulai dari keamanan, layanan publik, kesehatan, pendidikan, rekreasi, hingga lingkungan alami.
Harga tinggi, daya beli tinggi
Tak hanya menarik di mata turis dan pendatang, warga kota Geneva pun puas dengan kualitas kehidupan mereka. Sekalipun menjadi kota termahal, tapi juga dianggap paling layak dihuni. Survei World Liveability Index 2025 (The Economist Intelligence Unit/EIU) menunjukkan, Geneva berada di peringkat ke-5 dalam indeks yang mencakup 173 kota dunia.
Kota ini mencapai skor tinggi dalam kategori kesehatan, infrastruktur, pendidikan, lingkungan, dan stabilitas, dengan skor keseluruhan mencapai 96,8/100, hampir sempurna. Pendidikan dasar dan menengah di Geneva dimulai sejak usia 4 tahun hingga 15 atau 16 tahun, free of charge.
Baca JugaGara-gara Gangguan Keamanan, Vienna Tak Lagi Puncaki Indeks Kota Layak Huni 2025
Adapun kuliah di universitas publik, yang kualitasnya sangat baik, relatif murah dibandingkan Eropa lain. Biaya kuliah untuk warga Swiss dan penduduk tetap sebesar CHF 500-650 in line with semester, berkisar Rp 9 juta-Rp 12 juta. Beasiswa juga banyak tersedia.
Di balik biaya hidup yang membuat jeri para pendatang dari negara lain, penduduk Geneva punya modal kuat untuk bertahan. Upah di negara ini juga termasuk yang tertinggi di dunia. Median gaji bulanan berada di kisaran CHF 6.500 atau lebih dari Rp 115 juta.
Upah terendah yang berlaku di Geneva sejak 1 Januari 2025 mencapai CHF 24,48 in line with jam atau sekitar Rp 495.000 in line with jam. Jika dirata-rata, UMR di kota ini sebesar CHF 4.455 in line with bulan atau sekitar Rp 90 juta in line with bulan dengan beban kerja 42 jam in line with minggu.
Seiring dengan besarnya penghasilan, pajak di Geneva juga tinggi, termasuk tertinggi di seluruh Swiss. Di luar pajak penghasilan federal yang berlaku di seluruh Swiss sebesar 11,5 persen dari pendapatan kena pajak, juga ada pajak lainnya.
Dengan itu, sebagian besar warga mampu menutup biaya hidup sehari-hari. Sistem publik juga menopang: sekolah negeri free of charge dan berkualitas, transportasi umum andal, serta layanan kesehatan terjamin meski premi asuransinya tinggi.
Kehidupan di kota mahal ini juga melahirkan strategi sehari-hari. Banyak keluarga memilih belanja ke grocery store diskon seperti Aldi atau Lidl, alih-alih toko top rate. Sebagian bahkan rutin menyeberang ke Perancis atau Jerman untuk membeli bahan makanan lebih murah. Makan di restoran setiap hari jelas bukan kebiasaan warga Swiss kebanyakan. Memasak di rumah jauh lebih masuk akal.
”Kota ini memang mahal, tetapi sebanding dengan kualitas hidup dan infrastuktur publiknya,” kata Rahyang Nusantara, Deputi Direktur Dietplastik Indonesia, yang berada di Geneva. ”Di sini aman, transportasi tepat waktu, melayani 24 jam. Air minum dari keran juga tinggal minum.”
Baca JugaHidup Tenteram di Masa Pensiun
Geneva menunjukkan paradoks kota international: menjadi termahal sekaligus menawarkan standar hidup yang baik. Bagi penduduk lokal yang dibayar dengan standar gaji di sana, mahal pun terasa relatif. Kerja di sektor casual di sana sejam saja sudah cukup untuk membeli sepiring gado-gado itu.
Pada akhirnya, gado-gado Rp 483.000 di Geneva bukan hanya cerita tentang makanan yang terasa mahal, melainkan juga simbol tentang bagaimana sebuah kota menata prioritasnya. Di Jakarta, uang sebesar itu bisa membeli gado-gado segerobak, tetapi udara bersih, transportasi tepat waktu, dan rasa aman tetap tak terbeli.
Geneva memang mahal, tapi setiap franc kembali ke rakyatnya. Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia lebih murah, tetapi setiap hari kita membayar dengan kualitas hidup dan kesehatan yang memburuk. Yang jelas, kalau ke Geneva, jangan sekali-kali mencoba menghitung harga sepiring gado-gado dengan uang rupiah kita. Bakal enggak tega mengunyahnya.